
Rupanya Velo berhasil mempengaruhi Hartadi. Lihat saja, Hartadi yang saat ini tidak sabar menanti rasa penasarannya terpuaskan. Tentang siapa yang terobsesi dan hampir melecehkan Velo.
"Iya, Bapak dan orang itu saling kenal." Velo mengutarakannya dengan ringan, namun ia dapat melihat pendar cemas dari sepasang iris Hartadi. Rasanya, Hartadi punya firasat kalau dia akan mendapat lkan Sebuah Nama yang tidak di sangka-sangka.
"Adiputra Bratadikara, yang tak lain adalah suami dari Mami saya, Kakak laki-laki kedua dari Pak Har. Orang yang selama ini saya panggil 'Papi'." jelas Velo sembari berterima kasih pada dirinya yang sudah bertahan selama ini, menyimpan nama sumber masalahnya tanpa seorang pun tau.
Sekian detik berlalu, tidak ada pertanda balasan dari Hartadi. Tatapan Velo bermuara pada wajah pria itu seraya bertanya-tanya. Apa Hartadi tak cukup percaya sehingga sulit untuk pria itu memberikan respons? Bila Hartadi berfikir terlalu jauh, bisa saja pria itu mengira Velo merancang sebuah kebohongan untuk menjebaknya dalam pernikahan. Sebaliknya, jika Hartadi sedikit mengenal Velo, pemikiran tidak berdasar seperti itu harusnya terlewatkan.
Pria menarik dan punya kuasa layaknya Hartadi sudah pasti menggiurkan bagi perempuan sekelas dan seusia-- ia akui, tapi tidak menjadi alasan Velo membuang-buang waktu mengemis pada Hartadi untuk menikahinya.
Velo berniat menyambung ucapannya saat mendapati Hartadi tidak bereaksi. asudah pasti Hartadi sedang berperang dengan intuisi dan logikanya, benar atau tidak nya hal yang baru saja Velo paparkan. Dan tugas Velo hanya perlu memperjelas sedikit lagi.
Sewaktu suara hampir Velo keluarkan, dia bersumpah telah menarik niatnya tersebut kala Hartadi membuang rokoknya ke tanah dengan kasar sambil memaki-maki. Harusnya Velo ingat bagaimana perangai pria satu ini ketika meradang.
Sementara, Hartadi tentu saja terkejut bukan kepalang. Darahnya pun seakan mendidih, rokok yang baru saja hinggap dibibirnya tidak lagi mampu dirasakan. Bisa-bisanya Sebuah Nama Adiputra yang tercetus di bibi Velo? Papi tiri perempuan itu sejak SD? Sialan sekali Kakaknya itu jika pemaparan Velo seutuhnya benar.
Hartadi melempar dan menginjak rokok di bawah sepatunya, lemudian mengunpat Sang Kakak dengan nama-nama binatang. Tapi, yang terakhir diucapkan Hartadi dengan nada tinggi dan di penuhi amarah. "Bangsat, Mas Adi! Emang nggak pernah ada otaknya dari dulu."
Jantung Velo sontak bertalu-talu mendapati Hartadi mendekat dan mencekal siku kanannya. Pria itu merunduk lebih dekat, lalu melontarkan tanya dengan nada getir yang bisa didengar Velo. "Sejak kapan Mas Adi ngegilain kamu? Jujur."
"Saya nggak tau pastinya dari kapan, tapi Papih nunjukin tanda-tandanya dari saya masuk SMA." Velo menatap lekat Hartadi. Menahan ringisan yang berpusat pada siku kanannya, Velo berdehem agar suaranya tidak terbata-bata. "Bapak nggak tanya kenapa saya diem aja selama ini?"
__ADS_1
Hartadi melonggarkan cekalannya pada siku Velo. Bagaimana bisa Hartadi menghadap Velo dengan segala kepongkahannya sedangkan Sang Kakak menjadi parasit dalam hidup Velo? Terasa sulit untuknya memandang mata perempuan itu sekarang.
"Apalagi?" Hartadi menarik sudut-sudut bibirnya membentuk seringai datar yang bertujuan memutupi rasa malu yang entah kenapa ia tanggung sekarang ini. Bukan ia yang berbuat, tapi ia yang seketika merasa di bebankan tanggung jawab. "Kamu nggak mikirin kepentingan kamu aja. Ada Mbak Asri, ketujuh adik laki-laki kembar kamu, dan juga Ibu saya-- Kamu pasti memikirkan mereka. Kalau kamu ngelempar nama Mas Adi dan segala perbuatannya, kedamaian keluarga kita bisa hancur."
Velo menatap Hartadi, tidak menyangka pria itu mengerti tanpa di jelaskan. Velo mengukir senyuman penuh arti.
"Eyang Putri bangga, Papih bisa duduk di kursi kementrian. Papih ngerangkul Mamih dari kesendirian, menghadiahi kami keluarga yang hangat dan tercukupi. Sedangkan Bara, Badar, Badil, Bariq, Basha, Binad dan Biyan punya sosok Papah yang diidamkan, bisa kasih mereka apa aja. Gimana saya bisa maen tega sama mereka?"
Hartadi tidak mengelak dari penjabaran Velo yang sempurna. Adipura memang dikenal 'Spotless' oleh keluarganya, ditambah lagi lolos mengisi slot di kementerian yang mengangkat sosoknya kian gemilang. Sementara jika Hartadi ikut disandingkan, dia terkenal pembangkang dan keluar jalur.
"Menurutmu dengan kita menikah, saya bisa ngelepas kamu dari Mas Adi tanpa menyakiti mereka?" Hartadi mendapat anggukan dari Velo, dia pun menyingkir dari hadapan perempuan itu agar mengistirahatkan punggungnya di badan mobil.
Ponsel disaku celananya bergetar menandakan panggilan masuk, tapi Hartadi abaikan hingga getaran itu menghilang. Hartadi menebak jam makan siang sudah habis, mungkin orang kantor yang memerlukannya sedang kebat-kebit karena pemimpin Cabang tidak ada di ruangannya.
Hartadi bersungut-sungut mendengar Kakaknya kepincut anak tirinya sendiri. "Bukan jabatannya aja yang pakai maen belakang ya, Vel? Ketololannya yang itu pun di presentasikan ke hal yang lebih tolol."
***
(HARTADI POV)
Saya anggap Pak Har adalah kunci kehidupan saya...
__ADS_1
Shiiit!!!
Gue bangun dari posisi gue yang tadinya tiduran di kasur. Gue bener-bener nggak bisa tidur barang sejam pun. Kepala sama tengkuk gue mulai kerasa berat.
Dengan mengalirnya cerita yang nggak mengenakan dari Velo, Gue jadi ngerasa nasih perempuan itu sudah dibebankan ke pundak gue. Walaupun tadi siang, Velo hanya menjadikan gue teman bercerita yang sepertinya memang dibutuhkan Velo sejak lama.
Kok bisa perempuan itu cerita kayak nggak ada beban sama sekali padahal masalahnya sangat berat. Dia sangat tegar meskipun tadi sempat gue lihat sekilas sengat kepedihan tercermin dari matanya dandengan bodohnya gyesih aja keingetan sama dia sampai detik ini.
Gue beranjak dari tempat tidur lalu jalan ke dapur sekedar mengambil minum untuk membasahi kerongkongan gue yang kering.
Ya... memang seberapa tegar Velo yang tampil di depan gue, tetep aja dia pasti di gembleng habis-habisan untuk dapat bertahan disekitar Mas Adi. Dan pastinya dia berakting menjadi anak perempuan sulung yang bahagia, sementara Velo yang di balik layar harus gigit jari karena dicintai dengan tidak benar oleh suami Ibunya.
"Mikir, Har, mikir... Pakai otak baik-baik!" gue berusaha menyadarkan diri dan berfikir cepat apa yang harus gue lakukan selanjutnya.
Ddrrrrttt...
Gue liat Handphone gue yang gue simpen diatas meja makan bergetar. Gue lirik sekilas layar handphone gue dan melihat sederet nomor yang nggak gue kenal sebelumnya.
Siapa yang ngehubungin nomor pribadi gue selarut ini?
Gue putuskan buat jawab panggilan itu tanpa menjawabnya. Dan ternyata diseberangnya pun ikut terdiam selama lima belas menit. Sampai akhirnya dengusan malas terdengar dari seberang dan dengan jelas gue mengenali suara itu. Dan sudah jelas telepon ini diluar kebiasaan pria itu.
__ADS_1