
Velo merengur tidak kuasa menahan malu. Baru hendak memiringkan badan agar memutus kontak matanya pada Hartadi, dia tidak menyangka pria itu mengadu tatapannya kala menoleh ke belakang.
Masih menggenggam jus begitu santai, namun sirat mata Hartadi itu terang-terangan menyuruhnya tetap berada di tempat.
Velo jelas kelabakan, handphone semakin erat dipegang, namun Gemilang benar-benar tidak diprioritaskan.
“Jadi, gimana menurutmu? Saya boleh nengok? itung-itung ngeganti keabsenan saya di rumah sakit tempo hari.” Gemilang menyuarakan inisiatifnya mendatangi Velo yang belum terjawab perempuan itu.
“Terus kita bisa obrolin soal catetan yang kamu butuhin buat kerja bareng saya.”
“Emhh...” Velo menggulum bibir, fokusnya tidak bisa terkumpul untuk memberikan pengertian kepada Gemilang.
Berujung dia yang mengulang ucapan pria itu, sementara matanya lurus beradu dengan Hartadi. “Nengokin saya ya, Pak?”
Di luar kuasa Velo ketika tanpa aba-aba Hartadi mengembalikan gelas jus ke atas nampan di pinggir kolam. Velo tau benar Hartadi akan mendekatinya, sebab itu antisipasinya dimulai dari mengambil napas dan membuangnya perlahan-lahan.
Apalagi, Hartadi menarik bathrob yang tersampir pada lounger chair berbahan rotan dan memakainya dalam sekali gerakan—Velo langsung mengusap dadanya mencoba tenang.
“Saya ragu kamu sehat kalau gini, Vel. Napas kamu kayak... Apa ya?” Gemilang sedang mencari kalimat yang bisa mewakilkan kebingungannya.
“Kedengaran saya napas kamu agak berat. Kamu santai aja rehat di rumah ya, kerjaan direksi aman semua. Temen-temen kamu juga semangat kerjanya juara.”
“Gimana saya nggak susah napas kalau deket dewa Hades, Pak?” Velo membenarkan letak duduknya menunggu Hartadi yang sudah berjalan ke arahnya.
Pria itu bahkan berjalan sembari mengikat tali bathrob, gayanya benar-benar selangit.
Namun Velo refleks mengusap kening saat menyadari kebodohannya.
“S—Saya lagi liat-liat history mitologi Yunani nih, Pak. Aduh, jadi ngelantur omongan saya.”
“Nggak masalah. Oh, ternyata kamu seneng baca mitologi Yunani?” Gemilang termakan dusta Velo dengan mudahnya.
“Adik perempuan saya juga suka. Dia ngoleksi novel-novel yang nyeritain Hades dan Persephone. Padahal, awalnya Hades nyulik Persephone. Tapi itu daya tariknya, karena arogan dan punya kuasa kan?”
Akhirnya, Velo termangu oleh penuturan Gemilang dan tatapan yang melekat pada Hartadi.
Mengapa Velo justru merasa sinkron dengan Hades yang dikemukakan Gemilang?
__ADS_1
Memang benar, yang arogan dan memiliki kuasa sangatlah menarik. Menghidupkan kembali pemikiran Velo mengenai ‘suami idaman’ versinya. Harus pria yang tidak takut menyongsong masalah, mempunyai pegangan kuat yang berdasar dari materi, dan nama besar keluarga.
Semua itu dia cari hanya untuk menyelamatkannya dari Adiputra.
Tatkala Hartadi sampai di sisi sofanya, Velo membentuk senyuman tulus bagi pria yang sudah sejauh ini bersamanya.
Pria itu membalasnya dengan sebelah halis yang terangkat naik, mempertanyakan maksud senyumnya tersebut.
Dia berikan gelengan pelan. Seakan kurang puas, Hartadi menyentuh kakinya hati-hati, lalu mengangkat kedua kakinya untuk dapat bergabung dengannya di satu sofa.
“Siapa?” tanya Hartadi ingin memastikan saja. Dia menumpangkan kedua kaki Velo ke atas pahanya, berbagi sofa dengan Velo yang sempat didera pusing dan mual menurut laporan Mbok Niniek.
“Siapa yang telepon?”
Velo bergegas menurunkan handphone dari telinga.
Memajukan tubuhnya agar lebih dekat, dia lempar bisikan untuk memenuhi pertanyaan Hartadi.
“Bosku di Almeda.”
Hartadi sugar rambutnya sekali lagi demi menghalau titik-titik air yang hampir menuruni keningnya.
Picingan kurang senang tidak dia sembunyikan, namun dia akan bertanya dulu daripada asal membuat kesimpulan.
“Iyes.” Velo mengangguk-angguk. Sebenarnya lucu melihat Hartadi tidak mau repot menyembunyikan ketidaksukaan pria itu kepada Gemilang. Dia perjelas saja sekalian.
“Gemilang Almeda. Aku pernah bilang kok sama kamu kalau atasanku mau diganti anaknya. Nah ini yang lagi telepon.”
Tidak munafik, Velo menikmati apa yang Tuhan suguhkan untuknya hari ini. Mungkin benar bila seleranya adalah pria yang memasuki usia matang. Entah mengapa hatinya membenarkan, tapi dia yakin tidak ada sangkut pautnya dengan figur ayah yang kurang sempurna dalam hidupnya. Dia hanya merasa sudah benar menunjuk pria itu untuk dirinya.
Hidup manusia tidak ada yang menyentuh kata sempurna, semuanya tergantung bagaimana manusia itu mensyukuri dan memaknai roda kehidupan yang tengah berputar.
Layaknya pengalaman Velo, mengeluh pun sering, menangisi kehidupannya apalagi, tapi mengutuk dan menyesali jalan hidupnya tidak akan membuka hal-hal baik agar mendekat.
“Coba speaker. Aku mau denger kalian ngobrolin apa.” Hartadi mengedikkan dagu ke arah handphone Velo.
Bukan sekedar iseng, dia ingin ikut mendengar. Persetan dengan yang namanya privasi.
“Dia nggak desak kamu balik kerja cepet-cepet kan?”
__ADS_1
“Nggak, malah aku yang minta dikasih kerjaan sambil nunggu kaki mendingan. Dia sih nanyain kabarku aja, sekalian...” Velo menatap Hartadi tanpa berkedip.
Jeda tersebut berhasil menggiring fokus Hartadi semakin mengarah padanya.
“Pak Gemilang nanya boleh nengokin aku nggak? Terus belum aku bales. Kamu keburu ke sini.”
“Ah...” kali ini Hartadi yang mengangguk-anggukkan kepala. Sembari mengusap bakal janggut yang belum dicukur, dia mengukir senyuman sinis.
“Inti dia nelepon kamu ya itu, pengen ketemu sama kamu. Ngobrol langsung, nggak sekedar lewat telepon. Obrolan lain Cuma basa-basinya aja.”
“Mas, aku juga nggak bakal ngijinin dia dateng kalau kamu nggak kasih. Masa aku ngundang orang ke rumah kamu nggak pakai permisi? Laki-laki lagi kan, bisa aja kamu atau orang yang kerja di sini salah paham.” Velo tetap menggunakan nada rendah agar suaranya tidak terdengar sampai ke sambungan teleponnya sama Gemilang.
Hartadi menyurutkan senyuman sinisnya. Perkataan Velo barusan menunjukkan bahwa perempuan itu menjaga batas dengan baik. Bila sedang begini, sebagai pria rasanya dia sangat dihargai.
“Ya udah, sekarang lanjut ngobrol pakai speaker. Pengen denger cara bos baru Almeda ngomong sama sekretarisnya. Ayo, cepet.”
“Tapi, kamu jangan ngomong?” todong Velo tidak mau mengiyakan di awal. Bisa saja Hartadi yang berjiwa nekat itu tahu-tahu melempar celeukan.
“Muka kamu nggak meyakinkan banget, Mas. Aku pindah ke dalem aja.”
“Kamu pindah, aku ikut pindah. Lagian kenapa kalau dia denger suaraku? Ini hari minggu, waktu orang-orang bebas sama siapa pun dan di mana pun. Wajar dong obrolan kalian nggak sepi suara orang lain?” Hartadi yakin akan memenangkan adu keras kepala di momen ini dengan mengandalkan ucapan terakhirnya.
“Dan, dia tau ‘aku’ kok.”
“Pak Gemilang tau kamu?” Velo mempersempit jarak duduk mereka. Kedua kakinya masih ditumpangkan ke atas paha Hartadi, lagipula pria itu yang menempatkan sendiri.
“Seinget aku, pertama kali ngelihat Pak Gemilang kamu nanya nama dia. Artinya, kalian bukan kenalan bisnis. Kok sekarang beda?”
“Dia tau aku, bukan kami kenal.” Hartadi mengusap telapak kaki Velo yang dilindungi perban elastis pengganti gips.
“Jelasin taunya dari mana lah.” Velo menuntut seraya membuat tatapan sangsi.
“Mas, kamu emang blak-blakan, tapi aku tau banget kamu nggak mungkin ember. Jangan bikin aku overthingking nggak susah kan?”
Hartadi pandangi perempuan yang pagi ini mempesona dengan dress kuning dan rambut terkuncir longgar, duduk di sofa teras yang menghadap kolam renang bak nyonya rumah.
“Dia mau lariin kamu ke rumah sakit, tapi kalau ada aku di sana—kenapa harus dia? Nggak banyak mikir, aku bilang kamu tanggung jawabku. Title dia Cuma boss kamu, tapi aku calon suami.”
Ok sekarang Velo merasa tamat.
__ADS_1
Bukan disebabkan Gemilang tau dirinya telah membangun komitmen bersama seseorang, tapi dirinya bersuka cita Hartadi menjalani peran sebagai calon suaminya dengan lapang dada.
*****