Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Saya Boleh Kenal Kamu?


__ADS_3

“Itu anak saya, Vel. Yang penyintas narkoba. Kamu nggak ngenalin karena rambutnya udah dipangkas rapih. Dia masih gondrong waktu kamu ikut saya ke kantor polisi dulu.”


“Loh, Pak Gemilang?” ucap Velo terdiam kaget melihat sosok Gemilang yang menurutnya sangat fresh.


“Ya, Vel. Anak saya sudah pulih. Sehat dan mulai terjun ke dunia bisnis lagi.” Ucap Damar sambil menghela napas lega.


“Alhamdulillah, Pak. Berarti Pak Gemilang sudah bisa ambil bagian di Almeda Group. Ini moment adalah momen yang Bapak tunggu-tunggu selama ini kan?” ucap Velo memeluk erat map yang ada di dekapannya terharu, terpengaruh oleh ekspresi  Damar sebagai seorang ayah yang sudah lulus diuji kehidupan.


Ya, Velo sudah bekerja sebagai sekretaris direksi di Almeda Group ketika Damar tengah mengatasi cobaan dalam hidup yang datang melalui Gemilang Almeda. Buah kesabaran Damar dan keluarganya sudah terbukti di depan mata. Keluarga Damar sama sekali tidak pernah mengucilkan Gemilang karena hilang arah, Velo menyaksikan pria itu menerima rangkulan penerimaan.


Mengakhiri gelut pikirannya sendiri, mata Velo justru melihat pemandangan Damar dan Gemilang yang saling bertukar salam dengan kepalan tangan. Dan lagi-lagi bibir Velo pun secara tidak sadar tersenyum tulus.


Pak Gemilang sangat beruntung, karena dibesarkan oleh Ayah sesabar dan sebaik Pak Damar.


Kenapa orang lain bisa menjalin hubungan baik dengan Ayah mereka?


Velo pun mengedepankan sikap profesionalnya, dia mendekati sepasang ayah dan anak itu. Mereka duduk berdampingan, membahas hal yang tidak ada kaitannya dengan persoalan kerja.


“Pak Damar dan Pak Gemilang, apakah perlu saya bawakan kopi?”


“Nanti aja, Vel. Duduklah disitu,” tunjuk Damar pada sebuah single sofa minimalis. Sambil menunggu Velo duduk di sofa, Damar memperkenalkan Velo pada Gemilang.


“Lang, ini sekretaris Papa, sebaiknya kamu kenalan dulu biar nantinya nggak canggung. Papa nggak mau ganti Velo, dia paling pas buat kamu.”


“Iya, Pa. Sebaiknya Sekretaris Papa dipertahankan.” Ucap gemilang sambil memperhatikan Velo. Memory Gemilang mengenali perempuan itu tergopoh-gopoh di belakang ayahnya ketika dia ditangkap usai mengadakan pesta narkoba di apartment temannya.


Mulanya Velo hampir melebarkan bibirnya untuk tersenyum pada Gemilang, tapi otaknya cukup cepat menyadari kejanggalan dari percakapan kedua orang di hadapannya ini. Menguasai diri, Velo siasati kegamangannya dengan langsung menerima tangan Gemilang yang disodorkan dari tadi walau bibirnya gagal memberi senyum.


Apa Pak Damar mutusin pensiun dan jabatannya diserahin ke Pak Gemilang? Sama kayak atasannya Livia?


Gumam Velo dalam hati yang tidak pernah menyangka jika Damar akan turun dari kursinya secepat ini.


“Gemilang Almeda.”


“Velove L Williams.”

__ADS_1


Tangan besar pria itu melingkupinya, dan Velo balas dengan genggaman longgar yang mungkin menunjukan ketidakyakinan  atas situasi yang sedang terjadi. Sebenarnya, Velo belum sepenuhnya rela jika Damar digantikan. Selain harus beradaptasi dengan ritme kerja Gemilang yang tentu saja berbeda dari ayahnya, Damar benar-benar sosok idaman sebagai atasan.


“Mungkin terkesan tiba-tiba ya, Vel? Tapi saya berniat melepaskan posisi Direktur ke tangan Gemilang. Anak saya sudah menyiapkan diri. Baik mental dan fisiknya.” Ucap Damar sambil meremas bahu Gemilang, yang mengartikan  dukungan terhadap putranya.


Damar menghembuskan napas, bersiap menceritakan latar belakang keputusannya yang harus di pahami Velo.


“Sejujurnya, saya mengalami hipertensi. Mulai sering pusing dan suka sesak, karena menurut dokter ada pengaruhnya ke jantung saya.”


“Memang kambuh-kambuhan, tapi alasan itu yang mengharuskan saya harus istirahat dari segala kegiatan di kantor ini. Saya harap kamu berbesar hati menyambut Gemilang, anak saya.” Sambung Damar.


Velo menempatkan map yang sedari tadi dia bawa ke atas pahanya. Dia dengarkan Damar tanpa sekalipun menyela, meskipun sebagian besar inti pembicaraan ini telah dia mengerti.


 


*****


“Loh, Vel. Mau kemana?”


Velo menipiskan bibirnya mendapatkan pertanyaan tersebut saat berpapasan dengan Livia. Sambil mengapit dompet, dia tarik lengan Livia supaya tidak berdiri di tengah koridor.


“Makan siangnya mau bareng Pak Har ya?” senyum penuh godaan Livia tersungging tipis. Tangan Livia mengipasi wajahnya sendiri untuk mendukung dramanya guna menjaili Velo. “Vel, gue ngiri boleh dong ya? Makan siang lo sekarang bisa variatif, karena nggak liat muka gue sama Aruna aja.”


“Maaf, kunci mobil saya ketinggalan. Kita langsung turun ke B1 aja ya?”


Selintas suara asing yang tidak familier disusul penampakan seorang pria yang mengisi ruang di samping Velo, terbukti sanggup membungkam Livia dan mengembalikan tangan perempuan itu ke sisi tubuhnya semula. Velo pun memajang ekspresi kalemnya saja.


Velo melihat sekilas ke arah Gemilang ketika pria itu sedang memperhatikan pergantian angka pada layar lift, Velo masih mencari tujuan pria itu mengajaknya keluar ketika makan siang. Mungkinkah salah satu petuah dari ayahnya untuk memangkas kecanggungan setelah pengangkatannya nanti? Seingatnya dari ucapan Gemilang, pria itu punya maksud lain.


‘Saya boleh kenal kamu?’


Gemilang menoleh ke arahnya, mereka bertukar pandang dan Velo segera memberitahu siapa yang kini berada di antara mereka.


“Pak Gemilang, ini sekretarisnya Pak Tama, Livia Gunoto.”


“Livia, ini putranya Pak Damar, Gemilang Almeda.”

__ADS_1


Gemilang menjabat dua tangan hari ini bagai sambutan di hari pertama pria itu menginjak gedung kebanggaan keluarga Almeda. Sebetulnya, Velo ingin membagi informasi pada Livia dan Aruna saat makan siang secara detail. Namun Gemilang meminta waktunya dan dia tidak enak hati jika langsung menolak.


Memperkenalkan Gemilang adalah bentuk spontanitas agar pria itu melepas pandangan darinya. Gemilang kerap tertangkap basah menempatkannya sebagai objek. Velo ditatap berulang kali seakan-akan kapabilitasnya tengah diperhitungkan. Dan rupanya dia salah. Di luar ruang kerja, Gemilang mengulangi hal yang sama.


Denting lift terdengar. Gemilang sudah memasuki lift, tangan pria itu menekan tombol untuk menahan pintu lift tertutup. Sementara Velo belum mau bergabung dengan Gemilang di dalam lift, kehadiran Livia membuatnya gatal ingin bergosip.


Meraih dompet dari apitan lengan, Velo berbisik pada Livia sambil menutup gerak bibirnya dari arah pandangan Gemilang.


“Liv, dia kayaknya naksir gue!”


“Masa sih?” Jawab Livia melotot, menahan kuat untuk tidak melirik Gemilang.


“Bukan gue kepedean, jujur nggak pernah terbesit sama gue malah. Tapi enam puluh lima persen gue yakin iya. Setelah makan siang nanti, entah keyakinan gue bertambah berapa persen.” Dengan cepat Velo jelaskan pada Livia karena tidak ada sejarahnya boss menunggu bawahannya bergosip. Terlebih yang digosipkan itu bossnya sendiri.


“Ibarat main api nih, kalau ada yang naksir di kantor. Bos muda dan bening juga jarang kalau kita nggak kerja di start up. Dibiarin aja dia naksir lo, asal lo nggak dicicip. Soalnya, yang punya ‘pasukan kuda’ bisa dateng kesini.”


Pasukan kuda \= Cahari \= Hartadi.


 


***


“Biasanya kamu makan siang sama siapa?” tanya Gemilang saat mobil sudah diparkir di halaman Jepang.


“Barengan sama rekan-rekan sekretaris direksi, Pak.” Jawab Velo sambil melepas seatbelt. Dia sangat bersyukur karena Gemilang Mengajaknya makan di restoran Jepang, bukan rumah makan Padang dan memaksanya makan ayam bakar.


“Yang tadi salah satunya kan? Kamu dan sekretaris Om Tama keliatannya punya hubungan baik.” Ucap Gemilang sedikit takjub, karena setau Gemilang, sekretaris dalam satu kantor sering sekali tidak akur.


“Hampir semua sekretaris direksi berhubungan baik kok, lagipula pekerjaan kami kan saling berkaitan. Kalau sensian dan saingan, malah nggak fokus kerja. Maunya unjuk gigi terus.” Saat Velo merapihkan pakaiannya dan berpaling, dia kaget ketika wajah Gemilang begitu dekat. Dan dengan spontan Velo pun memundurkan tubuhnya sambil mengerutkan kening.


Gemilang menyadari pergerakan Velo. Seakan baru tersadar, Gemilang ikut menjauh dengan ekspresi kaku.


Kan… kan…


Hai semua... Gimana sejauh ini? Lanjut ga????

__ADS_1


__ADS_2