
"Pak..." Velo memanggil Hartadi, berusaha meminta perhatian. "Kenapa diem aja? Nggak ada tanggapan apa-apa? Saya udah ngomong sambil berbusa nih."
"Mau tanggapan apa?" Hartadi kembali membalas menatap Velo, dan lirikannya sedikit kejam. "Bilang kamu anti mainstream gitu?"
"Bapak tau tanggapan apa yang saya mau kok. Nggak usah pura-pura ya Pak, jam segini saya gampang emosi." Velo menggeleng heran, namun tidak menyudahi kicau mulutnya. "Intinya, saya nggak permasalahin habit nistanya Bapak."
"Ck... Penggunaan bahasamu itu, Vel..." ucap Hartadi sambil mendelik ketika Velo menyebutkan kata nista, sedangkan Velo tidak menghiraukan dan kembali duduk anteng di sofanya. "Memangnya kamu doang yang yang gampang emosi?"
"Pak Har nggak boleh cepet termakan emosi, nanti mancing darah tinggi. Selesai." Velo berkelit dari kemungkinan mereka beradu mulut. "Pak, udah setuju belum jadi suami saya? Kalau sekiranya setuju, habis ini putusin semua temen tidur Bapak dan cut komunikasi kalian. Saya pengen nguasain Bapak sendirian."
Hartadi tidak langsung menghajar dengan balasan setuju, mengesampingkan terlebih dahulu jiwanya yang mendadak ingin menjajal keserasian antara dirinya dengan Velo. Karena mulut Hartadi sudah gatal untyk bertanya, ia akan mengetes Velo sekali lagi tentang keintiman yang dibutuhkannya jika mereka berujung pernikahan.
"Cut mereka itu persoalan kecil. Saya nggak pernah janji angkat status mereka lebih dari hiburan. Makanya..." Hartadi menjeda untuk mengamati Velo lebih dalam. "Ada garansi saya puas sama kamu?"
Tidak ada yang pernah bertanya empat mata sekurang ajar ini pada Velo. Tidak ada yang bernyali mempertanyakan keunggulnnya di atas ranjang. Tetapi lihat pria yang di depannya ini, sangat lugas dan menyimpan trik.
Velo terlahir dan hidup dipayungi dua nama keluarga besar. Bratadikara dari nama keluarga Papih tirinya yang tersohor di Indonesia dan El Williams dari almarhum Ayah kandungnya yang tersohor di Inggris yang turun temurun bergerak di bidang pelayaran. Berkat itu, meskipun deretan kekasihnya pun sudah sakit kepala menahan hasrat, tapi terlalu memikirkan resiko untuk bertindak jauh.
Seakan menunggu seribu bulan, datang seorang pria yang bisa berterus terang dan berani meminta jaminan seberapa ahli Velo agar mampu memuaskannya. Hidup memang dipenuhi kejutan, karena pria itu adalah Hartadi Lewandowski Bratadikara.
Melepaskan segala keraguan untuk bertindak nekat, Velo meninggalkan sofanya yang digarisknnya sebagai comfort zone dan mendekati Hartadi. Mantan bos pertamanya yang kini berganti mengernyitkan dahi penuh perhitungan ke arahnya.
Velo sekilas menyentuh bahu bidang Hartadi sembari mengisi ruang kosong ditengah pria itu dan meja bundar di depannya. Beberapa detik tangan Velo sempat gemetar, sebab di depannya bukan pria sembarangan, namun Velo menguasai diri dengan cepat pada detik berikutnya.
Hartadi mengantongi pengalaman yang tidak sedikit bersama perempuan. Bahkan pria itu melempar trik kepadanya, maka itu Velo mengambil jalan yang serupa. Diangkat tubuhnya keatas meja, sehingga duduk menghadap Hartadi tanpa halangan dan jarak yang tak berarti.
__ADS_1
"Saya kasih garansi selama satu tahun. Selama itu, selain tugas Bapak jadi suami dan jagain saya dari Papih, kita bisa sama-sama cari tahu apa saya bisa puasin Bapak atau nggak?" sepasang mata Velo mulai tampak sayu. "Sebelum garansinya aktip, gimana kalau kita taster dulu?"
"Show me," tantang Hartadi tanpa senyuman.
Baik Velo maupun Hartadi, tidak satupun dari mereka mampu menentukan siapa yang pertama kali mempertemukan bibir dalam kecap penuh dahaga. Semuanya terasa amat abu-abu. Hanya satu dalam pikiran mereka, ciuman ini harus berdurasi panjang.
***
Decapan dan suara napas menjadi musik latar bagi mereka. Hartadi dan Velove, sepasang anak manusia yang sesang menguji keserasian. Disorientasi pun mulai menyerang karena mereka tidak tahu seberapa banyak waktu yang sudah terbuang.
Tidak ada yang membenarkan dan tidak ada juga yang merasa keintiman ini kesalahan. Mereka juga tidak mendeklarasikan hilang akal, hanya bagaimana mungkin menghentikan ini dengan mudah? Dulu orang-orang menyebut ini bercumbu kan?
Hartadi merasa naluri telah menyelubungi tanpa pilih kasih. Tak memandang siapa dirinya dan Velo. Perempuan dan laki-laki memang menyesatkan ketika beruji dengan nafsu, Hartadi tau benar tentang itu. Lihat sekarang, sentuhan rasanya tidak cukup hanya di bibir saja.
Sentuhan Hartadi memdarat pada kulit Velo, matanya mengamati sebentar dan perempuan itu tidak menarik diri. Hartadi menilai itu sebagai sinyal maju, karena kelembutan dan hangatnya kulit Velo mendorongnya untuk menjangkau lebih jauh.
"Hng..." tidak sengaja Velo melenguh sambil menutup mata akibat rangsangan Hartadi di titik sensitifnya. Keahlian Hartadi benar-benar pria itu terapkan padanya, seharusnya dia yang sekarang unjuk kemampuan.
Sementara Hartadi menyembunyikan senyum. "Well done."
Walaupun hanya sekilas, Velo melihat senyuman bermain-main di sudut bibir Hartadi. Velo tidak ingin mengusahakan keahliannya sendiri, karena dia yang berucap akan dipuaskan olehnya.
Layaknya perempuan yang mendominasi dan menuntut dimanjakan, Velo menumpu satu lututnya pada kursi yang diduduki oleh Hartadi sejak awal. Satu lengannya mengalung di bahu Hartadi tanpa malu-malu. Bahu yang selama ini menjadi teka-teki bagi Velo, bagaimana sensasi bidang dan kekar dari bahu Hartadi itu.
"Kamu yang mulai ya, Vel?" bisik Hartadi sekilas tepat di telinga Velo, memberi hembusan hangat yang menggelitik sampai ke ujung kaki. "Saya nggak curi start."
__ADS_1
Velo memahami arti dari ucapan Hartadi. "Iya, saya nggak bakalan ngomel ke Bapak. Saya kan lagi kasih tester."
Tangan Velo yang lain menelusuri rahang Hartadi, menjalankan jemarinya menuju rambut Hartadi lalu memberi remasan seduktif. Hartadi seperti menunggu apa yang ingin ia lakukan, karena itu Velo memiringkan wajahnya untuk mencapai bibir Hartadi untuk kembali mengundangnya agar berpagut mesra.
Kala itu usianya baru dua puluh empat tahun dan direkrut menjadi sekretaris Hartadi atas arahan Papih tirinya. Velo sudah terbiasa menerima tamu perempuan cantik dan mendengar suara memekik dari ruangan bossnya. Velo tahu mereka tidak berbincang tentang bisnis, hanya bergelut memuaskan diri.
Enam tahun usai kenangan lama berlalu, apa benar Velo yang akhirnya memutus rantai Hartadi dari teman-teman tidurnya? Velo todak takut mengambil peran itu, dia tidak mau mundur, karena Hartadi harus ia perjuangka sebagai suami dan hidupnya pun dapat terbebas dari papih tirinya.
"Kamu beneran nggak punya pacar?" Hartadi membuai lengan mulus yang membelenggu lehernya, usai bibir mereka saling menjauh.
Hartadi memperhatikan wajah Velo. Akalnya hingga kini masih memberi peringatan, jika perempuan yang berciuman dengannya tadi adalah Velo yang memanggilnya 'Mas Har' sejak SD sampai bergelar Cumlaude.
"Terakhir pacaran sebelum ulang tahun ke dua puluh sembilan kemaren. Dan sekarang nggak punya. Kalau punya ngapain saya sudi dicium Bapak?" Velo memang kelewat jujur, tapi masa bodoh selagi berada dipangkuan Hartadi dan hampir sepakat menikahinya.
Hartadi menipiskan bibirnya mendengar celotehan Velo, lalu bagaimana Velo tampil percaya diri di atasnya. Digiringnya kembali wajah Velo mendekat, perempuan itu segera bereaksi dengan mengetatkan kalungan lengannya, kemudian bibir mereka salaing menyambut lagi.
Sepanjang hidup momen ini tak terbesit dalam angan Hartadi, momen di mana dia dan Velo mampu begitu dekat. Tak sekedar berbalas salam di bibir, Hartadi sekarang mulai memindai lekukan pinggang Velo menggunakan jari-jarinya dan merasakan napas perempuan itu tertahan.
Brengsek memang, umpat Hartadi dalam hati.
Hartadi brengsek, karena ia menikmati ini. Pernikahan yang ditargetkan Velo untuk mereka, rasanya pun semakin jernih dan mudah disetujui. Hartadi tidak memahami definisi jodoh, tetapi Velo mungkin jalan yang terbaik agar ia menyudahi kehidupan lama yang monoton dan memasuki pola kehidupan baru.
"Bentar Pak..." Velo menggeliat dari kungkungan Hartadi, mengambil jarak aman agar tidak tergoda lagi oleh pria yang sedang mengamatinya dalam diam. "Saya mau ke toilet dulu, Oke? Udah nggak bisa ditahan nih."
"Saya nggak minta kamu nahan, Velo." Begitu saja tanggapan Hartadi yang lantas mengurai tangannya dari Velo. Hartadi membiarkan perempuan itu turun dan berlari kecil ke kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan pintu masuk.
__ADS_1