Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Biyan— Basha— Binad—


__ADS_3

“Biyan— Basha— Binad—“


Bug! Bug! Bug!


“Kamu apa-apaan sih?!” Hanya suara Velo yang saling susul.


Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Velo meninggikan suara pada Biyan, Basha juga Binad. Matanya menatap para pemuda itu nyalang.


Alasannya tidak remeh, mereka bertiga baru saja mengukir jejak pukulan di wajah Hartadi. Napasnya seketika berkejaran, dia menggiring langkahnya susah payah menggunakan kruk demi memaku tubuhnya di tengah dua pria berbeda generasi tersebut. Tidak ingin adiknya mengetes kesabaran Hartadi lebih dari ini.


Berbalik memandang Hartadi, tangannya mengusap luka mengkhawatirkan di sudut bibir pria itu. Tenaga ketiga adiknya itu dikerahkan dengan emosi, Velo tidak menyangka adiknya seberani ini. Dia dan Hartadi sedang menutup pintu apartment, tau-tau ketiga adiknya datang diiringi sorot kemarahan yang tidak dia kenali.


Hantaman mereka tidak terelakkan, tetapi tampaknya Hartadi memang membiarkannya. Terbaca sekali kalau pria itu enggan membalas.


“Om Har bikin kamu berubah, Kak.” Biyan mengucapkan kalimat itu dengan intonasi membekukan.


“Aku tau ada yang kamu sembunyiin sejak nyusul Om Har ke tempat kerjanya. Kamu minta aku nggak usah nanya, aku turutin. Tapi sekarang, kamu ngebiarin Mamih sakit Cuma buat mikirin kamu yang enak-enakan sama Om Har. Aku nggak bisa nerima.” Binad.


Velo kembali memusatkan atensinya kepada para adiknya. Hatinya membisikkan kesabaran. Jika kemarin sang Ibu, kini adiknya yang salah mengartikan langkahnya.


Mengapa sulit sekali?


“Guys! Kita bicara di dalam!” Bukan Velo yang mengatakannya, melainkan Hartadi.

__ADS_1


Pria itu memapah tubuhnya agar kembali menghadap pintu apartment. Dia mengangkat kepala, ingin bertukar tatap dengan Hartadi bersama perasaannya yang carut marut. Hartadi pun turut menatapnya, tetapi tidak membubuhi kata-kata. Hanya pancaran keseriusan yang membayangi wajah itu.


Dengan tenang, Hartadi mengambil ibu jari Velo untuk disentuh pada sensor smart door lock. Dia membiarkan saja, tidak menarik tangannya ke samping tubuh. Sebab Hartadi berinisiatif mengambil peran untuk menengahi kesalahpahaman ketiga adiknya itu, kala dirinya terlampau syok sehingga mulut terkunci rapat.


*******


“Tau dari mana kami di sini?”


Pertanyaan pertama digubris Binad melalui lirikan dingin yang singkat. Tentu saja, tidak berperan besar membuat Hartadi mundur untuk menanyai banyak hal.


Sejujurnya, Hartadi sudah membaca tujuan Biyan, Basha dan Binad ketika datang dibarengi sejurus tatapan yang asing dan berbahaya. Harusnya pun, Hartadi menatap tegas lawan bicaranya yang sungguh berani melukai wajahnya tanpa sebaris kata maaf. Sialnya, atensi yang dia miliki terbuai sejak tadi berkat perempuan di seberang sana. Memijat pangkal hidung akibat kesal sendiri, dia menghela napas seraya bangkit dan berderap cepat membuntuti Velo.


Perempuan itu tidak mengikutinya dan ketiga adiknya yang mengisi sofa recliner ruang televisi. Velo menyibukkan diri dengan menyambangi dapur dan masuk kembali ke kamar. Hartadi pusing dengan memperhatikannya saja. Velo harus disadarkan bila perempuan itu belum diperbolehkan menggunakan kaki terlalu banyak, apalagi sampai kelelahan. Ketika Hartadi berhasil menangkap siku Velo, rupanya perempuan itu sedang menyiapkan kompres untuk luka lebamnya.


“Bisa nanti, Vel.” Acap kali Hartadi tidak sudi meladeni perempuan yang merepotkan, namun dengan sadar dia akui telah memberikan ‘hak istimewa’ bagi Velo. “Adik kamu nunggu di depan, tapi kamu nggak balik-balik dan malah sibuk sendiri. Aku jadi susah mau mulai obrolan kalau kamu misah gini. Kamu nggak pengen dia semakin nilai hubungan kita jelek kan?”


“Jelas, aku nggak pengen. Tapi mereka bertiga bisa nunggu, sedangkan lebam kamu nggak bisa dibiarin. Mesti cepet dikompres, kalo didiemin nanti bengkak. Aku tau bukan sekali ini aja kamu ngerasain ditonjok orang. Seharusnya, lebih paham kamu dong soal itu?” Velo menarik paksa baskom dari cekalan Hartadi. “Aku denger kok sejarah kenakalan kamu waktu SMA dari mulut Eyang Putri.”


Apa?


Hartadi menyugarkan tawa tanpa suara.


“Ibu lagi, Ibu lagi...” Hartadi berujung mendesah. Lidahnya tidak sabar mengeluarkan kalimat lain, tapi akalnya yang masih taat berbakti pada sang Ibu pun melarang. “Ibu kalo udah suka sama orang beneran nggak pakai rem. Iya, makanya Papih kamu sering sebut aku ini ‘preman’. Tapi biar preman, aku nggak pernah mangkir dari rangking sepuluh besar.”

__ADS_1


“Cih, sombong!” tukas Velo tanpa mematri matanya pada pria yang tengah membela diri itu. Dari baskom, dia merangkum beberapa buah es batu untuk disisipkan dalam handuk kecil yang telah dilipat persegi sebelumnya.


“Bisa bungkuk dikit, Mas? Aku mau ngompresin luka kamu.”


“Ck, aku bilang nanti aja...” tidak ayal, Hartadi menggiring Velo menduduki tepi ranjang. Dia mengambil kruk yang diapit Velo agar diletakkan ke atas ranjang. Ikut mengisi tempat di samping perempuan itu, akhirnya dia membungkuk tanpa berkelit lagi. “Kaki kamu nggak sakit dipakai gerak terus? aku gregetan lihat kamu mondar-mandir dari kamar ke dapur. Aku bisa telepon Dokter Frans untuk ngecek kondisi kamu besok.”


“Agak sakit sih tapi mau mulai jalan. Selebihnya, aku ngerasa oke. Jangan telepon Dokter Frans lah, aku mau sesuai sama agenda kunjungan yang dia tentuin aja.” Velo mengarahkan handuk pada sisi wajah Hartadi yang mencetak lebam. “Lagian, sakit yang aku rasain ini termasuk normal. Aku udah kenal sakitnya. Bukan yang janggal dan perlu buru-buru dicek Dokter Frans kok.”


“Maafin Biyan, Basha sama Binad ya, Mas.” Sejenak, Velo mengadu pandangan mereka. Kemudian menggigit bibir merasa tidak enak hati, sekaligus bertanggung jawab atas perbuatan adik-adiknya kepada Hartadi. “mereka biasanya main tangan gitu. Mungkin terlanjur kesel sama aku, tapi lampiasinnya ke kamu. Nanti aku bilangin pelan-pelan supaya nggak ngulang hal yang sama. Gimana pun kamu di mata mereka sekarang, kamu tetap Om nya yang harus di hormatin. Nggak bener kalau dia udah berani mukul.”


“Aku nggak ambil serius tindakan mereka tadi. Adik-adik kamu Cuma ngerasa harus ambil suatu tindakan. Mereka nggak mau abai sama keluarga terutama Mbak Asri, karena dipikiran mereka aku yang buat kamu ‘berubah’. Aku paham maksudnya.” Ucap Hartadi sambil memandangi waja teduh Velo yang tengah menyentuhkan handuk berisi es batu pada bagian wajahnya yang lebam.


Sementara, sudut bibirnya yang terluka pun dijangkau Velo dalam gerak perlahan. Dingin yang menimpa lukanya memang menyamarkan nyeri.


“Aku dan kamu— kita emang nggak bisa membenarkan tindakan ketiga adik-adik kamu. Dan memang kita harus sama-sama lurusin, selain demi ngehapus kesalahpahaman, untuk pribadi mereka sendiri di masa mendatang. Tapi dari sudut pandang yang beda, baru kita sadar tindakan Biyan, Basha dan Binad adalah bukti seberapa sayang mereka sama kamu sampai berani nonjok mukaku.” Hartadi nyaris kesusahan menyelesaikan ucapan kala Velo menghentikan handuk di depan bibirnya. Tiba-tiba memincing, dia dapati perempuan itu membuat suara decakan samar.


“Velo?”


“Ck... Males deh kalau pembahasannya makin sentimental. Kamu nggak usah nenangin aku pakai kata-kata manis, Mas.” Velo lekas mendongak demi mempertahankan pelupuk matanya tetap kering, juga menarik tangan yang sedang mengompres luka. Selepas menguasai sisi emosionalnya, barulah dia kembali menatap Hartadi. “Aku nggak cengeng sih, Cuma gampang nangis aja dan aku nggak mau nangis sekarang. Kalau keluar kamar mereka liat mata aku merah, bisa tambah runyam isi pikiran mereka.”


“Apa sih kamu?” Hartadi dibuat geleng-geleng kepala untuk kesekian kali. “Cengeng dan gampang nangis Cuma beda penyebutannya aja, maknanya sama. Persis kamu ngomongin diet, tapi nyebutnya defisit kalori. Mau nangis atau nggak hak kamu. Info aja, bukan skill aku ngeberhentiin tangisan perempuan.”


“Siapa juga yang bakal minta kamu stop tangisan aku?” Velo tidak berkomentar saat balasan yang dia terima selanjutnya berupa gedikkan bahu. Menyatukan kedua tangan di atas lutut, kemudian Velo menarik napas lamat-lamat.

__ADS_1


__ADS_2