
(VELOVE POV)
"Apa artinya pernikahan untuk kamu?”
Andai aja gue jadi perempuan biasa yang impiannya punya kisah romansa yang penuh romantis, dan itu tahapanya katanya memang sangat mudah yaitu kita hanya harus jatuh cinta, mengupayakan cinta itu di sambut, daaan menikah sama orang yang gue cintai pada tahap terakhir.
Tapi sayangnya, kesempatan semua itu sirna di kehidupan gue karena perilaku nggak bener dari papih tiri gue yang bikin risih bukan main ya Lord. Gue pengen banget segera nikah sama laki-laki yang gue yakini bisa ngelindungin gue, nggak masalah buat gue kalo belum saling menyayangi ataupun mencintai.
Kalau calon suami gue bersedia memegang janji pernikahan, gue nggak keberatan buat belajar menyayangi dan mencintainya. Gue percaya cinta dan sayang itu bagaikan tunas, yang dapat hidup dan tumbuh kalau setiap hari disirami, namun bisa mati kering ketika tak mendapatkan perhatian dari sang pemilik.
"Hah... Arti pernikahan buat saya adalah ikatan komitmen dengan teman hidup. Ada segelintir orang yang menikah untuk nimbun aib, berkoalisi urusan bisnis, sampai hasil perjodohan. Apapun bentuk pernikahan yang melandasi saya nanti, saya nggak mau main-main.
"Hm.. Jawaban kamu barusan bikin saya mikir, kalau kamu bisa bener-bener memposisikan diri sebagai istri dan melayani suami..." Gue tau Hartadi tidak menggampangkan diri untuk pecaya begitu saja.
Tipe perempuan ibukota masa kini kayak gue, Hartadi pasti tidak tutup telinga tentang hal itu. teman-temannya juga udah pasti banyak yang sudah menjalani biduk rumah tangga. Pasti di suatu kesempatan mereka berkumpul, berlapis-lapis cerita mengenai pasangan dan kehidupan rumah tangga mereka pasti tidak terelakan.
"Saya mau jadi istri yang baik untuk suami. Termasuk melayani kebutuhannya dalam bentuk apa aja, selagi bukan menjerumuskan ke hal negatif." mulut gue tak gentar merayu Hartadi, agar mempertimbangkan masak-masak ikatan yang gue tawarkan. "Hidup saya pengen damai aja kok Pak, kenapa harus dibuat susah? Emangnya mau nikah lebih dari sekali?" ucap Gue sambil meletakkan gelas kopi ke meja lalu ngeliat Hartadi dengan lekat-lekat begitupun juga dengan Hartadi yang mulai ngeliat gue dengan lekat dan penuh keseriusan. "Pernikahan itu sakral Pak, saya juga ingin menikah sekali seumur hidup, saya juga nggak mau gelar janda karena pernikahan dijadiin permainan. Apa yang saya minta ke Bapak, itu sebuah keseriusan.
Sebisa mungkin gue nggak salah tingkah saat memandang netra Hartadi yang nggak lepas dari mata gue barang sebentar. Kelereng hitam yang gue pandang itu cukup tajam, namun terkesan sensual, yang jujur saja agak mengganggu ketenangan dalam hati gue. Gue pun mengubah posisi duduk gue dengan bersandar dengan nyaman ke sandaran sofa.
__ADS_1
"Saya sering jadi bahan gosip di kantor. Dibilang pacaran dan simpenan bos ini bos itu, tapi saya nikmatin aja dengan pede. Aslinya, boro-boro simpenan, mau ngedate aja halangannya banyak. Ya karena ulahnya Papih." ucap gue sambil senyum masam mengingat masa-masa itu.
Gue liat rahang Hartadi sedikit mengeras, namun perubahan emosi tidak tercermin di wajahnya.
"Mereka yang ngegosipin emang tahu kehidupan asli saya? Paling mereka nilai saya dari ngerokok. Sepele kan? Padahal rokok itu pajangan luar dan langsung bikin orang ngejudge saya nakal." gue terdiam menjeda omongan yang kan gue utarakan ke dia. "Emang di mata Bapak, saya semeragukan itu ya, untuk dijadikan istri?"
"Giliran saya yang ngomong sekarang, bisa?" Ekspresi Hartadi tidak menuntut Gue untuk diam, namun dari riak suaranya gue tau dimana gue harus berenti dan mempersilahkan dia untuk bicara.
"Saya paham disini kamu nggak punya niat lucu-lucuan, atau sekedar asal tembak saya mau jadi suami kamu. Masalah Mas Adi memang harus dicari jalan keluarnya, saya setuju kamu nggak stuck." Dia ngeliat gue yang diam merhatiin penjelasannya dengan tenang.
"Dan sekarang kamu mau nyeret saya diantara kamu dan Mas Adi, gila sih saya kalau main setuju. Sederhananya, kamu tau kan hidup saya penuh pertimbangan dan kamu juga tau kalau saya nggak suka salah langkah."
"Apa aja yang saya tanyain ke kamu tadi, itu semua punya andil ke saya biar keputusan saya matang. Saya nggak bisa bilang keputusan yang terbaik, tapi saya harus siap tanggung jawab dan konsekuensinya." tegas Hartadi dan gue pun mengangguk samar menyetujui ucapannya.
"Tapi nggak berarti saya seputih kertas." Hartadi dengan berani melucuti siapa dirinya seraya mengunci mata gue agar mengarah padanya. "Saya penganut hubungan bebas. Saya punya temen tidur, nggak hanya satu. Kamu masih sreg sama saya?"
"Duh Pak, jangan nilai saya lugu banget deh," Gue hampir aja ketawa karena omongan Hartadi. "Apa Bapak lupa siapa yang di suruh datang ke kantor buat masang karpet kedap suara di ruangan Bapak?" Dia mendengus saat gue singgung fakta di masa lalu. Ucapannya yang sok mengumbar dosa tersebut malah sekarang terdengar norak di telinga gue.
"Cih.... Saya hampir lupa kamu yang nyulap ruangan saya mirip di karaoke. Efisien banget sih usaha kamu itu, Vel." ucapnya saat mata kita berpandangan dan setelahnya kita tertawa mentertawakan duet kita enam tahun yang lalu. "Kamu pegang sendiri kartu hitam saya, kok bisa-bisanya ngotot jadi istri?"
__ADS_1
"Nggak heran kalau laki-laki seneng maen, Pak. Laki-laki jobless aja masih berani celup sana-sini, apalagi laki-laki single yang modelnya kayak Pak Har? Bapak nggak ngundang juga perempuannya yang nyosor duluan." Gue masih hapal banget, setiap perempuan yang berlenggak-lenggok masuk ke ruangan Hartadi.
"Serius kamu nggak keberatan sama history kehidupan seksual saya?" dia heran liat gue yang dengan santainya membahas kegiatan ranjangnya.
"Kenapa saya harus keberatan? Saya tau Bapak nggak pernah asal. Bapak paling pinter jaga diri untuk selalu safe. Terus ngapain banget saya harus ngehakimin keaktipan Bapak yang satu ini?" ucap gue sambil melipat kedua tangan gue di depan dada.
"Saya pernah denger pengalaman temen yang mau settle down. Sekalinya ketemu yang klik, calonnya itu nggak bisa nerima temen saya itu mantan player. Malah empet liat muka temen saya."
(AUTHOR POV)
Hartadi tercenung sebentar, memikirkan ulang kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Settle Down?
Apa benar Hartadi siap angkat kaki dari kehidupan lamanya yang sering menghadirkan cemas di hati sang Ibu dan memandang satu perempuan? Sebab Hartadi tak dibesarkan orangtuanya untuk menjalani pernikahan sekadar status saja.
Sebelum datang menemui Velove, Hartadi pikir tak mengapa menikahi perempuan itu untuk menjauhkannya dari Adiputra. Hartadi tak mau sok heroik, tetapi keluarga besar mereka ikut dipertaruhkan jika Adiputra tidak kunjung dihentikan.
Di lain sisi, Hartadi terbayangi nasib Velo yang dirugikan berkat kakaknya. Segala pertimbangan Hartadi tanamkan di kepala, termasuk seberapa cocok dirinya dan Velo hidup berdampingan.
"Saya nggak pusingin reaksi perempuan lain, Pak. Kalau saya yang ditanya, lebih penting gimana laki-laki itu keep his body, eyes and focus on me setelah kita sepakat komitmen." Velo menatap lurus Hartadi, ada kerlingan jahil di matanya. "Puas dengernya, Pak?"
__ADS_1
Hartadi masih terdiam, enggan mengakui keterpanaannya dari kalimat cantik Velo yang behasil menyerap atensinya beberapa menit. Dipalingkan wajahnya ke samping, sembari menelan ludah dan bertanya-tanya kenapa Velo jadi begitu menantang untuk ditaklukan.