Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Teori Segitiga Cinta Sternberg


__ADS_3

Mulanya, Hartadi tidak punya ancang-ancang menginterupsi. Pekerjaannya hanya mengamati perempuan yang tengah berbicara panjang lebar dengan ekspresi kalem itu. Sesekali matanya mengekori jari-jari Velo yang terangkat menuju bibir, seakan cemas kalau lipstik berwarna lembut tersebut pudar. Keinginan liarnya nyaris menyambar lagi, namun penguasaan dirinya masih terhitung baik sehingga tidak ada yang dilakukannya selain mendengarkan Velo.


Dia biarkan Velo bebas mengatakan apa saja, tapi perempuan itu ternyata melenceng lalu menyinggung kata ‘cinta’.


Sejak pertama kali, hubungan mereka pun berlandaskan komitmen. Cinta sepakat dikesampingkan untuk memprioritaskan Velo terlebih dahulu. Hartadi sungguh-sungguh ingin memisahkan kakaknya dari Velo. Maka itu, dia tidak habis pikir saat mendengar cinta kembali diiungkit perempuan itu. Padahal, Velo tau dia lama tidak bersinggungan dengan cinta. Bukan kapok dan mendramatisir pengalaman, tetapi cinta yang pernah Hartadi resapi mengajarkannya untuk kristis, menggiring dirinya semakin realistis. Cinta hanya sebagai elemen pendukung untuk membuat hidup seseorang lebih berkesan.


“Aku minta kamu ngomong kalo capek, bukan maksud aku ngeraguin kamu. Salah, Mas.” Velo menipiskan bibir kala menyabarkan hati memberikan pengertian pada Hartadi. Memutuskan berpindah duduk ke samping Hartadi, barulah dia mendebat kekeliruan pria itu.


“Permintaanku itu, karena ngerti posisiku. Aku bukan siapa-siapa yang mulai sekarang harus kamu tanggung hidupnya. Wajar kan aku khawatir kamu capek? Semisal ada cinta, orang biasanya lebih semangat. Tapi kasus kita nggak ada, makanya aku mikirin dari sisi kamu juga.”


Napas Hartadi terhembus berat. Di balik pembelaan Velo, dia memahami betul perempuan itu sedang berusaha mementingkan perasaannya. Velo seakan cemas bila dia tiba-tiba menemukan kejenuhan ketika mereka bersama, karena perasaan esensial pasangan hidup tidak mereka miliki.


Hartadi menjambak rambutnya dengan sesal. Harusnya dia mengusir Parnita malam itu, kedatangan kakaknya hanya memutus pembahasan isu yang belum mereka dan menyisakan isu yang belum mencapai titik terang. Lalu, dia arahkan pandangannya pada jari-jari Velo yang berada di atas pangkuan.


Saling bertaut dan membuat gerakan abstrak, menghadirkan pengertian bahwa perempuan itu menantikan responnya dalam resah.


“Kamu tetap percaya dan yakin sama aku?” Hartadi memperhatikan seberapa cepat refleks Velo berpaling ke arahnya. Velo mengangkat kepala untuk menatapnya, tidak lama senyuman pada bibir perempuan itu terbit. Tanpa bersuara pun, dia sudah mengantongi jawabannya. “Aku harap seterusnya begitu.”

__ADS_1


“Tentang cinta yang kamu percaya, aku punya solusinya. Aku pengen kita pegang satu teori ini, supaya sama-sama nggak hilang arah. Karena yang aku pahami tentang cinta, nggak melulu bisa menolong pasangan dari pelecehan.” Hartadi mengamit pergelangan Velo, mengurai kedua tangan Velo yang tengah bertaut.


“Solusi?” kening Velo bertaut bingung menanti solusi yang berupa teori itu. Sejatinya, pria dan logika memang satu kesatuan. Menghargai usaha Hartadi, dia memberikan respons positif.


“Oke. Kau mau tau sesuatu yang bisa ngegantiin kata cinta itu, Mas.”


“Kalau aku diminta bilang cinta ya gampang, tapi eksekusi cinta itu kompleks. Orang di luar sana banyak yang terjebak empty love, bertahun-tahun bersama dan bilang cinta, tapi cinta yang mereka ucap nggak bikin kita akur, kita bisa pakai teori.” Hartadi meraih satu tangan Velo. Dengan jari telunjuknya, dia membuat sebuah segitiga di atas telapak tangan perempuan itu itu.


“Teori segitiga cintanya Sternberg. Dan, segitiga yang aku buat di tangan kamu ini terisi tiga komponen— intimacy, passion, commitment.”


Sejenak Velo hanya mampu terpekur mencerna semua yang dijabarkan Hartadi. Dia menelan salivanya dengan berat. Desiran dalam dadanya kian menguat, karena dia mulai memahami cara Hartadi menengahi gemelut pikirannya mengenai ‘cinta’ yang dia ketahui tidak mereka jadikan landasan dalam hubungan.


Kala ibu jari Hartadi membuai telapak tangannya, Velo pastikan dia tidak memiliki pembelaan apapun.


“Aku setuju, Mas.”


“Yang kedua ada passion, kamu paham komponen ini kan? Contoh gampangnya adalah romansa, ketertarikan fisik, dan gairah seksual. Jujur aja, aku memang punya ketertarikan sama kamu secara fisik dan seksual. Harusnya kamu nggak kaget lagi, apalagi semenjak aku masuk ke kamar kamu waktu itu di rumah orangtuaku.”

__ADS_1


“Well, aku yakin akan cocok sama kamu dalam urusan ranjang. Cuma perlu ngebicarain ekpetasi seksual kita seperti apa untuk sama-sama tau selera, sekaligus biar nggak timpang sebelah. Aku selalu mastiin kalau pasanganku dapet yang mereka mau, karena aku pun harus dapet yang aku mau.” Melirik Velo yang tengah memandang lantai dengan bibir terkulum, Hartadi kembali memancing perempuan itu. “Gimana, Vel? Kamu ngerasain yang sama?”


“Hah? Eu.. I— Iya...” jawab Velo terbata-bata karena gugup.


“Bener kamu punya gairah yang sama untuk aku, Vel?” Hartadi menaikan sebelah alis sembari mensiasati senyumnya yang hampir merekah. Pembahasan ini sudah dia ciptakan sesantai mungkin. Namun saat memindai ekspresi Velo, rupanya dia salah berpikir demikian. “Artinya, kamu setuju kalau passion udah ada di antara kita?”


Mengenali nada menuntut Hartadi yang memastikan ketertarikan alami mereka bersambut, Velo melepaskan tangannya yang sejak tadi dimajakan oleh Hartadi. Ibu jari pria itu membuat pusaran ringan di atas telapak tangannya yang menggelitik sampai kedua pahanya pun turut merapat. Velo menghela napas, dia kesampingkan tubuhnya berlawanan arah dengan Hartadi seraya mengusap lengan kanan.


“Iya, setuju,” jawab Velo menekankan tiap kata. Matanya melebar mendengar kekehan Hartadi yang tidak ada beban, bahkan punggungnya menegang bukan main saat pria itu menambahkan kecupan ringan pada puncak kepalanya. Dia mencuri liri, lalu tidak kuasa menahan cibiran. “Apa sih? Kamu kesambet, Mas? Atau, kesenangan aku iyain?”


“Terserah kamu lah nangkepnya gimana.” Hartadi panjangkan tangan agar menjangkau hidung mancung Velo. Selayaknya yang sudah-sudah, dia berhasil mencapit hidung perempuan itu tanpa perlawanan. Kemudian Velo mendengkus ketika mendapati gedikkan bahunya, walau diam-diam dia membenarkan tebakkan Velo.


Pernikahannya dan Velo bukan jenis pernikahan akan dihiasi perjanjian pra nikah yang mana dalam salah satu poinnya disebutkan tidak boleh berhubungan suami istri. Hidup ini realita, Man! Ini bukan tentangnya yang ingin memanfaatkan Velo maupun menenangkan nafsu semata. Dia sudah bersedia mengakhiri semua teman tidurnya demi Velo yang mengharapkan monogami, mengapa tidak boleh dia menerima timbal balik yang setimpal?


Pernikahan mereka nanti pun bukan bertujuan menjadi tameng bagi Velo di depan Adiputra saja, tetapi Velo berharap pernikahan sesungguhnya yang dapat mereka jalani. Singkatnya, sebelum menikah pun dia dan Velo bagai kutub magnet yang berlawanan yang harus pintar-pintar saling menjauh bila tidak mau membayar di muka. Bisa dibayangkan jika telah disatukan pernikahan? Konsep hubungan ‘sukarela’ yang saling tidak menyentuh hanya akan membunuh mereka, baik dirinya ataupun Velo.


__ADS_1


__ADS_2