
Tak memungkiri, pekerjaan Hartadi sedang padat-padatnya dari beberapa jalur bisnis. Hartadi bersama para sahabatnya ingin mengukuhkan pabrik penghasil biodiesel mereka, setidaknya satu titik lagi di daerah Indonesia lainnya. Pengurusannya tidak boleh main-main, pembebasan lahan berikut biaya konstruksi harus ditimbang masak. Maka itu, rapat harus dilalui dengan alot.
Sedangkan bisnis solo Hartadi, Cahari Stables & Country Club, mulai disibukkan dengan kedatangan kuda-kuda impor. Disiapkan untuk para penikmat pacuan maupun atlet berkuda yang membutuhkan tunggangan lebih tangguh. Adanya pelatih khusus bagi atlet muda, menambah kinerja dan tanggung jawab Hartadi demi keberlangsungan Cahari.
Pulang membawa kejenuhan, Hartadi sadar dirinya cukup terhibur oleh Velo yang kerap mendiami ruang televisi ketika dirinya tiba di rumah. Terkadang perempuan itu telah mengenakan masker sembari menjalankan jade roller ke sekitar wajah dan rahang—yang katanya dapat mempengaruhi keremajaan kulit. Hartadi menyimak saja, ikut bersantai di ruang televisi dan tidak keberatan bila Velo mencetuskan obrolan tentang bagaimana harinya berjalan.
Hampir seminggu hidup berdampingan bersama Velo pun, Hartadi berpikir apa yang tengah dia lakukan kini tidak ubahnya uji coba. Agar dia mempersiapkan dan membiasakan diri untuk masa mendatang. Memang tidak terpaksa menerima hadirnya Velo, namun enggan menyepelekan pula. Hartadi tetaplah pria berjiwa bebas yang sekarang ini tertantang menggenggam sebuah tanggung jawab.
Karena itu, harus ada sekian bagian diri dan hidupnya yang diselaraskan walau tidak secara cepat.
Seperti semalam, Hartadi sempat merenung di teras kolam renang sambil merokok, bukan di akibatkan stress karena kerjaan atau apa. Hanya tersadarkan bila hidup bukan tentang ‘diri sendiri’. Contoh kecilnya saja, dia mulai tersinggung ketika Parnita mengolok pekerjaannya Velo di tengah para pria berlabel eksklusif. Ditarik ke belakang, sesungguhnya dia pribadi yang miskin empati.
“Makanya, aku ngehindarin gelut mulut. Bukan Cuma ngerti situasi kamu Mas, aku pengen ngobrol normal aja. Soalnya, kamu serius mulu kalo dianjak ngomong. Faktor U emang nggak bisa tipu-tipu.” Velo langsung mengulum bibir mengatasi tawanya yang hendak pecah. Menarik punggungnya yang bersandar, dia melongok dari tempatnya untuk memperhatikan celah pintu. Ingin melihat ekspresi Hartadi saat ini.
“Hah... yang mau jadi istri kamu harus tabah loh, Mas?!” lanjutnya menggoda Hartadi.
“Kamu kan kenal calon istriku, bilangin lah kalau mesti tabah ngadepin aku yang serius dan emosian ini.” Hartadi menahan senyum tatkala melihat Velo memperdengarkan suara tawanya yang khas.
__ADS_1
Sahabat-sahabat Hartadi akan muntah massal andai menontonnya berbalas kalimat begini dengan Velo. Tidak meramu gombalan, tapi tetap saja menggelikan untuk didengar mereka.
“Ck... berapa lama lagi kita ngobrol terhalang tembok? Kamu lanjut makeup atau ngapain sih, Vel?” lanjutnya setelah dia menyadari Velo memakan waktu cukup lama di dalam kamar.
“Eum, bentar—” ucap Velo bingung harus beralasan apa lagi untuk mengulur keinginan Hartadi memasuki kamarnya.
“Nggak lanjut makeup kok, Cuma...”
“Cuma?” Hartadi membeo agar Velo menuntaskan perkataan yang menggantung.
“Vel? Mas masuk, ya?”
“Bentar!” sentak Velo menolak pria itu.
Minimnya persediaan pakaian di rumah Hartadi, membuat pakaian yang dibawa Velo oleh ibunya sebelumnya hanya cuci pakai secara terus menerus. Dan celakanya, tiga ‘thong’ ikut terbawa dan salah satunya menyeret Velo dalam situasi yang tidak mengenakan ini.
Selembar handuk mini berada di tingkat yang bisa dia gapai. Mengulum bibir dilanda resah, Velo meraih handuk putih itu tanpa banyak berfikir. Sudahlah, yang penting thong nya tidak terpampang jelas. Dia lalu melebarkan handuk itu di atas pangkal paha. Helaan napasnya begitu lega.
“Iya-iya... Masuk.”
Hartadi tidak mempersiapkan apapun saat kakinya menjejak di kamar empat kali lima meter tersebut. Menyangka pandangannya akan dibingkai sosok Velo yang telah berpakaian rapih dan duduk manis di pinggir ranjang, nyatanya perempuan itu masih mengenakan sepotong kaos. Bahkan, terduduk di atas lantai dan bersandar pada lemari.
__ADS_1
“Kamu ngapain, Vel?” tanya Hartadi mengerutkan kening heran memperhatikan Velo penuh perhitungan sambil menaikan tangannya mengusap bibir bawahnya. Apalagi kruk milik perempuan itu tergeletak seolah barang yang tidak terpakai. “Bilang bentar-bentar tadi, karena kamu selonjoran di sini?”
“Ck, aku jatoh, Mas. Kaki aku slip setelah kamu masuk nggak ngomong dulu!” ucap Velo menaruh tangannya di permukaan handuk. Tidak ingin selembar kain itu bergeser dari tempatnya.
“Kebiasaan kamu susah minta tolong itu harus dihilangin. Nyusahin diri sendiri kok mau? Aku lama-lama capek ngasih tau hal yang sama berulang kali.” Hartadi meletakkan paper bag ke ranjang. Menggerakkan langkah ke arah Velo duduk meluruskan kaki, Hartadi melihat Velo sinis, karena sering kali perempuan itu memilih untuk diam. “Apa untungnya nggak minta tolong?”
“Bukan...” tandas Velo melihat sengit untuk menutupi malu. “Kali ini, bukan nggak mau minta tolong. Kamu nggak liat pakaian aku belum lengkap? Aku dengerin masukan kamu kok tentang nyuarain kalau misalkan butuh sesuatu. Tapi, nggak bisa main minta tolong kalau setengah telanjang kan?”
Hartadi menjatuhkan pandangan ke objek lain, biarpun tidak menarik di mata. Baik, Hartadi memahami tindakan bungkam Velo demi mengamankan mereka ‘berdua’. Hari di mana Hartadi begitu berani mengungkung perempuan itu di atas ranjang kediaman Bratadikara senior, sedikit membuktikan bila dia tidak takut melewati batas jika mau.
Hartadi lalu merendahkan tubuhnya di depan Velo. Sudah jelas Velo tidak mampu bangkit sendiri, tenaga orang lain dibutuhkan perempuan itu. Lekas dia tumpukan sebelah lutut ke atas lantai, hendak menjulurkan tangan untuk membangunkan Velo dari sana.
“Tutup mata.” Velo menutup mata tajam Hartadi yang mengarah padanya dengan telapak tangan. Biar gugup merambati dada, telapak tangannya kukuh bertengger di depan mata pria itu. “Gendongnya nggak pake liat bisa kan? Kamu hapal isi dan letak kamar ini.”
“lepas nggak?” Hartadi tidak memohon, sekarang ini dia sedang mentitah Velo.
“Nggak mau.” Keras kepala Velo kembali kambuh.
“Kamu nggak mau, berarti nggak aku bantu pindah dari sini?” Hartadi menyentuh tangan Velo. Meremas lembut tangan perempuan itu, sebetulnya dia tidak tersulut amarah. Hartadi hanya enggan bila diminta menutup mata. “Mataku nggak bakal jelalatan. Lagian, cepat atau lambat aku jelajahi juga.”
“Ck! Omongan kamu ngelantur, Mas! Aduin ke Eyang, ya?!” ucapnya sambil refleks menjatuhkan tangan memberikan pria itu tinjuan pelan di atas bahu.
__ADS_1
“Emangnya berani?” Hartadi menarik sudut bibir. Sedetik kemudian dia mengaduh kala tinjuan yang kedua lebih keras menjalar pada bahu satunya. “Udah, kamu cukup terima mataku dipakai ngeliat dan semuanya beres. Nanti tunjuk mau pakai bawahan yang mana. Deal?”