
"Gue nggak anggap kesendirian di usia segini kekurangan. Tanpa sokongan materi dari laki-laki, buktinya sekarang bisa nyicil Audi R8 Coupe 5.2 V10 Plus kesayangan gue tuh sampe lunas. Sekaligus bikin sekretaris genitnya pak Ammar ngiri." Pada hari itu Velo sesumbar pada kedua sahabatnya saat makan siang di Z Center.
Status anak sulung perempuan dari keluarga terpandang, sama sekali tak menyurutkan kemauannya mencari rupiah atas jeri payahnya sendiri.
Velo memulai debut karirnya sampai hari ini sebagai sekretaris direksi. Bisa dibilang berat, bisa juga tidak. Tergantung bagaimana pribadi serta dibamika sang atasan dalam bekerja. Dua sahabat yang menghabiskan waktu makan siang bersamanya pun menjabat sekretaris di satu perusahaan transshipment batu bara dengannya. Pertemuan mereka pertama kali adalah lima tahun lalu yang berujung terbentuknya persahabatan solid.
Prinsip Velo menggariskan batas hubungan antara atasan (Yang telah menikah) dengan sekretarisnya (Yang masih sendiri maupun tidak), menjadi alasan utama mengapa Aruna dan Livia merasa cocok bersahabat dengan perempuan itu. mereka mengedepankan profesionalisme, dibanding mencari untung melalui tebar pesona pada sang atasan. Sementara itu, Velo dan kedua sahabatnya itu menemukan kecocokan yang tak berpusat pada dunia kerja saja. Namun hal-hal mendasar sebuah persahabatan, alias satu frekuensi.
"Gini ya, hidup mana bisa lepas dari cobaan. Tapi, ngejalanin hidup tetep harus rileks. Supaya lo nggak perlu botox sebelum umur lima puluh. Minimal infuse whiteninglah ya biar kinclong luar dalam. Atau sering-sering salmon DNA buat pertahanin wajah glowing lo." jelas Velo selagi mengikat rambutnya tinggi jadi satu. Matahari memang tidak langsung menyengat, tetapi bagian luar Z Center cukup terasa panas. Sebab itu dia enggan menggerai rambut.
"Ck... kampret! Dua bulan lalu gue baru botox, Vel!" sengit Livia sambil menghadiahi jitakan pelan ke kepala Velove. "Tapi gue setuju sama lo sih. Biar nyokap gue nyap-nyap urusan merit, gue bingung jelasinnya gimana kalau belum ada kandidat yang siap diajak komitmen. Yah, berusaha santai dulu deh, nikmatin hasil kerja."
Livia
__ADS_1
Aruna
Aruna menampakkan wajah masam mendengar pembahasan makan siang kali ini, semasam wajahnya setiap mencicipi americano. "Laki-laki sekarang kalo nggak digertak urusan serius apa enggak, mereka diem-diem aja tuh. Kayaknya nungguin kita yang ngelamar mereka duluan. Ck... Gila apa ya?"
"Makanya sekarang peempuan harus lebih tegas, Run. Bukan masanya yang diem manut dan nunggu kepastian, ujung-ujungnya ditinggal nikah dengan dalih 'Aku bukan yang terbaik buat kamu', cih!" Velo membalas enteng. Bibirnya mencibir kala mengingat pria yang satu ini, ia tidak setuju jika seorang perempuan ditinggalkan untuk alasan yang tidak bisa divalidasi kebenarannya.
Sementara Livia meletakkan sebotol face mist yang beberapa detik lalu disemprotkan ke wajahnya, kemudian mepirik ke arah Velo yang tengah menyelipkan sebatang rokok pada bibirnya. Memang perempuan itu akan merokok setelah selesai makan, terkadang membunuh waktu senggang di dekat air mancur The Tower Almeda. Para sahabatnya itu sudah tidak heran jika Velo sudah memisahkan diri dari mereka barang sebentar.
Velo kerap bergabung dengan koloni 'perokok' yang terdiri dari karyawan Almeda Group. Yang Livia paling hapal dari perempuan itu, Velo akan selalu menyemprotkan parfum favoritnya untuk menyamarkan bau asap rokok. Langkahnya bibir Velo tidak menggelap seperti mayoritas perokok lain. Velo pernah membagi tips bahwa perempuan rajin mengeksfoliasi kulit bibir, juga memulas pelembab bibir setiap malam.
"Jelas." Velo menempatkan rokok di pinggiran asbak, sikunya berada di atas meja dengan tangan menopang dagu. Ia menuturkan kejujuran, tidak berniat hanya di mulut saja. "Gue nggak mau meninggikan gengsi, tapi dapet apesnya doang. Kalo laki-laki itu single dan sesuai list suami impian gue, nunggu apa lagi? Gue langsung 'Gas' pastinya."
"Hah... Vel, Vel.... kadang lo tuh ada manis-manisnya, kadang ada gilanya juga." Gerutu Aruna tak bisa ditahan-tahan, mengingat perempuan itu yang paling pemalu dan tidak mencoba dominan seperti Velo.
__ADS_1
"Gue senengnya sih taktik klise dulu. Tarik ulur Val, biar target semakin penasaran. Kalo main maju... Nggak punya nyali." Livia menimpali.
"Konteksnya beda dong, Liv." tepis Velo menggunakan nada lembut yang khusus dipergunakannya untuk menggoda Aruna. "Belum tentu laki-laki pilihan gue ini punya rasa yang sama. Gimana mau main tarik ulur? Yang ada tar gue disangka main-main lagi."
"Iya juga, ya?" Livia dan Aruna berfikir sambil mengusap pelipis bersamaan secara tidak sadar. "Tapi selama ini kan orang bilang, biarin laki-laki yang mengejar perempuan. Dipandang dan dibilang apa kalau kita ini kaum perempuan, tapi ngebet duluan?"
"Ck... Itulah pemikiran kuno dari para orang tua jaman dulu... Lagian apalah pandangan dan omongan orang dibanding kesuksesan hidup kita sendiri? Sukses orang macem-macem Run, Liv... Sukses di karir, sukses punya anak atau sukses cari suami yang potensial." jelas, komentar Velove tidak sepemikiran dengan Aruna. Dia mengambil rokoknya kembali dan tersenyum kepada kedua sahabatnya. "Ya... Selagi laki-laki yang kita kejar ini bukan millik wanita lain, jangan sampai mata dan mulut orang lain buat kita down. Hidup kita untuk kita, bukan nyenengin orang lain."
Livia sengaja menghembuskan napasnya secara kasar. " Ya... Contoh kecil aja, profesi kita ini sering banget kan dilabel negatif. Cowok di kantor aja lebih seneng deketin cewek admin. Gue yakin mereka itu nyangka kita ini maunya sama laki-laki berduit. Faktanya, yang gue taksir malah anaknya si boss. Bukan si bossnya."
"Nggak masalah. Asal lo ga naksir bapaknya, gue lasir surport seratus persen." Velo menghembuskan asap rokok melalui bibirnya yang terlapisi Fenty Beauty Gloss Bomb. Matanya menyapu ke sekitar, memandang meja-meja yang terisi tamu sembari berfikir. "Bentar lagi kan kantor ngadain gathering, nggak ada salahnya lo join. Siapa tau ketemu anaknya di acara itu. Coba ajakin ngobrol, ya... tipis-tipis aja dulu."
Livia tidak mengiyakan saran Velo, namun perempuan itu berhasil membuat Velo tertawa pelan sebab ekspresinya menampakan rasa malu dan ragu secara bersamaan. "Gue masih ragu anaknya boss single atau nggak. Abisnya resek, Instagram di-private segala. Masa mau liat di Linkedin? Adanya photo mirip buat KTP."
"Lo dong, Vel. Emangnya udah ada laki-laki kurang beruntung yang mau dikejar singa betina kayak lo? Sejatinya keluarga kucing-- pertama kali di deketin pejantan ribet, tapi kalo udah luluh maunya ngdusel terus." Aruna yang semula hanya menjadi pengamat, sekarang tengah memusatkan perhatiannya pada Velo.
__ADS_1
"Lagi gue pertimbangin sih orangnya. Pastinya, laki-laki yang gue kejar ini singa versi jantannya. Galak." balas Velo kalem tanpa spill the tea di depan Livia dan Aruna yang mengeluarkan desis ketidakpercayaan. Ia hanya mengedikan bahu, lalu mengingatkan Aruna mengenai hal yang kurang tepat disebutkan sahabatnya itu. "Ih, siapa bilang gue maunya ngdusel terus??"