
“Komponen terakhir teori Sternberg yang jadi awal hubungan kita ini, Vel. Commitment, menetapkan seseorang jadi pilihan kita dan berusaha ngebina hubungan yang progresif. Kamu dan aku bergerak maju untuk dapetin goals kita sama-sama. Tujuan kamu bukan milik kamu doang, tapi milik kita berdua.” Hartadi bangkit seraya merenggut kruk yang tidak jauh darinya. Berdiri di tepi ranjang, dia ulurkan kruk tersebut pada Velo yang menerimanya sedikit ragu.
“Kayaknya aku nggak wajib tanya apa comitment udah ada di antara kita. Udah jelas komitmen yang ngelatar belakangin kamu dan aku bisa di sini.” Hartadi mengajak Velo berdiri dengannya setelah memastikan kruk berada di tempat yang tepat.
Memerangkap pandangan Velo agar hanya menjadikannya sentral atensi, Hartadi tidak akan keberatan membimbing Velo yang seolah hilang keyakinan. Kadang bibir mengucapkan yakin, namun kesiapan hati dan mental belum tentu mengikuti.
Kedua tangan Hartadi membingkai sepasang bahu Velo. Dia meremas pelan bagian tersebut sebelum memberikan pengertian lebih mengenai ‘cinta’ yang dipahaminya.
“Triangular theory of love nya Sternberg nggak satu pun nyebutin kata cinta dalam komponennya. Nggak punya cinta, bukan artinya nggak punya bekal dalam hubungan. Semuanya tentang kedekatan, rasa, dan komitmen bersama. Konsep dan penerapannya jelas. Sekarang, kembaliin mental optimis kamu dan aku pasti nggak bakal pernah capek.”
“Tentang cinta-cintaan ini udah clear, ya? Mas pusing kalau dengerin kamu bahas beginian mulu.” Hartadi menoleh ke belakang, tidak melihat tanda-tanda Biyan, Basha dan Binad mendekat.
Rupanya ketiga pemuda itu kekeh menunggu di ruang tamu, meskipun kesempatan menyusul mereka ke kamar ini terbuka lebar. “Kita harus temuin si kembar sekarang, Vel.”
“Mas, bentar...” Menahan salah satu tangan Hartadi kala pria itu memutar tumit hampir meninggalkan kamar, Velo mempersempit jarak melalui langkah kecil. Dia kembali berhadapan dengan Hartadi tanpa mengatakkan apapun.
Hatinya tersentuh, dia mengakui Hartadi menyimpan seribu satu cara untuk membuatnya baik-baik saja.
“Boleh peluk?”
“Boleh.” Hartadi membuka tangan, melingkupi tubuh Velo lebih dulu sembari menarik napas menghirup aroma tubuh perempuan dalam dekapannya itu. Merasa momennya sedang tepat, dia menyematkan kecupan di sisi telinga Velo.
“Lain kali dibawa santai, Vel. Kamu ngoceh yang lain bakal aku dengerin, tapi kalau cinta-cintaan lagi bakal aku jewer.”
“Itu bisa masuk tindak kekerasan, Mas.” Gumam Velo memundurkan tubuhnya agar dapat menunjukkan senyum sinisnya.
__ADS_1
‘Tapi Mas, teori yang kamu sebutin adalah teori cinta. Tiga komponen dari teori itu, aku dan kamu alamin semua. Apa artinya kamu beneran ‘cinta’ aku tanpa perlu bilang?’ Batin Velo masih mempertanyakan, tapi biarlah waktu yang melahirkan jawabannya.
******
Tidak siap, Velo refleks bergidik menerima napas hangat Hartadi di telinganya. Tubuh tinggi Hartadi merapat padanya ketika dia hendak menyeberang ke ruang televisi.
“Inget yang aku bilang kan, Vel? Ajak ngobrol biasa dulu. Kalau omongan dia mulai nyerempet hubungan kita, baru kamu ikutin. Dan, jangan langsung dikasih masukan soal perbuatan dia ke aku. Yang ada tambah ngambek, nanti kamu makin galau.”
“Aku nggak galau ya,” desisi Velo berpaling sejenak ke belakang untuk mencari mata Hartadi. Biarpun ada bagian wajah yang sedikit membengkak, Velo pastikan pria itu tidak kehilangan ketampanan. “Aku ngerti harus nanganin mereka bertiga gimana. Terus, Mas... kamu bisa jauhan dikit? Aku nggak bebas gerakin tangan kalau kamu nempel-nempel.”
“Masa begini nempelin kamu sih? Lagian, emang ada orang bisik-bisiknya jauhan?” Dahi Hartadi berhias kerutan tidak setuju, raut tenangnya berganti sengit.
Bukan bermaksud memantik perselisihan, tapi dia tidak suka dikomentari untuk hal-hal remeh seperti itu.
Cepat tanggap, Velo mengangkat tangan demi membuktikan jarak yang terbentuk di antara mereka tidak lebih dari satu jengkal.
“Sekali tanganku dipakai ngayun kruk, nyenggol perut kamu mulu. Kamu nggak risih kena sikutku? Tadi aku diem aja, sekarang aku kasih tau mumpung kamu ngeladeninnya serius.”
Dia tidak mencegah kala Velo berbalik mempergunakan kruknya kembali untuk menyambung laju kaki yang sempat terhenti.
Velo mempertahankan tubuhnya menghadap ke depan, tidak berniat termakan keluhan Hartadi dan membuang waktu percuma. Sudah terlampau sabar ketiga adiknya menunggunya, dia pun sudah cukup mengambil kesempatan menghimpun kesiapan hati.
Sebab perjamuan bibir implusif yang diakhiri perdebatan mengenai cinta, semula benar-benar menjadi pengalihan terbaik. Situasi genting atas kehadiran ketiga adik kembar di apartmentnya, beberapa saat seakan terlupakan.
Namun resah dalam hati nyatanya tidak mau pergi, hingga kini memberatkan kedua kaki Velo menghampiri Biyan, Binad dan Basha yang sedang duduk sambil mengobrol dengan kaku di ruang televisi.
Sebelum meninggalkan kamar, dia telah peringati dirinya untuk tidak ambil hati bila mereka bertiga mengeluarkan kalimat yang menyinggung lagi. Dia jarang terluka oleh mulut pedas orang lain, tetapi pengecualian bagi keluarganya.
__ADS_1
Sakit pada hatinya amat jelas terasa. Sapuan telapak tangan pada punggungnya pun tidak membantu sama sekali, Velo hanya mengulas senyum segaris. Hartadi enggan mendahuluinya bergabung dengan kertiga adik kembarnya . ritme langkahnya yang perlahan diekori Hartadi dari belakang, spasi yang diberikan pria itu membuatnya lebih lega.
Sebelumnya Hartadi terlampau dekat, dia kesulitan menenangkan diri akibat ruang geraknya terbatasi.
Velo bukan keberatan menampung perhatian kecil Hartadi, tapi bahkan sentuhan di punggungnya itu tidak mengurangi resah yang diam-diam ada. Meski entah dia mendengar dari siapa, jika hati seseorang dapat ditenangkan kala menerima sentuhan dari orang-orang terdekat.
Telah satu ruangan bersama adik kembarnya, Velo tidak mempertimbangkan dua kali untuk mengisi ruang di samping adik kembarnya itu. Dia sampirkan kruk pada sisi sofa, lalu menarik napasnya pelan bersiap mengajak mereka bicara.
“Ck, jangan pada ditekuk gitu dong mukanya. Kakak kangen loh sama kalian. Oh iya, sebelum ke sini udah pada makan belum? Atau mau nge GoFood kopi gitu?”
“Halah. Kangen apanya?” ucap Biyan sambil memalingkan muka kesal.
“Ck, aku malah yakin loh Yan, kalo Kakak kita ini nggak peduli sama kita saking lamanya di dalem kamar. Sibuk ‘ngurusin’ Om ya?” Basha ikut mendecak sebal sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
“Cihh.... What’s wrong with you, Kak?” Binad akhirnya bertanya pada Velo.
Hartadi menghempaskan tubuhnya pada sofa yang lebih panjang di seberang Velo.
Matanya memaku perempuan itu, meskipun dia tengah mencari posisi ternyaman dengan bersandar seraya merentangkan sebelah lengannya ke samping.
Dia sengaja tidak buru-buru menengahi kakak beradik itu, karena mereka berempat perlu membicarakan masalah tanpa keikutsertaannya.
Tetapi mendengar tuduhan Basha yang terdengar melecehkan, mau tidak mau Hartadi melepas tawa rendahnya. Lalu, dia menggeleng sambil mengusap pelipis. Berhadapan dengan ketiga adik kembar Velo yang memang sedang panas, Hartadi lebih senang membidik percakapan santai yang berkesan.
“Jelas lah kakak kalian sibuk ‘ngurusin’ Om. Dia ngerasa tanggung jawab, karena adik-adiknya ngehajar orang lain. Sekarang kan apa-apa bisa dipidanakan, apalagi kalian udah di atas tujuh belas tahun.”
“Ck, kita ga minta Om yang jawab.” Basha menyipitkan mata pada Hartadi.
__ADS_1
Kesopanannya tidak dapat lagi dia pertahankan, karena itu sebuah tinjuan berani mereka jatuhkan pada anak bungsu kakek dan neneknya tersebut.
Jujur saja respek ketiga adik kembarnya itu sudah hilang semenjak insiden pria itu membawa pergi kakaknya tanpa seijin mereka, membuat suasana rumah bagai kapal pecah oleh beragam emosi.