
Mendapati Hartadi yang menggeleng takjub, Velo memajukan tubuhnya perlahan. Satu tangannya berganti menopang dagu. Dengan berani, mulutnya tidak henti memojokkan pria itu.
“Coba inget deh Pak, tuh kan—Bapak! Kayak Bapak lagi manggil Eyang Triawan. Padahal Bapak kan bukan Papih saya, bukan pula atasan saya, apalagi satpam saya. Sampai kapan saya harus manggil Bapak?”
“Menggebu banget ngomongnya, Vel. Haus nggak kamu? Minum dulu gih. Saya nggak bakal nyelonong pergi ke kamar dan biarin kamu ngabisin dua porsi mie instan sendirian. Rileks, saya tetep duduk di sini sampai kamu ngeluarin semua poin-poinnya.” Hartadi abaikan Velo yang hendak mengambil gelas untuk memenuhi sarannya. Dia merampas gelas tersebut lebih cepat, tertolong lengannya yang panjang.
Menghindar saat Velo berusaha menggapai gelasnya, dia kukuh menuang air yang tersisa di dalam teko. “Ck, diem tangannya. Ini saya tuangin buat kamu.”
“Saya masih bisa nuang air sendiri. Kecuali airnya dari kran dapur, udah pasti saya nggak bisa. Mana bisa saya jalan sendiri kalo kruk ada di kamar?” Velo sisipkan sarkasme, sebab dongkol sedang memenuhi dada. Dia turunkan tangan, urung membasahi tenggorokannya yang mulai kering. Masa bodoh, walaupun Hartadi telah mendorong gelas yang terisi penuh ke hadapannya.
“Ih, Pak...”
“Apa?” jawab Hartadi mengurut tengkuknya.
“Obrolan kita lagi ngalir-ngalirnya loh. Atau, kasih tanggapan dulu bisa? Saya udah panjang lebar jelasin, malah diminta minum. Biar apa? Biar saya nggak nyerocos lagi—“ Refleks, bibirnya mengatup kala Hartadi mendadak berdiri. Dia tidak segera bertanya Hartadi hendak ke mana, matanya yang bekerja mengikuti langkah pria itu.
Bangkit dari kursi, Hartadi mendekati meja berukuran sedang disertai laci-laci yang cukup banyak. Letaknya memang dekat ruang makan, dia menarik laci paling atas. Kotak putih diraihnya dari sana, dia mencari sebuah vitamin berkemasan botol kaca di antara bungkus-bungkus obat lain. Vitamin milik pasien yang kini sedang tidak terima, karena dia kurang merespon ‘poin’ yang sudah dia terangkan cukup terperinci.
Biar saja Velo cemberut, Hartadi hampir saja melupakan vitamin untuk perempuan itu. Memutar tubuhnya selepas mengembalikan kontak putih berisi obat-obatan, dia kembali duduk. Dia letakkan botol vitamin tersebut tepat di sisi gelas Velo. Pandangannya langsung menatap mata Velo.
“Aku paham inti poin pertama. Perbaiki komunikasi, dengan cara ‘begini’ kan? Ngapain kamu masih ngambek?”
“Seneng banget blak-blakan,” keluh Velo tanpa sadar. Matanya melebar begitu menyadari suaranya mengalun lebih besar dari sebuah gumaman. Tak mau terjebak rasa malu, Velo pun tutupi dengan menatap lekat Hartadi.
“Kemaren malem aku chatingan sama dokter yang bakal nanganin kamu, disaraninnya vitamin itu. Dia Gosend dari klinik hari ini. Aku lupa ingetin Mbok kalo kamu punya vitamin yang harus diminum, selain obat yang diresepin dokter.” Jelas Hartadi sambil melihat kearah Velo yang sedang mengusahakan sikap normal, sesekali dia tundukan pandangan sambil pura-pura berfikir. “Boleh diminum sebelum atau setelah makan, sekarang juga bisa kamu minum. Atau kamu mau isi perut dulu aja?”
__ADS_1
“Lagi,” pinta Velo tidak memberi penjelasan.
“Apanya?” Hartadi mengerutkan dahi bingung.
“Ngomong ‘aku’.” Velo menebalkan wajah. Kali ini dirundung malu pun tidak mengapa, daripada dia tidur di tengah benak yang berkelana. Tidak tau letak spesialnya dimana, tapi suara Hartadi saat mengatakan ‘Aku’ padanya terdengar nyaman didengar.
“Aku.” Ucap Hartadi dengan ikhlas mengikuti saja keinginan perempuan itu, biarpun dia menganggap ini konyol bukan main. Lagipula ini hanya bermodalkan suara.
“Sekali lagi?” ucap perempuan itu dengan tidak tau malu.
“Aku.” Tandas Hartadi mulai berdecak jenuh mengulang, namun dia berikan kesempatan pada Velo. Kesabarannya sudah kian menipis, bahkan tiris. Bila perempuan itu masih tidak puas, emosinya akan unnjuk gigi.
“Kedengarannya kok beda banget, ya?” Ucap Velo mengulum bibir, dia sangsi sendiri. Magisnya, Hartadi yang sabar dan mengatakan ‘Aku’ saat ini justru melipat gandakan karismanya. Memilin ujung bajunya tanpa tertangkap Hartadi, Velo menagih untuk kelima kalinya. “Boleh ulang? Aku.”
“Aku—“ Nyaris kehilangan kata, sepenggal kata itu seolah tersangkut dipangkal tenggorokan Hartadi. Dia menyugar rambutnya selagi menghembuskan napas. Cukup sampai di sini kesabarannya melafalkan ‘Aku’ tiada akhir, lama-lama rupanya buat muak.
“Kenapa sih, Vel? Mas bisa ngomong ‘Aku’. Nggak harus dituntun kayak Mas ini bocah. Poin pertama yang harus kita benahi ada di cara ngomong, Mas sah-sah aja kok. Tapi, udahlah nggak usah diulang-ulang.”
Senyumannya melebar kala pria itu mendengus, tidak menyangkal maupun membalas jika sudah diingatkan mengenai darah tinggi. Sepertinya Hartadi tau akan ‘merembet’ pada hal apa. Tentu saja, Velo bisa mempersoalkan masakan kegemaran pria itu yang kaya akan santan.
Mbok Niniek membelah suasana timpang antara Velo dan Hartadi. Satu mangkuk mie rebus dan sepiring mie goreng diangkut perempuan paruh baya itu menggunakan nampan dari dapur. Satu persatu piring dipindahkan, kemudian Mbok Niniek mendekap nampan tersebut di depan dada.
“Pesenan Neng Velo, Mie rebus kari ayam pakai rawit. Pesenan Den Har, mie goreng nggak pakai cabe dan telur. Ada lagi yang mau Mbok bikinin?”
“Nggak ada, Mbok. Makasih banyak. Kalau mau nyuci piring atau peralatan masak yang barusan dipakai, lanjut besok nggak apa-apa loh! Mbok nggak ada istirahatnya dari pagi.”
“Iya, Neng.” Mbok Niniek tidak membantah, karena tubuhnya memang perlu diberikan waktu rehat.
Asisten rumah tangga itu mampir ke dapur untuk mengembalikan nampan, lalu mendatangi dua anak muda yang mulai mengangkat sendok dan garpu. Kali ini pamit pada majikannya. “Mbok pamit ke kamar ya, Den?!”
__ADS_1
Hartadi hanya mengangguk dan langsung membeku ketika bel pintu berbunyi nyaring memenuhi pendengarannya. Mengedepankan ketenangan, dia bersitatap dengan Velo yang menyiratkan waswas meski perempuan itu tidak bersuara. Satpam dan Mardi tidak pernah membunyikan bel, terdapat pintu belakang yang digunakan keduanya jika ada keperluan mendesak dan harus memasuki rumah.
Tanpa diperintah, Mbok Niniek berjalan cepat menghampiri pintu utama untuk memastikan tamu mereka yang datang hampir menyentuh tengah malam.
Membiarkan Mbok Niniek berlalu, Hartadi tidak cemas asisten rumah tangganya itu akan membukakan pintu tanpa persetujuannya. Beragam sosok yang kemungkinan datang menyambangi pikirannya, tetapi Hartadi tidak yakin dari mereka semua salah satunya benar.
“Den!”
Velo terperanjat dari kursinya, amat dikejutkan oleh suara Mbok Niniek yang biasanya terdengar lemah lembut kini bahkan hampir berteriak. Datang dalam langkah kaki yang tidak beraturan, Mbok Niniek mengusap kedua tangan sembari memberitahu siapa tamunya.
“Siapa, Mbok?” Hartadi bertanya penuh antipasi.
“Neng Parnita.”
Parnita?
Velo seolah-olah tidak berada di rumah ini.
***
“Lama banget sih bukain pintunya. Kamu nggak ada niatan buat ngusir aku kan?”
Sambutan yang amat pedas diterima Hartadi dari tamu tidak diundangnya yang menekan bel hampir menyentuh pergantian hari.
Tanpa memikirkan apakah dia sedang terlelap, atau kedatangan yang tidak memperdulikan waktu itu dapat menginterupsi ketenangan seseorang yang telah bekerja satu hari penuh. Sebab ketika dia menilik raut wajah sang kakak ketiga, hanya raut wajah angkuh yang terlukis di sana berikut nihilnya senyuman.
Memiringkan sedikit kepala agar pandangannya dapat menjangkau halaman rumah., Hartadi menemukan mobil yang tentu saja milik Kakaknya terparkir di sana dengan mesin yang dimatikan. Sopirnya sepertinya memang menunggu di sisi mobil.
Hartadi pikir kalau Kakaknya datang tidak bersama anak-anaknya. Entah dari mana perempuan itu, hadirnya seorang diri mengenakan midi dress hijau.
__ADS_1
Semula Hartadi bertahan di ambang pintu, namun dia mendekat untuk menjatuhkan kecupan singkat pada pipi kakaknya. Biarpun watak perempuan itu menguji kesabaran, dia tetap menyayangi satu-satunya anak perempuan dalam keluarga intinya itu.