
“Maaf, sikap saya barusan pasti bikin kamu nggak nyaman.” Ucap Gemilang tidak mau menatap mata Velo karena rasa bersalahnya.
Iyalah!
“Nggak masalah, Pak!” ucap Velo sesingkat mungkin.
Siapapun Gemilang meskipun disertai nama belakang dan jajaran keluarganya di lingkup pekerjaan Velo, pria itu tetap saja sosok yang belum lama dia kenali. Ada kalanya Velo harus waspada, karena gelagat Gemilang yang menghadirkan kerutan di keningnya tentu saja beralasan.
“Pernah makan disini?” ucap Gemilang memutus kebisuan semenjak meninggalkan mobil. Langkah kakinya coba dia pelankan agar menyamai Velo yang tampaknya senang berjalan di belakang.
“Belum pernah.” Jawab velo sambil menggeleng dan melihat kursi mana yang sekiranya dapat mereka tempati, tanpa melewatkan view yang bagus. “Mmhh… Kalau makan siang di sekitaran senopati saya paling suka di Fedwell. Semacam healthy food dan bisa custom dish dengan ingredients yang saya mau.”
“Kamu defisit kalori?”
“Yupz, defisit kalori. Kok Bapak tau?” ucap Velo sambil tersenyum, tapi dengan cepat dia hapuskan saat Gemilang membuang wajahnya ke arah lain dengan semburat malu.
Velo semakin dibuat tidak mengerti atas sikap Gemilang, namun dia cukup gembira ada seseorang yang menganggapnya tidak melakukan diet. Dan tidak ingin berdiri lebih lama dimuk restoran bak anak hilang.
“Mau duduk di sebelah situ, Pak?” ucap Velo setelah menargetkan sebuah meja.
Gemilang hampir tergagap, dia kerahkan diri untuk berdeham untuk sekedar mengusir grogi karena menerima senyuman dari Velo. Diikutinya kemana pandangan Velo tertuju, sebuah meja panjang yang bersisian dengan kaca yang memperlihatkan taman bambu berhias batu koral putih.
Tanpa pikir panjang, Gemilang mengikuti usulan Velo orang lain mengambil spot yang diinginkan perempuan itu. Melalui sentuhan ringan pada lengan Velo, Gemilang mengajak sekretarisnya itu mendatangi meja yang belum terisi dan membiarkan dirinya berjalan di belakang.
__ADS_1
“Pak Gemilang memang suka makanan Jepang?” tanya Velo sedikit menyamping karena posisi Gemilang saat ini mengambil peran bayangan, yang harusnya dia berjalan di depan Velo.
Dimana-mana atasan yang memimpin jalan, Velo memaklumi Gemilang yang membutuhkan proses untuk menyatu dengan jabatan asli pria itu. Istilahnya, saat ini Gemilang belum nge-blend.
Namun cepat atau lambat, Damar akan digantikan putranya, maka dari itu terbesit dipikirannya untuk mengetahui pribadi Gemilang. Mungkin dengan mengetahui makanan yang disenangi pria itu, karena kadang kala menjadi tugas Velo untuk memesankan makanan atau melakukan reservasi tempat makan.
“Iya, Vel. Saya suka makanan Jepang. Dari kecil pengennya dibekali bento, tapi Mama nggak bisa buatnya. Jadi ikut catering.” Jawab Gemilang menipiskan bibi. “Tapi sekarang kan udah besar, jadi nggak bento lagi. Paling nggak satu kali dalam seminggu datengin restoran Jepang.”
“Kenapa?” tanya Gemilang sambil mengusap tengkuknya sedikit malu, tidak pernah dia bayangkan sekarang dia membicarakan dirinya sendiri pada orang lain bahkan orang baru dikenalnya.
“Mmhh, seumpamanya di kantor lagi kepengen makan sesuatu, bisa kok bilang saya. Nanti saya bantu pesenin, Bapak tinggal tunggu di ruangan aja. Waktu selesai meeting di Almeda sering mepet jam makan siang atau mepet setelah makan siang.” ungkap Velo sementara Gemilang hanya mengangguk.
“Saya… Kasih tau kamu kalo saya kepengen sesuatu!” ucapnya sambil menurunkan pandangannya menatap puncak rambut Velo disertai senyum tipis seperti menyiratkan sesuatu.
“Oke, Pak. Papanya Bapak juga sering—"
Seorang pelanggan lain disana tiba-tiba datang kearah Velo dan Gemilang menyerobot meja yang hendak mereka tempati dengan keangkuhan dari sirat matanya. Seolah-olah pria itulah yang punya tempat ini.
Velo pun terkesiap ketika melihat pria itu sampai hilang kata. Sementara itu Gemilang refleks memegangi kedua bahu Velo karena pria itu hampir menubruknya.
“Maaf, tapi kalian bisa cari meja yang lain.” Ucap pria itu sambil menatap sinis, lalu selebihnya pandangannya tertunduk menekuri layar handphone. Tampak serius dan tidak mau diganggu, jelas sekali tidak ingin diganggu.
Untuk pertemuan langka ini, Velo pun menyuguhkan dengusan yang membuat siapapun kebingungan saat mendengarnya. Entah tertawa mentertawakan pertemuannya yang tidak disengaja atau karena dia tengah mengolok gaya sombong pria yang merampas mejanya tanpa permisi.
__ADS_1
Velo pun sempat melirik dengan siapa pria ini datang ke restoran itu. Velo sisiri tempat ini dengan pandangan hati-hati agar Gemilang tidak curiga, karena dia tidak ingin informasi komitmentnya semakin tersebar sebelum ada keabsahan.
Dan ternyata, belum ada seorangpun yang bergabung dengan Hartadi.
Ya benar… Hartadi menjadikan restoran Jepang untuk mengisi perut kosong pria itu. Hanya saja dia memposisikan dirinya dengan Velo seperti orang asing sehingga tidak ada basa basinya sama sekali.
Lalu tiba-tiba dia digiring ke sisi lain oleh Gemilang dengan cara memegang pergelangan tangannya. Fokusnya terserap pada tangan Gemilang yang sudah berani melakukan tindakan seperti ini.
“Jangan ganggu orang yang lagi laper, nanti kamu digalakin. Kita duduk di sini aja. Biar mejanya lebih kecil, tapi sama-sama deket kaca kayak tadi.” Ucapnya sambil melepaskan tangan Velo lalu duduk di kursi yang ada di sana.
“Pesen apa aja yang kamu mau ya, Vel. Jangan sungkan.” Lanjutnya sambil mulai membuka buku menu.
“Oke, Pak.” Jawab Velo memaksakan dirinya duduk di kursi yang beralaskan bantalan empuk.
Dari bentuk komitmen yang terjalin sejauh ini, Velo dan Hartadi memang tidak punya kesepakatan di atas kertas mengenai keharusan setia. Dari bibir, Velo kerap mengingatkan Hartadi untuk melepaskan hobi lama pria itu dan menjauhi para perempuan berkedok ‘teman’.
Selepas malam tadi, Velo memahami Hartadi pun menuntut hal yang sama. Hartadi menggaris bawahi Caesar yang bergelar mantan kekasih untuk dijauhi. Namun di luar perkiraan, Hartadi mendapati dia bersama pria lain yang pantas disebut pendatang baru.
Tak mengelak dari rasa penasarannya sendiri, Velo mau tau adakah perasaan terusik yang mendiami hati Hartadi saat mendapatinya bersama Gemilang? Bermodalkan tekad dan mengurangi kadar tahu malunya, Velo mengambil handphone dan mengirimi What’s Up pada Hartadi.
Velove Bratadikara :
Muka Bapak asem banget. Lagi jealous?
__ADS_1