
Dan kurang ajarnya, Arow membalas cubitan Velo dengan menghirup rambut perempuan itu sambil berbisik jahil, “Asli, wangi banget rambut lo. Minta disayang-sayang. Apa lo nyoba sama gue aja, Vel?”
Velo memincingkan mata tidak yakin, Velo memastikan kembali ucapan Arow. “Nyoba apa?”
“Nyoba jalan sama gue, kayaknya kita bisa jadi pasangan klop.” Ucap Arow melempar senyum, namun bahunya merosot kala Velo menempeleng kepalanya seolah dia anak kecil.
“Sadar woy sadar! Keseringan bercocok tanam sih lo, itu juga jadi pemicu bergesernya otak lo.” Velo kemudian melengos tidak peduli. “Sorry Ar, gue nggak minat sama yang lebih muda.”
“Ah, lo ngeraguin daun muda. Padahal, lebih jago ngebuat lo happy!” gerutu Arow sambil mengusap bagian kepalanya yang ditempeleng Velo.
Tatapan Hartadi menajam, memerhatikan pola tingkah Arow bersama Velo. Boleh Hartadi beri kesimpulan kalau Arow sekarang sedang menggoda miliknya kan? Perempuan di samping Arow sudah disepakati akan menjadi istrinya kelak.
Jadi sudah sepantasnya dia tidak suka menyaksikan Arow memperlakukan Velo dengan sentuhan dan kalimat intim, walaupun bisa dipastikan perlakuan tersebut sebagian dari sifat usil Arow.
Lidahnya gatal untuk membuat onar, Hartadi tepikan niat untuk mengumbar kepemilikan dan menebar kalimat provokasi yang nanti akan dimakan Arow mentah-mentah. “Siapa yang bilang Velo single? Yakin banget kamu!”
Velo lantas memejamkan mata, dijamin Arow akan membuatnya repot dengan memaksanya jujur. Dia sempat lemparkan lirikan tajam tidak setuju kepada, tapi pria itu malah menaikan kedua bahunya disertai tarikan pada sudut bibirnya.
Sambil memelototkan mata, Arow kembali merongrong Velo dengan berbagai pertanyaan. Tapi yang jelas diterima pendengaran Velo hanya sepenggal saja.
“… siapa sih pasangan baru lo? Rahasia banget emangnya? Bukan bos yang udah tuwir kan? Nggak rela banget gue kalo lo jalan sama bapak-bapak.”
“Arow, penting lo tau? Gue nggak pernah tuh nanya lo tidur sama siapa? Daftar pacar lo siapa aja? So… Jangan sok penasaran gue lagi berhubungan sama siapa. Privasi gue.” Velo masih duduk, namun Arow makin merusuh dan membuatnya harus menghindar dari sang sepupu yang mengitarinya bak lalat di tong sampah.
Hartadi menghentikan Arow, dia sodorkan kursi di sampingnya agar pria itu berjauhan dari Velo. “Ar, bisa kamu duduk? Daripada kamu muter-muter, meningan kamu diem dan jelasin apa yang mau kamu diskusiin.”
__ADS_1
Arow tak lagi berputar di sekitar Velo. Sebenarnya masih berat buat Arow, dia ingin mengorek informasi lebih banyak dari perempuan itu. “Tapi…”
“Kalau Mas berpendapat di sini, Velo memang udah punya pasangan dari cara dia ngejawab kamu. Dan, hak dia buat simpan nama pasangannya.” Ucap Hartadi tegas. Dengan perkataannya tersebut, Arow mulai berjalan ke arahnya dengan ekspresi masam.
“Iya Mas…” Arow menggaruk tengkuknya selagi duduk di kursi yang diberikan Hartadi, terpaksa dia redam rasa penasarannya akan pasangan Velo meskipun tak ingin.
Tanpa diketahui oleh Arow, dua orang yang berada di bawah atap pendopo bersamanya tersebut sedang bertukar pandang. Velo mengukir senyuman kecut, lelah menghadapi Arow yang hiperaktip. Dibalas sinar geli yang menghias sepasang mata Hartadi.
Lambat laun, Hartadi dan Velo semakin mahir mengelabui orang-orang yang tak diijinkan memasuki ruang rahasia mereka sebelum saatnya.
***
“Har, bagaimana menurutnu Sania?” ucap Sang Ayah menaruh perhatian penuh pada putra bungsunya.
Saat ini keluarga inti baru berkumpul dan bercakap-cakap setelah keluarga Dermawan pamit pulang dan berterima kasih atas undangan makan malamnya. Minus agenda pertemuan selanjutnya agar mengakrabkan Sania dan Hartadi, karena terlihat dari keluarga perempuan itu hanya kedua orang tua Sania yang menyambut sepenuh hati. Sementara Sania ogah-ogahan setiap kali orang tuanya menyambung-nyambungkan dirinya dengan Hartadi.
“Bukan itu jawaban yang Bapak mau,” Triawan mulai menarik napas demi menenangkan diri. Menghadapi Hartadi tidak semudah anak-anaknya yang lain. Anak bungsunya itu dapat luar biasa keras kepala akan hal-hal tertentu.
“Terus jawaban apa yang Bapak mau? Sania perempuan yang baik dan aku membuka diri untuk peluang yang ada, lantas kami menikah?” wajah Hartadi tidak setenang tadi, kini dia menatap ayahnya dengan tajam tanpa takut. “Bapak dan ibu nggak harus mencarikan aku seorang istri.”
Wening pun mengusap bahu suaminya untuk menahan pria itu dan membiarkan dirinya yang memberi pengertian jika malam makan tadi memiliki niat baik. “Nak, kami mengenalkan kamu dengan Sania, karena kami ingin kamu ada yang mendampingi.”
“Mau sampai kapan, Har?” ucap Sang Ibu menanggalkan ketegaran. Suara Wening itu mengalun sangat lirih, membuat Putranya melempar pandangan ke lain sisi. “Lihat Ibu dan katakan, mau sampai kapan kamu tetap melajang?”
__ADS_1
Hartadi membuang napas pelan sambil menunduk. Lalu kepalanya terangkat, sorot matanya menyiratkan keseriusan janji. “Aku akan menikah, Bu. Dengan pilihanku sendiri, jadi lain kali aku minta tolong, jangan lagi membuat aku terjebak makan malam seperti hari ini.”
“Apa salahnya, Har?” ayahnya mengajukan tanya dengan sirat heran. “Siapa tau kamu menemukan kecocokan dengan salah satu anak dari teman Bapak. Malah bagus kan? Asal usulnya sudah jelas, kamu tinggal jajal aja.”
“Empat puluh lima tahun, mungkin Bapak lupa umurku berapa.” Sela Hartadi sambil memijit pangkal hidungnya.
Pada dasarnya Hartadi mengerti konsep orang tua yang akan memperlakukan anak-anaknya sebagai ‘anak’. Sekalipun sang anak telah mencapai usia yang matang di mata orang lain. Namun, Hartadi berharap orang tuanya tidak menerapkan konsep serupa.
Sebelum ayahnya merespon, Hartadi segera mengedikan dagu ke tempat di mana Arow sedang menontoni perdebatannya dengan ekspresi tegang. “Dia yang lebih cocok buat dipromosikan ke rekan-rekan Bapak. Pasti ada rekan Bapak yang mau memungutnya jadi menantu.”
“Masa iya sih aku diperlakukan seperti Arow? Aku belum menikah, karena memang kemauan sendiri. Bukan disebabkan karena nggak laku atau lingkar sosialku sempit.” Sambung Hartadi pelan-pelan agar orang tuanya memahami latar belakang kesendiriannya.
“Har, Ibu dan Bapak nggak menganggapmu begitu.” Tegur sang Ibu menatap nanar.
“Tapi kejadian hari ini membuktikannya, Bu.” Ucap Hartadi melembutkan suaranya karena tidak ingin bersikeras pada sang Ibu.
“Andai aja Ibu bilang kalau kita memang kedatangan tamu keluarga Dermawan. Termasuk rencana Ibu dan Bapak ngenalin aku sama anak mereka, aku nggak bakal ajukan protes ini.” Jelas Hartadi menurunkan suaranya. “Orang nggak selalu suka kejutan.”
“Hah, siang dan malam Ibu mikirin masa depan kamu Nak, biarpun kamu tenang menjalani hidup sendiri, tapi Ibu nggak.” Ucap sang Ibu bergetar saat kedua tangan mengarahkan ke dadanya.
“Kamu boleh punya semuanya, Har. Ibu tau hasil kerja kerasmu jumlahnya nggak sedikit. Tapi memiliki pendamping hidup itu nggak kalah penting dari materi.” Wening membisu sesaat memandang putranya, “Kamu bahagia sama hidupmu sekarang?”
“Takaran kebahagiaan setiap orang berbeda, Bu.” Jelas Hartadi membalas pandangan ibunya dengan intens. “Aku pernah di titik paling bahagia dan merancang masa depan yang matang dengan seseorang. Tapi takdir punya kehendak lain.”
“Aku nggak menaruh dendam, karena kekejaman takdir. Aku berpikir hanya merasa harus berhenti mencari. Tapi itu dulu, Bu. Sekarang aku akan memenuhi babak kehidupan yang belum tercapai, yaitu menikah.” ucap Hartadi sambil mengetatkan rahang. “Nggak lama lagi, dengan pilihan Har sendiri.”
__ADS_1
Triawan dan Wening saling pandang. Kerutan dalam pada kening keduanya sangat memperlihatkan seberapa besar yang mereka pertanyakan dalam kepala. Penuturan Hartadi tersebut menggiring mereka kepada satu kesimpulan yang belum valid. Menyerah untuk menerka, Triawan menyatukan kedua tangannya di atas paha dan menatap lurus Hartadi.