
Velo mengamati Aruna sampai perempuan itu membuka pintu mobil, barulah dia melajukan langkah kakinya menuju mobil kesayangannya yang sudah terparkir sejak jam setengah sembilan pagi.
Sorot lampu mobil dari belakang membuat Velo merapatkan diri pada pinggiran jalan agar mobil tersebut dapat melewatinya. Namun mobil yang Velo pikir akan segera bergerak lebih cepat itu, justru mengikuti langkah Velo dengan anehnya.
Sisi lutut kiri Velo bersentuhan dengan bamper depan mobil yang tiba-tiba berhenti, sehingga menutup jalan Velo dan membuatnya tak bisa bergerak.
Firasat Velo mulai berkembang ke hal yang tidak-tidak, tetapi benar saja, Velo menemui wajah Adiputra ketika dia menoleh ke samping dan kaca jendela turun perlahan.
“Masuk Velo, Papih mau ngomong sesuatu.” Titah Adiputra dengan tenang dibarengi senyuman hangat yang menipu.
“Mau ngomong apa, Pih?” sebisa mungkin Velo menampilkan ketenangan seperti yang diperlihatkan Adiputra.
“Masuk dulu, sayang. Nanti Papih kasih tau di jalan. Jangan nolak ya? Papih nggak mau ribut.” Adiputra berhasil membangun ketakutan Velo ketika mendengar panggilan 'sayang' yang tak diinginkannya itu.
“Oke, Pih.” Velo mengangguk pelan, tidak ingin menjadi pusat perhatian di parkiran Almeda Group. Apalagi mobil Adiputra menghalangi dua mobil yang akan lewat di belakang mereka.
Handphone di genggaman Velo menjadi satu-satunya pilihan. Velo ingin setidaknya ada seseorang yang mengetahui kemana Adiputra membawanya. Karena itu Velo membuka dengan cepat aplikasi Whats'up dan membuk nama Hartadi.
Velove Bratadikara :
Pak saya shareloc ya?!
Velove Bratadikara :
Maaf ganggu, Papih tiba-tiba jemput dan katanya mau ngomongin sesuatu.
***
Velo tetap berlaku sopan kepada Adiputra, dengan menyalimi tangan Pria itu takzim. Setelah melepas tangan Adiputra, Velo bergerak menepi untuk mengusahakan jarak di antara mereka berdua. Tak ada yang bersuara setelahnya, selain deru kendaraan yang mulai terdengar.
__ADS_1
“Capek Vel?” tanya Adiputra usai kebisuan yang panjang selagi memperhatikan wajah Velo. Walaupun masih begitu cantik dan tanpa cela, tergambar jejak kelelahan di wajah anak tirinya tersebut.
“Capek biasa aja, Pih. Namanya juga pulang kerja,” jawab Velo tidak ingin Adiputra memandangnya lemah, karena akan memicu prilaku yang tak diinginkannya.
“Kamu udah lama nggak pulang ke rumah kan? Kapan-kapan tinggal lama lah di rumah. Jangan menyendiri di apartment. Papih berharap ada kamu yang ngeramein rumah kita.” Ucap Adiputra sembari memandangi hiruk pikuk Jakarta, saat mobil yang dikendarai mereka keluar dari gedung Almeda Group.
“Iya, Pih. Nanti Velo cari waktu yang tepat buat tinggal lama di rumah. Sekarang lagi sibuk-sibuknya, karena Almeda dapet suntikan dari Korea untuk mendanai project terbaru Almeda.” Velo memberi alasan yang masuk akal. “Jadi Pak Amar banyak meeting dan dokumen.”
Velo memijit keningnya secara tidak sadar. Sedih rasanya mendengar Adiputra menginginkan keluarga lengkap di satu rumah. Tinggal di apartment seorang diri dengan dalih mandiri dan memangkas jarak ke kantor, hanya segelintir alasan Velo menghindari Adiputra.
Sebelum malam Adiputra melecehkan Velo, kehidupan di rumah besar dengan keluarganya sangat menyenangkan. Velo dapat besama dengan sang Ibu yang tipikal ibu rumah tangga sekali, melihat senyuman ibunya sesering mungkin dan mencuri kecupan pada pipi perempuan itu.
Selain Ibunya, Velo sering kali menemani ke tujuh adik kembarnya yang gemar tidur larut malam. Ada yang seneng main game konsol, baca novel, fokus ke media sosialnya dan lain-lain. Namun mereka akan merecoki Velo ketika sedang berkonsentrasi menjalankan pilates.
Ya… hidup Velo saat itu sangat damai.
“Papih dapet informasi kalau minggu lalu kamu ngambil cuti?” tanya Adiputra melihat ke arah Velo yang masih memandang ke luar jendela, menunggu reaksi Velo karena dirinya tau keabsenan Velo di kantor. Sementara Velo berhasil menyembunyikan kegugupannya, dia memberi anggukan yang terkesan santai sembari menatap papih tirinya.
“Cuti kamu dipakai ke mana aja? Mamih dan adik-adikmu kok nggak di kabarin? Mereka panik dan takut kamu di apa-apakan orang, Velo.” Ucap Adiputra sambil memberi tepukan diatas pahanaya sendiri sembari bertanya dengan tajam. “Nyamperin Mas mu ya?”
“Pih, aku udah lama berantem sama Mas Har. Papih masih inget kan? Persoalan dulu di Royal WCS. Pas dapet cuti, aku kepikiran aja Mas Har. Gitu aja sih aku niatnya ke Kalimantan.” Jawab Velo di luar kepala.
Alasan panjang tersebut sengaja dibuat Velo atas persetujuan Hartadi. Cepat atau lambat, Adiputra akan menanyakan kepergian Velo menemui Hartadi yang tidak diberitahukannya kepada orang lain.
Untung saja, Velo tidak membuat-buat alasan ketika ibu dan ke tujuh adiknya bertanya.
“Cuma karena kamu mau baikan sama Hartadi? Sesepele itukah alasanmu?” Adiputra menaikan sebelah halisnya tidak percaya, apalagi informannya memberi bukti photo Hartadi mendatangi kamar hotel Velo pada malam setelah pria itu menelepon.
“Emangnya ada alasan lain?” Velo melontarkan pertanyaan seakan dirinya benar-benar tidak memiliki maksud terselubung dengan Hartadi.
__ADS_1
Kesempatan untuk mengintip layar handphone pun belum Velo dapatkan, karena Adiputra sudah duduk menyamping dan mengarah ke arahnya tanpa jeda. Dari tatapan Adiputra, Velo sadar dia benar-benar sudah kehilangan figure seorang Ayah.
‘Kenapa kita jadi seperti ini sih, Pih?’ Velo membatin pedih.
Pada usia sebelas tahun, Velo melihat wajah ibunya berseri-seri ketika seorang pria mendatangi mereka lalu mengenalkan diri sebagai calon suami sang ibu. Velo ikut berbahagia, ibunya tidak akan sendiri lagi sementara ada seseorang yang dapat dipanggilnya ‘Papih’.
Adiputra tidak pernah membedakannya, meskipun pria itu hanyalah Ayah tirinya. Kasih sayang, pelukan bangga dan fasilitas terbaik, semua di limpahkan pada Velo yang tumbuh menjadi anak pertama kesayangan. Tapi, apa fisiknya di usia dewasa ini yang menyebabkan malapetaka?
“Mungkin aja kalian ada hubungan. Hartadi itu lajang dan menarik. Nggak nutup kemungkinan kamu naruh hati sama Hartadi!” bentak Adiputra.
“Velo kangen Papih,” gumam Velo di luar topik yang digiring Adiputra, bibirnya sedikit bergetar saat mengungkapkan rasa paling dalam dari hatinya. “Velo kangen banget sama Papih. Kapan Papih mau sayang Velo kayak anak lagi?”
Adiputra terdiam melihat sepasang mata Velo yang memandangnya sendu, namun tetap terkalahkan dengan getar menyimpang yang menemaninya beberapa tahun terakhir ini. “Papih sayang Velo, makanya Papih nggak mau Velo dimiliki laki-laki lain. Velo ngerti kan maksud Papih, sayang?”
“Aku nggak ngerti dan nggak bakal pernah ngerti. Salah, Pih. Apapun yang Papih rasain ke aku sekarang adalah kesalahan besar.” Velo lantas menarik diri dari Adiputra.
Punggung Velo masih bersandar tegang di tengah kesedihan dan kekecewaan yang menelan harapannya, harapan Adiputra dapat mengembalikan tatapan Ayah kepada putrinya seperti dahulu. “Aku salah menganggap Papih ayah terbaik.”
“Kamu nggak bisa menghakimi Papih segampang itu, Velo!” ucap Adiputra meninggikan suaranya, kemudian mengatakan banyak hal mengenai kasih sayang yang telah dicurahkannya selama ini.
Velo tidak membalas dan mendengar, sebab dia sedang memikirkan pikirannya melanglang bebas.
Anak sulung perempuan seharusnya memiliki sejuta kenangan indah dan membekas bersama Ayahnya. Memandang ayahnya bagaikan sosok pria idaman sekaligus cinta pertama yang tak akan lekang oleh waktu.
Sayangnya takdir tidak berbaik hati pada Velo. Manis hubungan ayah dan putrinya tidak pernah terjadi dalam hidup Velo. Karena, tak banyak berinteraksi yang dilakukan oleh Velo dengan Ayah kandungnya selama pria itu hidup, sanak saudara ayahnya pun tidak pernah menampakan batang hidungnya, entahlah keluarga ayah kandungnya tidak pernah melihat Velo maupun sang ibu. Mungkin karena hubungan yang tidak direstui oleh keluarga ayah, mungkin. Karena ibunya sangat tertutup soal keluarga ayah kandungnya.
Meskipun usinya masih kecil, Velo mengingat tahun-tahun yang dihabiskannya menyaksikan sang ayah terbaring tidak berdaya melawan stroke. Ayahnya hanya akan bergerak dan berpindah posisi hanya dengan bantuan ibunya yang begitu telaten mendampinginya.
Diihhh.... kok ngenes ya Ama Adiputra... mana niiiiihhhh timnya Hartadi????
__ADS_1
apa yang bakalan terjadi guys? Apa Hartadi bakalan nolongin Velo??
jangan lupa tinggalkan komen, like dan Fav... jika cerita ini emang bener-bener kalian suka...