Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Mimpi Apa Sih?


__ADS_3


Ketika menjadi anak semata wayang yang minim kasih sayang, memendam kesedihan di dalam hati merupakan jalan keluar yang tercipta tanpa pengenalan. Velo sama sekali tidak masalah, toh dia juga ingin mengurangi beban sang Ibu melalui nihilnya rengekan yang dapat mengganggu waktu istirahat Ayahnya. Begitu dirinya tegar, Velo merasa baik-baik  walaupun perhatian sang Ibu tidak sepenuhnya dia miliki.


Tahun berganti, Ayahnya gugur dalam menghadapi keganasan stroke yang mengambil alih seluruh gerak kehidupan. Datanglah pengganti Ayahnya, Velo memanggil pria itu dengan sebutan ‘Papih’. Kehadirannya membuang banyak parasit yang bernamakan ‘duka’. Tidak hanya senyum Ibunya yang mulai berseri-seri, dia pun demikian. Apalagi, ketulusan hati pelukan pria itu amat terasa.


 


Dan kini julukannya anak sulung perempuan, pundak Velo diwajibkan kuat sebab tidak punya tempat untuk bermanja-manja. Semua adiknya laki-laki, dapat menghajar siapapun yang menyakitinya. Namun, apakah mereka sanggup menjatuhkan pukulannya pada Ayahnya sendiri? Takut, Velo benar-benar ingin keluar dari pagar obsesi yang dibentuk Ayah tirinya, saat tubuhnya tidak lagi anak-anak.


Gemetar tidak berkesudahan, matanya menyisir sekitar. Tidak sudi tangan dan bagian menjijikan pria itu bersentuhan dengannya lagi. Bulir keringat bermunculan  di keningnya. Dalam keputusasaan, seseorang jauh di depan berdiri membelakangi Velo. Punggung maskulin orang tersebut menjanjikan perlindungan. Air mata Velo tiba-tiba mendesak turun, dia ingin menghampiri di tengah langkah kaki yang tertatih-tatih.


Sulit.


Ketika Velo maju selangkah, orang itu pun mengambil satu langkah ke depan.


Sedangkan, rasa nyeri di kaki kiri Velo menghambat pergerakannya untuk lebih cepat. Matanya tidak sekedar berkaca-kaca, sekarang dia sudah menangis. Ingin sekali meminta orang itu untuk diam, tapi tenggorokannya sangat kering untuk bersuara. Dan baru sekarang ini, Velo sangat menginginkan seseorang untuk melindunginya. Akan tetapi punggung lebar orang itu semakin samar dari pandangan.


Tolong, Velo tidak ingin orang itu menjauhinya.


Tolong, temani Velo lebih lama.


Tolong, biarkan Velo berlindung.


Tolong.


“Tolong—”


“Velo!”


“Tolong…”


“Velo! bangun sayang!”

__ADS_1


“Tolong…”


“Velo! Sadar sayang, ini Mamih!”


Pintu terbuka kasar dan hampir mengenai dinding, namun tangan kuat Hartadi memegang kuat handle pintu. Begitu mendengar suara Asri dari tempatnya duduk, buru-buru Hartadi mendatangi kamar rawat inap Velo.


“Ada apa, Mba?” ucap Hartadi tegang sambil menutup pintu.


“Ini, Har. Velo belum sepenuhnya bangun, tapi dia minta tolong terus! Apa karena efek obat yang dikasih dokter mulai habis, jadi sakitnya kerasa lagi ya, Har?” jelas Asri panik.


“Tolong…” lagi, bisikan yang sama dilontarkan Velo. Biarpun mata perempuan itu terpejam kuat, seakan tenggelam dalam selubung mimpi, namun air matanya bergulir ke pipi.


“Velo, kamu kenapa, Nak?” ucap Asri sambil meringis, masih dalam kebingungan, dia menyeka air mata di pipi putrinya. Rasa cemas seketika membanjiri Asri yang semula sedang menenangkan pikiran selesai pembicaraannya dengan Hartadi.


Atensi Hartadi berpusat pada kerutan kening Velo, lalu tatapannya turun saat bibir perempuan itu bergerak. Untuk kali ini kata tolong kembali terucap. Dia melihat bekas air mata tertinggal di wajah Velo. Hartadi masih bungkam sambil memperkirakan apa yang terjadi dengan Velo, Hartadi melangkah mendekat ke sisi ranjang Velo bersebrangan dengan Asri.


Hartadi yakin Velo mengalami mimpi buruk. Setau Hartadi, seseorang yang tidur dalam kondisi kesehatan yang menurun dapat mempengaruhi cara kerja otak. Termasuk bagian otak yang berfungsi mengatur mimpi, apalagi saat tubuh sedang demam tinggi. Atau mungkin, kejadian yang membekas pahit di ingatan Velo hadir dalam bentuk mimpi.


“Tolong…” keluh Velo terdengar putus asa.


Diraihnya satu tangan Velo, Hartadi genggam erat tangan tersebut menggunakan kedua tangannya. Agak merunduk, Hartadi lalu merendahkan suaranya tepat di telinga Velo.


“Ssst, tenang. Saya pasti tolong kamu.”


“Tolong!” Velo tampak semakin gelisah dalam tidurnya. Kepala Velo bergerak ke kiri dan ke kanan seolah diluar kontrol perempuan itu sendiri.


“Gimana ini, Har?” Ucap Asri melebarkan mata. Tangannya dingin karena kecemasan yang belum usai malah kian menjadi-jadi. “Sepertinya kita harus panggil suster. Mba nggak mau Velo kenapa-napa.”


“Nggak perlu, Mba. Tunggu sebentar,” sergah Hartadi dengan rahang mengetat, masih di posisi yang sama. Tak lupa dia berterima kasih karena Asri menahan niatnya memanggil perawat. Karena, jelas terbukti Velo sangat bereaksi dipancing melalui kalimatnya barusan.


Seketika optimis, Hartadi menangkup wajah Velo untuk kesekian kali agar Velo terbangun. Hartadi tau kata kunci yang harus diucapkannya.


“Velo, saya nggak akan kemana-mana. Cukup kamu tenang, saya pasti tolong kamu, pasti.”

__ADS_1


Kesiap mengejutkan datang dari Velo bersamaan dengan sepasang matanya yang terbuka dan tubuh tersentak. Terbelalak diiringi kucuran air mata, napas pun terengah seperti baru saja selesai berlari. Matanya meredup sayu tatkala melihat pemilik punggung yang ingin direngkuhnya hadir di depan mata. Begitu dekat, tidak pergi kemanapun, tidak hanya punggung yang pria itu beri.


Velo memaksakan tangannya terangkat. Disentuhnya tangan kanan Hartadi yang menangkup wajahnya. Dia telah sadar bahwa yang tadi itu hanya sebuah mimpi buruk yang memperingatinya untuk bersyukur. Dan di luar mimpi, Hartadi bersedia ada di sisinya. Cara pria itu menatapnya memang tidak ramah juga hangat, namun Velo tau dia satu-satunya pria yang dia lihat saat ini.


Mimpi apa sih?  Gumam Hartadi dalam hati. Ingin sekali menanyakan langsung pada perempuan itu tapi dia tahan. Dan dia pun merasa sangat lega karena berhasil membangunkan Velo dari mimpi buruknya.


“Mau minum?”


Velo menggeleng pelan, bukan minum yang dibutuhkannya sekarang. Dia hanya butuh melihat Hartadi. Ingatan di tengah hujan ketika menuju mobil Gemilang membanjiri kepala Velo. Lebih dari sekali Hartadi datang di waktu yang tepat.


Ya, benar kayaknya Velo nggak salah milih Hartadi untuk jadi suaminya.


“Jangan kemana-mana?” ucapnya parau.


Hampir saja Hartadi menyunggingkan senyum geli,  dengan menyamarkan senyumnya, dia pun menarik diri sambil mencapit sekilas hidung mancung Velo.


“Di depan kamu gini masih di suruh jangan kemana-mana? Bukan main.”


Pffftthh…


Bisa-bisanya disaat seperti ini Velo menahan senyumnya.


“Bapak keliatan khawatir banget waktu gendong saya? Kalau kata anak jaman sekarang, Bapak itu tsundere. Di depan sok nggak peduli, padahal aslinya nggak gitu.” Ucap Velo sambil mengusap hidungnya yang dicapit Hartadi.


Aaakkhhhh…


Ringis suara tak tertahan akibat pergerakan kaki Velo yang tiba-tiba.


“Ck, nggak paham saya tsundere-tsundere” decak Hartadi sambil memasukan tangan ke dalam saku celananya.


Menghela napas, Hartadi keluarkan tangannya lagi untuk menyibak selimut di bagian kaki Velo yang di bebat gips. Dia pun membantu membenahi posisi kaki Velo supaya lebih nyaman, sesuai arahan perempuan itu.


“Udah pas?” Velo menghadiahi Hartadi senyuman manisnya sambil mengangguk. Disaat menengok ke seberang sisi Hartadi Velo hampir terlonjak kaget ketika melihat sosok Asri yang sedang bersidekap memperhatikan obrolan mereka dari tadi dengan wajah yang tidak terbaca.

__ADS_1


 


“Loh, Mamih? Kok ada disini?”


__ADS_2