Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Lo Uring-Uringan Disini Siapa Tau Disana Dia Diem-Diem Gelisah


__ADS_3

Warna merah Segar dan tidak norak, khas untuk meeting agar nampak lebih profesional dan menonjol. Velo tidak bermaksud untuk menarik mata kaum pria dengan warna-warna menggoda pada bibirnya, hanya sekedar penunjang penampilan.


Mau bibirnya sewarna dengan kelopak bunga yang ranum, jika kerja dan tugasnya tidak memuaskan, habislah dia sebagai sekretaris.


“Makasih sayangku…” Livia meniupkan ciuman genitnya dari seberang meja Velo. Tubuh peremouan itu semakin rileks, karena tidak perlu  khawatir harus menghadiri ShareHolder meeting dengan blouse yang dinilai minum.


“Iuuhhh… sok manis Cuma ada maunya doang lo! Biasanya pling jago ngajak berantem gue.” Sementara yang dicecar Velo hanya nyengir sambil senyum-senyum.


“Hati dan pikiran lo kenapa korslet, Vel?” di luar pembahasan yang sedang berjalan, Aruna membuat Velo dan Livia sama-sama tidak bersuara dan menatap perempuan itu sejenak dengan ekspresi kurang yakin.


Velo menurunkan aplikator lip cream, lalu memasukannya ke dalam kemasannya dan memberikan atensi utuh pada Aruna. “Peka banget ya, Run?”


Aruna pun mengangguk, dia sudah mencium ada yang tidaj beres pada Velo. Perwmpuan itu selalu menghabiskan tiga sendok makan nasi putih . Tapi, hari ini satu porsi penuh dilibasnya tanpa keluhan.


“Punya hal yang bisa lo konsulin sama gue dan Livia? Siapa tau bisa bantu ngebetulin yang korslet.” Aruna tersenyum geli dengan penggunaan kata ‘korslet’. Velo ini kadang ada saja caranya untuk menyampaikan sesuatu.


“Punya sih…” ucap Velo menggigit bibirnya mulai resah. Menimbang beberapa saat, tapi Velo akhirnya buka suara mengenai seseorang. “Belakangan ini gue lagi deket sama laki-laki…”


“Pasti ada hubungannya sama cuti misterius lo itu.” Tembak Livia tak mau menunggu Velo menghabiskan kalimat yang sudah terangkai dalam kepala.


Dan alhasil, Velo mendengus kesal kearah Livia. Ya, semalam Velo hanya berguling-guling diatas ranjangnya. Dia sesekali harus menggelengkan kepala, mengubur ingatan singkat tentang seberapa nyaman berada di sisi pria itu dengan wangi khas yang maskulin. Dalam keremangan di dalam mobil khas malam, di pinggir warteg yang menghidupkan lagu romantis berbahasa jawa.


Situasi sederhana, tapi mengacaukan jam tidurnya ketika sampai di Apartment.

__ADS_1


Seumur-umur mengenal Hartadi, dia sudah pernah sekali berciuman dengan pria itu. Sekian titik pada tubuhnya sempat disentuh, bahkan sempat naik ke atas pangkuan Hartadi. Namun, Hartadi versi kemarin sungguh mengancam ketenangan Velo.


Hubungan mereka belum terekspose di depan keluarga, belum mencapai ‘trial’ pernikahan, tetapi kegelisahan tiba-tiba menyergap tanpa diundang. Bagaimana kalau dia yang lebih dulu jatuh cinta pada pria yang jelas sulit jatuh cinta seperti Hartadi? Gumam Velo menyuarakan resah dalm batin.


Sedari awal Velo tau dengan benar konsekuensi dari mengejar pria yang tidak mencintai, dan dia pun sudah berjanji akan menghadapinya, namun siapa sangka pikiran dan perasaan tidak dapat dikendalikan. Sekarang saja mereka belum jadi apa-apa, tapi Velo mulai dapat menakar porsi Hartadi untuknya nanti sebesar apa. Sesungguhnya dia jadi takut.


“Ck… asli lo nyebelin!” Komentar Velo pada akhirnya pada Livia karena terlanjur kesal. “Gue lagi pengen ngaku lagi penjajakan. Tapi emang dasar Livia, omongan gue malah dipotong-potong. Jadi nggak nafsu ah, gue males ngelanjutinnya.”


“Uuuuhhh cup cup cup… jangan cepet ngambek dong Velove L Williams, eh salah Velove Bratadikara, ntar cepet tua loh…” Bujuk Livia sambil  cengengesan lalu melirik Aruna yang masih duduk kalem seakan minta tolong sahabatnya itu.


“Lanjutin ya, Vel? Gue mau tau siapa laki-laki yang lagi deket sama lo. Di usia sekarang… Gue malah lebihbtua dari lo. Gue seneng deh denger berita-berita baik dari lo, nggak melulu soal diskusi kalau kejombloan kita ini ‘biasa aja’.” Kata Aruna melobi.


“Nggak bisa dibilang berita baik juga, Run...” Velo menuruti Aruna, maka dari itu dia lepaskan lebih dulu cepolan rambutnya yang sudah longgar dan sekilas merapihkan helaiannya.


“Bingung apanya?” Livia ikut menyahut sambil mengerutkan kening.


Velo terdiam, kali ini mencari kata-kata yang tepat untuk mewakili berbagai pertanyaan yang ada dalam kepalanya. “Sebelumnya, gue minta maaf karena kesannyabsembunyi-sembunyi dari kalian. Gue nggak mau berekspetasi ketinggian sama laki-laki ini, makanya gue lebih nutup diri untuk cerita.”


“Gue lagi dalam posisi ngejar laki-laki yang nggak naruh sayang ke gue. Di luar sifat aslinya, dia baik dan peduli sama gue tanpa seujung kuku pun minta sesuatu. Emang, gue dan dia sekarang punya komitmen yang serius. Tapi, lama-lama gue bingung mengartikan sikap baiknya dia.”


“Setiap orang punya privasinya sendiri, sekalipun sahabat. Pasti akan ada waktunya orang itu cari orang lain untuk sekedar ngebagi kegundahannya. Ya… persis kayak lo sekarang.” Aruna meringkas penuturan Velo. “Berarti, lo lagi di tahap bertanya-tanya, apa laki-laki ini mulai tertarik atau suka sama lo kan?”


Menangkap anggukan Velo, Aruna kembali dengan opininya. “Kalau pendapat gue, komitmen kalian yang ngebuat dia ngerasa harus di posisi menghargai lo dengan bersikap baik. Sorry to say ya Vel, walaupun nggak ada sayang-sayangnya.”

__ADS_1


“Oh gini deh,” Livia ikut bersuara. “contoh ngawurnya kayak di zaman sekolah, nggak tega ngejutekin orang yang sekelompok sama kita. Mana isi kelompoknya Cuma dua orang lagi. Syarat tugas selesai, ya harus mau kerjasama dan ngebangun hubungan baik.”


Velo menahan agar wajahnya tidak terlihat ekspresi apa-apa, dan dia memang termasuk ahlinya dalam bidang ini. Sedangkan, hati dan otaknya sedang mencerna setiap pandangan para sahabatnya mengenai sikap Hartadi.


Seringnya, Velo hanya seorang diri ketika mengupas kebimbangannya atas masalah percintaan… Wait Cinta? Velo langsung meringis, namun kali ini entah kenapa dia membutuhkan sudut pandang orang lain.


 “Satu lagi,” Aruna menyipitkan mata. Di ambilnya waktu untuk menekuni wajah dan keseluruhan perempuan di sampingnya, yaitu Velo. “Soal tertarik atau nggak, gue skio kasih opini. Lo tuh nggak biasa, Vel. Jalan di pinggiran trotoar aja pasti banyak yang ngelirik. Gue nggak yakin su laki-laki ini imun beneran sama lo.”


“Ketertarikan fisik mungkin-mungkin aja. Tapi, lebih dari itu, gue rasa masih jauh perjalanannya.” Menyadari waktu maian siang belum habis, Velo mengeluarkan sebatang rokok sebagai jimatnya selesai makan. “Gue sendiri juga nggak bisa bilang udah suka atau sayang sama dia.”


“Gue ngerasa terbiasa aja sama dia. Saking dulunya kita selalu barengan. Gue juga tau karakter dia kayak gimana, sampe kotornya dia kayak apa? Pokoknya gue tau tektek bengeknya dia kayak gimana.” Ucap Velo sambil memainkan rokok di tangannya.


“Cuma kalo konteks hubungan udah geser ke yang lebih intens, pelan tapi pasti gue kayak dikasih real-nya dia begitu aja. Lo berdua ngerti nggak sih maksud gue? Singkatnya, apa yang perempuan lihat dari dulu dan yang gue nggak liat. And Now?” Velo menunjuk dirinya sendiri. “Gue mulai ngeliat semuanya.”


“Jangan ngerasa sendirian dulu, Vel. Lo uring-uringan di sini siapa tau di sana dia diem-diem gelisah.” Ucap Livia sambil mengulas senyum penuh arti. “Mungkin dia juga di sana ngerasain hal yang beda kayak perubahan magic diantara kalian gitu. Lagian lo nggak bisa ngukur-ngukur dari luar aja. Pancing dong?”


“Nggak kebayang banget!”




__ADS_1


__ADS_2