
Mendadak saja, Velo teringat percakapannya dengan Aruna dan Livia seminggu yang lalu sebelum keberangkatannya ke Kalimantan. Yupz, selain berkarakter galak, Hartadi ternyata ahli membuat diri pria itu terkesan dikejar-kejar.
Sebab sebagai satu-satunya pria yang Velo pertimbangkan menjadi suami rupanya senang bermain petak umpet. Bisa-bisanya Hartadi pergi ke Banjarmasin selang satu hari kedatangan Velo di kantornya, sedangkan Hartadi tau Velo ingin sekali menemuinya lagi untuk meneruskan diskusi yang terputus.
"Ada pesan untuk Pak Hartadi, Bu? Saya bisa sampaikan ke beliau." Sekretaris Hartadi menawarkan dengan sopan, tanpa gelagat sengak seperti kebanyakan sekretaris pimpinan. Bagus sesuai SOP.
"Boleh saya minta nomor hp yang biasa Pak Har pakai kerja? Saya sudah menghubungi nomor pribadinya tapi belum aktip. Kartu namanya juga nggak saya bawa, Mbak." Velo lumayan pandai merancang kata-kata. Sejujurnya nomor kerja ataupun nomor pribadinya Hartadi tidak dimilikinya. Ia hanya membuat alasan.
Sekretaris itu tampak terdiam, tak lama tangannya mulai mengambil selembar kertas memo dan menuliskan serangkaian nomor di sana. Velo menahan napas yang hampir dihembuskannya penuh kelegaan. Hmm... Lihat saja nanti, Velo akan menghubungi Hartadi untuk mencurahkan protesnya. Hartadi pasti kesal. Dan, Velo paling senang membuat pria itu kesal.
"Terima kasih, ya?!" ucap Velo sambil menyambut kertas memo bertuliskan nomor Hartadi dari tangan sekretaris itu. Senyum girangnya hampir terbit, namun dia menahannya agar sekretaris Hartadi tidak berpikir macam-macam. "Kapan kira-kira Pak Har balik dari Banjarmasin?"
"Sama-sama, Bu. Biasanya Pak Hartadi hanya satu dua hari kalau ke pabrik Banjarmasin. Besok pagi mungkin sudah masuk ke kantor lagi, Bu." Sekretaris utu membalasnya dengan senyuman, dan telihat sangat tulus.
Sedikit berbasa basi dengan sekretarisnya milik Hartadi, Velo melangkahkan kedua kakinya keluar dari Royal WCS Company Samarinda yang begitu luas dengan tangki-tangki penyimpanan besar. Bahkan Velo bersyukur kalau dia sudah menggunakan sunscreen pada wajahnya dan sunblock di hampir semua bagian tubuh, karena sengatan matahari di area kantor Hartadi tidak main-main. Kebanyakan pegawai yang berada diluar pun mengenakan helm proyek kuning ataupun topi, intinya penutup kepala.
Di dalam mobil yang di sewanya beserta sopir, Velo tidak menunggu lagi untuk menghubungi Hartadi sembari meminum infuse water dari tumbler miliknya. Berjalan dari gedung utama ke parkiran saja sudah membuat tenggorokannya kering. Dari satu tempat ke tempat lainnya memiliki jarak lumayan jauh. Dia kepayahan sendiri menghadapi bentuk kantor yang dibarengi area penyimpanan minyak ini. Harusnya dia minta dijemput saja di lobi.
"Ck... Sibuk terus sih, Pak?!" ketika Velo mendengar mesin otomatis menjawab panggilannya pada Hartadi. Di tengah suasana hati yang sedikit muram, dia tunda sebentar untuk menghubungi pria itu kembali. Lalu dia menyimpan nomer Hartadi dengan nama lengkapnya. Semua kontak pada handphonenya memang sengaja tidak berupa nama panggilan, kecuali orang-orang yang dituakannya.
"Bu, kita kembali ke hotel?" tanya Pak sopir setelah menjalankan mobilnya ke jalan raya.
"Iya Pak, langaung ke hotel aja." jawabnya tanpa melihat ke arah pak sopir karena sibuk untuk mencoba peruntungannya kembali untyk bisa berkomunikasi dengan Hartadi.
__ADS_1
"Halo." Suara Hartadi yang berat terkesan tanpa riak menyusup ke telinga Velo. Namun untuknya, dia lebih menyukai pria dengan tipe suara seperti Hartadi, daripada suara renyah yang terkesan akrab.
"Hah.. Finally. Bapak ceritanya lagi ngehindarin saya?" ucap Velo to the point.
"Ngayal kamu. Memangnya kamu itu siapa yang harus saya hindarin segala?" balas Hartadi mulai menyebalkan. Tapi pria itu tak lantas mengakhiri sambungan mereka. "Kamu dapat nomor saa dari Tari ya?"
"Tari?"
"Sekretaris saya!"
"Aaaahh... Yaa... Mau darimana lagi? Saya harus nanya gitu ke Papih atau Eyang Putri? Setelah kita diem-dieman selama enam tahun?" tanya Velo bertubi-tubi sembari memandang jalanan yang dilewatinya. "Haaaahh.... Ke Samarinda buat nemuin Bapak aja saya nggak bilang ke orang lain."
"Oke, sekarang saya bisa telepon Mas Anwar dan kabarin anaknya terdampar disini. Kamu keaayangan Papih dan Mamihmu kan, Vel?" Hartadi agaknya menantang Velo yang seperti menyambanginya dengan rahasia, yang artinya kepala mungil milik Velo sudah menciptakan suatu skenario.
Sekian detik tidak mendapat sahutan dari seberang. "Besok saya tunggu Bapak. Please, saya harus menikah tahun ini. Bapak yang paling tepat isi posisi sebagai suami saya."
"Kamu yakin pernikahan jalan satu-satunya jalan keluar dari masalah? Kamu nggak takut ending dari prolog yang kamu mulai atas perandaian resikonya besar? Ditambah lagi ini bersangkutan dengan kehidupan saya, Velo." Hartadi terdengar dingin kali ini, tak lama hanya suara berdenging yang Velo dapatkan dari sambungan teleponnya.
Velo menghela napas berat sambil menurunkan handphone seraya memandang pohon-pohon yang dilaluinya. Velo merenungkan ucapan Hartadi. Dia tau dirinya memang tidak lebih dari perempuan egois.
***
Demi seorang pria yang berkeras diri menentukan meeting point di lobi Royal WCS Company, Velo dengan sukarela kembali mendatangi kantor yang terbangun diatas tanah berhektar-hektar ini lalu menunggu pria itu menampakan diri. Mengintip arloji pada pergelagan tangan sambil menghitung dalam hati kapan pria itu akan keluar dari ruang kerjanya. Kakinya sudah tidak betah dipakai berdiri terlalu lama, karena tidak satu pun kursi tunggu disediakan.
__ADS_1
Mungkin mobilitas di kantor ini berjalan sangat kilat, sehingga kursi tunggu tidak diperlukan lagi. Terlebih lagi, kini Velo menyadari jika segelintir karyawan lain laki-laki yang mulai menyerbu lobi untuk pergi mencari makan siang, justru menjadikannya pusat atensi. Jumlah perempuan yang bekerja di Royal WCS Company dapat dihitung dengan jari. Velo sudah mengamati dari hari pertama dan bisa saja itu yang memicu mata laki-laki mengarah padanya yang kebetulan seorang diri di lobi, persis seperti anak hilang.
Dan lucunya, mereka yang memperhatikannya segera mempercepat langkah dan melewatinya sembari melirik segan. Karena, seseorang yang datang menghampirinya tidak lama kemudian adalah pemimpin cabang, usai mereka berdiri-berdiri tanpa tujuan di sekitar Velo dan bertukar basa-basi. Velo bukan terlalu percaya diri, tapi perjalanan hidup membuktikan bahwa ia termasuk perempuan yang menarik.
Kata Aruna, Velo mempunyai *** appeal yang tinggi. Tak jarang *** appeal ini pula yang menjadi sumber utama permasalahannya.
"Ikut saya, Vel."
Hartadi langsung berjalan seorang diri di depannya, tanpa teguran manis atau sekedar menunggu langkah Velo. Dia benar-benar tidak menoleh padanya. Padahal, dia sudah menunggu begitu lama untuk bisa bertemu muka. Kesabarannya memang dipermainkan oleh Hartadi.
Gaya pria itu benar-benar seperti boss besar dan terlihat sangat arogan. Velo berjalan mengekori dibelakangnya dengan kesal. dia perhatikan dari belakang, hari ini pria itu cukup santai dengan memakai levis berwarna biru navy sehingga telihat kaki jenjangnya. sedangkan atasannya dia hanya memakai kaos putih dengan jacket putih sehingga dia tidak terlihat sudah empat puluh lima tahun.
"Saya tunggu disini aja boleh, Pak?" ucap Velo memperlambat jalannya, berdiri di pinggir lobi Royal WCS Company yang tertutup kanopi minimalis. Enggan mengikuti Hartadi yang sudah berada di bawah sinar matahari.
"Saya bukan sopir. Ikut saya sekarang atau saya batalin aja ajakan kamu hari ini?" Hartadi berbalik menghadap Velo sembari berkacak pinggang. Kulit wajahnya agak memerah disebabkan terik matahari khas jam dua belas siang.
Velo menghentakan kakinya sekali, dia menggerutu sendiri saat mendekati Hartadi. "Ck... Siapa yang anggep Bapak sopir sih? Saya kan cuma nggak mau kena panas. Kasian kulit saya Pak."
"Rewel banget kamu!" Hartadi hanya menggelengkan kepalanya mendengar keluhan Velo. Tanpa menanyakan ulang kesediaan perempuan itu, dia menghampiri mobilnya yang terparkir enam meter dari posisinya saat ini.
__ADS_1