Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Dalam Satu Ruangan


__ADS_3

Rasanya ada yang mengganjal. Hartadi berdecak kala menyadari hanya segelas kopi yang mengisi perutnya sejak makan siang, sehingga sekarang lapar mulai menguasai perutnya. Dia keluarkan handphone sambil melanjutkan langkah ke kamar inap Velo. Nasi goreng kaki lima agaknya menjadi menu terbaik, sebab cepat dan dekat.


Lewat aplikasi yang Gofood, Hartadi menemukan kedai nasi goreng yang rata-rata beranjak dua kilo meter saja. Ibu jari Hartadi bergulir di atas layar handphone, dipesannya satu porsi nasi goreng. Dia pun teringat Velo yang belum mengisi perutnya sama sekali. Makanan dari rumah sakit telah diantarkan sejak jam enam sore, namun Velo tunda menyantapnya.


Tak perduli berapa kalori makanan tersebut, perempuan itu harus menghabiskan nasi minimal setengah porsi. Velo mana boleh lupa  jika kondisinya sedang tidak fit. Hartadi akan menyuapi bila perlu, sebab dia tidak suka seseorang yang pantang soal makanan ketika sakit. Dan, itu yang membuat langkahnya berderap lebih cepat.


Sekian menit berlalu, Hartadi sampai di kamar rawat inap Velo usai menaiki lift. Saat dia membuka pintu, Velo tengah menyandarkan punggung pada kepala ranjang sambil menatap televisi yang hidup dengan suara pelan.


“Vel, Kamu nggak makan? Saya barusan pesen nasi goreng.”


“Basha bilang apa di parkiran? Masih nyindir Bapak?” ucapnya menganggkat punggungnya mengabaikan pertanyaan Hartadi. Mata Velo mengikuti kemana arah hartadi bergerak setelah menutup pintu, karena dia mengharap jawaban.


“Masih. Dia keliatan bete diusir dari sini. Tapi, Mba Asri terus kasih alasan yang masuk akal. Pasien rumah sakit memang lebih baik di dampingi satu sampai dua orang aja.” Balas Hartadi enteng. Sambil duduk di sofa di mana terdapat duffel bag beserta tab yang diantarkan Mardi, dia angkat alisnya ketika menatap Velo. “Mau ngomong apa lagi adik kamu kalau Mbak Asri bilang gitu?”


Velo pun menyandarkan punggungnya kembali ke kepala ranjang yang diselipi bantal agar semakin empuk. Dia merasa kedua bahunya kini melemas tidak ada beban. Memang perlu usaha besar untuk membuat adik-adiknya bersedia pulang ke rumah.


“Oh, syukur deh…” Velo mengusap dadanya lega. “Saya dan Bapak pasti nggak bakalan bisa tidur kalau mereka ada disini, udah pasti ada aja yang diributin sama mereka.”


Jujur situasi sekarang diantara mereka memang sangat ‘awkward’. Detak tidak bisa mengusik hati Velo ketika hening mendadak dating. Suara televisi nyatanya tidak mampu mengurangi desir yang menyambangi Velo. Tangannya menepikan helai rambut ke balik telinga, itu hanya upayanya untuk membunuh rasa gugupnya. Lucu sih, dia baru sadar kalau mala mini akan tidur bersama Hartadi.


VELOVE POV


Dalam satu ruangan.


Gila… Ini beneran gila sih… Gue menghirup udara yang sama dengan Hartadi lagi. Dan sisi norak gue mengingat kenangan kemarin malam kembali menguar di dalam otak gue. Gue nggak ngerasa ketagihan ataupun tertantang mengulang sentuhan serupa, dan memang melihat Hartadi dalam kondisi siap memang sulit dilupakan. Kharismanya sebagai pejantan semakin menjadi-jadi.


Oh ****!! Pikiran gue kotor banget! Bangun Vel, bangun! Husshh husshh…. Please bayangan kurang ajar, pergi dari otak gue…


Gue harus muter otak, keheningan meresahkan ini harus segera disudahi. Eh… Kalo nggak salah Hartadi sempet bicara sesuatu tentang nasi goreng ya…

__ADS_1


 


“Bapak tadi ngomongin nasi goreng? Udah pesen kan?”


“Hm. Saya udah pesen,”


Ok baiklah, ini pertama kalinya gue sama Hartadi akan menghabiskan malam di ruangan yang sama. Saat Hartadi nekat memasuki kamar gue waktu di rumah Eyang tempo hari, dia emang sempet bilang keinginannya untuk tidur dalam arti ‘benar-benar tidur’ ya sama gue dalam kamar yang sama. Padahal gue tau sih tujuan kalimatnya itu Cuma ngisengin gue.


Namun, Allah sangat cepat ngabulin ucapannya. Buktinya, malam ini gue akan tidur sama Hartadi. Ya… Walaupun di temenin wangi steril rumah sakit dan terpisah tempat, dia akan tidur di sofa sementara gue di ranjang empuk rawat inap.


Gue liat dia masih berkutat dengan tabletnya sambil berfikir, dan gue yakin dia lagi ngerjain kerjaannya yang tertunda karena gue.



“Kenapa baru sekarang sih makannya? Dari makan siang sampai jam Sembilan malem kan jedanya jauh. Pasti Bapak laper banget.” Akhirnya gue membuka percakapan.


Gue hanya menahan senyum denger perkataannya. “Itu sih emang berkat kecepatan menghapalnya Bapak. Otak Bapak kan paling wahid kalo masalah hapalan apalagi kalo nyelesein masalah kantor...” sindir gue sambil liatin Hartadi yang lagi mengedar pandangannya ke sekitar ranjang gue.


“Kamu mau puasa, ya? Seinget saya besok nggak ada jadwal operasi buat kamu.”


“Nanti saya makan, Pak. Sekarang pengen ngobrol dulu sama Bapak, nggak apa-apa kan?” ucap gue sambil melirik ke atas nakas yang tersimpan sebuah nampan yang berisikan piring dan beberapa mangkuk berisi makanan yang masih penuh.


Iuuuhhh… Selera makan gue alhasil langsung nol melihat sup bening dari rumah sakit, dan gue lebih memilih sup andalan KFC favorit gue. Ya… Siapa yang mau sih makan makanan rumah sakit yang rasanya hambar!


“Nunggu disuapin saya?”


“Hah? Suapin?” ucap gue melongo di depan Hartadi. Sampai gue lupa apakah kecantikan gue masih ada, biarpun bibir udah kebuka lebar karena beneran kaget yang nggak di buat-buat.


Hartadi menyeringai melihat reaksi gue, lalu menghela napas dan menepuk kedua pahanya sembari bangkit. Dan otomatis kedua mata gue terlihat jelas panik ketika Hartadi semakin mendekat ke arah gue.

__ADS_1


Hartadi Tarik kursi di samping ranjang Velo dan duduk di sana.


“Boleh-boleh aja masih bertahan sama konsep deficit kalori kamu, tapi harus inget kapan penerapan waktu yang bener. Kalau mau nyiksa diri ya silahkan.”


“Ck… Saya emang belum laper. Tadi udah makan pudding yang dibawain temen-temen saya—“ ucap gue terpotong sambil mundur saat tangan Hartadi terulur tanpa aba-aba.


Tangan Hartadi menangkup kening gue, cukup lama sampai gue menelan paksa salivannya, jantung gue hampir meledak berdentam ricuh karena kelakuannya. Saat dia sudah cukup membuktikan suhu tubuh gue normal dia pun melihat kearah gue memindai balutan piyama rumah sakit yang kebesaran di tubuh gue membuat pipi gue pasti merah merona.


Lalu Hartadi mengambil nampan dan membuka plastik wrap yang menjaga makanan itu tetap higienis.


“Lebam di leher dan pergelangan kaki kamu yang mulai bengkak bisa memicu demam. Mau demam di saat perut keroncongan? Kalau saya sih ogah amat.”


“Mual liat sup dan nasinya, Pak. Saya kurang suka nasi yang terlalu pulen.” Ucap gue yang memilih jujur sambil melihat mangkuk kecil lain yang isinya berupa daging yang dimasak seperti yakiniku. Dan tanpa piker panjang gue langsung tunjuk mangkuk itu. “Saya mau makan ini, tapi nggak pakai nasi. Boleh kan?”


Hartadi mulai melihat makanan yang tersedia di atas napan itu yang memang terlihat hambar. Hartadi pun hanya bisa menghela napas.


 


“Gimana kalo kamu makan nasi goreng saya? Beras pera harusnya ga bikin mual, paling bentar lagi drivernya nyampe. Gimana, mau Vel?”


“terus Bapak makan apa?”


“Ya, saya makan makanan punya kamu ini…”


“Mmmhh… Makannya bareng pas nasi goreng sampe ya, Pak.”


“Ya udah, saya cek dulu driver nya dulu, udah dimana? Orang belinya deket, masa lama datengnya" ketus Hartadi sambil memindahkan nampan dan langsung mengecek handphonenya. Sementara gue… Gue Cuma bisa diem liat Hartadi sambil senyam senyum sendiri.


__ADS_1


__ADS_2