Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Adegan dramatis Menjemput Paksa Seorang Perempuan


__ADS_3

Hartadi merasa bicara dengan orang yang tidak berakal. Pasalnya, Adiputra tak menunjukkan tanda-tanda bersalah atau merenungkan sesuatu yang sudah di perbuat.


“Harus aku atur konsultasi sama ahlinya? Supaya kamu bener-bener teredukasi. Kita juga sama-sama cari tahu bentuk protektif kamu ini ngelindungin atau ngerusak kemerdekaan anakmu sendiri, Mas,” sinis Hatadi menahan muak.


“Kurang merdeka apalagi hidup Velo?” tanya Adiputra singkat, tapi terdengar janggal. Adiputra tersenyum saat melihat Velo yang sedang melihat ke arah Hartadi.


Perempuan di usia hampir tiga puluh tahun, berdiri disamping pintu mobil yang terbuka dengan blazer hijau mint serasi dengan rok selututnya. Yang terbingkai dari pandangan Adiputra hanya kecantikan dan kesensualan Velo, walaupun penerangan membuat matanya terbatas.


Sialannya untuk Hartadi, tatapan memuja itulah yang tidak disadari oleh Adiputra sudah terbaca olehnya. Rasanya ingin meludah jijik saja. Benar, Adiputra terlanjur memandang Velo di luar hubungan kekeluargaan mereka.


Menghela napas atas kebenaran yang menari-nari di depan mata, Hartadi tidak mengulur-ngulur waktu dan memberi Adiputra mengagumi anak tirinya lagi. Lantas, dimintanya Velo masuk ke dalam mobil.


“Masuk! Masalah Papihmu biar Mas yang urus.” Hartadi merendahkan suaranya hanya untuk didengar Velo.



Banyak yang sedang bercokol di dalam benaknya, membuat Hartadi sampai tak sadar mengucapkan namanya sendiri dengan pangilan asli Velo. Formalitas pada Royal WCS lebih akrab di lidah mereka, namun tidak melunturkan alam bawah sadarnya yang menyimpan memori dengan panggilan tersebut.


Velo menahan pintu mobil yang hampir tertutup, kemudian mendongak dan membuatnya bertatapan langsung dengan Hartadi. “Jangan pakai kekerasan, nanti ujung-ujung jadi kantor polisi. Papih pernah gitu ke mantan pacar saya.”


“Iya, nggak bakal di luar batas.”


Kalimat singkat tersebut diakhiri dengan bantingan pintu yang cukup keras. Hartadi menuangkan sedikit emosinya. Setengah tidak suka Velo diberi pandangan kotor oleh Adiputra, setengah ngeri memikirkan betapa kacaunya keluarga mereka jika suatu hari penyimpangan Adiputra terkuak.


“Aku mau anter Velo pulang aja kok. Sekalian offer kerjaan di kantor jadi sekretarisku lagi. Posisi sekretaris di pusat masih kosong, karena sekretaris lamaku tetap di Samarinda.” Papar Hartadi dengan alasan palsu.

__ADS_1


Tentu saja palsu.


Di kemudian hari sesuai komitmennya dengan Velo, mana mungkin perempuan itu menjadi sekretarisnya merangkap istri. Peraturan di Royal WCS Company mengijinkan suami istri bekerja di kantor dengan syarat harus melapor, tetapi prinsip Hartadi sendiri yang membatasi hubungan pribadi dan pekerjaan.


“Velo harus tetap kerja di Almeda Group. Posisinya disana udah bagus, untuk apa kamu tawar-tawari lagi kembali ke Royal WCS? Dulu kamu sendiri yang bikin kariernya jeblok!” Adiputra mulai menyipitkan kedua matanya penuh curiga. “Atau, sekarang kamu berubah begini karena kamu suka Velo?”


“Dulu aku yang buat dia dibawah, jadi tugasku juga kan yang angkat dia ke atas? Kamu tinggal duduk tenang dan terima pilihan Velo, mas. Dia yang paling tau harus mengambil keputusan apa,” tutur Hartadi mengesampingkan sudut hatinya yang tercubit mendengar fakta yang di lemparkan di depan wajahnya.


 


***


VELOVE POV


Biasanya gue sangat menikmati tiap kali kedua tangan gue yang memgendalikan kemudi diiringin lagu-lagu yang meningkatkan suasana hati. Lampu-lampu jalanan yang membiaskan cahaya temaram, kadang buat gue terperosok ke renungan cinta. Namun malam ini, gue seakan nggak bisa berpikir apa-apa.


“Sariawan? Tumben mulut ga dipakai.” Tegurnya saat gue ngelamun liat jalan disamping. Mungkin dia baru nyadar kali ya, gue bisa sediam ini, biasanya kan mulut gue nggak bisa diem, paling banter ya biasa ngajak dia duel soal yang dilihat dalam perjalanan.


Dan saat denger pertanyaannya yang menurut gue sih itu sebuah sindiran, Cuma bisa maksain senyum ke arah dia. “Habis saya bingung mau ngomong apa? Maaf ya Pak, ngerepotin banget udah disusulin dan dianterin. Nggak tau saya harus bales pertolongan Bapak gimana.”


“Saya sih minta kamu nggak usah pusing mikirin harus bales saya gimana atau pakai apa. Tolong menolong atas dasarnya kemauan sendiri kan?” Jelasnya sambil mengamati gue penuh perhitungan, mana gue lagi nggak pede lagi udah pasti muka gue kayak yang anemia lagi.


Gue cuma ngela napas nyandarin badan gue sambil tangan gue menopang rahang dengan siku di atas doortrim berlapis kulit. “Kalau kejadian tadi terulang lagi saya nggak mau ngerepotin Bapak terus. Nanti saya cari cara lain untuk ngehindarin Papih setiap ngejemput mendadak di kantor.”


“Mungkin saya harus nge’hire sopir pribadi yang punya skill beladiri dan nggak gaptek. Menurut Bapak, itu bisa jadi solusi nggak?” gue sengaja tanya karena gue pengen denger pendapatnya Hartadi, karena nggak mungkin juga  gue setiap waktu meminta pertolongan Hartadi, keberuntungan nggak datang secara dua kali cuy…

__ADS_1


Hartadi pun sengaja menjauhkan netranya dari gue berganti menatap jalan-jalan yang dilewati menuju Apartmen gue, kendati gue minta diantar ke Almeda Group karena mobil gue msih berada disana Hartadi enggan menuruti kemauan gue.


“Nanti saya bantu cariin sopir yang cocok buat kamu, Vel.”


“Iya Pak, infoin ke aku kalo udah nemu ya…” ucap gue sambil nutup mulut karena nguap.


Mata gue mulai berair karena entah kenapa malam ini rasanya sangat mengantuk. Hangat dari tubuh di sebelah gue jadi salah satu alasan supaya gue nggak langsung memejamkan mata. Meski sayup-sayup kelopak mata gue tengah berjuang buat terjaga.


 


AUTHOR POV


“Saya setuju kok, sopirmu harus punya skill bela diri, karena keuntungannya bisa ngebantu kamu kalau-kalau Mas Adi error lagi dan saya nggak bisa spontan nyusul. Hartadi mengangguk-ngangguk sendiri, selagi berniat menghubungi rekannya esok hari yang mempunyai link jasa-jasa khusus agar diberikan rekomendasi sopir.


“Hmm… soal nggak gaptek itu untuk hanya melengkapi aja Vel, semisal lacak live location kamu kayak saya tadi. Kalau sopir nggak bisa pake map, namanya ngeribetin atasan.” Jelas Hartadi menjabarkan secara terperinci sambil menyentil sopir pribadinya yang asik menyetir lewat kata-kata. “Saya benar nggak, Mardi?”


“Benar, Pak. Malu nanti sama atasan kalau selalu di arahin lokasi,” balas Mardi sambil nyengir salah tingkah. Sejak melihat langsung adegan dramatis atasannya yang menjemput paksa seorang perempuan dari tangan pria lain, Mardi jadi mengagumi Hartadi. Kapan lagi dia punya seorang atasan bak di film drama.


Sementara Hartadi mengepalkan jemarinya di depan bibir dengan pandangan mengarah ke jalanan. Tanpa menyadari lawan bicaranya terlena oleh kantuk. Bahkan kepala Velo mulai terantuk-antuk kaca jendela mengikuti ritme mobil yang melaju.


Lama kelamaan kening Hartadi mengernyit, meyakini ada yang salah dari Velo karena tidak kunjung bersuara. Ingin tau apa yang dilakukan Velo, Hartadi tolehkan kepalanya ke samping, agak tertegun mendapati perempuan itu terpejam dengan napas pelan yang teratur.


“Pas Bapak ngebahas sopir, Ibunya mulai ketiduran.” Celetuk Mardi yang mencuri lihat pemandangan pada kursi dari Rear view mirror.


 

__ADS_1


__ADS_2