Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Rahasia Velove


__ADS_3

(VELOVE POV)


Kedua mata gue membelalak saat rokok yang baru saja gue ambil dari dusnya berpindah tangan tanpa aba-aba.


"Sejak kapan kamu ngerokok?" tanyanya sambil membawa rokok yang dia rebut ke dalam bibirnya lalu menyalakannya. "Kamu tau risiko perempuan yang bersahabat dengan barang ini, kan?"


Gue akuin emang kerap kali perempuan yang merokok dipandang sebelah mata, diberi cap sebagai perempuan nggak bener, bahkan... Sampai nggak dihitung sebagai menantu idaman. Tapi, Gue... Nggak peduli. Hidup gue aja udah rumi, masa iya mau diperumit lagi sama hal-hal receh kayak gini! Dan seenggaknya gue mampu 'Menempatkn Diri' dan memilah waktu yang tepat untuk menyesap benda kesayangan gue itu.


"Tanpa rokok, udah pasti saya penggemar berat alkohol. Ada kalanya saya males ngobrol sama yang berjiwa, Pak. Jadi butuh rokok buat ten menyendiri. Alasan saya ngerokok klasim aja, bukan ikut-ikutan lingkungan pertemanan saya. Lebih tepatnya buat ngelepas stress." Gue liat Hartadi udah dengan nyamannya menyesap rokok punya gue.


"Bapak juga belum bisa ngilangin kebiasaannya, masih perokok."


"Saya lepas penat pakai rokok sejak kuliah sampai sekarang. Bedanya nggak sesering kamu yang mungkin bawa rokok kemana-mana. Tiap saya ngerokok, itu reward buat saya setelah fase berat selesai." pandangan kita beradu saat dia menuesap lagi rokoknya.


Duuuhhh... anaknya siapa sih? ngerokok aja udah keliatan manly banget.


"Fase berat?" Dia cuma ngangguk sambil nyender di badan mobil dan gue pun ikut nyender juga. Gue perhatiin gerak gerik Hartadi saat dia memandang sungai Mahakam yang tersaji di depan mata. Pemandangan yang telah menemaninya bertahun-tahun.


"Saya juga manusia biasa, Vel. punya masalah di kerjaan, di kehidupan..." Gue hanya mendengus mendengar alasan pria di samping gue itu.

__ADS_1


"Trus kenapa sekarang ngambil rokok saya? Apa saya jadi penyebab stress Bapak sekarang?" Gue sengaja mancing doi biar doi dongkol, sedongkol gue yang ga jadi ngerokok gegara dia ambil.


"Jangan terlalu anggap kamu masuk dalam perhitungan saya. Jujur aja, saya lebih stress memghadapi ormas di sekitar kantor, dibandingkan kamu." ucapnya sambil menjentikan abu rokok. "Saya cuma nggak suka kamu ngerokok di depan saya. That's why, i stole your cigarrete."


"Saya nggak akan ngerokok di depan Bapak lagi dan tentu aja belajar lepas dari rokok, asal Bapak ngejadiin saya istri. Inget tujuan saya ke sini kan?" Gue harus mengenai inti dari pertemuan hari ini. Kali ini gue udah siap yang artinya gue nggak akan kalah kalau Hartadi menolak lagi. Masih ada waktu selama gue berada disini.


"Cari alasan lain supaya kamu berenti ngerokok. Untuk apa dikaitin jadi istri saya? Ada-ada aja kamu!" gue cuma bisa menghela napas dengan sabar dengan kata-katanya yang tajam dan terkesan dingin.


"Ck... Jangan dulu berpikir saya terlalu resek buat dijadiin istri. Saya kesayangannya Eyang Putri, sampai beliau selalu ngejodohin saya ke laki-laki yang dirasa beliau hebat. Sampai sini Bapak paham artinya kan? Padahal, saya bukan keturunan Bratadikara yang wajib Eyang Putri arahin." ucap gue menangkis balasan Hartadi dengan kalem.


Yupz itu sebuah kebenaran yang mungkin orang lain ada yang tau dan ada juga nggak tau. Gue dan Hartadi tidak mengaliri darah yang sama, tapi gue mendapatkan ketulusan yang luar biasa dari Eyang Putri yaitu Wening Bratadikara. Dia adalah Ibu dan perempuan yang paling disanjung dan dihormati oleh Hartadi Lewandowski Bratadikara. Kalau Eyang menaruh kasih sayang berikut kepercayaan sama gue, udah jelas dong gue adalah orang yang dinilai oleh beliau mempunyai tata krama yang bagus juga menyenangkan... mungkin ya... Soalnya dari sejarahnya juga susah banget memenangkan hati dari Ibu empat anak itu.


"Hmmh, dari semua cowok yang dikenalin Ibu saya, apa satu dri mereka nggak ada yang menurutmu pantas jadi suami? Ibu nggak mungkin ngenalin kamu ke sembarang laki-laki. Atau---" Hartadi menjeda ucapannya sembari menajamkan pandangannya ke arah gue. "Kamu memang sengaja anggap mereka nggak pantas, karena mereka bukan 'Saya' kan?"


"Saya siapa sih Pak? Pindah nama keluarga dari El Williams ke Bratadikara aja saya udah bersyukur banget. Saya nggak akan semena-mena sebut orang lain pantas atau nggak. Saya nggak sespesial itulah Pak sampai harus pasang rules tinggi untuk pasangan hidup. Ngeribetin diri sendiri? of course Not." sambil gue geleng kepala dan nerawangin pandangin gue ke sungai Mahakam menjeda apa yang akan gue ungkapin selanjutnya. "Bagi saya, ada yang lebih penting dari sekedar laki-laki baik dari keluarga baik-baik. Dan, hal itu saya liat ada di Bapak. Bukan laki-laki lain."


"Sekarang buat saya ngerti kenapa harus saya pilihan kamu?" wajah Hartadi mulai mengeras. dia ingin dibuat mengerti dengan mudah, enggan dipersulit oleh perkara yang indungnya bersumber dari gue.


Okay... Sekarang saatnya gue mulai buka rahasia kehidupan gue. Gue merileks'kan badan gue mencari posisi ternyaman gue agar lebih nyaman berbicara dengan Hartadi yang tampak sengit dan seakan nggak mau lagi mendengar berbagai alasan yang kurang nyata.

__ADS_1


"Ada orang yang punya obsesi besar ke saya, obsesi yang salah tempat, dan semakin lama hampir ngelecehin saya. Saya nggak bisa anggap perhatiannya bentuk dari kasih sayang, itu alasannya saya sebut 'Obsesi'." Gue menghela napas menetralkan emosi gue. "Saya anggap Pak Har kunci kehidupan saya. Karena, sampai keriput pun saya nggak akan bisa nikah selama orang itu ada--- kecuali Bapak bersedia ngendampingin saya sebagai suami. Orang itu pinter jadi dalang hancurnya hubungan saya sama pasangan yang lalu-lalu." Gue angkat kepala gue dengan berat dan ngeliat ekspresi Hartadi berubah tegang.


(AUTHOR POV)


Tak terbesit dalam benak Hartadi, jika perempuan independen dan percaya diri seperti Velo sebagai korban dari laki-laki berotak kadal dengan nafsu sampah. Namun, ia merasa sesuatu masih mengganjal.


"Apa pengaruhnya kalau orang itu tau saya calon suami kamu?"


"Orang itu nggak bakal lebih berani macem-macem ke saya lagi. Pastinya, dia perhitungin Bapak dan semua yang Bapak punya." jelas Velo terdengar tenang, suaranya tidak bergetar seperti sedang menceritakan kisah orang lain. Bertahun-tahun Velo memendamnya sendiri, begitu handal dia mengatur emosi agar tercermin bahwa ia baik-baik saja.


Velo membutuhkan waktu dan menunggu lama untuk momen ini, agar keresahan dan ketakutannya dapat tersampaikan pada orang yang tepat.


"Kurang jelas, Velo." tandas Hartadi menahan geram akibat merasa tidak puas, namun kewaspadaannya kian meningkat. "Siapa orang yang kamu bahas ini? Saya pasti kenal orang itu kan?"


Tidak ada kesempatan bagi Velo untuk berkelit. Semalam dia sudah memikirkan lebih masak. Lagipula, Velo memang tak punya rencana menutupi kebenaran apapun dari Hartadi. Velo akan memberikan kejujuran yang Hartadi mau, karena mustahil pria itu mempertimbangkan permintaannya tanpa latar belakang yang jelas.


Cinta akan menjadi bahan olokan Hartadi, jika Velo sampai berani menyeret kata itu untuk berdalih dari fakta yang dia tutupi. Ia pun sudah mengatakan tentang obsesi seseorang yang mendasarinya memilih Hartadi untuk mengikatnya sebagai suami.


"Harus saya ulangi pertanyaan yang belum kamu jawab sebelumnya, Velove Bratadikara?" Hartadi memberi tekanan pada setiap katanya, matanya pun menyipit ketika menatap Velo untuk meminta jawaban.

__ADS_1


__ADS_2