
“Vel, Velo…” tiba-tiba Aruna berbalik ke belakang agar menghadap ke arah Velo, namun terkejut bukan main melihat Velo hampir menabraknya. “Ya ampun Velo! Lo bengong kenapa lagi? Apa ada yang kelupaan?”
“Duh, sorry… sorry… gue tiba-tiba kepikiran sesuatu jadi aja ngelamun.”
“Ahaa… ngelamun?” Livia memincing jahil.
Kemudian dirangkulnya bahu Velo dan menjawil hidung peremluan itu yang tidak bertulang tinggi namun bisa dikategorikan mancung.
“Pasti lagi ngelamunin Caesar yang mohon-mohon baikan sama lo pakai suara lembutnya itu. Udah kebayang deh gue. Eh tadi jyga gue denger-denger dari NAT Contruction, Caesar gosipnya lagi nggak punya gandengan.”
“Ah, Lo mah emang setan Liv, dari pagi ngebisikin gue yang nggak-nggak mulu.” Ucap Velo berdecak.
Perempuan itu melepaskan diri dari rangkulan Livia dan berganti menggandeng kedua sahabatnya itu. “Jujur gue sih nggak terpengaruh sama Caesar. Tapi yang gue heran kenapa baru sekarang dia minta kesempatan?”
“Iya, dulu aja enak banget langsung maen cewek setelah bokap lo nggak ngerestuin. Nggak ada artinya tuh ya lima tahun? Padahal lo udah terlanjur sayang sama si Audrey.” Gerutu aruna yang ikut tak terima dengan sejarah ‘buaya SCBD’, julukan mereka untuk Caesar yang membangun kantor di daerah tersebut.
“Ck, makanya gue bilang sama dia, dulu kemana aja? Kenapa baru sekarang dia munculin batang hidungnya? Manusia kalo nyadar suka belakangan sih, nggak heran gue.” Decak Velo mencebik mengingat saat-saat dirinya baru di putuskan oleh pria itu.
“Tapi sejujurnya nih ya… lo masih cinta nggak sih sama dia?” ucap Livia yang kali ini berhati-hati.
“Menurut lo keliatannya gue masih cinta nggak?” Velo membalik pertanyaan Livia.
Aruna memperhatikan Livia yang terdiam sejenak, mungkin sedang menentukan jawaban. Sementara Aruna memiliki penilaiannya sendiri lalu menyahuti pembicaraan tersebut.
“Masih ada rasa, tapi bukan sebesar cinta. Gue nggak tau itu namanya apa. Mungkin karena dulu lo percaya Caesar dan berharap Caesar fight buat hubungan kalian…”
Baik Aruna dan Livia menyaksikan sendiri kepala Velo mengangguk ringan, “Lo bener, Run. Liat Caesar tadi gue gue sadar ada sisa-sisa rasa dari hubungan dulu. Biar mantan terakhir gue Dandy, tapi step gue dan Caesar lebih jauh dari sewaktu bareng sama Dandy.”
“Kalau dia seriusannya mau bener-bener nikahin lo?” tanya Livia menatap sendu kearah Velo. Lalu Velo menggeleng dengan tegar.
“Hmm… Sekarang, modelan laki-laki begitu yang gue hindarin ke pernikahan. Bukan soal masa lalunya, tapi caranya menyikapi masalah dan tantangan. Gue sering kecewa, karena pasangan gue nggak punya kemauan yang setara untuk perjuangin hububgan kita. Haaahh… Gue udah berdamai dengan masa lalu Caesar. Dengan waras, gue anggap masa lalu Caesar adalah bukti kenakalan dia di masa mudanya aja. Sampai Caesar punya Audrey sewaktu kuliah di US. Atas nama cinta, gue senaif itu dulu ya…” ucapnya sambil melepas tangannya di kedua lengan sahabatnya lalu maju selangkah berbalik menghadap kedua sahabatnya.
“Sekarang gue lebih rasional. Cinta bukan pondasi dari sebuah komitmen. Gue mau dicintai dan mencintai, tapi kebanyakan cinta selintas hanya di mulut aja. Gue butuh sesuatu yang lebih nyata.”
Tidak tau apa yang mempengaruhi benak Velo, namun wajah Hartadi terbayang-bayang usai dia mencetus kata ’nyata’. Benar, Hartadi menjadi satu-satunya pria yang tak mengingkari komitmen meskipun sudah mengetahui tantangan di balik kesendirian Velo.
Hartadi memberikan sesuatu yang nyata sebagai pembuktian. Melepaskan kursi nyaman pria itu di Samarinda untuk bertolak ke Jakarta, tempat yang sudah di jauhi bertahun-tahun demi memulihkan kesehatan hati dan mental. Tanpa merasa telah berkorban terlalu banyak.
__ADS_1
Dan, Hartadi tidak membubuhkan cinta untuk pengorbanannya tersebut.
“Aduh, mata gue kok perih ya?” Aruna menutupi wajahnya dengan satu tangan, tanpa kata-kata lagi segera memunggungi kedua sahabatnya.
Mudah tersentuh, Ya… Mata Aruna sudah basah mendengar penuturan Velo yang membekas dan dalam. Perempuan itu tersenyum untuk mengontrol keinginannya menangis tersedu-sedu sembari mengurut dada.
Livia saling bertatapan dengan Velo, mengarahkan dagunya ke arah Aruna dan meminta Velo meredakan sahabatnya dari tangis. Velo tersenyum heran, Aruna terlalu hanyut dengan kisahnya lebih dari dia yang menceritakannya.
Velo pun memeluk Aruna lalu mengusap punggung Aruna yang masih menyembunyikan wajah merahnya.
“Payah banget anaknya Bunda, sampe nangis begini Cuma karena dengerin gue ngedongeng. Udah yuk nangisnya.”
“Ya Allah, jangan sampai Runa juga jatuh ke pelukan laki-laki buaya. Mau buaya PIK, buaya Senopati, buaya blok M, jangan Ya Allah.” Canda Velo yang kemudian cekikikan tanpa suara dengan Livia. “Runa harus dapet laki-laki baik, kebapakan dan ganteng.”
“Siapa tuh kira-kira?” Livia menyambung dengan jeli.
“Nanti deh gue cari-cari. Siapa tau kenalan gue ada yang cocok sama Aruna. Oke Run?” Velo mengurai pelukannya dari Aruna, lalu meminta kedua sahabatnya untuk melanjutkan tujuan mereka ke lift lantai direksi.
Pandangan Velo mengarah pada langit Jakarta yang telah menggelap dari balik jendela besar Almeda Group. Jam pun sudah menunjukkan pukul enam dan suasana di lantai khusus petinggi Almeda Group semakin sepi.
Tidak lama pintu lift terbuka dan mereka mengisi ruang kosong di antara beberapa karyawan yang ada di dalam. Handphone Velo terasa bergetar di dalam tas miliknya. Velo yang gesit langsung mengeluarkan handphonenya untuk mengecek notifikasi.
Hartadi Bratadikara :
Velove Bratadikara :
Masih, Pak.
Hartadi Bratadikara :
Nyetir sendiri?
Velove Bratadikara :
Iya, Pak.
Hartadi Bratadikara :
__ADS_1
Hati-hati ya…
Velove Bratadikara :
Kenapa Pak?
Hartadi Bratadikara :
Mas Adi mulai ganggu privasi saya, terus inget kamu.
Seketika handphone dalam genggaman Velo hampir terlepas darinya. Namun Velo semakin menguatkan genggamannya seakan menguatkan hatinya juga. Memang memerlukan waktu bagi Velo untuk mengembalikan diri dari keterkejutan.
Sejak lama Velo menyadari Adiputra memiliki orang yang mengikuti kegiatannya. Kalau tidak menggunakan jasa orang lain, mana mungkin papih tirinya tersebut mengetahui apa yang Velo lakukan sehari-hari. Sementara mobilitas pria itu cukup padat.
Artinya, Adiputra tau intensitas Velo bertemu dengan Hartadi. Jari-jari Velo pun mengetik cepat pesan Whatsup untuk Hartadi. Dia memikirkan keselamatan Hartadi, meskipun tidak tau sejauh mana keberanian Adiputra terhadap adik bungsunya.
Velove Bratadikara :
Bapak nggak dilukain kan?
Hartadi Bratadikara :
Saya baik-baik aja.
Velo menghembuskan nafas agar pikirannya tidak kalut lagi sembari menunggu pintu lift terbuka. Di lantai B1, Livia berpisah dengan dirinya dan Aruna karena memarkirkan mobilnya disana.
Berikutnya, lift mebuka di lantai B2 yang masih dipenuhi kendaraan. Hawa panas khas parkiran langit-langit rendah langsung menyengat setelah Velo keluar lift diikuti Aruna.
Velo masih menggenggam ponsel saat Aruna merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil. Karena, mobil Aruna belum dilengkapi sistrm start stop engine.
“Itu mobil gue.” Aruna mengarahkan telunjuk pada mobilnya yang berada di baris pertama basement. “Lo parkir di mana?”
“Gue dapet di baris D,” jawab Velo dan mempersilahkan Aruna menuju mobilnya. “Lo langsung aja ke mobil, nggak usah bareng keluar. Gue tadi emang kurang oagi datengnya, jadi nggak dapet barisan lo.”
“Oke, gue duluan ya. Oh iya, besok pagi nyokap gue dapet pesenan lontong sayur padang. Lo mau gue bawain ga? Tadi Livia mau-mau aja.” Tawar Aruna sebelum berjalan ke mobilnya.
“Boleh, tapi setengah porsi aja ya?” ucap Velo mengukir senyuman tipis.
__ADS_1
“Siap, sampai ketemu besok,” kata Aruna sembari menyebrangi jalan di depan mereka untuk mencapi baris A pada Basement B2.