
Jujur sekarang gue ngerasa ada perasaan yang membanjiri relung hati gue, secara… Udah lama juga gue nggak diperhatiin ama cowok sejak terakhir pacaran sama Dandi dan Caesar. Ya… Meskipun bukan perhatian besar sih, tapi bagi gue melihat seorang Hartadi besikap manis seperti ini seperti racun yang menjalar ke seluruh tubuh, dan perhatian semacam ini udah cukup buat gue.
AUTHOR POV
“Telurnya dadar atau mata sapi, Pak?” tanya Velo menahan senyum.
Sementara Hartadi memicingkan mata ketika menyadari ada segaris senyuman yang berusaha Velo singkirkan. Dia pun mendengus atas tingkah perempuan itu, tapi tidak berkomentar apapun.
“Hah, mata sapi! Vel… Seingat saya kita satu selera kalo urusan telur. Makanya, pernah ga kamu liat saya makan telur dadar di rumah makan padang?”
Velo menggeleng pelan. Hapal betul beberapa lauk pokok yang akan dipilih Hartadi ketika mendatangi rumah makan padang.
“Rendang, tongkol asam padeh, atau nggak gulai tujang. Ck… Lauk pilihan Bapak nggak pernah ganti ya, kalo makan padang?!”
“Hah, nanti pas jadi istri Bapak, saya juga harus belajar masakan padang? Abisnya Bapak hobby banget.” Celoteh velo sambil memusatkan kedua matanya menatap lamgit-langit kamar. “Mmhh… Berarti saya harus nyari tau resep masakan padang, nggak Cuma masakan sunda, jawa atau masakan Indonesia umum yang sering Eyang Putri kasih tau resepnya.”
Atensi Hartadi yang tadinya fokus ke handphonenya jadi teralihkan pandangannya kearah Velo. Seakan ada magnet yang begitu kuat ketika matanya membingkai wajah Velo. Dia jalankan tatapannya menelusuri hingga menepi di bibir. Lalu tak lama dia pun menyesalinya, sebab sekarang menghadirkan huru-hara dalam kepala hingga rasa yang tercekat pada tenggorokan yang sangat dia kenali.
“Saya masih belum tau, kamu sebenarnya bisa masak apa nggak?” ucap Hartadi mulai kehilangan fokus. Perkataannya melebar kemana-mana. “Tapi, saya nggak ribet soal makanan. Kombinasi nasi sama lauk aja yang cukup penting. Kalau sayur saya suka bayam dan kangkung. Terus jangan kasih saya—”
“Tempe kan?” tebak Velo dengan mudah.
“Saya bisa masak kok Pak. Selain Mamih yang ngajarin, Eyang Putri juga suka kasih resep-resep masakan Indonesia kalo kita lagi ngumpul di dapur sama Mbok Karsih. Cuma di Apartment kan ga ada sharemate, saya kadang males kalo harus ngabisin makanan buatan sendiri.”
Hartadi berusaha menetralisir semua godaan yang mulai ke setiap persendian dan akalnya. Tampilan polos Velo tanpa riasan memberikan kesan segar dan mengundang untuk didekati. Dia tidak ubahnya anak ingusan yang mabuk melihat perempuan cantik, yang membuatnya jengkel pada diri sendiri.
Forget it, sekarang ini ada hal yang mengharuskan otak Hartadi untuk bekerja lebih keras.
“Sadar nggak kamu di pupuk jadi perempuan yang diidamkan Ibu sebagai menantu untuk anak laki-lakinya? Segala diajarin resep masakan, persis Mbak Nilam dan Mba Asri sebelum resmi dinikahi kakak-kakak saya.” Ucap Hartadi dengan ekspresi yang tidak terbaca.
Rahangnya pun mengeras, usaha mengantisipasi jawaban apa yang akan didapatkan dari Velo. “Apa lagi yang Ibu ajarin ke kamu?”
Velo mengerti kenapa dadanya kembali berdebar, namun dia belum bisa mempercayai apa ucapan Hartadi memang benar. Dan alhasil, ucapannya terbata saat menjawab pertanyaan Hartadi karena masih diliputi keraguan.
__ADS_1
“Di— Diajarin ngejahit?”
“Khususnya?” pancing Hartadi dengan niat ingin menemukan titik terang.
Sakit kepala mendadak hinggap, sampai membuatnya ingin sekali menggeram kesal. Tetapi, dia hanya terduduk diam dengan pandangan terpaku ke wajah dan bibir Velo yang mengatup kaku.
“Ka— Kancing kemeja?!” ucap Velo hampir berbisik.
Oh shhiiit.
Ada apa dengan Ibunya?
Umpat Hartadi dalam hati sambil mengusap wajahnya. Dia tidak perlu menjelaskan, namun gemuruh di dadanya sangat asli dan silih berganti. Dan lagi, desah tidak percaya terdengar darinya.
Bagaimana bisa Ibunya tanpa sadar mengarahkan Velo untuk mempelajari skill yang diharapkan perempuan itu ada dari calon menantu?
***
“Pak!”
“pak!!”
“Mas Har!”
“Eng… Apa?” gumaman serak keluar saat Hartadi mengusap kelopak matanya, masih di selimuti kantuk yang luar biasa. Sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggil namanya dengan tidak sabar, dan tentu saja memaksanya untuk terjaga.
“Mau nggak nganterin saya ke kamar mandi?” Velo bertanya dalam sekali tarikan napas. Ditariknya selimut sampai ke depan wajah, dia menggigit tidak kuat menanggung malu. Andai saja ranjang kamar rawat inap ini setinggi ranjang yang ada di apartmentnya, maka Velo bisa mengerahkan tenaga dan menahan sakit demi mencapai kamar mandi.
“Tunggu, kamu ngomong apa sih, Vel? Coba pelan-pelan.” Gerutu Hartadi sambil menendang selimut tipis yang diikutsertakan Mbok Niniek ke dalam duffel bag nya. Dia pun tengah menyesuaikan cahaya ke penglihatannya, Hartadi menyipitkan mata ke arah Velo dengan posisi sudah duduk di atas sofa.
__ADS_1
“Eu… Boleh minta dianterin ke kamar mandi ga, Pak? Maaf nih, nyusahin Bapak terus.” Ulang Velo secara perlahan, sambil menggaruk tengkuknya untuk mengurangi rasa tidak enak hati. Lalu melihat kearah Hartadi dengan hati-hati. “senderan dulu aja, Pak. Saya nggak buru-buru kok.”
“Mmh.. Sebentar…”
Hartadi menggeleng pelan, berusaha mengusir pening akibat tersentak saat bangun. Mengikuti saran Velo, Hartadi pun menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan mengambil posisi ternyaman. Bersandar di sana, namun tangan kirinya meraih handphone yang dia letakkan asal di sisi bantal dan mengintip jam dari lockscreen.
Setelah selesai mengintip jam, dia pun melemparkan handphonenya menghela napas dan merebahkan kepalanya ke belakang, lalu menempatkan punggung tangannya di atas kelopak matanya yang tertutup.
Masih ingat betul pukul berapa dia merebahkan diri. Namun faktanya, belum ada tiga jam dia tertidur tapi sudah dibangunkan Velo.
Memang sudah resikonya sibuk berkutat dengan pekerjaan hingga dini hari. Semestinya, Hartadi mengistirahatkan tubuh dan otaknya setelah Velo tertidur. Harus dia garis bawahi, dia sedang menjaga seseorang yang cidera kaki. Kapan saja bisa membutuhkan bantuannya, bahkan untuk sekedar mengubah posisi tidur.
“Bapak baru tidur, ya? Matanya kayak berat banget. Saya jadi ga enak minta tolongnya,” sesal Velo memperhatikan wajah keruh Hartadi.
Perlahan tangannya menepikan selimut. Sejenak menahan napas, sedikit demi sedikit dia menggeser kaki kirinya. Gips yang menstabilkan struktur tulangnya, tetap tidak mampu menghalangi denyut nyeri.
“Nggak usah banyak gerak. Kamu cukup diem di situ aja. Saya barusan bilang ‘Sebentar’, bukan bilang ‘ga mau’. Ucapnya sambil mengawasi diam-diam, Hartadi tidak akan membiarkan Velo bertingkah lebih jauh lagi. Sebab itu, dia lekas menegur Velo saat perempuan itu nekat ingin turun ranjang sedirian. Hanya karena tidak enak hati sudah merepotkan untuk ke sekian kalinya.
“Bapak ga keberatan nganterin saya? Paling ga harus gendong saya loh Pak. Gerakin kaki dikit aja saya udah ngos-ngosan, apalagi dipaksa jalan. Saya takut keburu pingsan sebelum nyampe kamar mandi, Bapak nanti makin repot.” Keluh Velo seraya mengusap pelipisnya yang mulai berkeringat dengan punggung tangan.
Berkat upayanya memindahkan posisi kaki, dia mengeluarkan tenaga ekstra sampai terengah meski samar.
“Sakit kan? Kamu yang nggak sabar sendiri.” Ucap Hartadi sambil beranjak dari sofa. “Kamar mandi masih di sini. Di satu ruangan, Vel. Kecuali harus turun atau naek satu lantai, kamu boleh sok nggak enakan. Atau… Kamu anggap saya nggak kuat ngegendong kamu sampai kamar mandi.” Sambung Hartadi disertai picingan sinis.
“Nggak tuh, siapa juga yang nganggap Bapak nggak kuat? Saya yakin kok, Bapak bisa ngegendong saya!” desis Velo menanggapi ucapan Hartadi yang menurutnya ngelantur.
Sungguh menyesakkan menghadapi Hartadi di level mengesalkan, ya… contohnya sekarang ini.
“Saya cuma segan aja harus ngebangunin Bapak yang lagi nyenyak-nyenyaknya tidur. Mau balik tidur pun udah nggak bisa kan? Terlanjur di ujung tanduk.”
__ADS_1