
Masih diatas ranjang dengan kaki yang berpindah dari tempat semula, kedua kakinya menggantung di pinggir ranjang dengan tubuh menghadap Hartadi. Semestinya, dia sudah mendesiskan sakit yang berpusat pada pergelangan kaki kirinya. Tapi dia tenggelamkan rasa sakit itu, sebab fokusnya mengarah pada Hartadi. Menatap pria itu intens sembari mencegah tangis yang hampir meluap.
“Kamu bilang ngebebanin?” ucap Hartadi sambil tersenyum sinis. “Kalau udah setengah jalan begini kamu masih berpikir takut ngebebanin saya, kamu terlambat! Saya udah nyebur bareng kamu dan masalahmu! Mau bikin saya tolol, karena sibuk menerka-nerka sendiri? Hebat banget jalan pikiran kamu, Vel.”
“Papih emang ngirimin SMS ancaman. Papih ngerasa saya semakin bebas. Jadi, saya harus dibuat nggak bisa melakukan apa-apa,” bisik Velo bergetar menahan tangis. Dia mengungkapkan dengan jujur, mengalah pada situasi dan kebesaran hati Hartadi. “Saya Cuma nggak mau selalu ngadu ke Bapak. Kita belum menikah dan bersama juga terhitung sebentar, tapi saya udah nggak tau malu minta bantuan terus-terusan.”
Oh, jadi begitu.
Adiputra memang minta dirajam ternyata. Rahang Hartadi pun mengetat hebat, seiring amarahnya yang melejit siap untuk dimuntahkan.
“Setelah kamu keluar dari sini dan sembuh total, saya akan nikahin kamu.” Hartadi berdiri agar wajahnya sejajar dengan Velo. “Kamu nggak bisa nunggu lebih lama, apalagi kamu tinggal sendirian yang nggak ngejamin keamanan kamu. Kakak saya semakin nggak waras. Sedikit aja kamu terlihat salah, hal lain yang lebih sadis dari sekarang bisa terpikirkan Mas Adi.”
“Saya pengen bilang makasih, Pak. Makasih udah baik sama saya…” Velo menundukan kepala perlahan-lahan, tak mampu menyongsong sepasang mata Hartadi. Namun, kedua tangan Velo terangkat dan mengalungi leher Hartadi. “Makasih mau nampung saya di hidup Bapak. Makasih, ya?!”
Sudah lama sejak statusnya lajang, Hartadi meninggalkan ciuman bibir yang digadang-gadang sejuta arti. Hanya ciuman sejuta nafsu yang dilalui Hartadi bersama para perempuan pengisi malamnya.
Detik ini saat Hartadi membawa wajah Velo terangkat untuk memanjakan bibir perempuan itu, dia akhirnya mengukir ciuman sejuta artinya dengan Velo.
“Kamu muak diperlakukan semena-mena oleh kakak saya kan?” Hartadi mendeseis di saat kesempatan datang. Kesempatan di mana Hartadi memisahkan bibirnya dari kelembutan Velo. Menciptakan benang saliva yang segera disatukan kembali.
Hartadi menahan Velo agar tidak terlepas menjauh. Decap penyatuan bibir tidak terelakan. Sentuhan seringan bulu mulai dia jalankan. Namun, kesadarannya masih terkumpul penuh. Hanya melalui kalungan tangan Velo yang bertambah erat, dia sadar pertanyaannya tadi sudah terjawab.
‘Saya usahakan Mas Adi nggak bisa sakitin kamu lagi,’ tekadnya melalui batin disela *******-******* bibirnya yang terbenam di bibir Velo. Ciuman yang nilainya sejuta arti.
__ADS_1
****
“Har, masih betah di sini rupanya?”
Untungnya mereka berdua sudah terlepas satu sama lain saat pintu kamar rawat inap terbuka tanpa ketukan permisi. Suara familier menyapa, berhasil meremangkan bulu kuduk Velo. Apa boleh buat selain menerima tamu yang tidak diharapkan itu.
Bagaimana mungkin kan dia berlaku defensive? Ibunya hadir mengikuti di belakang pria yang sedang menerbitkan senyuman ramah, tampak tidak bersalah sama sekali karena sudah mencelakainya sampai harus menggunakan gips untuk seminggu ke depan.
Diatas ranjang, Velo mengusap sudut-sudut bibirnya menggunakan tisu yang diberikan Hartadi. Menempati kursi di sisi ranjang, pria itu melakukan hal yang sama. Hanya saja, gerakan Hartadi membersihkan sisa remah roti yang tertinggal lebih cepat. Kalau saja ayah tirinya tidak menginterupsi, dia dan Hartadi masih menikmati classic tuna tostie yang renyah dengan isian lembut sembari bertukar cerita mengenai topik-topik ringan.
Tanpa disangka mengingat kecuekan Hartadi, pria itu cukup peka kali ini sebab tangannya menyodorkan segelas air yang masih penuh. Velo meraih gelas tersebut sambil tersenyum sekilas tanda terima kasihnya.
“Wah, kalian habis sarapan?” Asri mengamati putri dan adik iparnya seraya meletakkan tote bag ke atas meja. “Mamih bawain makanan berat buat kamu, Vel. Mana mau kamu makan nasi rumah sakit yang pulen kan?”
Sambil mengeluarkan kotak makan dari tote bag dan menyusunnya rapih di meja, Asri mendesah pelan. “Har, maaf ya, Mba kemarin lupa bilang sama kamu soal makanan Velo. Velo rewel dong minta dipesenin makanan lain?”
“Nggak apa, Mba.” Hartadi menarik bibir, melukis senyum samar untuk menghargai kakak iparnya. Dia mengambil alih gelas dari tangan Velo, lalu dipindahkan ke atas nakas. “Iya, Velo nggak mau makan kalau ngandelin makanan dari sini. Katanya bisa mual. Tadim alam aku pesenin nasi goring. Velo makannya lahap kok, sampai lupa defisit kalorinya.”
Defisit kalorinya menjadi bahan tertawaan sang Ibu, sontak saja Velo mengarahkan delikan tajam kepada Haertadi. Tidak ingin memperpanjang, atensi Velo sepenuhnya diberikan pada ibunya.
“Mamih masakin apa? Aku makan beratnya nanti aja. Sekarang masih kenyang, Mas Har beliin toastie.”
__ADS_1
Istri dan putrinya terlibat perbincangan mengenai makanan, Adiputra mengulangi lagi pertanyaan yang kental sindiran untuk Hartadi.
“Asri bilang kamu yang pertama kali di rumah sakit, Har. Masih betah sampai sekarang?”
Ck… ‘Asri bilang?’ Hartadi hamper tergelak mendengar dusta kakaknya. Apa gunanya antek-antek yang sempat disebar ke rumah sakit kalau berita sereceh itu di dapatkan dari Asri?
Dasar kadal.
“Masih, Mas. Aku betah nemenin putrimu di sini.” Hartadi tidak memutar kursi ataupun menyongsong kakaknya sekedar bersikap sopan. Dia memberikan punggung ketika langkah kaki Adiputra terdengar mendekat. “Mas baru jenguk Velo sekarang? Sebegitu sibuknya?”
“Ah, sibuk sih enggak. Kegiatan Mas lagi padat-padatnya aja, makannya telat jenguk Velo. Kami mau merekrut kader partai baru di beberapa daerah, jadi partai adakan rapat sampai malam.” Ucap Adiputra membela diri. Sekarang tatapannya berpusat pada Velo, senyumannya muncul lagi. “Maaf kalau Papih baru dating ya, Sayang?”
What, Sayang?
Astaga, panggilan menjijikan itu baru Hartadi dengar untuk pertama kalinya. Bagi orang awam yang tidak mengetahui Adiputra menyembunyikan obsesi, panggilan itu bisa diartikan bentuk kasih saying. Sialnya dia tau, oleh karena itu muak berkumpul dalam dada. Lantas Hartadi menarik sudut bibir, sengaja tidak berkomentar pedas. Kehadiran Asri tidak dapat membuatnya lepas berkata-kata.
Terbiasa memerankan anak yang baik, Velo tidak terserang gugup biarpun harus menjawab pertanyaan ayah tirinya. Dirinya pulas ekspresi tenang, lalu berkata apa adanya.
“Nggak apa-apa, Pih. Aku paham kesibukan Papih di partai gimana. Kemaren ada Mamih dan si kembar yang nungguin aku di sini.”
Setelah mengangguk sebagai tanggapan, Adiputra berdiri di samping ranjang Velo. Di seberangnya Hartadi mengawasi. Bagus, akan dia tunjukan porsinya sebagai ayah Velo.
“Hari ini dokter udah periksa kondisi kamu? Apa katanya? Papih rasa kamu bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap dan bagus, kalau seumpamanya penanganan di sini lamban.”
“Dokter bilang kondisiku masih sama. Tapi aku ngerasa baik-baik aja, Pih. Aku nggak sakit,” jawab Velo tanpa senyum sumringah yang biasa dia paksakan agar sang Ibu senang menyaksikan keakraban keluarga mereka. Sedari dulu kesadarannya telah merasuki Velo, bahwa dirinya tidak mampu setiap saat menyenangkan hati semua orang. Tapi, dia tetap berusaha melakukannya.
__ADS_1