
Velo mengatur fokusnya agar memahami ke semua yang meluncur dari mulut sang atasan. “Oke, saya kesana sekarang.”
“Nanti ada pegawai yang bantu payungin kamu sampai mobil.” Ucap Gemilang mengingatkan Velo agar tidak kebasahan sampai mobil.
“Iya, Pak.”
“Hati-hati jalannya licin.” Ucapnya lalu memutuskan telpon. Sambil berjalan Velo hanya tersenyum samar atas perhatian kecil atasannya itu tapi dia tau sekarang bukanlah moment yang tepat.
Sebenarnya hujan-hujanan pun tidak masalah buat Velo. Tajamnya air hujan saat menyentuh kulit pasti dapat menjadi pemicu untuknya bertahan sekalipun hati tersayat. Tidak harus dia berjibaku dengan sakit hati akibat diancam oleh sang ayah. Sepertinya Adiputra sudah tidak segan menyakitinya.
Velo pun berjalan keluar dari pintu restoran itu dan berbaur dengan yang lain, dia melihat mobil Lexus milik Gemilang.
Boleh dari luar dirinya terlihat tenang, namun sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Dia menghadapkan wajahnya ke atas, menatap gulungan awan dan seketika tersenyum getir. Cuacanya sama dengan hati Velo yang rasakan sekarang, langit diliputi gelap seakan mengejek dirinya.
Kalau begini, sepulang kerja Velo harus melakukan banyak hal yang dia sukai. Termasuk makan mie rebus dengan potongan cabai rawit lalu merokok bebas di balkon. Supaya dia tetap waras bagaimanapun caranya.
“Permisi!”
“Misi, mbak!”
Tak lama ada yang memegangi kedua sisi pinggang Velo tanpa permisi, Velo terkejut bukan main sampai dia langsung berbalik ke belakang dan menghempaskan tangan yang bersarang di tubuhnya.
Belum sempat Velo melihat orang yang berlaku kurang ajar padanya, dari arah lain seseorang mendesak paksa untuk melewati barisan yang rapat, hingga bahunya menjadi korban dari terobosan orang tak beradab.
“Aauww…” Velo meringis merasakan denyutan pada salah satu bahunya. “Ck… Yang sabar dong Mas!” semprot Velo pada orang-orang yang telah bergegas melawan hujan.
Dan hanya sebatas itu. Velo menahan lidahnya untuk mencaci, dia hanya mengelus bahunya yang benar-benar sakit akibat dihantam beberapa pria yang sudah berlari kecil ke parkiran motor. Saat pandangannya masih tertunduk, Velo melihat ada sepasang sepatu hitam yang hampir mengenai ujung lancip heels nya.
Seketika hati Velo sangat was-was, mungkin saja orang itu suruhan dari ayah tirinya yang membuntuti kegiatannya hari ini. Tubuh Velo bergerak tanpa di perintah dengan memutar ke belakang.
Bibir Velo mendadak kering ketika tau siapa yang berdiri di depannya sambil berpose pongah. Dan akhirnya, Velo bernapas lega saat mengetahui orang itu adalah Hartadi. Bukan seseorang yang dia pikir akan mencelakainya.
__ADS_1
Hanya saja, mengapa? Mengingat banyak hal pedih yang sudah dia lalui sendirian, rasanya dia tidak pernah secengen sekarang. Sebab dadanya tiba-tiba merasa sesak menyadari eksistensinya Hartadi.
“Kenapa ngelamun terus?” ucap Hartadi sambil mengeluarkan tangannya dari saku. Dia selidiki Velo yang tidak biasanya berteman dengan senyap, namun pandangan perempuan itu tidak mengharuskannya bertanya untuk kedua kalinya. “Apalagi sekarang?”
Bukannya bercerita, Velo justru menggeleng pelan. “Nggak ada apa-apa, Pak.”
Tidak, Velo tidak ingin menangis. Velo selalu tanamkan diri betapa dirinya kuat dalam kondisi apapun dan dimana pun dia berpijak, perempuan itu tidak selalu lemah. Sekedar pesan ancaman, yang terpenting dirinya masih berdiri di sini.
Lagipula sudah banyak tuntutan Velo pada Hartadi. Gundah hatinya saat ini tidak perlu dia bebankan pada pria itu. Akan sangat egois jika semua tentang dirinya.
“Saya nggak pengen maksa, tapi… Kamu tau cara hubungin saya kalau ada apa-apa.” Ucap Hartadi dengan nada merendah tajam, bahkan hampir berbisik di sejumlah orang yang mengaburkan kebersamaan mereka.
Perempuan itu masih bungkam. Kejujuran dari matanya ingin sekali mengumumkan cerita yang belum tersampaikan meski bibirnya berkata tidak. Jika saja Hartadi diberikan ruangan kosong dengan waktu tidak terbatas, dia pasti sudah menarik Velo dari sana dan memaksanya untuk berbicara.
Untung saja akal sehatnya masih jalan, jam kantor masih berjalan dan Velo memiliki peranan penting di Almeda Group. Handphone dalam genggaman Velo pun berdering, sekilas Hartadi melihat nama berawalan huruf G, tapi dia tidak yakin apa dia yang dilihatnya beberapa detik tersebut benar.
Di depannya, Velo menerima telepon tersebut dalam panggilan formal. Hartadi asumsikan atasan perempuan itu yang menghubungi dan entah atas dasar alasan apa yang mendasarinya, karena Velo menjawab dengan ringkas di luar penjelasan.
“Iya, Pak.”
“Lebih tepatnya atasan saya.”
“Direktur Almeda semuda itu?” jawaban dari Velo membuat Hartadi menatap sangsi.
“Belum resmi, sekarang masih Papahnya.” Sambil melirik langit, bukannya mereda malah makin deras hujannya. “Mobil atasan saya udah ngehalangin orang yang mau masuk ke sini. Saya harus balik ke kantor.”
“Ya udah, hati-hati. Jalanan pasti padat kalau hujan begini.” Hartadi mengambil dompet dari saku celana belakangnya, dia ambil selembar seratus ribu rupiah. “Tunggu di sini biar saya panggil pegawainya.”
Tak menunggu lagi, Hartadi menghampiri seorang pegawai yang mengenakan jas ponco berwarna kuning sembari menyelipkan uang seratus ribu ke tangan pria itu. Lalu memberi kode keberadaan Velo. “Tolong anterin sampai ke mobil. Saya titip ya, Mas.”
“Oh iya Pak, makasih banyak.” Ucapnya sambil memasukan uang itu ke saku ponconya. Pegawai itu langsung mengikuti Hartadi yang kembli ke hadapan Velo.
Raut murung Velo sebenarnya amat mengganggu pikirannya Hartadi. Sambil menyisipkan tangan ke belakang punggung Velo dan mencapai sisi pinggang perempuan itu, Hartadi memberi usapan bermaksud menenangkan.
__ADS_1
Memastikan sekitar, kemudian Hartadi dekati telinga Velo. “Nanti malem saya ke apartment kamu. Jangan kemana-mana.”
“Ciih… Mau ngapain? Kayaknya tadi ada yang pura-pura nggak kenal saya, main serobot meja lagi. Tapi, kenapa malem ini kok bisa mau bertamu.” Ucap Velo sinis karena masih kesal dengan sikap Hartadi.
Sementara itu Hartadi hanya menyeringai tipis menanggapi sindiran yang terucap dari bibir Velo. Telapak tangannya menambahkan tekanan pada pinggang perempuan itu. Dengan ringan dia berkata. “Saya mau ngapain? Tunggu aja apa yang bisa saya lakuin di tempat kamu. Penasarannya nggak usah sekarang.”
“Ck… Ih.” Ucap Velo mencebik sambil berjengit, apalagi tangan pria itu masih mendiami pinggangnya dan tidak ingin terlepas sejak tadi. “Siapa yang penasaran? Saya cuma nanya doang.”
Bukan semata-mata sombong dan malu mengakui Velo, Hartadi sengaja menjadi orang asing ketika bertemu dan mengambil meja perempuan itu. Antek-antek Adiputra mulai menguntitnya lagi semenjak pergi dari kediaman orang tuanya.
Tiap kali Hartadi intensif bersama Velo, kemana pun dia pasti diekori. Konsennya bukan pada diri sendiri, tapi pada Velo yang bisa saja menjadi sasaran empuk rasa tidak senang Adiputra akan situasi. Apalagi sopir yang Hartadi ingin pekerjaan untuk Velo masih dalam proses.
Gigi Hartadi bergemeretak tanpa sadar, bisa-bisanya punya kakak semerepotkan ini. Privasinya jelas terganggu dengan kehadiran orang yang melaporkan kegitannya pada Adiputra. Selagi mereka tidak mendekat dan melahirkan kekacauan, maka Hartadi lepaskan.
Andai kata di lain kesempatan mereka meresahkan dengan cara yang tidak dia sukai, Hartadi tidak ambil pusing dia akan mengerahkan orang-orangnya saat itu juga.
Adiputra meremehkan Hartadi jikalau pria itu mengira dia tidak punya anak buah untuk sekedar memberi peringatan tipis, namun terkenang. Hartadi pebisnis dari keluarga pebisnis ternama, lucu aja kalau dikatakan kosong ‘Backing-an’.
Di belakang layar, ada segelintir orang yang siap kapan pun untuk menjatuhi peringatan keras kepada siapa saja yang ingin berseteru dengannya.
Tidak ada lambaian maupun senyum yang diberikan Hartadi saat Velo mulai berjalan menjauh meninggalkannya. Hari ini menyaksikan redupnya asa dalam mata Velo, menghadirkan desir kekhawatiran yang sulit dia ungkapkan alasannya. Hartadi begitu serius menatap sosok Velo menuju mobil, matanya tidak mengijinkan dia lengah walau sesaat.
__ADS_1