
Bila ibunya tau seberapa fatal kesalahan yang sesungguhnya diperbuat ayah tirinya, Velo dapat membayangkan betapa hancurnya hati perempuan itu. Perihal keluarga Bratadikara, untuknya masih sepekat kabut. Dia pun tidak punya bayangan bagaimana reaksi keluarga besar Hartadi itu kemudian hari, jika rencana pernikahan mereka dikuak atau terkuak sebelum waktunya.
Menggelengkan kepala agar tidak terjerumus lamunan, Velo mengangkat wajahnya dan menetapkan netranya pada sang ibu. Seraya mengusap punggung tangan ibunya dengan ibu jari, Velo menyisipkan tawa kecil.
“Mamih nggak perlu minta maaf. Mamih adalah ibu terbaik. Jangan mikir yang nggak-nggak tentang diri Mamih sendiri. Lagian sekarang aku nggak sendiri loh, Mih. Kalau Papih kasih ijin, berarti nggak lama lagi aku mau punya suami. Mamih jangan sedih gitu dong mukanya?! Aku lagi di fase seneng kok.”
“Kamu bakal bilang hal yang sama di depan mamih. Mau beneran lagi seneng ataupun nggak. Dari dulu kamu nggak mau buat Mamih khawatir. Alasan itu yang ngebuat kamu selalu berusaha mandiri dan kelihatan tegar.” Imbuh Asri tersenyum masam karena itu memang benar. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Asri menunggu respons Velo. Seperti yang kerap terjadi, putrinya tidak menyuarakan apapun atau memalingkan wajah. Hanya terdiam dengan bibir terkunci.
Melepaskan tautan mereka, Asri beranjak ke sisi pintu dan menegur supir yang duduk di kursi kemudi.
“Pak, hidupin aja mobilnya biar AC bisa dinyalain. Anak saya ga suka gerah.”
“Baik, Bu.” Jawab supir yang duduk di kursi kemudi.
Sejenak Velo menatap ruang kosong yang sebelumnya diisi sang Ibu. Diakhiri ucapan berintonasi lembut sekaligus menusuk, ibunya meninggalkan mobil dan berjalan menuju lobi rumah sakit. Memang, ibunya tidak banyak mempertanyakan keputusan-keputusan dalam hidupnya maupun merecoki perasaannya selama ini. Tetapi, perempuan yang melahirkannya itu menyadari ada beragam keluh kesah yang tidak dia sampaikan.
Larut dalam keheningan, kelopak matanya menutup perlahan-lahan setelah menutup kaca jendelanya. Sampai detik di mana Velo dikejutkan oleh bantingan pintu mobil yang memekakan telinganya.
Menguasai diri secepat kilat kerjapan matanya, dia tersadar masih berada di halaman parker rumah sakit. Velo sempat terlelap beberapa menit. Pandangannya lantas melihat ke sekitar. Ayah tirinya telah menempati kursi di sampingnya di sertai tampang kesal, sedangkan ibunya duduk di kursi belakang berusaha tampak rileks.
__ADS_1
“Mau apa sih dia? Liat kan As, bukan mas yang cari gara-gara duluan. Tapi, adik Mas! Kamu liat sendiri lah. Dia mungkin mau kasih bukti ‘Kegigihan’ sama kita yang notaben nya orang tua Velo. Sayangnya, justru bikin Mas Muak.” Decakan itu berasal dari Adiputra. “Jangan harap aku kasih dia jalan nikahin Velo. Mimpi.”
“Mas, kamu nggak boleh segitunya dong. Harus aku ingetin dia adik kamu?” balas Asri jengah. Dia pun bingung kenapa Hartadi berdiri di sisi Velo dan mengangkat tangan seolah akan mengetuk kaca jendelanya. Pasrah bertanya-tanya, dia tunggu saja tindakan Hartadi. Asri mengingatkan dalam hati, bahwa dia harus bijak memposisikan diri sebagai istri, ibu, sekaligus kakak ipar.
Berselang perkataan ibunya, hadir ketukan-ketukan pelan di kaca jendela. Velo yang semula menghadap orang tuanya, reflex berbalik ke asal suara. Apa yang ditemuinya dari balik kaca jendela menciptakan kerutan pada keningnya.
Hartadi.
Bibir Velo tanpa sadar membisikan nama pria itu. Pergerakan tangannya yang akan membuka kaca jendela ternyata ditangkap cepat oleh ayah tirinya, karena pria itu sigap melempar peringatan.
“Velo, mobil kita mau jalan. Kamu nggak usah buang-buang waktu percuma ngeladenin orang itu. Lebih baik kita cepat sampai di rumah dan kamu bisa lanjut istirahat.” Adiputra tetap meneruskan titah tajamnya. Terlebih lagi untuk saat ini dia sangat malas menyebut nama adik bungsunya yang menebar pusing kepala.
Asri merelakan punggungnya yang sedang bersandar nyaman untuk mendekati sang suami. Asri menyentuh bahu suaminya. Meskipun dia bisa merasakan betapa kaku bahu itu sekarang, namun tujuan utamanya adalah menyela suaminya. Dia tidak setuju Velo dilarang menanggapi Hartadi.
“Bukan ‘orang itu’, tapi Hartadi. Biarin aja Velo ngomong sama adik kamu, Mas. Kenapa sih emangnya? Har itu minta Velo baik-baik. Respon kamu kayak Velo diajak kawin lari tau nggak?” ucap Asri yang bergurau ketika menyebutkan ‘kawin lari’. Tetapi, suaminya menanggapi begitu serius.
“Mungkin aja! Adik Mas bisa nekat ngebawa lari Velo. Makanya, Mas nggak mau mereka mereka banyak komunikasi. Har itu sajak remaja kelakuannya sering buat Ibu dan Bapak kewalahan. Dasarnya memang berani macam-macam.” Adiputra melirik Asri tidak terima. “Mas perhatikan kamu ngebelain Har terus. Nggak masalah putri kita dinikahi laki-laki yang lebih tua dua belas taun? Dan, dulu-dulunya penganut kehidupan bebas?”
“Dulunya juga aku janda, Mas. Kamu nggak nikahin perempuan yang masih gadis. Jadi, aku mulai ngerasa kamu nggak adil memperlakukan Har begitu. Sekali-kali ungkit masa lalu nggak masalah, tapi kalau keseringan jatuhnya menghina.” Asri menuturkan dengan penekanan sana-sini.
__ADS_1
Alhasil Asri membungkam suaminya telak. Tidak mengapa dia mengorbankan status masa lalunya disebutkan kembali. Status yang sering dipandang sebelah mata ketika dia belum diresmikan menjadi istri oleh pria itu.
“Mih, boleh aku minta Mamih jangan ngomong gitu lagi? Boleh kan?” Velomelarikan pandangannya pada sang Ibu, kemudian menatap ayah tirinya yang berhasil membuat ibunya seakan merendahkan diri. Sambil mengontrol suasana hati yang tiba-tiba murung, Velo mengabaikan peringatan ayah tirinya. “Pih, udahlah. Aku Cuma mau nanya Mas Har ada perlu apa.”
“Terserah. Papih nggak mau tau.” Adiputra membuang muka tanpa berkeinginan mempersilahkan. Mengusap dagunya gusar sambil memandang asal keluar, dia dongkol bukan main menerima tentangan dari Asri yang memberi angina segar bagi Velo untuk semena-mena.
Asri sekilas melirik suaminya yang tanpa harus ditanya, sudah tentu sedang memendam kekesalan. Biarlah dulu, konsennya saat ini terpusat pada Velo dan Hartadi. Mengukir senyum tipis, Asri meminta putrinya membukakan jendela bagi pria yang berdiri menjulang di sisi luar mobil.
“Vel, turunin kacanya. Har nungguin dari tadi.”
“Iya, Mih.” Selagi menekan panel, Velo mencegah lidahnya menentang sikap tenang Ibunya. Perempuan itu baru saja bicara seolah tidak ada sesuatu yang menyakiti hati Velo sebagai anak.
Bagaimana bisa hatinya tidak sakit? Sang Ibu membela masa lalu Hartadi yang dilecehkan ayah tirinya sampai menyeret masa lalu perempuan itu sendiri. Dua masa lalu berbeda disandingkan untuk tersia-siakan, karena bagi ayah tirinya itu tidaklah penting.
Hartadi tetap ancaman. Dengan begitu ayah tirinya akan memperlakukan pria itu selayaknya hama merugikan.
***
Setelah kaca jendela mobil diturunkan sampai habis, pincingan Hartadi otomatis tercipta kala mendapati wajah keruh Velo. Dia lalu sedikit merendahkan punggung agar leluasa memantau kondisi di dalam mobil. Hartadi mengamati kakaknya yang duduk menghadap ke arah berlawanan, benar-benar enggan menatap kehadirannya.
__ADS_1
Dasar kekanakan, ejek Hartadi seraya menyembunyikan dengkusan.