Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
You’re Have To Deal With It


__ADS_3

Tidak hanya kedua orang tuanya yang syok atas kepergian Velo, tapi mereka sebagai adik laki-laki pun sama.


Selain menjaga sang Ibu, tugas dasar saudara laki-laki yang mereka pahami adalah memastikan saudara perempuannya aman terlindungi.


Mengingat yang lalu-lalu, dia terbiasa mengalah bila Velo enggan didesak atas setiap keputusan perempuan itu.


Tetapi, mereka akan jadikan hubungan ganjil kakaknya dan Hartadi sebuah pengecualian.


“Kita ga takut Om perkarain kelakuan kita, karena kita punya alesan untuk sekurang ajar tadi.” Biyan.


“Karena Om dan Kakak kalian lagi ‘dekat’? itu aja?” tanya Hartadi sambil memiringkan kepala. Senyumnya masih terkembang sinis. “Om rasa nggak ada salahnya kalau kami punya hubungan. Om dan Velo sama-sama belum berkeluarga. Di mana letak kesalahan Om yang bikin kalian sekurang ajar tadi?”


“Hah, apa Om sendiri nggak sadar udah ngebuat masalah? Kayaknya semua adik bakal ngelakuin hal yang sama kalau ngerasain jadi kita. Mana ada adik yang tahan liat Kakak perempuannya berubah nggak jelas gini?” Binad memelankan suaranya.


“Kalian pergi nggak pakai pamit dan ijin, padahal aku berharap Kakak bareng kita di rumah. Aku sempet dateng ke sini, tapi staff apartment nggak ngeliat Kakak sama sekali. Udah jelas kan kalian tinggal di rumah Om? Pantes ga sih gitu?” Biyan.


“Bener kalian yang nyari Velo sendiri ke sini? Bukan ngebayar orang lain buat ngawasin kakak kalian?” Hartadi ingin mengorek kebenaran yang dia ragukan sejak kehadiran mereka bertiga di apartment Velo.


Ada penyuap informasi yang akurat, mereka dapat mengetahui kedatangan mereka yang tidak pernah diberitahukan kepada siapa pun.


“Aku nggak ragu sama instingku tentang kalian. Bahkan, dari pertama kali kakak pulang dianter Om Har. Aku ngerasa ada sesuatu, tapi waktu itu aku putusin nggak ikut campur. Beda sama sekarang.” Biyan.


“Emang nggak boleh ya kalau kita pakai tangan kanan? Boleh aja kan selagi tujuannya bukan nyakitin Kak Velo? Kita pengen tau kakak kita dong, dia lagi dimana, lagi apa, sama siapa. Kak Velo ngediemin telepon kita dan kita nggak punya telepati buat tau keadaannya.” Binad.


Jujur baru kali ini Biyan, Binad dan Basha bekerjasama dengan Ayahnya demi memantau Velo, mereka pikir ayahnya memiliki orang-orang untuk menyetor kabar. Dan, ternyata benar.

__ADS_1


Dulu tidak begitu, tiap mereka sadar Velo pergi ataupun tidak berada di Apartment, Biyan, Binad dan Basha hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri untuk mencari kakaknya. Alih-alih mengandalkan dirinya yang tidak seberapa, sekarang mereka meminta kepada sang ayah untuk mengetahui secara spesifik di mana Velo.


“Jangan ngegiring bahasan kita ke hal lain, Om. Kita dateng bukan untuk dikorek-korek.” Basha tidak memusingkan ekspresi kakaknya yang berangsur-angsur pias. Dia tembakkan kalimat yang begitu ingin dikatakannya sejak awal.


“Apa hidup orang dewasa seperti kalian emang sebebas itu? Sebutan awamnya, kumpul kebo kan? Aku bukan anak ingusan yang harus ditutup-tutupin dari masalah beginian. Aku ngerti kenapa Mamih setertekan sekarang. Karena Mamih nggak mau anak perempuannya salah jalan.”


Velo memandang getir adiknya, dia kepalkan tangan sembari membawanya ke atas pangkuan, matanya berkaca-kaca mendapat perkataan itu dari adik-adiknya.


“Hah... Satu kesalahan aja bisa bikin kalian mikir sejauh itu tentang Kakak? Kalian sama aja bilang aku tidur sama Mas Har, sementara kalian di rumah khawatirin aku sampai sakit—gitu kan? Tega kalian ya sama aku...”


Biyan, Binad dan Basha membalas pendar tidak percaya kakaknya dengan datar. Mereka akan menyindir lewat kata demi kata. Tidak semata-mata mengandalkan lisan, semalam dia sudah berpikir keras untuk menegur adik ayahnya dan kakak perempuannya.


“Iya, itu maksud kita. Kamu bisa di rumah kita, tapi kamu milih rumah yang lain. Mungkin rasa malu kamu udah nggak ada. Kamu nganggep serumah itu hal yang biasa. Jadi, ngebebanin orangtua karena pilihan egois kakak—nggak termasuk tega?”


“Biyan, words. Hati-hati sama omongan kamu.” Hartadi menegakkan punggung. Arahan matanya tertuju pada Biyan, setelah dia memastikan Velo baik-baik saja dari ekpresi yang terpasang di wajah tersebut. Velo tampak tegar, tetapi dia tau itu hanya kulit luarnya saja. “Kamu boleh nggak sopan sama saya, tapi jangan ngomong sembarangan sama Kakak kamu. Minta maaf sekarang.”


“Minta maaf, Biyan Bratadikara.” Sama halnya dengan Biyan yang seakan memandangnya musuh, dia pun tidak bisa berpura-pura baik hati menerima penilaian buruk yang hanya didapat dari satu sudut pandang.


Terlebih pemuda itu semakin tak terkendali ketika menghakimi kakaknya. “Kalau dengan cara ini kamu luapin rasa kecewa sama Velo, berarti kamu salah. Harusnya kamu lebih sabar, harusnya kamu lebih peka.”


“Harus sabar berapa lama lagi? Sebetulnya, Om tau apa sih? Jangan ngerasa yang paling tau, padahal baru belakangan ini Om bareng Kakakku,” tantang Basha tidak gentar, biarpun Hartadi benar-benar mengintimidasi.


Adik ayahnya itu memang memiliki aura yang tidak bersahabat, berkebalikan dengan Yuda—kakak ayahnya yang membuat orang lain nyaman untuk akrab.


Velo memberikan gelengan kecil. Hartadi menyambar kode yang dia berikan dengan cepat, tetapi pria itu lekas mengembalikan tatapan pada Biyan seakan yang mencoba disampaikannya tidak penting.

__ADS_1


Napasnya terhela, dia menatap ketiga adiknya itu dan merasa tidak sanggup menyudutkan adiknya itu.


“Biyan, bisa kita berenti di sini?”


“Kakak nggak bakal lama di rumah Mas Har. Di sana juga ada Mbok Niniek yang sering nemenin dan bantu keperluan kakak. Mas Har dan Kakak nggak kumpul kebo atau seliar yang ada di dalam pikiran kalian. Kamu salah ngira kalo kakak macem-macem, tapi udahlah—Kakak nggak mau perpanjang.” Velo mengusap rambut hitam Biyan lalu memegang tangan Basha dan Binad. Tersenyum lega bercampur pedih kala adiknya tidak menghindar. “Makasih kalian selalu jadi orang nomor satu yang paling peduli sama Kakak.”


“Trus apa hubungan kamu sama Om? Kamu minta aku berhenti, tapi kamu nggak kasih kejelasan yang aku mau. Kamu nggak janji buat pulang. Aku nggak bisa iyain tanpa dapetin apa-apa. Nggak fair dong.” Binad mencecar.


Memutar otak sesaat, dia tunjukan hal yang detik ini dia sadari amat penting pada Hartadi.


“Benar. Apa Om cinta sama Kak Velo? Atau paling enggak, sayang? Tolong kasih kita pencerahan, karena kita juga berhak tau.” Basha.


“Kamu ngapain nanya lagi? Hubungan Kakak dan Mas Har nggak terlepas dari dua hal itu lah.” Ucap Velo sambil mengulum bibir, Velo menurunkan tangan yang berdiam di puncak kepala Binad.


Terhenyak atas pernyataan tiba-tiba tersebut, dia pergunakan tangannya untuk mengusap tengkuk demi mensiasati jantungnya yang bekerja lebih cepat.


“Temenku banyak yang lengket tanpa beneran punya hati. Ada yang ngincer uang, popularitas, atau mau nyari partner seneng-seneng aja. Apalagi, orang seumuran kalian yang punya banyak kemungkinan. Dulu kalian sempet sekantor, terus sekarang lama pisah tempat kerja—nggak ada tanda-tanda bakalan kejebak hubungan di luar saudara dan mantan co-worker.” Biyan.


“Aku yakin nggak salah nanya motif hubungan kalian apa—cinta atau nggak? Ditambah lagi yang aneh, karena Papih keliatan berat nerima Om untuk Kakak. Papih pasti mau yang terbaik buat kakak, tapi kalau Papih nggak suka Om yang notabene adik kandungnya sendiri...” Biyan mengedikkan kedua bahunya.


“ .... Ada yang alpa dari pribadi Om Har kan?”


“Kamu harus tanya sendiri kenapa Papih kalian terkesan berat ngelepas Velo. Sementara Om, sebagai laki-laki yang ‘meminta’ putri Papih kalian, udah sebaik-baiknya sampaikan seberapa serius keinginan Om ngesatuin hubungan kami ke level yang lebih tinggi.” Hartadi memerlukan waktu menyelesaikan penuturannya yang diucapkan perlahan.


“Om nggak akan berbelit-belit jelasin. Intinya, segenap tekad Om sekarang ini dan kedepannya adalah untuk ngebahagiain kakak kalian. You’re have to deal with it, guys.”

__ADS_1


Terima kasih pada Hartadi yang berhasil membungkam ketiga adiknya. Entah dalam keterpanaan atau keragu-raguan. Sebab yang Velo hadapi berikutnya bukanlah percekcokan antar empat pria, tapi keheningan langka yang menenggelamkan mereka berlima dalam lamunan.


__ADS_2