
Hartadi pun meluruskan tubuhnya, menyendokkan nasi goreng ke piringnya beserta telur mata sapi. Menyadari Velo hanya menjadi penonton secara Cuma-Cuma, dia tegur menggunakan nada tegas.
“Sarapan nasi goreng, jangan hitung kalorinya berapa. Cuma nyuap ke mulut kok, jadi nggak usah pakai ngeles.”
“Saya sarapan pakai telur, wortel dan brokoli. Siang baru makan nasi. Sepakat tanpa debat, ya? Please...” Velo gemas sendiri menerima titah mengesalkan itu. “Bisa nggak pagi-pagi kita isi obrolan hangat dan nyenengin? Tanya gimana tidur saya tadi malem, nyenyak nggak tidur saya, atau apa aja— selain tentang makan nasi. Jangan bikin mulut kita gelut terus sih...”
“Gelut mulut kamu dan saya beda penerapan, Vel. Yang bener kalo ngomong. Kalo kita salah paham, kamu yang ‘habis’ sama saya.” Hartadi mendengus saat Velo terbatuk-batuk sambil menjatuhkan pukulan pelan pada bahunya. Begitu membaca refleks Velo selanjutnya, dia berjengit menghindari tangan yang hampir berlabuh di bahunya lagi. “Apa sih? Emang omongan saya salah?”
“Ck, makan deh, Pak.” Ucapnya sambil melengos demi menyembunyikan wajahnya karena malu atas sindiran penuh godaan Hartadi. Namun, tidak melupakan pujian yang dia sematkan diam-diam dalam hati saat memandang penampilan Hartadi pagi ini. Diibaratkan sebagai penyegaran mata, rambut pria itu tersisir rapih memperlihatkan kening dan kemeja berwangi maskulin melekat di badan tegap tersebut.
***
Disebuah Klub Malam...
Langkah Hartadi membelah kerumunan kaum muda yang sedang bersenang-senang menikmati dentaman musik, Hartadi melipir ke meja yang letaknya tersembunyi dari sinar lampu berbagai sudut.
Dengan ekspresi dingin dan sikap angkuhnya tangannya bersidekap di depan dada menunggu seseorang yang akan bergabung di mejanya dan bernegosiasi untuk kepentingannya.
__ADS_1
Walaupun meja Hartadi kosong tanpa minuman berpredikat premium, beberapa orang keamanan berseragam hitam membentuk blokade agar pandangan asing tidak mengarah kepadanya.
Ya... sepulang menuntaskan pekerjaan di kantor, Hartadi punya agenda menyempatkan diri berbincang-bincang dengan seorang teman yang lebih mudah ditemui ketika malam di lokasi bisnis temannya tersebut. Sesuatu melandasi pertemuan yang tidak lama akan berlangsung ini. Sebab sekian jadwal meeting sudah dia lalui, kasus ledakan Royal WCS pun ditutup, dan hasil penyelidikan final membuat darahnya kian mendidih. Malunya bukan main, karena dia harus mengakui pada Maestra dan Haris bahwa kakaknyalah yang mendalangi kasus ledakan.
Konsentrasinya agak terpecah, tapi Hartadi tetap memaksimalkan kinerja otaknya dengan tidak mencicipi minuman yang tersuguhkan di tempat ini. Dia ingin langsung meluncur ke rumahnya, karena seharian tidak saling bertukar kabar dengan Velo.
Bukan apa-apa, terhitung dua kali saja dia memegang handphone selepas sampai di kantor dan tidak teringat untuk mengirim pesan. Bila dulu dia seorang pribadi bebas, kini ada seorang perempuan yang alangkah baiknya dia berikan kabar.
“Well, kalau bukan lo—paling anti ketemu orang di luar ruangan gue.” Pria itu menghempas tubuhnya dengan gaya malas-malasan. Lipatan pada dahinya membuktikan seberapa herannya pria itu atas ajakan Hartadi bertemu malam ini. “Tumben mau ketemu gue, ada keperluan apa?”
Temannya yang biasa disebut DY—seorang Hacker handal bertopeng pemilik klub malam. Memiliki segudang pekerjaan yang biasa dilakukan ketika matahari tidak beroperasi. Maka itu, Hartadi memilih tidak berbasa-basi.
“Hah... gue minta jasa lo buat telusurin rekening Kakak kedua gue selama enam bulan belakangan ini. Namanya, Adiputra Bratadikara. Detail nomor rekening dan data pribadinya gue bakal kirim ke e-mail lo. Intinya, ngalir ke mana aja dana rekeningnya. Siapa tau ketemu boroknya di situ.”
“Deal.” Hartadi tersenyum tipis.
Di dalam rumah Hartadi, Velo berlindung dari getir takdir sebagai hamba Allah itu, bukan pertama kali dalam hidupnya. Berwatak keras dan tidak memasukkan kalah dalam kamus pribadinya, menjadi sesuatu yang memikat Velo untuk memperhitungkan Hartadi. Mengamati Hartadi acap kali kesempatan datang, kemudian dia habiskan berjam-jam waktu malam berharganya untuk merenungkan pria itu. Semenjak bertekad ingin berumah tangga demi pintu kebebasan, hanya sosok pria itulah yang terpatri dalam angan.
Hubungan pasang surut Velo jalani sekian tahun dengan beberapa pria.
Menggadang-gadang akan merajut kasih sampai menua, namun dasar para pengecut yang berani sebatas ucapan saja. Mereka tidak berakhir manis, biarpun dia sempat optimis. Menangis pun tidak ada gunanya, karena air mata bekerja untuk meluapkan rasa yang dipendam. Bukan menyelesasikan induk permasalahannya. Luar biasanya, perasaan optimisnya kali ini seakan bunga yang sedang mekar. Memang dilarang serakah, tapi sejenak ijinkan dia menikmati semua ini lebih lama.
__ADS_1
Menutup kelopak mata menikmati pijatan lembut pada telapak kaki dan tumitnya, Velo hampir terlelap jika tidak ingat sedang menunggu kepulangan Hartadi. Dia mengerjap agar kantuknya segera hilang, matanya berganti sayu memaksa untuk terjaga. Seperti ini nikmatnya terlepas dari bebas pekerjaan dan menumpang hidup bagai parasit. Tidak, jangan sampai dia ketagihan. Ketika nanti resmi menjadi istri pengusaha pun, dia tetap harus memiliki penghasilan sendiri. Dengan melanjutkan karirnya di Wistaka Group atau mungkin membangun jaringan bisnis baru.
Velo memusatkan pandangannya pada jendela bertirai putih transparan yang belum di tutup, menggambarkan balkon gelap yang tersinari bayang-bayang lampu dari dalam kamar. Tanpa sadar dia kembali menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya.
“Mbok... Mas Har biasa pulang jam berapa kalo di sini?”
“Beda-beda, Neng. Kadang jam tujuh udah di rumah, tapi kadang jam sepuluh masih di luar. Khawatir ya, Neng?” Mbok Niniek mengulas senyuman penuh pengertian. Menuang sedikit minyak kelapa ke telapak tangan, Mbok Niniek meneruskan gerak tangannya yang kini memijat bagian betis calon istri majikannya itu.
“Aku nggak khawatirin Mas Har, penasaran aja dia lagi di mana. Mas Har kayaknya lupa ada aku di sini, Mbok. Kalo dipikir-pikir, kita ini mirip orang yang marahan ya Mbok... Nggak tukeran kabar.” Ucapnya meringis merasakan ngilu pada kakinya saat Mbok Niniek memberi sedikit tekanan pada betisnya yang memang tidak biasa dipijat. “Tapi, sempet-sempetnya ngehubungin Mbok buat siapin aku makan dan ingetin minum obat. Laki-laki yang pergerakannya di balik layar emang bikin gregetan. Ya kan, Mbok?”
“Itu tandanya perhatian Neng. Coba aja Neng telepon Den Har duluan?” Mbok Niniek membalas Velo tanpa keberatan. Suasana rumah lebih hidup ketika ada kehadiran Velo, karena kesehariannya biasanya majikannya itu jarang sekali menampakan dirinya di rumah, adapun dia selalu berada di ruang kerjanya. Adanya Velo meramaikan rumah yang seringnya senyap, dan Mbok Niniek senang akan perubahan itu.
Kalau boleh jujur, tangannya memang sudah gatal ingin meraih handphone dan mencari nama Hartadi. Tetapi, dia telan habis keinginan tersebut.
“Nanti aja, Mbok. Mungkin aja ada meeting sekalian makan malem bareng rekan kerjanya. Aku tau Mas Har cukup sibuk sekarang, kerjaannya ngantri. Maklum sih, Mas Har habis absen dateng ke kantor. Makanya, aku nggak enak main telepon.”
Sebetulnya Velo tidak mau sampai di cap posesif dan mencampuri budaya Hartadi yang amat persisten dalam bekerja.sebab itu, dia menahan diri agar hatinya tidak tergerak mengambil alih, kemudian tiba-tiba saja sudah menghubungi Hartadi.
Rasanya, masih terlalu dini meributkan banyak hal pribadi bersama pria itu. Ada sekian hal yang belum disepakati dan diluruskan mengenai masa depan mereka. Menghela napas demi menentramkan gugup yang seketika membelenggu, malam ini akan dia menfaatkan untuk berbincang dari hati ke hati. Lebih baik dia jajal, daripada ditunda lagi.
Walaupun segaris tipis, senyuman Velo muncul tanpa sadar sembari memanjangkan lengan. Dia menyadari Mbok Niniek menggapai tangan kirinya untuk mendapat giliran dipijat. Fokusnya terkumpul kembali pada rencana bincangnya nanti.
__ADS_1
Wajib disusun dari sekarang, jika tidak mau yang mulutnya cetuskan justru melenceng dari tema. Bila dipikirkan ulang, tepatnya dia dan Hartadi harus mengawali dengan memutus cara bicara satu sama lain yang jelas masihlah kaku. Seakan terdapat batasan tak kasat mata. Meski tidak benar-benar mengganggu, tetap seolah memperlebar jarak hubungan mereka.