
Wening memperketat genggamannya, seakan meminta Velo dukungan penuh untuk rencana penting tersebut. “Sayangnya Eyang yakin, ada hal-hal kecil yang terlewatkan. Eyang tau, hanya sisi cantik dan baik yang diumbar dalam pengenalan seperti ini. Kamu satu-satunya yang bisa bantu Eyang.”
“Parnita sudah sibuk dengan keluarganya, Eyang nggak bisa egois dan menyita waktu kakak perempuan Har untuk urusan ini. Eyang mohon bantuanmu untuk ikut menilai kepantasan calon istri Har. Bisa ya, Vel?”
Oh okay, ini bukan lagi sebuah permintaan, tetapi ‘Titah’.
Dan tidak ada alasan untuk mangkir dari ‘Titah’ tersebut, kecuali Velo memilih jalan paling kilat dengan ‘Coming Out’ di depan neneknya, bahwa dia dan Hartadi sepakat untuk menikah.
***
“Har, ini Pak Haritanu Dermawan dan keluarganya. Tamu makan malam kita hari ini.”
Langkah Hartadi melambat dan benar-benar berhenti ketika mendapati segelintir orang yang telah mengisi kursi teras pada sayap kanan kediaman orang tuanya. Hartadi tidak mengenal tiga orang diantaranya, namun dia mengerti ini pertemuan jebakan dengan tujuan eksklusif.
Seharusnya dia berkutat dengan kedongkolannya, namun dia malah sibuk mencari perempuan yang mengharuskannya menunggu tujuh menit sebelum dirinya dapat keluar dari persembunyian.
Halis Hartadi kemudian bertaut ketika menemukan perempuan itu di sisi Ibunya. Velo seolah tengah merenungkan hal yang berat. Walaupun Hartadi akui Velo berlipat-lipat lebih menarik dengan wajah seriusnya, tapi dia paham kenapa perempuan itu menampilkan raut yang janggal.
“Sepertinya sudah lama nggak melihat Hartadi. Putramu nggak tinggal di Jakarta kan, Wan? Saya dengar Royal WCS punya cabang di luar Jakata.” Haritanu Dermawan mengamati pria yang baru saja bergabung dengan mereka secara cermat.
“Selama beberapa tahun Haradi memang menetap di Kalimantan, dia mendirikan kantor cabang Royal WCS. Tapi sekarang dia sudah tinggal di Jakarta. Biasalah anak muda senang eksplore sampai ke sudut-sudut Indonesia.” Triawan Bratadikara sang ayah membenarkan dan terselip nada bangga di dalam suaranya.
“Bagus itu! Ada kemauan kuat untuk cari peluang, nggak sekedar mengadahkan tangan dan meminta saham orang tua. Dimana-mana kalau mau sukses dan banyak uang, ya harus kerja keras. Rezeki bagusnya di kejar.” Haritanu nampak puas mendengar penuturan ayah Hartadi.
__ADS_1
Dan kali ini Ibunya Hartadi memberi sahutan. “Benar, Pak. Saya sempat keberatan melepas Hartadi ke Kalimantan. Hartadi sudah menghabiskan masa kuliahnya di luar negeri sampai saya jarang ketemu anak sendiri. Tapi dia membuktikan kalau keputusannya menghasilkan sesuatu.”
“Nah, Hartadi kan sudah matang dari segi usia dan materi. Lalu kenapa belum berumah tangga? Apa seleranya cukup tinggi?” diam-diam Haritanu melirik putrinya.
“Bukan seleranya yang tinggi, tapi sangat selektif. Turunan langsung dari Ibunya.” Jawab Triawan sambil tersenyum hangat pada sang istri, disambut tepukan malu-malu dari sang istri.
Mendengar ucapan teman ayahnya yang terang-terangan menggiring percakapan mereka menuju perkenalan klise, Hartadi membuang wajahnya ke samping karena hampir tidak sadar merotasikan bola mata. Akalnya masih di tempat untuk tidak bersikap kurang ajar.
Sesuatu dalam dirinya memberi alarm peringatan. Memaksa Hartadi meluruskan pandangannya ke depan, seakan menyimak obrolan para orang tua tersebut. Sesungguhnya, Hartadi sedang mengawasi reaksi Velo selepas pancingan Haritanu mengenai statusnya yang masih lajang.
Tampaknya Velo menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan, karena dalam waktu singkat saja, mereka sudah beradu tatap. Dalam dan tanpa jeda, namun suara Ibu Hartadi memutus tatapan mereka yang seolah-olah terikat.
“Duduk dulu, Nak.” Pinta Wening agar Hartadi mengisi kursi di samping Velo. Betapa lega yang Wening rasakan ketika Hartadi tidak mengibarkan penolakan, sang putra menduduki kursi yang ditunjuknya tanpa mengatakan apapun.
“Duduk satu meja dengan suasana hangat ini, rasanya belum afdol kalau masih ada yang tidak mengenal.” Ucap Triawan sambil menatap putranya dan putri Haritanu di sisi lain secara bergantian. “Har sudah hadir disini, bagaimana kalau kamu bertukar salam dengan Sania.”
Bibir Velo terkunci kala dia mendengar dengusan kecil yang berasal dari Hartadi. Tetapi menyadari kemana pandangan hampir semua orang di meja tersebut berlabuh pada Sania, Velo tau bahwa dia satu-satunya yang mendengar.
Arah matanya mengikuti yang lain, menancap pada perempuan yang menjadi kandidat pertama calon istri Hartadi. Sania, namanya secantik wajahnya. Dari penjelasan singkat neneknya, tahun ini Sania berusia tiga puluh lima tahun dan berprofesi sebagai Dokter Spesialis Dalam Konsultan.
Velo sama sekali tidak membandingkan antara dirinya dengan Sania, siapa yang paling pantasegang ‘trofi ‘wanita cantik’. Sebab setiap orang memiliki penilaian yang berbeda untuk standar kecantikan, karena itu cantik sering dikatakan relatif. Namun dari luar dan caranya berbicara, Sania sudah lulus.
Perempuan itu tipe Hartadi sekali.
Meja yang membentang mengharuskan Hartadi maju, dia ulurkan tangan lebih dulu kepada Sania dan mengukir senyum yang hanya sesaat.
__ADS_1
“Hartadi. Saya harap kamu menikmati dish kita malam ini. Chef kebanggaan Ibu saya jarang mengecewakan.”
“Sania.” Ucapnya sambil memperdengarkan suara lembutnya. Bibirnya dilapisi lipstick yang merekah seperti bunga mawar. “Tentu. Saya pasti menikmati dish yang disiapkan untuk kita semua.”
Hartadi kembali menempelkan punggungnya pada kursi. Bibirnya mengulum untuk memanipulasi kejengkelan yang semakin mengakar dan bisa saja tercermin dari wajahnya. Berani sumpah, Hartadi tidak menyukai jalan yang dijajal orang tuanya malam ini.
“Har, Sania ini seorang Dokter Spesialis Dalam Konsultan dia sudah memiliki klinik sendiri dengan sahabat-sahabatnya. Dan itu sudah berjalan empat tahunan. Semangat suksesnya mirip kamu,” tutur Triawan agar ada kelanjutan dari perkenalan singkat tersebut.
Dibatasi kursi Velo dan Ibunya, tidak menghalangi Hartadi mengirim sinyal pemberontakan atas apapun yang bersarang di dalam kepala sang ayah. Pria itu pun mengerti lirikan tajamnya punya maksud tertentu, namun dibalas dengan anggukan kepala. Otomatis memintanya berlaku kooperatif hingga acara sialan ini selesai.
Hanya atas nama Ibunya, Hartadi bersedia melakukan keramahannya yang menipu.
Untung saja, Hartadi tetap cerdas dalam berkata-kata walau tidak murni keinginannya. “Setahu saya Klinik kamu dan teman-temanmu sedang berjaya dalam setahun belakangan ini. Artinya, Sania memikirkan dan mengambil peluang besar itu jauh-jauh hari. Buat saya pribadi ya pasti sudah hebat.”
“Kurang lebih begitu, selain passion saya memang di bidang ilmu penyakit dalam, saya juga melihat masyarakat yang hampir sembilan puluh persen banyak yang membutuhkan perawatan dari kami…” ujar Sania sambil mengangkat cangkir tehnya.
Perempuan itu menyesap teh selagi indra matanya memaku Hartadi. Tersipu-sipu atas penilaian positif Hartadi mengenai dirinya. Apalagi sirat mata pria itu dengan intens mengarah padanya.
Orang tua Sania pun langsung tersanjung, terutama sang ayah.
Haritanu semakin giat melobi Triawan untuk menyambung tali keluarga. “Sania punya ambisi dalam bisnis, tapi sangat pintar urusan rumah. Istilahnya, seimbang. Kami sekeluarga paling menunggu tiap kali Sania yang pegang dapur di rumah, masakannya selalu enak.”
“Laki-laki paling senang dimanjakan isi perutnya kan?” Timpal Ibu Sania yang kelihatan tidak mahir berbasa-basi seperti suaminya. Alasan itu yang mungkin membuat Ibu Sania tidak banyak mengambil peran dalam pertemuan ini.
Triawan setuju atas perkataan suami istri Dermawan. “Benar. Saya sudah pengalaman hidup dengan istri yang ahli masak-memasak. Bahagianya selagi perut lapar dan dihidangkan masakan lezat.”
__ADS_1
“Bapak ini setiap makan maunya nasi dan lauk yang masih hangat. Kalau saya nggak bisa masak, sudah pasti kelimpungan memenuhi seleranya.” sambung Wening membagi pengalamannya.