Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Anteng Digendong Hartadi


__ADS_3

“Kaki saya harus cepet pulih. Saya nggak mau kelamaan di rumah.”


Belum sempat Hartadi membalas, supir kembali masuk ke dalam mobil setelah melakukan pengecekan singkat persis yang diminta atasannya. Sebelah tangan supir itu menggaruk pelipis ketika memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Velo langsung menunda kalau ban mobil Alphard ini benar-benar kempes.


Velo melirik Hartadi yang ikut memperhatikan supir ayah tirinya. Sesaat terdiam, terpukau oleh pria yang membuktikan langkahnya satu persatu untuk menentang Adiputra. Semua ini sungguh terjadi padanya. Velo diberi kesempatan memperbaiki nasibnya di tangan Hartadi, setelah bertahun-tahun yang dihabiskannya seorang diri. Velo merasakan sengat panas pada sepasang mayanya.


Menghadap tiga orang yang duduk di kursinya masing-masing, supir itu menyampaikan informasi bersama kedipan gugup.


“B-ban mobil kempes semua, Pak. Bisa aja dipaksa jalan, tapi saya takut pecah ban.”


“Ini kerjaan kamu kan? Puas?!” ucap Adiputra diliputi amarah yang melejit dengan cepat karena mendengar penjelasan supirnya itu.


“Oh, Mas liat pakai mata sendiri kalau aku yang ngempesin ban mobil? Deketin mobil ini aja aku dicegat kamu tadi. Jago banget kalau aku bisa nyuri kesempatan bikin semua ban kempes.” Hartadi menjauh dari kaca jendela sambil menyugar rambut. “Jangan asal nuduh terus, Mas. Aku nggak melulu bisa kompromi ngadepin kamu yang nyinggung aku begini.”


“Nggak semudah itu Mas percaya alibi kamu!” Adiputra mengepal erat tangannya. Tampang Adiputra kelam, kemarahan dan rasa dipermainkan bercampur jadi satu. Dia teringat mobil Mercedes benz miliknya sempat dihajar adiknya dari belakang hingga tidak lagi mulus. “Mas bakal buat perhitungan sama kamu, Har. Liat aja.”


“Mas, ini perkara ban kempes. Nggak ada yang dirugikan di sini. Har juga nawarin kita naik mobilnya. Kamu punya langganan bengkel dan jasa derek. Masalah selesai. Aku nggak mau rebut-ribut kayak tadi.” Asri menenangkan suaminya yang menguarkan aura permusuhan. Emosi sudah bergelegak, tercermin ketika pria itu menatap Hartadi. Seakan dapat meledak kapan pun.


“As, kamu ini nggak tau adik Mas.” Adiputra mendesis hamper kelepasan meninggikan suaranya pada sang istri. Kemudian matanya menghunus Hartadi. Benci sekali dia melihat adik bungsunya itu puas oleh keadaan yang berbalik, membuat pria itu berada di atas angina.


“Mas, mau ikut mobilku atau bersikeras nunggu jemputanmu yang lain?” Hartadi tidak memperdulikan ocehan Adiputra terhadapnya. Jika benar ingin membuat perhitungan boleh saja. Asalkan tidak misuh-misuh dengan sikap mengesalkan saat terkalahkan. Lagian, bukan dirinya yang ‘bermasalah’.


“Aku pengen ikut mobil Mas Har.” Velo menyela tegas.

__ADS_1


“Vel, Papih belum bilang boleh.” Adiputra menyipitkan mata. Sepertinya keberadaan Hartadi menyuntik keberanian dalam diri Velo. Perempuan itu semakin tidak menurut dan berbuat semaunya.


“Aku harus cepet sampai di rumah, Pih. Nggak tau kenapa aku mulai ngantuk. Dokternya kasih obat Pereda nyeri apa obat tidur sih?” Velo menutup mulutnya yang menguap, bukti kantuknya telah hadir. Untung dia bukan orang yang sulit menguap, jadi mudah saja terlihat sungguhan.


Pura-pura tidak melihat ekspresi keras ayah tirinya, Velo tetap meneruskan niatnya pergi dari mobil itu. Mengusap sudut matanya yang berair, dia akhirnya membuka panel kunci sambil berpamitan.


“Nggak apa-apa ya, Pih, Mih? Aku duluan ke mobil Mas Har.”


“Iya. Kamu duluan aja ke mobil Har. Eh tunggu…” Asri melebarkan mata menyadari putrinya tidak bisa berjalan bebas untuk sementara. Mengedarkan mata ke sekeliling, keningnya mengernyit kala tidak menemukan kursi roda. “Mas, kursi roda yang dipakai Velo tadi di mana? Kasian kalau Velo nyobain Kruknya sekarang. Aku perhatiin aspal di sini nggak rata.”


“Itu pinjam ke rumah sakit. Mas udah kembalikan.” Adiputra menjelaskan nasib kursi roda yang dipergunakan Velo mencapai halaman parkir rumah sakit. Wajahnya melembut saat menyentuh lengan halus dan putih Velo. Segaris senyuman pun terbit tanpa dibuat-buat. “Vel, Papih yang papah kamu ke mobil Har. Benar kata Mamih, aspal di sini susah buat kamu yang belum terbiasa pakai kruk.”


“Aku bisa, Pih.” Velo menebar senyum meyakinkan. Napasnya tertahan, dia belum pernah menggunakan kruk dan menyeret tubuhnya menggunakan tenaga lebih di atas permukaan aspal.


“Asri, biar aku antar Velo ke mobil Har—“


“Mas,” potong Hartadi menyabarkan diri agar tidak menjotos kakaknya. Hartadi menahan tawa jijik selagi matanya memaku aspal.


Permukaan kasar aspal sialan ini dipergunakan Adiputra untuk dapat menempeli Velo.


Menepikan keinginannya berdecak, Hartadi menggeser pintu mobil sampai sepenuhnya terbuka. Bertingkah demi membakar obsesi sang kakak, Hartadi menyusupkan tangannya pada lipatan betis dan punggung Velo. Bibirnya berkedut menahan senyum, Velo memahami betul apa yang ingin dilakukannya. Perempuan itu menerimanya.


Harusnya Velo malu diperhatikan sang Ibu ketika Hartadi sedang ‘manis-manisnya’. Tapi, dia berhak memamerkan dengan siapa dirinya ingin bersama. Mengangkat tangannya ke balik bahu Hartadi, Velo memposisikan sebelah tangannya mengalung tepat sebagai tumpuan.

__ADS_1


Objek pengamatan Velo hanyalah Hartadi. Hatinya langsung tercubit tidak ingin bertambah kagum. Kenapa Hartadi pintar sekali mengusasai situasi?


“Ngapain repot, Mas? Aku ambil alih Velo ya,” ucap Hartadi kelewat santai.


Dalam sekali angkat, Velo telah berpindah ke dalam kukungan Hartadi.


Penciumannya kembali dimanjakan wangi parfum Velo yang kuat dan manis. Wangi ini bila diibaratkan sangat mewakili kepribadian Velo. Tipikal perempuan ceriwis tetapi seksi, sebuah kombinasi yang membuat pening kepala.


“Ngapain repot? Velo anaknya Mas! Gimana sih kamu?” Adiputra sewot bukan kepalang. Terlanjur sudah adik bungsunya yang cerdik itu menguasai Velo. Dia mengibaskan tangan meminta Hartadi cepat berlalu. Lama-lama dia bisa sakit mata melihatnya. “Udah sana! Nanti Mas dan Asri nyusul ke mobilmu.”


“Oke,” jawab Hartadi enggan banyak bermain kata, lalu berpaling pada kakak iparnya. Tatapannya melunak saat berbicara dengan ibu Velo tersebut. “Mba Asri, aku ijin bawa Velo ke mobil. Silahkan Mba ke mobilku nanti. Mobil abu-abu yang parkir di dekat putaran taman. Hmm, apa supirku ke sini aja jemput Mba dan Mas?”


“Nggak apa-apa, Mba dan Mas Adi aja yang ke sana. Makasih loh, Har.” Asri tersenyum penuh pengertian. Sesungguhnya, ada yang menggelitik hati Asri mendapati putrinya dalam tangan-tangan Hartadi. Terlebih, tampaknya Velo cukup nyaman.


“Vel, anteng banget kamu?” ucap Asri mengisengi putri sambil mencairkan suasana.


“N-namanya juga juga digendong, Mih. Bukannya aneh kalo aku gerak-gerak ga jelas?” jawab Velo gelagapan meski tidak menutupi wajahnya yang memerah.


Asri tertawa lepas, Velo pun meringis kebingungan harus menjawab apa. Dia merasa jantungnya semakin berdebar dari sebelumnya. Kadang dirinya memang senorak ini untuk urusan sepele. Benang kusut dalam kepalanya buyar merasakan tubuhnya terayun menjauhi mobil.


“Duluan, Mas, Mba.” Hartadi sekilas menganggukan kepala tandanya berlalu dari hadapan kedua orang tua Velo.


“Akhirnya,” gumam Velo menghembuskan napas panjang, lega membanjiri dirinya sebab bisa berpisah dari suami ibunya yang betah menghantui.

__ADS_1



__ADS_2