
Namun saat Hartadi perhatikan, perempuan itu tidak melihat ke arah Hartadi meskipun kalimat barusan menyinggung namanya. Velo malah terlihat sedang sibuk bertukar senyum dengan rekan-rekan Hartadi, yang sekarang nampak antusias mengajaknya bicara.
Biarkan dirinya memaki dalam hati, di waktu yang salah ini, Maestra melempar perempuan itu ke ruangannya. Beraninya Maestra ketika Hartadi sedang berusaha melawan kilasan yang membuat seluruh tubuh dan pikirannya terbakar.
“Saya ketemu Velo di Sturbuck Coffee,” ucap Maestra saat Haris sudah berdiri, bergabung dengan pria itu dan Velo, membentuk group kecil di depan Hartadi.
Memang tanpa sengaja Maestra berpapasan dengan Velo di Sturbuck Coffee, saat itu Velo sedang Coffee pesanan atasannya yang baru saja selesai Shareholders Meeting di luar kantor, sedangkan atasan perempuan itu menunggu di dalam mobil.
Maestra mencegat Velo hanya untuk sekedar ngobrol sebentar. Disitulah Maestra tau kalau Velo mendapat jatah pulang lebih awal. Suatu kebetulan yang rasanya sayang untuk di sia-siakan, Maestra langsung menawari Perempuan itu untuk mampir ke Royal WCS.
“Iya. Saya nggak sengaja ketemu Pak Maestra, terus diajak ke sini. Saya pikir boleh juga sekali-kali, mumpung dibolehin pulang cepet sama atasan.” Ucap Velo memperjelas kehadirannya sekarang yang terkesan spontan.
“Sepertinya atasan kamu sekarang baik ya, Vel?!” Haris langsung mendapat pincingan dari Maestra.
Pria itu pun tau kalau sekarang sedang menjadi sasaran empuk tatapn Hartadi. “Kalau atasan kamu dulu kan setiap ngomong pedasnya mengalahkan cabe rawit. Setiap kerjaan harus perfect. Padahal kan, di dunia nggak ada yang sempurna, ya?!”
Velo membalas sahabat Hartadi dengan kekehan santai, tapi sejujurnya dia tidak sesantai yang terlihat. “Bersyukur aja, Pak Haris. Saya dulu masih anak bawang, memang harus dikasih atasan yang otoriter. Sebagai bekal menuju kesuksesan.”
“Contoh sekretaris yang jempolan yang kayak gini nih…” sahut Maestra memanas-manasi. “Oia, saya minta maaf ya, Vel. Sudah memindahkan kamu ke bagian HRD yang isinya haters kamu semua. Saya beneran nggak tau, baru denger info juga setelah Hartadi marahin saya.”
Velo meninggikan sebelah halisnya, jujur saja tidak terbesit dalam benak Velo bahwa Hartadi memberi teguran pada Maestra. Perihal sikap anti dari karyawan saat kepindahannya dulu ke divisi lain tidak dia sampaikan pada pria itu.
Velo tidak dapat menemukan jawaban apakah sikap tersebut bukti perhatian dari Hartadi karena mengkhawatirkannya, atau sebatas pertanggung jawaban lima tahun lalu yang berusaha pria itu selesaikan sekarang.
Velo meringis saat melihat Maestra membiaskan rasa bersalah.
“Bukan masalah yang harus diungkit lagi kok, Pak. Tapi, terima kasih atas permintaan maafnya.”
“Saya emang nggak jodoh sama Royal WCS. Udah hampir dua tahun kerja, tapi nyusahin pimpinannya terus. Makanya, dijulukin sekretaris legendarisnya Pak Har,” jelas Velo tidak ingin menghidupkan suasana serius.
__ADS_1
Perlahan, mata Velo terkunci pada mata Hartadi yang senad menatapnya juga dengan posisi masih duduk di kursi kebesarannya. Mereka sama sekali tidak mencerminkan sepasang manusia yang melabeli mereka ‘Pasangan’.
Mereka saling menatap dalam diam dan bibir yang merapt seolah pelit memberi senyuman. Baru kemarin mereka terjebak dalam situasi menegangkan dengan ayah tirinya, kemudian Vo terbangun dalam kenyamanan yang luar biasa.
Anehnya kenyamanan itu hanya bisa diberikan oleh bahu pria itu. Memang sih, selama bersama mantan-mantan kekasihnya, Velo dirundung cemas setiap kali mereka keluar menghabiskan waktu berdua sampai malam.
Faktornya semua mantan-mantan kekasih Velo tidak bisa mengatasi teguran ayah tirinya Keesokan hari.
“Ngomong-ngomong sekretaris, nggak mau kerja di sini lagi?” tanya Maestra akhirnya, usai tertawa pelan mendengar ucapan Velo tentang julukan perempuan itu di kantor ini.
Sementara Haris melihat ke arah Hartadi, namun tak mampu menahan, pria itu merapat ke arah Velo dan Maestra untuk berbisik, “Vel, cewek yang di samping Hartadi itu sekretaris yang direkrut pas dia balik ke Jakarta. Barusan di pecat, lagian cari masalah aja pakai ngegodain si Har!”
“Masih baru, tapi langsung tancap gas ya,” respin Velo seraya memindai perempuan semampai yang menjadi patung di sisi meja Hartadi, tampaknya ingin lari dari ruangan itu tapi tak cukup berani untuk bergerak.
Derak roda kursi terdengar ketika Hartadi bangkit dari kursinya. Langkah Hartadi hendak melewati Karin tapi tertahan di depan perempuan itu untuk memberi perintah terakhir sebelum surat pemecatan terbit.
“Baik, Pak.” Ucap karin mengangguk patuh. Perempuan itu melesat keluar dari ruangan Hartadi tanpa mengatakan permisi pada grup kecil yang berada di depan pintu.
Velo yang mendengar kontan saja mengerutkan keningnya. Hartadi gemar sekali meminum air mineral. Terlihat dari beberapa botol hijau bertuliskan Equil di atas meja yang segelnya sudah terbuka.
Setahunya, Hartadi akan menghabiskan banyak air mineral jika tengah diliputi gairah. Pria itu akan haus, meakipun sudah membasahi tenggorokannya berulang kali. Velo bukannya sok tau, tapi itu karena dia pernah langsung menyaksikannya.
Apa mungkin Hartadi sedang bergairah? Pada siapa? Sekretaris tadi? Batin Velo ribut.
“Gimana, Vel? Berminat jadi sekretarisnya Hartadi lagi?” Maestra kembali lagi mempertanyakan hal yang sama, kesempatan untuk mengisengi Hartadi yang kini bergabung.
“Saya udah terlanjur makmur di Almeda Group. Tapi, kalau Royal WCS punya tawaran menarik… mungkin bisa saya pertimbangin.” Velo menutup percakapan dengan diselingi senyuman.
Hartadi sudah mengambil posisi sedikit di belakang Velo. Menggeleng dengan senyum sudut bibir untuk Maestra. “Kerja harus ada etikanya. Bayangin kalau misalkan pasangan lo masuk ke sini sebagai sekretaris pribadi. Otak lo bakalan stay di ************, Maestra. Tust me.”
__ADS_1
Velo seketika mendelik ke arah Hartadi meskipun harus mendongak lebih tinggi.
Apa maksud dari kata-kata tersebut? Apa dia akan mengusik Hartadi jika kembali lagi menjadi sekretarisnya? Karena mungkin saja pria itu mungkin tergoda padanya?
Tidak mungkin.
Mata Velo menyipit penuh selidik kala Haris mulai terbahak-bahak, ditambah lagi tawa tertahan dari Maestra yang tidak sanggup dibendung pria itu beberapa detik kemudian.
“Bangke lo, Har! Bilang aja lo takut terus-terusan turn on kalo Velo jadi sekretaris lo. Etika kerja? Alibi yang bagus!” Haris menumpukan satu tangannya pada kusen pintu, menggeleng geli.”
“Gue serius. Lo yang anggap omongan gue becandaan. Seolah yang paling tahan kalo Valerie jadi sekretaris lo.” Hartadi menangkis pendapat Haris.
“Untung gue lagi ga punya pasangan. Lo lagi, pake sok-sok ‘trust me’ ke gue.” Cengir Maestra yang maju mendekati Hartadi lalu menepuk bahunya, serupa yang dilakukan pria itu kepadanya tempo hari.
“Apa sih?” sergah Hartadi untuk tepukan Maestra berikutnya.
Velo bergeser ke kanan. Menonton tiga pria yang menduduki kursi teratas Royal WCS. Saling melempar candaan, menanggalkan siapa mereka di gedung tinggi ini. Pemandangan yang sudah pasti jarang di dapatkan karyawan lain.
Maestra mengangkat kedua tangannya, lalu disenggolnya rusuk Haris untuk meminta perhatian.
“Waktunya kita undur diri, Ris. Masih ada dua jam sebelum pulang ngantor, lo sebaiknya ikut ke ruangan gue aja. Kita obrolin hasil meeting gue sama orang konstruksi.”
“Ide bagus. dua jam kita pakai untuk hal yang bermanfaat.” Haris mengiyakan dengan semangat. “Nanti gue minta sekretaris gue pesenin kopi dulu deh. Pusing kepala gue habis ngurusin ‘bos besar’ yang bad mood.”
“Sekarang nggak lagi lah pastinya. Tamu spesial kita ini kunci meredakan bad mood si ‘bos besar’,” kata Maestra mempertahankan mantan bos dan sekretaris yang ada di depannya dengan kentara.
Velo mengusap pelipisnya tanpa memberi respon. Pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1