
“Makasih Mas, kamu nggak langsung ngehakimin adik-adik aku. Aku sendiri masih shock inget gimana dia datengin kamu, terus keliatan semarah itu. Ada kesalahan aku juga yang nggak mau angkat telepon mereka.”
“Aku nggak buta nilai mana yang benar-benar punya tujuan buruk dan mana ekspresi adik yang ‘kecewa’. Aku juga seorang adik dari kakak-kakak aku, Vel. Kamu pernah liat aku maki-maki Mas Adi, itu cara aku luapin rasa kecewa sama seorang kakak. Aku lebih kasar sama Mas Adi belakangan ini, karena aku pengen nyadarin dia. Bukan sekedar marah dan gondok.” Hartadi menggenggam pergelangan tangan Velo untuk diarahkan kembali ke arah luka lebamnya. “Jadi mereka bertiga nggak mungkin ngerasain kamu sekecewa apapun dia. Well, bener yang kamu bilang— aku pelampiasan adik kamu.”
Velo menekan handuk dingin pada permukaan sudut bibir Hartadi yang memerah.
Mencoba tidak terhanyut perasaan bersalah, walaupun dia yakin tidak lama lagi bibir Hartadi akan menebal karena kepalan adik laki-lakinya pun mampir di sana.
“Aku...”
“Aku percaya nggak salah pilih kamu, Mas. Lagi dan lagi kamu nunjukin kalau penilaian aku untuk kamu bener. Aku udah lama nggak ngerusuhin kamu pakai omongan ini, sekarang aku mau ngomong lagi— Mas Hartadi, nikahin aku ya?” cengkraman Velo pada handuk kian menguat.
“Aku apa-apa selalu sendiri, tapi aku nggak pengen gitu lagi. Bolehkah aku pengen ditemenin terus sama kamu? Nyusahin nggak?”
Bila Hartadi masih ‘Hartadi’ yang berdiri sebagai pimpinan cabang Samarinda, dia akan merotasikan bola mata mendengar penuturan Velo serta permintaan yang seakan kurang ajar itu.
Namun kini, dirinya memunculkan reaksi yang berseberangan. Tidak ada keinginan membabat permintaan Velo dengan sinis.
Lucunya, dia ingin menjajal bibir Velo yang tampak menyambar-nyambar penglihatannya.
__ADS_1
Suatu keinginan yang tertahan dapat menjadi rasa penasaran menjanjikan, jika tidak pintar mengendalikan diri. Jangan dicari kebenarannya, karena Hartadi hanya berusaha mengelak saja dari bisik hasratnya yang ingin memadu kedua bibir mereka menjadi satu.
Dia menganggap Velo tidak memerlukan lagi jawaban lisan, begitu Hartadi membayarnya dengan aksi yang bernilai serupa dengan jawaban tersebut.
“Mas?” Velo memundurkan wajahnya saat Hartadi hampir melabuhkan bibir.
Cukup tidak menyangka bahwa Hartadi akan mengambil kesempatan yang ada untuk hal intim, sedangkan pria itu yang mengingatkan keberadaan ketika adik Velo di luar kamar.
Dadanya naik turun sebab udara yang semakin terasa sulit didapat. Kedekatannya dan pria itu kali ini menguras himpunan tenaga, dia mendadak saja lemah. Tangan yang memegang handuk pun lunglai ke bawah. Desakan Hartadi bila menginginkan sesuatu memang nyata. Dia sudah pasti tidak akan lari ke mana-mana, sentuhan bibir termasuk di dalam garis aman. Bukan bermaksud menjadi pengemis sentuhan, tidak pula ingin membodohi hati— Velo hanya menyadari panggilan naluri Hartadi bersambut dengan miliknya.
Meraba permukaan seprai dan menemukan apa yang dicari, Velo mengembalikan handuk ke wadah yang dia ambil dari dapur tersebut.
Dadanya berdentam penuh antusias, dia mengijinkan seluruh atensinya terserap pada Hartadi yang tengah berusaha memangkas spasi di antara mereka. Dua tangannya yang mengalung dan bertumpu di atas bahu Hartadi, memuluskan niat pria itu membuatnya duduk di atas pangkuan. Hasilnya luar biasa, bibir mereka memagut tanpa batasan.
Mengelus rahang perempuan yang telah menawarkan pernikahan kepadanya itu, Hartadi menanamkan bibirnya lebih dalam dan momen ini lidahnya bermain-main dengan sensual. Merayu suara Velo mendesiskan ******* yang memacu adrenalinnya hingga tepi. Seolah tidak puas, bagian tubuh mereka terus mencari dan saling bersentuhan.
Ibarat menelan ludahnya sendiri, untuk kali ini Hartadi membenarkan ucapan Velo bahwa para pemuda di luar sana bisa menunggu. Tidak lama lagi, dia jelas akan menuntaskan lahap-melahap bibir ini dan mengajak Velo berdiskusi dengan ketiga adik kembarnya Velo. Kalau dia dibiarkan terlalu lama dan dibukakan jalan, oh Tuhan— dapat membahayakan mentalnya yang senang memberontak. ‘melaju’ berlandaskan spontanitas bukanlah pilihan yang tepat. Dia enggan memperkeruh keadaan.
“Belum tutup pintu. Ih, bentar dulu...” Velo menggeliat tidak sabar, otaknya tiba-tiba memproyeksikan rupa adiknya. Dia yang terkejut lekas membuka mata, lalu pantulan cermin tidak jauh darinya memberikan kesadaran kalau pintu kamarnya terbuka lebar.
__ADS_1
Hartadi membelai sisi pinggang Velo, sorot matanya berangsur rileks. Dengan intonasi jenaka, dia mempertanyakan kata-kata perempuan itu.
“Tutup pintu? Emangnya kita mau ngapain?”
**********
“Ya... nggak mau ngapa-ngapainlah! Udah cukup!” Velo memutar pandangannya menjauhi wajah Hartadi yang teramat dekat.
Meskipun tidak berkesan rayuan, kalimat yang dilontarkan Hartadi menjalarkan hangat ke sekitar pipi. Dia berusaha menguasai diri agar tidak salah tingkah lebih dari ini.
“Kalau pintu terbuka, logikanya anak-anak bisa aja tiba-tiba dateng dan langsung liat kita tadi ‘begitulah’. Nggak banget.”
“Hmm, aku pikir kamu ngurusin pintu nggak di tutup karena pengen yang lebih— Oh ****!” Hartadi mengumpat saat kening Velo menubruk keningnya tanpa mampu dihindari. Decak lidahnya tidak terelakkan, sebab denyut nyeri seketika menguar dari kening. Dia melepaskan tangan dari pinggang Velo, lalu mendaratkan usapan pada pusat nyerinya. “Ngapain sih kamu?”
“So— Sorry, Mas. Sakit nggak? Aku tadi mau nutup mulut kamu, tapi jidat kita ketemu duluan.” Ikut meringis memberikan perhatian pada kening Hartadi.
“Niatnya apa mau nutup-nutup mulutku?” ucapnya sinis tapi dengan nada rendah mengusap keningnya. Dia pun sadar kalau kening Velo ikut membiaskan kemerahan.
“Kamu makin ngaco sih. Selain galak, kamu ternyata manipulatif kalau udah sekali megang kendali. Kamu yang mulai duluan, kenapa aku yang disangka minta lebih? Yang tadi aku minta kan dinikahin, bukan minta kamu ngerembet ke ‘sesi lain’.” Velo mencetuskan gerutuan. Tidak perduli sejujurnya dia cukup terhibur atas kata-kata Hartadi yang agak nyeleneh. Cuma Velo tidak tahan mendengarnya, sebab dia tau Hartadi adalah orang yang sukar bercanda. Siapa yang berbicara memang menjadi persoalan di sini, tidak sekedar inti kalimatnya saja.
__ADS_1
“Hah, sebenernya aku heran, Mas. Orang yang bibirnya memar ditonjok belum lebih dari satu jam, kok ngerasa baik-baik aja bibirnya dipakai kerja? Kamu nggak heran?”
“Kalau bibirku di suruh diem, sakitnya malah lebih kerasa. Beda kalo dibikin kerja, kadar sakitnya langsung berkurang.” Telapak tangan Hartadi menyambar kembali sisi pinggang Velo. Lantas menyembunyikan seringai kala perempuan itu bergerak gelisah menolak kehadiran tangannya. Mengapa dia merasa senang berlaku kurang ajar begini? “Kamu ini... bener-bener jaga mata adik kamu ya? Nggak boleh dia ngeliat yang begini?”