Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Treatment Laser


__ADS_3

“Lo rela uang keluar sia-sia? No, kita lebih baik bertahan. Mereka nggak mungkin mangkir, pembangunan bakal tetap selesai.” Maestra kukuh bertahan. “Har, perselisihan lo dan Mas Adi bener seserius ini? Kalian kenapa lagi?”


“Dari orok juga emang nggak pernah akur. Lo tahu sendirilah, kita berdua nggak pernah cocok.” Hartadi menarik sudut bibirnya masam. Namun, dia tidak mau terbuka mengenai penyakit obsesi Adiputra. Lagipula itu termasuk aib keluarga, manalagi istri Adiputra belum mengetahui apa-apa.


“Misalnya yang tua nggak bisa diajak duduk bareng, yang muda harus show off punya pikiran sehat.” Maestra berusaha mengerti dua saudara Bratadikara itu. Tidak langka menemukan pertikaian saudara sekandung, terutama dalam pohon bisnis keluarga. “Coba saran gue dulu. Lo silahkan kunjungi Asena Karya di pos cabang baru, konco-konconya pasti gemeter.”


“Kerugian kita banyak, jadi gue paham kalau lo nentang pembatalan kontrak. Tapi secepatnya mereka harus di blacklist, supaya reputasi minus mereka tercatat. Gue mau cover semua penalty, murni dana pribadi. Nggak masalah. Sah dong gue eksekusi duluan?” Hartadi tidak tergoyahkan di saat keberpihakan orang lain sangat minim padanya. “Kok tolol ya mereka? Reputasi mana sebanding sama uang kotornya Mas Adi.”


“Lo berlagak gila? Apa-apaan nanggung pake dana pribadi?!” hardik Maestra kehilangan kata. “Gue tau lo nggak bakal bangkrut kalau nyetor receh ke mereka, tapi apa sih? Buat apa terburu-buru gini? Main cantik dulu bisa kan? Ah, lo kalau udah percaya diri mampu, pasti susah kalo dikasih tau! Lo deh yang tolol, Har.”


“Untuk persoalan ini ritme lo kurang cocok,” lugas Hartadi mengukur setiap tindak-tanduk kakaknya. Maklum bila rencananya terdengar implusif di telinga Maestra. ”Tujuan pembatalan kontrak buat mengamankan Royal WCS. Simpel kan? Pihak kita cut kontrak dan selesai. Asena Karya bisa beranggapan pimpinan seumuran kita nggak kompeten kalau kelamaan gerak, anak baru netes yang gampang ditipu-tipu.”


“Gini, Har...” Maestra harap dapat membuka mata Hartadi. Level konflik kakak beradik itu bisa saja mempertaruhkan hubungan keluarga. “Kita adakan internal meeting gimana? Cari jalan keluarnya sama-sama, karena nggak fair lo tanggung semua penalty. Dan, malah bagus orang profesional kita yang ngurus tuntutan hukum Asena Karya. Tapi lo musti terima Mas Adi ikut terseret loh. Itu kalau lo yakin udah pegang bukti akuratnya.”


“Secara teori tuntutan hukum menang di sistematis, tapi bukan jalan yang praktis. Telanjangin bukti Mas Adi nyuap lewat persidangan bukan solusi pinter. Gue butuh banyak pertimbangan ngelangkah ke sana, resiko banget. Sekalian, tolong lo pikir ulang solusi gue.”


Telapak tangan Hartadi menyentuh belakang lehernya. Ada yang berat di sana. “Kita sambung di internal meeting.”


“Inget, gue bukan nolak mentah-mentah tawaran baik lo menyelesaikan kontrak kita sama Asena Karya begitu aja. Cuma nggak mau lo terjun rugi sendiri. Take your time, Har.” Maestra tidak menghakimi jawaban Hartadi. Setelahnya, sambungan telepon mereka berakhir.


Hartadi melempar kembali ponselnya ke atas meja. Bukan tidak berani menjejal hukum, sayangnya Adiputra tidak Cuma menyuap perusahaan kontraktor Asena Karya. Segelintir tokoh penting mendapat nominal besar dari pria itu, tidak tertulis berlandaskan apa, hubungan kerja apa, dan cukup berani menggunakan perantara bank. Bila dia menyetujui saran Maestra, kerjasama nakal lain kakaknya memiliki peluang terkuak.

__ADS_1


Sembari meladeni pikiran yang bercabang, Hartadi lekas menyingkir keluar dari ruang kerja. Tujuannya menghampiri sumber segala keributan ini. Dorongan memperkarakan sang kakak membuatnya kian digerogoti rasa penasaran. Mengenai seberapa dewasa Velo merespons situasi semacam itu. Andaikan benar dia melilit Adiputra ke ranah hukum, semarah apakah Velo padanya? Bagaimana jika dia menjadi pengacau dan pemberi duka? Padahal faktanya, alasan Velo meminta dijadikan istri adalah demi mengamankan hidup damai ibu dan adik-adiknya.


***


Memperlambat laju kedua kaki, kening Hartadi semakin mengernyit kala suara televisi sayup-sayup terdengar. Tiba di ambang pintu, rupanya Velo sudah tidak berkutat lagi dengan angka-angka. Perempuan itu melepaskan iPad dan berselonjor kaki di atas sofa. Namun saat pandangannya mengarah ke televisi, Hartadi seketika terganggu pada berita yang tengah disimak Velo. Melupakan kata permisi, dirinya berderap mendekati Velo demi menjangkau remote televisi di atas pangkuan perempuan itu.


“Pemerkosaan terhadap seorang anak berusia enam belas tahun di Kabupaten Temanggung, kini sedang dilakukan penyelidikan mendalam...”


“... Pelaku yang merupakan ayah tiri korban mengaku...”


“Dapat dijatuhi hukuman...”


Pip!


Hartadi melirik bantal sofa yang tersusun di antara mereka. Bukan bermaksud memangkas jarak, melainkan inisiatifnya saja meraih satu bantal yang kemudian dia sisipkan ke pangkuan Velo. Berupaya menghalangi tereksposnya kulit perempuan itu. Maunya berpura-pura tidak melihat. Luar biasa, justru dia semakin resah karena Velo nampaknya belum menyadari ujung casual dress nya yang berbahan silk itu sedikit tersingkap.


“Oops...” Velo menurunkan kain berwarna jingga casual dress tersebut hingga menyentuh tungkai kaki. Cengiran salah tingkahnya hadir. Dia lantas menepuk-nepuk pelan bantal sofa untuk mencairkansuasana. “Mas udah keburu lihat dong?”


“Lihat apanya? Paha kamu?” pusat perhatian Hartadi bergeser pada bibir lawan bicaranya. Seakan Hartadi salah sekali sudah melihat kulit mulus Velo, bibir perempuan itu mencebik hampir dia mengira akan berdecak tidak senang.


“Misalnya iya lihat juga, terus kenapa? Kamu yang duduknya ngasal. Aku tungguin kok nggak sadar-sadar juga dress udah naik ke mana tahu?”

__ADS_1


“Yah, berarti Mas lihat dong?” Velo kembali mengutarakan tanya.


Netranya menemukan kerutan di kening Hartadi. Terus mengawasi respons pria itu walau di luar harapnya, dengan sabar dia membidik pertanyaan lain.


“Mas sempet liat? Ganggu mata nggak sih?”


“Makin lama makin nggak ngerti. Langsung aja deh, keberatan aku nggak sengaja lihat? Sampai asem banget muka kamu, Vel,” kata Hartadi sedikit mengalah. Menyugar rambutnya yang setengah kering, dia diam menanti, telah berada di titik gagal memahami kenapa Velo mempertanyakan hal tersebut.


“Bukan. Bekas luka aku...” bersamaan dengan itu, terpaksa Velo memandang dua tangannya yang bertaut di atas bantal sofa. Seadanya mencari pengalihan, daripada harus bertemu mata Hartadi. Sering kali, pria itu hanya perlu menggunakan matanya untuk memberi sebuah penghakiman.


Hartadi tidak tahu menahu bekas luka yang dibicarakan Velo ini. Dari luar, keseluruhan luka di tubuh Velo sepertinya membaik. Lantaran Velo menyebut bekas luka, langsung saja dia pastikan sendiri.


Ditelusurinya bagian-bagian yang dia ingat terluka.


“Ini? Udah bagus. Mana lagi? Oh, yang ini? Apalagi. Deket pipi sini? Malah nggak keliatan sempet luka.”


“Ada bekas luka di sini, Mas.” Suara Velo berbisik seraya mengangkat casual dress miliknya lebih tinggi. Sepenuhnya membagi kekalutan yang menyita ketenangan Velo akhir-akhir ini. Dia tunjuk segurat kecoklatan pada pahanya tersebut, bagian kecil yang berhasil mengeliminasi sebagian rasa percaya dirinya. “Aku jarang punya kegiatan lapangan, dulu kan Papah larang aku ikut macem-macem. Makanya hampir nggak punya bekas-bekas luka. Tapi sekarang harus berdamai sama yang kayak gini, karena Papah, orang yang pernah ngejaga aku sampai segitunya.”


“Bekas luka insiden motor kan? Kalau kamu nggak ngomong, aku beneran nggak tau ada ini. Kayaknya dokter kamu segan kasih lliat ke aku, karena bukan suami atau keluarga kandung.” Memaku tatapan satu sama lain, tidak lama Hartadi diberi anggukan kepala. Sewaktu bekas luka yang membuat Hartadi bertanya-tanya itu dibuktikan ada, dia sanggup menebaknya berasal dari mana. Bentuknya memanjang di sisi luar paha kanan. Walau samar, dia menjumpai sendu pada wajah Velo.


“Aku juga malu lah. Sekarang berani kasih unjuk, sekarang udah mendingan aja.” Velo sentuh di mana bekas lukanya, masih sulit merelakan bila kulitnya tidak semulus dulu. “Pokoknya, aku harus treatment laser. Kemaren udah nyoba konsultasi by chat. Dokter estetika aku bilang hasilnya bisa maksimal selama rutin treatment minimal tiga kali. Bisa langsung ambil paket lagi. Good deal, Mas.”

__ADS_1




__ADS_2