Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Prinsip Ibu


__ADS_3

“Ck… Kalau aja saya nolak mentah-mentah ide menikah, mau sampai kapan kamu bertahan sendirian, Vel?!”


“Ada masanya kamu nggak harus cemas mikirin orang lain. Nahan diri bertahun-tahun, menghapus semua impian berumah tangga yang kamu inginkan, babak belur demi perasaan segelintir orang yang kamu perdulikan… Apa hidupmu juga jadi tentram dan bahagia?” gue hanya bisa menggeleng getir, gue nggak peduli meski Velo mengabaikan unek-unek gue akibat tertidur nyenyak.


“Lihat, dimana kamu, Velove L Williams!” desis gue sambil liat luka abrasi di kulit mulus Velo yang tadi udah dibersihin oleh dokter IGD. “Dengan kekukuhan kamu ngelindungin perasaan mereka, itu artinya saya yang harus ngelindungin kamu. Itu kan yang kamu harap dari komitmen kita?”


“Kamu tiba-tiba dateng ke saya, karena kamu yakin saya bisa memproteksi kamu. Kamu mulai capek memproteksi diri kamu sendiri…” ucap gue pelan akhirnya mulai meredakan emosi.


Hah… Gue pikir mencintai Bintang udah rumit. Nyatanya, enam tahun kemudian hadir Velove yang juga menciptakan kekacauan dalam hidup gue yang semula baik-baik aja.


Tanpa sadar gue usap keningnya, mampir di rambutnya gue belai dia sampai gue liat kearah wajah polosnya nggak segan segan gue capit hidung mancungnya secara perlahan.


“Seneng kamu ya, kasih saya PR?”


Mata gue seketika melihat ke arah nakas di sisi ranjang. Disana terdapat handphone dan dompet milik Velo yang masih terselamatkan. Layar handphonenya retak tapi menghilangkan fungsinya. Telepon masuk bergantian dengan nama-nama perempuan yang tidak familier.


Gue berdecak sebal saat hendak menerima panggilan di handphonenya Velo, karena siapa tau mereka salah satu teman Velo di Almeda Group, mengingat atasannya tau mengenai kecelakaan sekretarisnya. Dan, emang udah seharusnya juga sih gue kasih kabar ke temen-temennya biar Velo nggak disangka alpa dalam pekerjaannya.


Setelah beberapa kali berusaha mengusap icon hijau di layar handphonenya yang retak akhirnya gue bisa tersambung dengan nama Aruna Shadi.


“Halo!”


“Selamat sore. Maaf saya berbicara dengan siapa?” Ucap seorang perempuan dengan nada resah, yang gue udah perkirakan dia pasti udah tau kabar dari Velo.

__ADS_1


“Iya, selamat sore. Saya Hartadi Bratadikara yang kebetulan yang bawa handphonenya Velove.”


“Saya Aruna, teman kerja Velove di Almeda Group. Atasan kami Pak Gemilang, yang bersama Velove sewaktu makan siang tadi mengabarkan kalau Velove kecelakaan. Saat ini bagaimana kondisinya?”


“Terhitung hari ini Velove dirawat di RS Kusumajaya. Saya mau minta tolong nanti disampaikan pada atasan Velove, kalau dia masih belum bisa bekerja sampai kakinya benar-benar sembuh… Dan kalau memang teman-temannya mau datang, Velove sudah bisa dijenguk.”


“Terima kasih informasinya, Pak Hartadi. Saya dan sekretaris direksi yang lain akan menyempatkan diri sepulang kerja menjenguk Velove. Perihal kondisi Velove yang harus dirawat, saya akan sampaikan ke atasan dan kantor.”


Gue terdiam setelah berakhirnya telepon dari Teman Velo. Terbesit di dalam pikiran sebuah skenario yang dapat gue kerjakan demi komitmen kita naik ke satu tahap. Gue langsung mengambil handphone dari saku dan menghubungi seseorang.


“Assalamualaikum… Bu, aku mau minta nomor teleponnya Mbak Asri.”


“Waalaikum Sallam, buat apa minta nomor Asri?” sarkas Nyonya besar sinis.


“Aku nggak mau macam-macam, Bu… Cuma mau tanya tentang real estate Mas Adi. Setahuku Mbak Asri bantu di pemasarannya.”


“Bu…”


“Apa sih Har? Ibu nggak mau ngasih nomor Asri. Saran Ibu, kamu telepon Masmu. Apa kalian bertengkar? Har, Har… Kalian semua itu sudah berumur, tapi kok masih sibuk marah-marahan.”


Ck… Pake langsung di tutup lagi. Oke gue tau prinsip Ibu emang ga mengijinkan  anak-anaknya menyimpan nomor atau berhubungan intens dengan ipar yang berlawanan jenis. Menurut Ibu, cara berkomunikasi paling baik  dengan lawan jenis yang sudah menikah adalah melalui pasangannya terlebih dahulu.


Saat ini, emosi gue berasa dipompa dengan maksimal, sebab membicarakan prinsip Ibu yang terkesan kuno telah mengingatkan gue akan penyimpangan Adiputra terhadap Velo. Jika suatu saat Ibu tau kelakuan bejat seorang Adiputra, gue nggak bisa ngebayangin kelanjutan hidup Mas Adi di tangan Ibu.

__ADS_1


Akhirnya gue mencari nomor telepon yang sekiranya dapat membagi nomor telepon Mbak Asri.


“Hmm… Ibu bakalan dukung kemarahanku sekarang kalau tahu seberapa daruratnya hati nurani Mas Adi.” Gue tersenyum penuh kemenangan.


***


AUTHOR POV


Sepanjang hidup, Hartadi bukanlah seseorang mudah dilunakkan oleh suatu perbuatan dan hal sentimental. Bagai karang yang kuat walau arus air di dalam laut sering kali tak ramah, begitu pula hati Hartadi terbentengi dari  hujaman pedih yang mengucurkan air mata.


Tapi normalnya manusia, dia pernah benar-benar menangis, saat menyadari bahwa perempuan yang ingin di nikahinya sangat terlarang. Dan kali ini menyaksikan dia menyaksikan perempuan yang telah melahirkan sosok tegar seperti Velo datang dalam kepanikan dan memeluk putrinya diselingi tangis tidak percaya,  Hartadi akui bagian hatinya ikut teremas.


Demi menetralkan kepahitan yang tiba-tiba bersemayam, Hartadi menggeser pandangannya ke objek lain. Masih jelas dalam ingatannya, sepasang ibu dan anak itu di hakimi melalui pandangan mencela oleh sebagian keluarga Bratadikara. Jangan harap semua keluarganya tersenyum penuh sambutan.


Mereka yang membuang muka, menginginkan Adiputra mencari pendamping yang lebih dari Asri Williams. Janda seorang pengusaha ternama di Inggris yang meninggal diakibatkan karena stroke di usia muda. Keluarga dari L Williams tidak pernah menganggap mereka berdua adalah bagian dari keluarga L Williams karena keluarga dari L Williams tidak pernah menganggap Asri sebagai menantu dari keluarganya, ya alhasil suaminya dikeluarkan dari daftar keluarganya demi menikah dengan Asri. Ya, anggap saja itu sebuah kesalahan, harusnya keluarga Bratadikara memberi saran Asri untuk menemukan pendamping lain.


Dengan berhasil dinikahi Adiputra, Asri tidak tau kalau putrinya diam-diam menjadi tawanan sang suami. Hartadi sangat tidak memahami Adiputra, bersikeras memperjuangkan Asri dihadapan keluarga, namun perempuan itu harus dikhianati atas nafsu bejatnya yang tak kira-kira ditujukkan kepada siapa.


Lebih kejamnya lagi, Adiputra menjadi sosok ayah idaman ketika menjadi suami Asri yang amat ikhlas membesarkan Velo selayaknya anak kandung. Jadi, Velo harus membayar tahun-tahun dimanjakkan dengan keseluruhan dirinya? Apa itu adil? Dengan refleks, Hartadi mengusap bibirnya menahan kebencian.


“Velo..” Asri membelai wajah putrinya yang pucat. “Banyak banget lukanya, sayang…”


Ya… Berkat akalnya yang sangat ajib, Hartadi pun mencari jalan pintas, yaitu mengorek Informasi data keanggotaan Cahari buat mencari nomor Asri melalui Biyan. Dia menghubungi pemuda itu meminta nomor handphone ibunya dengan alasan bisnis. Dan disinilah sekarang, tak lama setelah mendapat kabar dari Hartadi bahwa Velo kecelakaan dengan secepat kilat Asri sudah berada di rumah sakit seorang diri tanpa ditemani Adiputra.

__ADS_1


Hartadi menjauh dari ranjang dan membiarkan supaya Asri bebas mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi Velo. Dia lalu duduk di sofa yang tersedia di kamar inap sambil menyatukan tangan di atas paha, dia relakan menit-menit berlalu dalam bisu. Asalkan Asri bergabung di saat perempuan itu telah siap menerima segala fakta. Bukan menyangkut obsesi Adiputra, tapi mengenai pernikahan yang direncanakannya dan Velo  di kemudian hari.



__ADS_2