
“Kamu nyaman dan aman di samping Hartadi? Iya?”
“Iya, Mih. Aku nyaman dan aman di samping Mas Har. Setiap sadar Mas Har ada di sekitarku, aku ngerasa semuanya terkendali. Aku ngerasa rileks, nggak harus khawatirin apa-apa.” Jelasnya melihat ekspresi sang ibu yang masih bimbang.
“Aku maklum kalo mamih masih bingung. Kok bisa ya aku terikat hubungan sama Mas Har? Terakhir komunikasi pribadi aja waktu aku masih kinyis-kinyis, itu kan pikiran Mamih?” Sementara Asri hanya menghela napas.
“Mih, kami udah nyelesein urusan yang dulu. Lagian Mas Har ga suka gegabah. Kalau Mas Har maju dan ngomongin hal seserius pernikahan, itu tandanya dia siap. Dan siapnya Mas Har ga setengah-setengah lagi.”
“Tapi, Nak. Har nggak harus..” Asri menarik napas dalam untuk menyambung ucapannya. “Nggak ada yang harus di pertanggung jawabkan Har sampai dia mendadak pengen nikahin kamu kan? Enggak kan, Vel?”
Velo hanya tersenyum geli mendengar petanyaan sang ibu. Ya, dirinya dan Hartadi mana pernah melakukan kegiatan yang memacu adrenalin dan peluh. Andai aja di kediaman kakek dan neneknya pada malam itu, Hartadi menggerus akal sehat dan mempersilahkan nafsu bejatnya, absolutely dia pasti akan terbata-bata menjawab sang ibu saat ini.
“Nggak Mih,” gelengan tegas kepala Velo membuat hati Asri sedikit lega. “Kita nggak melampaui batas apa-apa. Aku nggak hamil dan aku masih virgin, Mih. Mas Har tau batas-batasnya dan dia tau sejauh mana nempatin diri sama aku sebelum kita nikah. Dia bukan anak kemaren sore Mih.”
Asri menyadari Velo tidak semata-mata melambungkan nama Hartadi saja, Asri melihat ada kebanggaan samar di wajah Velo saat perempuan itu menceritakannya. Tapi tetap saja hal itu tidak membuat keraguannya menipis.
“Bener keputusan kamu mau berumah tangga sama Har? Mamih harap kamu pertimbangkan lagi, Nak.”
Tetap, Asri tidak sepenuhnya rela jika putrinya jatuh ke tangan Hartadi. Lingkar keluarga mereka terlalu sempit. Paling memberatkan baginya apalagi kalau bukan tanggapan dari ibu mertua. Terlebih lagi, ibu mertuanya sangat dekat dan sangat menyayangi Velo ibarat cucu kandungnya sendiri. Tapi, ada nama lain yang terbesit di dalam benak Asri.
Parnita Bratadikara, adik suaminya yang pernah menentang habis-habisan dirinya dulu. Lulus dari Uversitas ternama di Oxford dengan nilai cumload masih tidak dipandang pantas oleh perempuan itu. Dan sekarang, haruskah terulang pada putrinya? Apa yang keluar dari mulut pedas Parnita jika perempuan itu tau niat besar Hartadi pada Velo?
“Vel, Mamih khawatir kalian masih ada di fase semu. Saling ngerasa cocok, tapi ternyata cuma di awal. Mamih takut kalau di tengah-tengah pernikahan kalian goyah, lalu saling tuding dan memutuskan untuk berpisah. Dengan alasan udah nggak nemuin kecocokan.” Asri ingin Velo berfikir realistis.
“Mamih bukannya ngedoain pernikahan kamu gagal, tapi pahitnya kamu harus tau. Status janda itu berat, dan Mamih udah pernah ngalamin. Mamih nggak mau kamu juga, Vel.”
“Mih, aku udah pikirin dan pertimbangin masak-masak. Keputusan aku mau berkomitmen sama Mas Har nggak ngelaluin proses yang sebentar.”
__ADS_1
“Pernikahan bukan ranah yang tepat untuk sekedar coba-coba. Mamih nggak mau kamu terluka. Mamih bisa ngerti kamu nggak cari laki-laki yang punya modal cinta untuk dijadiin suami. Tapi kamu pikir Vel, jaminan laki-laki itu bisa ngebawa kamu ke pernikahan bahagia apa?” todong Asri masih mengupayakan Velo melihat dari sudut pandang berbeda. Belum Velo menjawab pertanyaannya, Asri kembali mematri kenyataan pahit yang kemungkinan bisa terjadi.
“Di saat kamu ngerasa pernikahan kamu baik-baik aja, kemudian hari laki-laki itu menemukan perempuan yang dia cintai? Apa kamu siap? Anggaplah suami kamu memang Hartadi. Mamih tanya sekali lagi, apa kamu siap?”
Siapkah Velo?
Memang sebelum pertemuan mereka terjadi, Velo berniat akan membutakan Hartadi. Pria itu hanya diijinkan memandangnya, entah dengan cinta, gairah atau usahanya mempertahankan pernikahan belaka. Dia pun sudah memperingati Hartadi, agar pria itu melepaskan semua teman-teman tidur yang memiliki potensin bermain api.
Dan untungnya Hartadi menyanggupi pernikahan yang benar dan sehat. Sepertinya Velo tidak meragukannya, karena sedikit demi sedikit keseriusan pria itu terbukti biarpun bukan melalui ucapan manis. Kecemasan ibunya tidak menular pada Velo, dia akan menerjang apapun supaya Hartadi bersedia mengikat dirinya. Daripada dia harus berlama-lama meladeni obsesi ayah tirinya.
“Tenang aja, Mih.” Ucap Velo menghela napas lalu tertawa kecil, namun hatinya mempertebal tekad untuk tidak menyerah meskipun pernikahannya dan Hartadi dipandang penuh ranjau oleh sang Ibu.
***
Asri kembali menyampirkan selimut sampai pinggang Velo. Mendapat kunjungan dari rekan-rekan kerjanya, Velo kukuh melipat selimut agar nyaman saat mengobrol bersama mereka. Asri menuruti saja apa kemauan Velo yang sedang sakit.
Dan sinyal ketidaksetujuan terpancar dari mata Velo membuat Asri mengirim balik delikan tajam. “Kamu nggak boleh sendiri kalau lagi sakit. Tadi aja bikin Mamih takut. Mamih baru tau kamu bisa mimpi sampai segitunya.”
“Ada kita kok. Ngapain mamih mau nginep di sini? Ada-ada aja!” celetuk Bara dan disetujui oleh saudara kembar lainnya yang ikut duduk di sofa ada juga yang berdiri di sisi Velo.
“Betul banget! Tenang kak, kita bakalan jagain kak Velo…” Badar.
“Lagian kok bisa sampe kejambret gitu sih Kak.” Badil.
“Tau ih… Kayak bocah aja!” Bariq.
__ADS_1
“Kalo ada apa-apa Kakak bisa bilang sama Basha ya, Kak.” Ucap Basha sambil memeluk Velo.
“Hah… Emang dasarnya Kakak ceroboh, ya jadi gitu…” ucap Binad dingin, karena kesal dengan kelakuan Kakaknya yang selalu ceroboh.
“Udah lah namanya juga kecelakaan, siapa yang tau kan?” Biyan.
Sementara orang yang diomongin hanya cemberut pada ke tujuh adik kembarnya itu.
“Nggak ah, bisa berantakan kamar rawat inap Kak Velo. Mamih juga tau kalian nggak akan bisa tidur di sofa, kecuali ketiduran gara-gara nonton bola.” Asri menyambut celetukan ketujuh putra kembarnya dengan pendar geli. “Mamih tuh tau kelakuan kalian ya… Kalian nggak akan bisa tidur kalau bukan di atas kasur empuk, paling nggak standar empuknya setara King Koil!” gerutu Asri membuat Velo dan ketujuh adik kembarnya itu menahan tawa mereka.
“Kita bisa tidur di atas sofa kok, Mih. Iya kan?” ucap Bara melihat keenam saudara kembarnya meminta dukungan yang lalu disahuti anggukan dari ke enam saudaranya tersebut sambil melihat sang Ibu.
“Om Har nggak pulang?!” Tanya Basha yang lebih protective pada kakak perempuannya itu.
“Emangnya kenapa? Kalau Om mau nginep disini bareng kalian, di kasih ijin ga?” Hartadi mengikuti ketenangan Basha tanpa merasa kerepotan membalas pemuda itu sejak ke tujuh adik kembarnya Velo sampai di rumah sakit.
Menyikapi santai, Hartadi mengangkat gelas kertas dari meja serta membaui aroma kopi di dalamnya. Dia menyesap cairan kehitaman tersebut perlahan. Bagaimana pun, Hartadi harus membiasakan diri dengan adik-adik Velo yang menuruni setengah sifat posesif Adiputra kepada perempuan itu.
Sementara, Velo menyembunyikan wajahnya dengan menoleh ke samping. Sekilas dia meringis, Basha telah menguarkan aura menantang. Bahkan saat kedatangan Hartadi terkesan lebih awal dan sigap dibandingkan adik-adiknya.
Menghela napas, Velo mencolek lengan ibunya dan meminta perempuan itu sedikit menunduk. Tanpa banyak bertanya ibunya segera mengikuti permintaan Velo. Dia berbisik di telinga ibunya sambil memperhatikan interaksi Hartadi dan Basha juga ke enam adik kembarnya yang lainnya.
“Mih, tolong pulangin si kembar. Sekarang bukan momen yang pas mereka tahu hubungan aku sama Mas Har.”
“Iya sih. Mamih coba dulu, kamu diem aja. Nanti mereka ngambek kalau tahu kamu yang minta mereka pulang.” Asri semakin pusing kalau begini. Apalagi anak laki-lakinya yang pendiam itu seolah tidak menyukai kehadiran Hartadi.
__ADS_1