
Menghela napas mengakui betapa serius dirinya sekarang, Hartadi memutus isi pikiran kompleksnya untuk beralih pada tindakan yang lebih penting. Dia lekas memberi kode pada waitress agar mengikutinya. Dan, integritas Hartadi sebagai pria tentu saja akan dipertaruhkan saat nanti tidak seorang pun bersama mereka di dalam mobilnya.
Sebab, Velo mengidap efek samping mabuk yang tidak membiarkan gairahnya padam.
*****
“loh, Pak Arow? Tadi ngeinfo saya nggak jadi dateng?”
Arow Bratadikara menggoyangkan slokinya sembari menyorot kepergian seseorang yang membuatnya tidak berhenti tercengang.
Dia menyesap gin dari slokinya dengan lambat, pikirannya perlu dijernihkan atas apa yang diamatinya sejak menginjak Noru Jakarta.
Entah dia harus bertepuk tangan ataupun merenungkan kesaksiannya semalaman suntuk. Mengucek matanya agar tidak salah lihat juga sudah dilakukan, tapi kebersamaan ganjil sepasang manusia tadi tertangkap matanya begitu jelas.
Sloki yang tidak berisikan apapun, Arow letakkan ke atas nampan seorang waiter yang sedang melintas.
Dia tatap wajah-wajah familiar yang bekerja untuk Bratadikara Group, sedikit menyayangkan kebodohan mereka yang tidak mengenali wajah seorang pemilik saham tertinggi perusahaan.
Memang orang tersebut sangat pasif dalam bisnis keluarga sendiri, tapi setidaknya mereka harus mengetahui wajah Hartadi Bratadikara.
“Sebenernya, saya udah di sini tepat di jam meeting kita kok. Maaf kalau saya ganggu weekend kalian, tapi hasil meeting udah dipegang Flores kan?” Arow menyebut nama sekretarisnya yang bertindak menjadi notulen.
Memperoleh anggukan dan penjelasan rinci dari dua pria di hadapannya, Arow langsung membanting pembicaraan. “Anyway, saya liat kalian ngebahas cewek? Mana sih yang mau Afka pepetin di sini?”
Tanpa diduga kedua pria itu bertukar pandang. Saling mempertanyakan dalam hati mengapa Arow mengetahui perbincangan mereka beberapa menit lalu.
Tidak terpikirkan di mana si bos mengambil tempat, karena sepanjang waktu mereka di sini tidak melihat Arow sama sekali.
Pria berkemeja putih slim fit berdeham sungkan, karena dia hampir membuat temannya dalam masalah.
Perempuan yang dia pikir sendiri, rupanya bersama pria yang mengantri di kasir belakangnya tadi.
“Itu sih gagal total, Pak. Cewek yang ditaksir Afka udah ada ‘Anjingnya’.”
“Ralat omonganmu, Gar. Yang kamu bilang ‘Anjing’ itu Om saya, panutan saya dan teman diskusi saya ngejalanin perusahaan.” Arow mendikte dingin.
__ADS_1
Dia boleh konyol dan sebadut yang sepupunya—Velo— sering keluhkan, namun dia bisa berbeda bila tersinggung.
“Kamu nggak ngenalin mukanya? Apa di sini kegelapan sampai kamu lupa jajaran petinggi Bratadikara Group diisi siapa aja?”
Afka, si pria berkaos abu-abu dan ankle pants tartan tergagap usai menggali ingatannya.
Perawakan tinggi, rambut hitam legam, dan sepasang mata penuh penghakiman tadi adalah wujud asli Hartadi Bratadikara. Dia menatap Arow segan.
“Maaf Pak, kami lalai.”
“Hah... Afka, Afka... Kamu juga mana bisa main deketin cewek yang bareng Om saya itu. Sepupu kesayangan saya kayaknya nggak bakal ngelirik karyawan biasa deh.”
‘kalau nanti Mas Har dan Velo came out punya hubungan, gue pura-pura bloon ah. Mau ikut kaget daripada diselidikin Mas Har. Dia kan pinter ngebaca gue!’
Arow mengusap pelipis tatkala batinnya mengoceh tanpa jeda.
****
“Nasi uduk.” Hartadi memberitahu apa yang ditentengnya dari depan.
Tahu benar Velo pembangkang bila diminta menyantap karbo, Hartadi menggunakan nada mentitah yang sering di dengar perempuan itu ketika berstatus karyawan Royal WCS. “Makan. Nanti Mas cek habis apa nggak.”
Akibat whiskey kemarin malam yang Velo minum cukup banyak, dia yakin kembali membuat onar karena sikap Hartadi seakan menjaga jarak. Hartadi tidak ada basa basinya sama sekali, sedangkan dia sejak pagi menunggu pria itu dengan sabar meskipun kepalanya berdentam tak karuan.
Mbok Niniek pun turun tangan meredam pusing kepalanya, menyuguhkan air madu dan pijatan di kedua sisi pelipisnya.
Memangnya Velo melakukan apa?
Diingat-ingat juga tidak ada yang terbayang dalam kepala.
Velo melupakan sebagian memori tadi malam. Dia terbangun berkat sakit kepala dan dorongan perutnya untuk memuntahkan sesuatu. Tentu saja, dia terbangun di kamarnya sendiri. Tidak berharap pula berbagi kasur dengan Hartadi dalam kondisi mabuk, wajahnya pasti tidak sanggup dilihat.
“Mbok ambilin piring sama sendok ya, Neng?” Mbok Niniek menawari seraya menurunkan tangan dari kening Velo.
__ADS_1
“Males sarapan,” keluh Velo berganti menatap bungkusan kertas berlapis kantung plastik di depannya. Berpikir sesaat, dia heran dari mana Hartadi membeli sebungkus nasi uduk mengingat lokasi elit perumahan ini.
“Deket sini ada yang jualan nasi uduk, Mbok?”
“Nggak ada. Tadi Mbok belum masak apa-apa, Den Har jadi minta tolong Mardi beliin nasi uduk atau nasi kuning. Yang penting buat Neng Velo sarapan katanya.” Mbok Niniek tersenyum maklum menjumpai rona malu pada wajah Velo yang sedang disembunyikan lewat cebikan bibir.
“Neng sendiri gimana? Udah enakan?”
“Masih pusing sedikit nih Mbok, tapi perut aku udah nggak mual lagi.” Velo membuat gerakan tangan, meminta Mbok Niniek duduk semakin merapat. Mengulum bibir sebentar, Velo memastikan Hartadi tidak melihat ke arahnya. Lalu, dia bertanya dengan suara pelan.
“Semalem Mas Har gendongnya gimana sih? Badanku kok sakit-sakit gini?”
“Gendong biasa, Neng. Mbok lihat sendiri Den Har ngegendong Neng Velonya Lem—“
Velo terperanjat kaget mendengar dering handphone yang menguasai pendengarannya. Mengusap pelan lengan Mbok Niniek yang setia mengurusinya sejak bangun tidur.
“Ntar kita lanjut ya, Mbok.”
“Iya, Neng.” Mbok Niniek tersenyum lalu bangkit pergi.
Sejenak mata Velo tersita ke tempat Hartadi berdiri memunggunginya, sedang mengolesi lengan kanan dengan sunblock.
Rupanya, Hartadi juga memperhatikan hal-hal kecil untuk perlindungan kulit. Dia hendak mengingatkan Hartadi agar memakai sunblock sebelum melakukan aktivitas dalam air, tetapi pria itu sudah berinisiatif sendiri.
Beringsut maju memisahkan punggung dari sofa, Velo memungut handphone untuk melihat siapa si pemanggil. Mengenali nama yang terpajang pada layar handphone, dia menerima telepon tersebut tanpa pikir panjang.
Mereka sudah lama tidak berkomunikasi secara langsung, sebab pergantian jabatan belum resmi dilaksanakan Almeda Group.
“Halo, Pak Gemilang?” Velo menyapa dengan anak laki-laki atasannya di kantor.
Hari pertama rawat inap merupakan terakhir kali dia dan Gemilang berkomunikasi, itupun melalui sambungan telepon yang dibantu Aruna dan Livia ketika menjenguknya.
“Velo, kamu apa kabar? Baik kan?”
Lembut suara Gemilang membuat Velo bisu. Kadang kala, pertanyaan sederhana saja begitu berarti nilainya. Bertahun-tahun menyimpan luka kehidupannya seorang diri, Velo sangat menghargai bentuk pertanyaan kabar seperti itu.
__ADS_1
Karena bagi sebagian orang termasuk Velo, pertanyaan tersebut memberi keyakinan bahwa eksistensinya diakui, bahwa masih ada segelintir orang yang memerhatikan dirinya.
Mendengar tidak ada sahutan apapun darinya, Gemilang kembali mengajukan pertanyaan lain. Intonasi pria itu terdengar ragu-ragu.