
(Velove Pov)
Wah... Gila lama nggak ketemu mulutnya bener-bener makin lemes aja ya... makin nggak bisa di saring alias masih pedes cuy... untung aja stok kesabaran gue masih banyak buat dia... Demi calon suami dan demi disetujui proposal lamaran gue.
Sekarang gue udah matang, Gue jalan ke dekat dia dengan memamerkan lekuk tubuh gue agar pria itu melirik ke arah gue. Saat jarak gue cuma beberapa meter lagi dari tubuhnya dia langsung berdiri menegapkan tubuhnya.
"Kapan saya bisa nyita waktu Bapak di luar kantor?"
"Duduk, Vel!" ucap Hartadi sambil menunjuk dengan dagunya. Gue cuma bisa senyum kecut melihat Kegigihan Hartadi yang benar-benar nggak mau berdekatan atau malah mungkin berurusan sama gue. Dia pindai gue tajam, dan meneliti maksud gue dateng kesini.
"Denger, Vel. Satu hal yang mesti kamu inget atas permintaan kamu tadi, saya ini adik dari ayah tiri kamu. So, bersikaplah dan bicara sewajarnya, kalaupun kamu kelewat ingin menikah, cari laki-laki lain dan sebaya dan sekiranya udah kamu kenali." gue pun cuma bisa nyengir dengan perkataannya.
"Salah. Saya kenal Bapak." ucap gue nyela, walaupun akhirnya gue nerima lirikan sengit Hartadi. tapi jujur gue sama sekali nggak sakit hati denger perkataan juteknya ataupun nge'spil rentang usia gue juga dia yang terlampau jauh.
"Buat saya pribadi, saya cukup mengenal Bapak untuk jadi suami saya. Walaupun baru hari ini saya ngomong face to face lagi sama Bapak. Dan... Bukannya Pak Har yang kurang kenal saya? mungkin saya enam tahun lalu nggak menarik di mata Bapak?"
To the point secara nggak langsung gue goda dia dengan badan yang gue jaga selama ini. Dan gue percaya diri dengan penampilan gue.
"Kamu dikasih kesempatan bicara memang digunakan sebaik-baiknya ya, Vel." Bodo amat dia mau nilai gue ngebantah atau pun keras kepala... karena gue juga tau sifat dia sama sama keras kepalanya sama gue.
"Pak, bisa kita atur waktu janji di luar? Saya kurang puas ngobrol. Bapak kayaknya pengen cepet-cepet ngusir saya----"
"Pak Har, mari berangkat! Saya berharap Pak Samsudin bisa diajak kerjasama, malas banget harus negosiasi terus sama yang udah kolot." suara berat mengintrupsi bersamaan dengan dua pria yang memasuki ruang kerja Hartadi, lalu salah seorang tampak terheran-heran melihat gue lagi berada dihadapan Hartadi. Gue sama Hartadi saling pandang lalu melihat kearah pria yang ada di pintu ruangan Hartadi.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya grasak-grusuk." ucap pria itu sambil menggaruk belakang kepalnya yang tidak gatal. "Abisnya Tari nggak ada di depan ruangan Bapak... Saya jadi teledor dan nggak pakai permisi dulu... Kita tunggu di luar aja?"
"Wait, Santai Bim..." Dia nggak nyuruh kedua pria itu untuk keluar, dan yupz... waktunya gue buat undur diri di hadapan Hartadi. Jujur gue agak sedikit kesel sih tapi sebisa mungkin nggak gue liatin ke mereka apalagi pada Hartadi jadi gue biasa aja tuh...
Saat gue baru saja mau ngambil tas sebuah suara menggelitik telinga gue sampai-sampai gue nggak jadi untuk beranjak dari hadapan Hartadi dan malah duduk kembali di depan Hartadi sambil tersenyum.
"Siapa nih? Apa ceweknya Pak Har? Muda amat, BIM!" Gue langsung melihat ke arah Hartadi yang berdecak kesal pada kedua rekannya itu.
"Itu contoh nyata yang kamu bakal terus menerus kalau permintaan tadi saya turutin!" ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya kearah gue dengan nada pelan.
"Saya empat puluh lima tahun dan sedang tidak berpikiran untuk menikah. Berikan posisi suami yang kamu tawarkan ke saya ke orang lain, Ok?!"
"Nggak ah, masih serasi kok. Pak Har kan nggak keliatan diatas empat puluh, ganteng, dan prima juga. Emangnya kita? tampang pas-pasan, perut juga udah mulai pada buncit." Nggak salah denger gue, karyawan lain malah nimpalin omongan Hartadi.
"Hm... Saya masih cocok untuk laki-laki sematang Pak Har. Bukan saya yang bilang loh Pak, tapi orang-orang yang liat kita. Lagian Age gap enam belas tahun nggak bikin orang beranggapan Bapak suka daun muda. Masih wajar punya hubungan lebih. Kalau saya ditanya, memang senengnya sih yang udah matang." timbal gue sambil merajut senyuman menggoda dan penuh arti dan dibalas oleh Hartadi dengan dengusan.
"Besok saya ke sini lagi, Nama saya nggak bakal Bapak Blacklist sebagai visitor kan?"
"Kebijakan saya kalau itu, kamu nggak perlu tau. Buktiin aja kamu niatnya beneran minta saya jadi suami atau nggak. Pulang sekarang. Nggak usah nunggu dan berharap saya ke kantor lagi. Saya punya urusan diluar sampai sore." dia ngangkat tangannya ngusir gue secara langsung, dan gue pun hanya senyum denger penjelasan Hartadi tadi.
"Jangan kesenengan kamu. Saya belum bilang apa-apa. Penawaran kamu masih ngambang."
"Tenang aja, Pak. Saya bukan tipikel perempuan yang pantang nyerah. Sekali maunya ngejar Bapak, ya saya kejar. Bapak yang harus siap-siap, mungkin sebentar lagi bakal direpotin saya." Gue berdiri dan ngambil sebuah pulpen dan stickynote diatas meja Hartadi menuliskan nomor baru gue yang dia nggak tau.
__ADS_1
"Ini nomor telepon saya..."sambil nyerahin kertas itu pada Hartadi.
"Hm... Nomor kamu" nggak lama saat dia nerima stickynotes dari tangan gue langaung dia robek menjadi beberapa bagian. Ia angkat kepala ngeliat gue sambil tersenyum simpul.
"Terima kasih, Vel..."
Sakit? tentu saja siapa yang ga sakit digituin? harga diri gue merasa diinjek-injek sama dia. tapi gue masih bisa senyum kearahnya.
"Nanti malem jangan lupa mampir ya?"
"Berisik kamu!" desis Hartadi yang kemudian berdiri. Menggandeng lengan gue dan nyeret gue buat keluar dari ruangannya. Dan saat melewati kedua karyawan Royal WCS Company, Hartadi tak menanggalkan wibawanya sebagai Direktur. "Saya antar ke depan sebentar."
"Permisi Bapak-bapak--" sengaja gue tebar keramahan gue pada kedua karyawannya tapi terhenti saat Hartadi mengencangkan cekalannya di lengan gue alhasil gue pun melanjutkan langkah untuk mengikutinya.
Saat di tengah jalan gue sedikit berjinjit. "Setelah ini Bapak pasti mikirin saya terus."
****
Hai Readerss ketemu lagi nih... kangen banget deh nyapa kalian...
ga lupa juga gue ingetin buat klik like, komen dan tentunya juga klik favoritnya biar kalian tau update terbarunya, karena tanpa kalian gue ga bisa seaemangat ini dalam nulis....
So happy reading!! selamat hari lebaran juga ya...meskipun agak telat..
__ADS_1