Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Pilihan


__ADS_3

“Angkat telepon Mas!”


“Kurang ajar ya kamu. Angkat telepon Mas sekarang!”


“Berani kamu bertindak semaunya, Har!”


“Kalo sampe nanti malam kamu nggak pulangin Velo, artinya kamu siap liat Velo kehilangan banyak hal.”


“Pikir baik-baik. Mas udah peringatin kamu.”


Beberapa deretan pesan masuk ke handphonenya membuat geraham Hartadi lantas beradu sambil menimang handphone dalam genggaman.


Matanya meninggalkan layar handphone, untuk kemudian dipaksakan tertumbuk pada orang-orang rumahnya yang sedang menidurkan Mbok Niniek ke atas ranjang.


Seorang diantara mereka membuka tutup minyak angin untuk dibiarkan terhirup Mbok Niniek, mencari cara menyadarkan asisten rumah tangga itu yang jatuh pingsan selepas pengakuannya mengenai siapa Velo.


Pengaruh shock atau memang kondisi kurang fit, dia belum tau apa penyebab pingsannya.


Mendengus tidak kentara demi meredakan amarahnya yang bercampur dengan setitik kegelisahan, Hartadi enggan termakan isi pesan yang dikirimkan kakaknya semenit lalu. Bisikan lain darinya mengatakan harus waspada, Adiputra saat ini sedang menggiring pikirannya membentuk skema mengerikan yang bisa pria itu rencanakan terhadap Velo.


Menguatkan mental menjadi kunci, karena itu dia jejalkan saja handphone ke saku celana tanpa membiarkan balasan menantang pada sang kakak. Jadi, jangan harapkan keyakinannya kendur hanya melalui pesan ancaman.


“Gus, bukan shif kamu kerja hari ini kan?” Hartadi menatap anak perempuan Mbok Niniek yang bekerja sebagai cleaning service di Royal WCS, namun turut menemani ibunya menempati blok-blok kamar yang dia sediakan sebagai tempat tinggal para pekerja rumahnya.


“Benar, Pak.” Gusniar menghentikan gerak tangannya yang hendak mengolesi minyak kayu putih di sekitar leher dan dada Mbok Niniek.


“Saya minta tolong kamu temani Mbok. Kalau Mbok ngeluh pusing atau beliau bilang ada bagian tubuh yang sakit, langsung aja ke dokter. Nanti Mardi yang anterin kalian.” Melihat anggukan semuanya—termasuk Mardi yang mengambil peran memindahkan Mbok Niniek ke kamar, Hartadi bersiap memutar tumit. ”Oke, saya keluar dulu.”


Teringat pesan kiriman Adiputra tak ayal mempengaruhi langkahnya yang ingin cepat-cepat menemukan Velo. Satu tangan mengepal erat sampai urat-uratnya terlukis bagai akar, Hartadi sesungguhnya tidak terima hidup perempuan yang disayangi ibunya diatur sedemikian rupa semakin tampak tidak bernilai untuk kakaknya hargai. Lalu mengapa sejak kecil Velo dimajakan dan disayang, jika ujungnya dilukai dan disentuh demi kepuasan setan? Harusnya dia buat babak belur saja Adiputra saat dirumahnya, sebagai bayaran atas kejahatan pria itu membuat Velo celaka dan melahirkan kekacauan di cabang Samarinda.

__ADS_1


Saat sudah berada di ruang televisi Hartadi menghampiri Velo yang tengah menunggunya dengan setia sambil berharap-harap cemas.


Tubuh Velo langsung menegap saat Hartadi tiba di diruang televisi, perempuan itu seoalah tidak sabar merecokinya dengan berbagai pertanyaan. Melihat gelagat yang diperlihatkan oleh Velo Hartadi langsung mengangkat tangannya demi mencegah Velo meminta penjelasan tanpa jeda.


“Satu-satu nanyanya.” Hartadi sudah mengingatkan Velo lebih dulu sembari menghempas tubuhnya ke atas sofa. Belum dua puluh empat jam Velo menginjak rumahnya, tetapi sekian pengalaman telah dia dapatkan.


Hartadi menggelengkan kepala sebentar lalu memikirkan apa lagi berikutnya yang akan dia hadapi.


“Mbok baik-baik aja kan?” menatap lekat Hartadi. Sadar bibirnya terlampau kering, Velo pun sekilas membasahi bibir bawahnya.


Sepertinya obat yang diminumnya sejak kemarin memberi efek samping padanya, kulit menjadi lebih kering.


“Maaf, saya agak histeris liat Mbok pingsan. Ngeri soalnya jatohnya kena kepala atau tulang ekor duluan. Orang tua kalo udah jatoh bahaya banget, Pak.


Mbok Niniek kayaknya beneran syok denger pernyataan Bapak?”


“Mbok masih pingsan, anaknya yang ngurus. Saya juga mana tau Mbok segitu syoknya, Vel.” Ucap Pria itu sambil bersandar dan memanjangkan tangannya ke belakang Velo mengamankan sandaran, Hartadi menelisik kondisi perempuan itu yang kedapatan mengusap tengkuk beberapa kali. “Leher belakang kamu sakit lagi?”


Tidak ingin perhatian Hartadi terserap pada bagian yang sakit tersebut, karena jelas akan berbuntut panjang.


“Pak, saya boleh tau apa maksudnya tindakan Bapak tadi?” Segera Velo miringkan duduknya leluasa berbicara dengan pria itu, sebab kepalanya sudah menabung banyak pertanyaan.


“Nyium kamu di depan Mbok karena saya mau.” Hartadi lugas menjawab, tanpa menyaring kata-katanya. Merasa Handphone mengganjal posisinya, Hartadi keluarkan dari saku celana dan meletakkan benda pipih itu ke atas meja.


Pandangannya mencari kembali wajah Velo, sebelah halisnya terangkat menunggu respon perempuan itu. “Kamu nggak terima Mbok liat keintiman semacam itu? Atau, nggak terima saya jujur?”


“Saya mau dicium Bapak. Saya juga terima Bapak jujur. Tapi, bukan itu inti yang saya tanyain.” Velo mulai berani menjawab ucapan blak-blakan Hartadi.


Perutnya seakan melilit, walau bagaimana pun dia sedang sekuat hati menjaga agar wajahnya tampak biasa-biasa saja ketika mengatakan hal itu. Meski kilat penuh arti yang lamat-lamat muncul dari mata Hartadi hampir mendorongnya bergidik malu.

__ADS_1


“Cuma ya... apa pentingnya Mbok tau hubungan kita sekarang? Nggak riskan didenger Mbok Karsih terus nyampe ke telinga Eyang Putri? Mereka satu kampung, atasannya satu keluarga, punya hape juga, nggak mungkin kanh mereka putus komunikasi?”


“Mbok berhak tau, karena kamu tinggal sementara di sini bareng saya. Kedok hubungan saudara bisa bikin kita rugi sendiri.” Jelas Hartadi sambil menutup mata menikmati kesejukan yang dihembuskan pendingin ruangan ke arahnya. “Saya kasih tau sekarang supaya Mbok nggak mikir macem-macem duluan. Paling parahnya lagi telepon Ibu dan nanya kita ini ada apa, kenapa kamu di sini, dan sering sentuhan fisik yang cukup intens sama saya? Ngehindarin itu ya lebih baik Mbok tau dari mulut saya. Jadi, Mbok nggak bakal kepikiran berani telepon Ibu.”


Velo bernapas lega karena alasan Hartadi yang membenarkan hubungan mereka di depan Mbok Niniek.


Dia melemaskan kedua bahunya, menghapus ketegangan yang hadir dalam dirinya pada saat menunggu Hartadi kembali dari kamar Mbok Niniek. Sebelah tubuhnya bersandar pada sofa, lalu dia ungkap apa yang mengusik batinnya.


“Saya cukup khawatir Eyang Putri tau komitmen menikah kita berdua dari orang lain. Rasanya, saya bisa ngebayangin seberapa kecewanya Eyang Putri kalau kekhawatiran saya kejadian. Makanya, saya tanya kenapa Bapak kasih tau Mbok.”


“Mbok itu ibarat pengganti orang tua, pola pikirnya masih erat memegang norma. Dia pasti cepet sadar kalau kita nggak sekedar hubungan saudara lagi. Rajin banget kan Om ngurus keponakan yang udah gadis di sini, sedangkan kamu punya rumah dan orang tua lengkap.” Hartadi membuka matanya yang memang daritadi masih terpejam.


“Nggak dipungkiri ada moment nya kita ngerasa terjebak, nggak mau langsung ngejauh tanpa dituntasin lewat cara yang intens. Akhirnya, kita nurutin aja naluri bekerja. Repotnya ya... jelas di situ. Coba saya nggak bilang, Vel? Bisa kemana-mana otaknya Mbok.”


Velo tidak menambahkan komentar lain. Hartadi selalu berpikir satu langkah darinya, meskipun kerumitan ini bersumber dari kehidupannya.


Menggoyangkan pelan kakinya yang di bebat gips, senyuman miris Velo tersemat perlahan-lahan.


“Bapak sadar kita main-main sama waktu?”


“Kita memang maen kejar-kejaran waktu, saya akuin itu. Rahasia nggak pernah gampang dan awet disimpan. Semoga Ibu dengar keinginan kamu dan saya menikah dari kejujuran kita sendiri. Seringnya berita yang dibawa orang lain nggak murni sesuai fakta, kadang ujungnya jadi menghasut.” Ucapnya menghela napas diiringi pandangan menghujam ke depan, mencari kalimat efektif sebagai upaya menenangkan Velo.


“Kita nggak boleh goyah. Ibu akan tau semuanya ndari kita. Kamu yakin kan, Vel?”


“Saya terus belajar buat yakin sampai hari ini. Milih Bapak pun saya pakai rumus yakin. Saya yakin dan percaya, dua itu yang sekarang ini saya pegang. Bukan levelnya berharap lagi.” Velo mengusap lengan, masih berat oleh pertimbangan untuk mengatakan skenario terburuk yang terlintas dalam benaknya atau tidak. Kala tatapannya bersambut, desak dominasi Hartadi memaksanya untuk bicara.


“Kalau suatu waktu Papih ngebuat Bapak milih antara bertahan sama saya atau menyelamatkan nama baik Bapak... yang mana Bapak relakan dan yang mana Bapak pilih?”


**********************************

__ADS_1


Pray For Itaewon lagi-lagi keramaian dan kerumunan yang memakan korban, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan dari peristiwa ini semoga menjadi pembelajaran bagi kita untuk lebih waspada pada situasi, kapanpun dan dimanapun... 🙏🙇


__ADS_2