Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Rese Kamu Ngusir Aku!


__ADS_3

Hartadi membuang pandangannya dari sang Kakak. Sejenak memaku asal titik atensi, dia tengah menyuntikkan kesabaran dalam hatinya menerima serangan bertubi-tubi dari perempuan itu.


Dadanya semakin panas, sepenggal kalimat ‘hati-hati’ saja sudah membuatnya paham mengarah ke mana topik pembahasan ini. Dia mengusir bayangan Velo yang tiba-tiba menguat, karena memang ada sangkut pautnya dengan perempuan itu.


Jelas sekali Parnita menungkit masa lalu Adiputra ketika menetapkan Asri sebagai pasangan hidup. Kakak ketiganya itu sangat menentang, bersalaman pun tidak sudi—terlalu kecewa Adiputra memilih seorang perempuan berstatus janda dengan seorang anak yang sudah cukup besar.


Bertahun-tahun rasanya tidak pernah cukup membuktikan pada Parnita, bahwa Asri telah mendampingi kakak kedua mereka tanpa cela.


“Kamu nggak tau apa-apa, Mba. Aku nggak butuh didikte harus pasangan hidup yang begini-begitu. Aku sadar ngejalanin hidup dan pilihanku sekarang. Kamu nggak perlu sibuk kasih masukan.” Hartadi berniat menepis kata-kata kakaknya dengan intonasi yang tidak menggurui.


“Histori hidupku nggak sedangkal kamu. Bapak dan Ibu usaha besar supaya kamu nggak pernah ngerasain susah. Nyuci piring pun aku ragu kamu pernah ngelakuin itu.” Dengan sengaja, Hartadi seolah bercerita tanpa menatap Parnita.


“Didikan Ibu ke kamu keras soal disiplin, gimana sejatinya perempuan, dan ikut banyak kursus keterampilan. Aku maklumin, kamu anak perempuan satu-satunya. Tapi Mba, semua kemudahan dari Bapak dan Ibu yang ngebuat kamu gampang nilai orang lain kecil.”


“Har, aku Cuma nggak mau kamu rugi. Semua kakak dan adik laki-lakiku berharga. Aku nggak suka kalian didampingi perempuan yang kurang pantas. Contohnya, Mas Adi! Aku nyimpen rasa kecewa besar sama keputusannya dulu! Sehebat Mas Adi bisa-bisanya memperistri janda?!” Parnita mengeraskan rahang.


“Aku nentang untuk kebaikannya, berharap Mas Adi dapet perempuan yang bareng sama dia dari nol. Perempuan yang nggak ngebebanin Mas, karena nikahin Mba Asri mau nggak mau ngebuat Mas langsung jadi ayah sambung. Tapi, aku bisa apa? Aku udah usaha, tapi nggak mampu bikin Mas Adi dengerin aku.”


Menghela napas sambil menegapkan tubuh, Hartadi meneliti wajah kakaknya yang tampak memerah. Entah sebabnya begitu kesal ataupun sedang mencegah kuat tangis yang dia perhatikan hampir menembus ketegaran Parnita.


“Hm... kamu liat selama ini? Apa menurutmu Mba Asri bukan istri yang baik? Penentangan kamu itu, karena masa lalu Mba Asri yang sama sekali nggak bisa diubah dan bukan kesalahannya. Kamu nggak bisa nge-judge sedangkal itu, Mba. Ayah kandung Velo meninggal, bukan bercerai sama Mba Asri.”


“Aku tetep nggak bisa terima. Beda sama Ibu yang langsung luluh liat Velo, apalagi denger kisah drama dari menantunya itu.” Parnita berusaha mendamaikan hatinya yang ricuh akibat ingatan bertahun-tahun lalu.

__ADS_1


“Coba kamu pikir Har, Mas Adi selalu jadi ‘bintang’ sejak sekolah. Dia punya modal untuk memperistri anak Jenderal yang masih gadis kalau pun mau. Mantan-mantan pacarnya cantik dan berkelas, gimana aku adiknya ini setuju kalau ujungnya Mas Adi seneng janda? Apalagi, Velo udah SD waktu itu!” Hartadi mengepalkan tangan tanpa sepengetahuan Parnita yang terlalu fokus pada pembelaan perempuan itu sendiri.


“Intinya, kamu nggak mau aku punya pendamping yang statusnya janda, atau perempuan dari perekonomian menengah ke bawah. Aku harus hati-hati filter calon pendamping. Gitu kan sederhananya?”


“Iya.” Jawab Parnita mengangguk sepaham.


Percikan benci kembali bersemayam di hati Parnita, dia belum usai meluapkan rasa tak sukanya pada Asri dan putrinya. “Lagian kamu ngapain sih pake baikan sama Velo? Kali ini Bapak yang ngelapor, katannya kamu nggak ngambek lagi sama Velo dan udah mau ngomong sama anak itu. Aku kaget dong?”


“Salah kalau baikan? Aku udah capek aja nggak tegor dia selama enam taun.” Tutur Hartadi dengan lancar. Bila menuruti kata hati, inginnya Hartadi tepis segala rencana di belakang untuk membungkam kakaknya dengan kejujuran.


Mengatakan seutas kejujuran pada Parnita, bahwa Velo adalah perempuan yang dia sembunyikan di lantai dua.


Demi memperpanjang jarak Velo dari Adiputra yang dibangga-banggakan Parnita. Nyatanya, hal itu sebatas dalam gelut batinnya. Dia tidak terpancing untuk berbuat gila dan menempuh jalan yang melenceng.


“Aku dulu bingung, sama kayak Mba. Dari kacamataku dibuat ringkas aja, mungkin Ibu nggak tega ngeliat Velo. Dari kecil muka Velo emang manis, matanya hidup. Diajak ngobrol juga nggak diam. Nggak aneh Ibu sayang-sayang.” Hartadi menyugar rambutnya yang hari ini tidak terpapar langsung sinar matahari.


“Makin ke sini, aku sadar bukan sebatas parasnya Velo yang pengaruhin Ibu. Kalau Ibu pernah bilang panggilan hati, mungkin bener. Buktinya, sampai sekarang kasih sayang dan perlakuan ibu buat Velo nggak berubah.”


“Oh, ngebnelain mantan sekretaris?” sindir Parnita.


“Kamu inget aku dan Velo cekcok, karena dia keras kepala nolak tawaran Bapak dan Mas Yasa untuk ambil posisi di Bratadikara Group? Di situ aku ngerasa Velo nggak tau diri banget. Dikasih kemudahan, maunya malah berdiri sendiri. Tapi, hasilnya? Kerjaan dia nempelin bos-bos besar—“


“Mba, selain liat hasil Lentera Architeam di rumahku, kamu punya keperluan lain?” Hartadi bangkit, dia tidak mengubris kerut di tengah sepasang alis Parnita. Bukan Velo yang tersinggung mendengar ‘bisa’ dari mulut kakaknya, tetapi dirinya yang kebetulan sedang mendekatkan diri dengan Velo. “Kalau nggak ada lagi, kamu jalan sendiri ke pintu depan. Oke? Aku mau masuk kamar.”

__ADS_1


Gurat tidak percaya membayangi wajah Parnita. Hartadi tidak memberikan banyak kesempatan. Sebab dalam langkah tenangnya, Hartadi menjauhi dan membelakangi sang kakak yang masih terduduk di kursi makan.


“Aku belum selesai, Har.” Hartadi terus berjalan.


“Keluarga Lintang nitip undangan pernikahan ke aku.” Laju kedua kaki Hartadi melambat.


“Adiknya Lintang mau nikah akhir bulan ini.”


Hartadi hanya mengibaskan tangannya ke udara sambil menggerakkan kedua kakinya kembali.


“Kamu beneran nggak mau dateng atau nerima undangannya?”


Meraba saku celananya, Hartadi tidak terburu-buru melengkapi anak tangga yang membawanya ke lantai dua.


Barang yang menjadi konsennya sudah dikantongi. Dia akan membangunkan Velo untuk meminum vitamin bila perempuan itu benar-benar sudah tertidur.


“HAR!!”


Lengkingan suara kakaknya membuat Hartadi mengusap telinga.


“Rese kamu ngusir aku!”


Lalu bagaimana caranya memaksa pulang tamu yang tidak diundang tanpa mengusir? Hartadi pun tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2