Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Telepon Tengah Malam


__ADS_3

"Belum tidur jam segini?" ucapnya seolah-olah tau banget jam tidur gue. "Ini aku loh, Har. Adi. Aku telepon dari nomor yang biasa di pakai untuk urusan kantor."


Ck... alasan!


"Oh ya? Ada gerangan apa kamu telepon aku? Seingatku Mas, kamu telepon setahun sekali aja sebelum masuk bulan puasa. Apa iya besok puasa lagi?!"


"Cih... Salut nih Har. Nggak ilang-ilang mulut pedas kamu dari dulu." Gue cuma diem males berbasa basi karena gue memang nggak pernah basa-basi sama oramg maupun keluarga.


"Aku telepon nggak ada apa-apa, mau mengonfimasi info yang ku dapet aja. Kantor Velo dan kantor kamu ada hubungan apa sampai tiba-tiba dia disana?" tanya Mas Adi tanpa indikasi curiga kalau gue udah tau kebusukannya.


Gue cuma bisa ketawa dalam hati mengejek strategi Mas Adi untuk mengorek informasi Velo darinya. Kalo aja Velo nggak membongkar belangnya Adiputra lebih cepat, Gue pasti akan menganggap panggilan telepon ini adalah sebatas kekhawatiran Mas Adi sebagai ayah Velo.


"Kenapa nggak konfirmasi langsung ke Velo? Aku nggak bisa asal kasih tau project kita tanpa persetujuan Velo." ucap gue menutup akses informasi buat Mas Adi dengan tenang, sebisa mungkin tidak ada jejak kebohongan dari suara gue.


"Ck... Kayak ke siapa aja sih kamu Har--- Dia pergi nggak ngabarin loh, Maminya telepon nggak diangkat. Biasanya sering chat sama c'kembar, taoi ini ibarat ngilang. Makanya, aku hubungin kamu. Ya... khawatirlah aku!"


"Mas, terima kabar dari siapa Velo disini? Mbak Asri aja nggak tau, ini kok langsung dapet lokasinya Velo." ucap gue ketus nggak peduli atas keterangan bertele-tele Adiputra.


"Lagi banyak sikut-sikutan di kementerian. Semua anak-anak ada yang ngawasin. Aku nggak lepas pengawasan biar udah pada gefe sekalipun. Jaga-jaga aja."


Ck... dia pikir gue bisa dikelabuinya? Pengen banget rasanya ngehajar Kakak gue yang satu ini...


Ya... sejak remaja memang gue dan Mas Adi nggak pernah akur bahkan sering bertengkar sampai ngeluarin bakat bela diri masing-masing. Jujur Gue nggak suka sama pria manipulatif dan mengesalkan macam bedebah satu ini. Pengalaman hidup serumah dengan Adiputra membuktikan bahwa seorang kakak tidak berarti memiliki kedewasaan yang lebih matang dari adiknya, trust me.


"Cih... Belum jadi presiden tapi kamu udah siapin antek-antek untuk keluarga, ya? Hebat benar anaknya Pak Triawan dan Bu Wening ini. Hmm.. Kenapa nggak sekalian aku diawasin?!" sengaja gue ngomong sarkas sama dia karena ingin membuat Mas Adi tersinggung.


"Ck... Bikin kesal aja kamu malem-malem!" dia mulai mencibir terdengar dia sedang menahan emosi, sesuai target gue.


Gue terdiam berfikir tentang semuanya sikap janggal Adiputra pada Velo dan apa yang akan gue lakuin ke depanya sama Velo.

__ADS_1


"Urusanku sama Velo lah mau ngapain


di sini. Intinya, she's alright. Nanti aku kabarin kalo udah di Jakarta, supaya kamu tau kami disini lgi ngurisin project apa." jawab gue seakan ngasih kesan misterius.


"Ada apa ini?" ucap Dia merendahkan suaranya. Kayaknya dia udah mulai mencium indikasi antara gue dan Velo. "Velo itu kesayangan keluarga, Har. Awas kamu macem-macemin dia. Project bodong itu nggak ada kan? Karangan kamu aja ini pasti!"


"Cih.. Protective banget ke anak perempuanmu, Mas?" Dan sekali lagi Gue membakar emosi Adiputra. "Pas kamu mau nikahin Mbak Asri, aku sempet ragu loh kamu bisa sayangin Velo atau nggak. Tapi, keraguanku kayalnya salah."


"Aku protectivecsama Velo, karena dia putriku satu-satunya. Dan gimana aku nggak sayang sama Velo? Dari kecil udah ikut aku dan selalu jadi anak baik. Ada-ada aja kamu!" bantahnya.


"Tapi, sayangnya Velo bukan anak-anak lagi. Ada baiknya kamu kasih kelonggaran pengawasan Velo. Anak kamu ounya orivasinya sendiri, Mas. Apa seusia Velo dimata kamu masih kecil?" Singkat aja sih bagi gue buat nonjok ulu ati Mas Adi dengan kalimat gue yang sarkas.


"Hah... Oke deh, Har. Kalo mialnya kamu jadi ke Jakarta pangsung kabarin aku. Udah dulu teleponnya besok pagi-pagi ada rapat, jadi mesti cepet tidur." ucapya langsung menutup teleponnya.


"Halo... Haooo.. Mas.. Mas.."


Setelah itu gue nggak peduli sekarang jam berapa, saat ini gue berusaha ngehubungin Velo.


"Hmm.. Halo!" suara serak khas bangun tidur terdengar di balik telpon.


"Vel, Saya minta kamu denger baik-baik---"


Ya... Gue udah buat keputusan besar yang artinya akan melahirkan lembaran baru buat gue. lembar yang seharusnya dijalankan dengan serius.


***


(AUTHOR POV)


Sementara di kamar Hotel yang di terangi lampu kekuningan, Velo dengan asal menempatkan handphone di atas bantal dan tidak sadar sudah mendesis kepada ‘Siapa orang yang tak mengenal waktu untuk meneleponnya di jam segini’.

__ADS_1


Di saat kesadarannya mulai menyapa, dengan malas Velo melihat layar ponselnya siapa yang meneleponnya pagi buta begini, tapi saat melihat siapa yang meneleponnya itu hanya berupa nomor asing. Dalam kebingungannya itu, Velo memijat kening dengan satu tangan. Dan saat tak sengaja Velo mengklik tanda hijau yang akhirnya menjawab panggilan itu.


Ck… Aahh pake kepencet segala lagi teleponnya?


“Maaf ini siapa ya? Punya keperluan apa telepon saya tengah malem gini?” Tanya Velo sedikit jutek, karena paling menyebalkan untuknya ketika bangun tidur disebabkan oleh rasa terkejut. “Kalau untuk keperluan kantor, saya sedang cuti.”


“Ck… Orang bicara itu baiknya kamu dengerin, dibandingkan kamu suruh diam. Justru tindakan tadi yang bikin kamu bingung, siapa sih yang telepon tengah malem?” komentar Hartadi mendapatkan balasan yang tidak biasa.


Velo kaget dan segera duduk seraya menumpuk bantal di balik punggungnya, kurang percaya jika ditelepon Hartadi. “Pak Har? Beneran ini? Woow… Surprisingly tadi suaranya kayak bukan Bapak, makanya saya nggak ngenalin.” Ucap Velo sambil melihat gelas bening dan sebotol air mineral di atas nakas. Ingin rasanya meminta Hartadi menunggu agar Velo bisa menghilangkan rasa hausnya, tapi Velo lebih tidak ingin Hartadi memutus telpon karena dibuat lma menunggu.


"Minum dulu sana. Suara kamu mirip marmut kejepit, tau nggak? Saya nggak tahan denger lama-lama." ucap Hartadi ketus.


"Makasih loh pujiannya. Saya paham Bapak biasa denger suara perempuan yang seksi-seksi. Apalah saya Velo si Marmut." Velo membalasnya dengan candaan yang membuat Hartadi berdecak malas.


Meskipun dibilang suaranya mirip marmut, Velo sejujurnya tersenyum ketika Hartadi menyuruhnya minum.


Perhatian juga dia...


Ciri khas Hartadi tetap menyertai dengan sempurna. Agak terdengar galak, selipan sinis, dan intonasi datar menjadi satu.


Cih... kenapa gue kesenengan kayak dipuji cantik sih? Padahal doi muji kebalikannya..


Ck... Otak gue udah edan kayaknya.


Velo buru-buru meninggalkan handphonenya diatas ranjang hotel untuk menuju nakas. Kesempatan yang diberikan Hartadi memang dimanfaatkan Velo untuk menghabiskan satu gelas air mineral, dan sungguh saat itu tenggorokannya sangat lega. Lalu Velo kembali duduk di tempat semula dan memangku salh satu guling.


"Pak, saya udah selesai minumnya," lapor Velo semakin siaga mendengarkan tujuan Hartadi menelepon dan bahlan rela menunggunya untuk minum. Ini pasti hal yang penting, paling tidak untuknya.


"Kamu hotelnya dimana? Masih sanggup begadang nggak?" ucapnya tegas karena Hartadi pikir mereka tidak bisa mendiskusikan keputusan besarnya melalui telepon, karena pasti akan berpotensi menghasilkan salah paham.

__ADS_1


__ADS_2