
Sebenarnya mudah bagi Hartadi untuk menjawab balasan Velo. Tapi nyatanya, dia hanya membutuhkan sekian detik untuk berpikir.
Namun, keteguhan yang tergambar pada wajah Velo mau tidak mau menumbuhkan rasa kagum. Perempuan itu bertanya sebab ingin tau, bukan menuntut percakapan penuh romansa yang biasa ditunjukan pasangan kekasih.
Hartadi mampu memaknainya.
Menarik pandangan dari objek yang menyandra atensinya cukup lama, Hartadi menyibukkan dirinya dengan meraih MacBook lalu menempatkan telunjuknya ke atas Touch ID. Saat itulah, dia tuturkan jawaban atas pertanyaan ‘sederhana’ milik Velo.
“Saya nggak peduli sama nama baik.”
Satu kalimat singkat itu nyaris membuat Velo salah tingkah. Tetapi, reaksi yang dia tampilkan hanya berupa anggukan kecil. Velo pura-pura merebahkan tubuhnya sembari memungut handphone. Membuka media sosial tanpa tujuan, Velo membiarkan ibu jarinya bergerak turun naik tanpa arah selagi menenangkan hati yang kian berdesir.
Hartadi memilih bertahan bersamanya.
Sudah lewat jam tujuh pagi ketika Hartadi menuruni satu demi satu anak tangga rumahnya. Mengenakkan kaos kaki yang masih terbalut slip on tipis, Hartadi menatap arlojinya sembari memperkirakan jam berapakah Velo akan bangun pagi ini.
Obat yang harus diminum Velo tertinggal di kamar yang digunakan perempuan itu selama di rumahnya. Dia belum menyambangi kamar Velo, begitu bangun tidur dia bergegas masuk ke kamar mandi.
Hartadi harus memastikan Velo menyuplai karbo sebelum menegak butir-butir obat yang diresepkan dokter kemarin. Dia akan memberi pesan pada orang rumahnya agar tidak mengabaikan kehadiran Velo, semua keperluan perempuan itu selagi dirinya bekerja tentu harus terpenuhi. Alih-alih mendekam di rumah, kali ini Hartadi memutuskan kembali bertandang ke kantor dan tidak memantau dari jauh saja. Ada dua pendiri Royal WCS yang harus dia hargai dengan menebar kontribusinya.
Mengedarkan pandangan ke sekeliling suasana lantai satu cukup hening ketika dia menginjak anak tangga terakhir. Begini memang hunian pribadi bujang, pagi hari tidak ada suara istri yang sibuk memasak di area dapur. Kemudian, sepasang kakinya tergerak sendiri mendatangi ruang makan. Dia merapihkan ikatan dasi longgarnya menggunakan tangan yang bebas sambil menebak-nebak dua aroma yang bertolak belakang.
Dari tempatnya kini tercium aroma kopi, penciumannya pun menghirup bumbu penyedap yang tidak terlalu menyengat. Sebaliknya, perut Hartadi langsung menuntut diberi asupan. Dia memang tipikal orang yang mengedepankan sarapan sebelum beraktivitas. Namun, laju kakinya otomatis memelan kala suara yang familier terdengar dari ruang makan.
“Mbok, aku nggak sarapan, ya!”
__ADS_1
Hah? Suara Velo?
Dia sudah bangun? Batin Hartadi.
Dia pun melangkah lebih dekat pelan-pelan, Hartadi tidak ingin kedua perempuan di ruang makan itu cepat menyadari kehadirannya yang hampir sampai di sana.
Selain langkahnya, dia tengah memasang telinga baik-baik agar tidak satu pun ucapan Velo terlewatkan. Rupanya, perkiraannya meleset. Perempuan yang dia pikir masih terlena di atas ranjang, ternyata telah bergabung di meja makan. Masih mengenakan pakaian tidur semalam.
Sementara, di ruang makan Mbok Niniek meletakkan sepiring nasi goreng di tengah meja makan. Mempersiapkan makanan untuk majikannya yang tidak pernah melupakan sarapan sedari kanak-kanak.
“Sarapan, Neng. Ini Mbok banyakin nasi gorengnya.”
“Aku nemenin Mas Har sarapan aja.” Velo menggeleng enggan.
Wajahnya berpaling dari sepiring nasi goreng yang mengepulkan uap hangat. Dia menuang air minum dari teko kaca, lalu menghabisakan satu gelas penuh dan mengembalikan ke atas meja makan. “Mmhhh... Gimana ya Mbok? Aku jarang sarapan pake nasi. Kemaren dipaksa Mas Har aja sarapan lengkap, soalnya Mas Har berisik ngomelin aku.”
“Kalau gitu telur mata sapinya aja, Neng. Dimakan!”
“Boleh, Mbok. Aku minta piring kecil ya.” Velo tidak menolak untuk tawaran yang kedua ini. Dia penggemar berat telur mata sapi.
Melihat dapur yang berdesain modern tidak jauh darinya, Velo bertopang dagu membayangkan sarapan yang tepat selain nasi gorengdi depan matanya. “Mbok punya wortel dan brokoli? Kalau ada boleh direbusin nggak?”
“Ada, Mbok rebusin dulu ya, Neng.” Mbok Niniek hendak berlalu menuju dapur setelah memberikan piring kecil untuk Velo. Tetapi, sekali lagi asisten rumah tangga itu berdiri di pinggir meja makan seraya memperhatikan Velo.
“Neng duduk manis aja. Mau apa-apa kasih tau Mbok.”
__ADS_1
“Iya. Makasih, Mbok.” Senyuman Velo tersungging manis. Dia ingin memindahkan satu telur mata sapi ke piringnya, tapi urung mendapati Mbok Niniek tidak beranjak ke mana pun. Kedua halisnya lantas menyatu bingung kala menemukan Mbok Niniek tersenyum disertai binar geli, sekaligus tampak tersipu. “Mbok... Kenapa sih? Ngeliatin aku? Ada yang mau dibicarain?”
“Mbok hanya nggak percaya Neng yang jadi calon istrinya Den Har,” tutur Mbok Niniek jujur. Senyuman asisten rumah tangga itu terkembang tulus. Kalimatnya pun tidak terkesan menyudutkan. “Tapi, Mbok bersyukur udah mengenal calon istrinya Den Har. Sehat-sehat ya, Neng. Semoga lancar sampai pernikahan.”
Menerima segelintir kalimat kaya arti tersebut, Velo mengaminkan dalam hati. Tangannya menjangkau lengan Mbok Niniek, menyentuh sekilas lengan asisten rumah tangga itu yang tertutupi baju berlengan panjang.
“Tolong doain yang terbaik untuk kami, Mbok.”
“Mbok Niniek udah sehat? Kenapa nggak istirahat dulu?!”
Dua kepala itu menoleh bersamaan ke arah asal suara. Hartadi berjalan mendekati sebuah kursi yang berada di sisi Velo, telah mengenakan pakaian lengkap untuk ke kantor kecuali sepotong jas dan sepasang sepatu kulit yang belum dia angkut dari kamarnya.
Menarik mundur kursi, Hartadi mengisi kursi tersebut sambil menempatkan tas kerjanya pada kursi kosong lain.
“Udah sehat, Den. Kemarin Mbok kaget aja. Maaf, Mbok ngerepotin. Gusniar bilang Den minta Mbok ke dokter, tapi Mbok ngerasa sehat.” Mbok Niniek mengangkat cangkir berisi kopi yang dibuatkannya khusus untuk Hartadi.
Teringat Velo yang meminta tolong direbuskan wortel dan brokoli, asisten rumah tangga itu langsung saja pergi ke dapur tanpa mendengar balasan Hartadi.
Ditinggal hanya berdua dengan Velo, Hartadi jelas bersikap biasa. Dia menarik lengan kemejanya sedikit, kemudian membalik piring yang tersaji di atas meja makan. Sebelum melaksanakan kegiatan paginya sekarang ini, dia menyempatkan diri mengajukan tanya pada Velo diikuti lirikan mata. Walau dia mendapati kruk yang bisa mewakili keingintahuannya itu.
“Vel, kamu dibantu siapa turun ke sini?”
“Sendiri, Pak. Saya nyobain pakai kruk. Dan... hasilnya, naju saya basah keringetan. Emang bener sih, butuh tenaga besar pakai kruk. Siang ini kayaknya saya bakal tidur pules. Capeknya berasa banget soalnya.” Jelas Velo sambil mengadu. Sementara Hartadi menyesap kopinya lalu memiringkan tubuhnya ke arah Velo dan menatap serius perempuan itu tidak suka.
“Kamu pemulihan di rumah saya bukan untuk berusaha mandiri. Butuh sesuatu silahkan minta tolong. Kalau kamu kurang beruntung dan jatuh dari tangga, siapa yang bakal ngerasain sakitnya? Kamu sendiri, Vel.”
__ADS_1
“Lain kali nggak ada jalan-jalan pakai kruk tanpa bantuan Mbok atau siapapun di rumah ini selama dokter orthopedi belum cek kamu lagi. Saya atur jadwalnya buat besok. Bukan dokter Artika yang nanganin kamu, karena saya nggak mau Mas Adi lobi-lobi dokter Artika dan nyari celah tarik kamu ke rumah,” lanjutnya berkata sedikit santai daripada tadi. Lalu Velo hanya mengangguk sambil bergumam mengiyakan.