Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Kisah Ayah


__ADS_3

Pemulihan intens fraktura tertutup yang Velo alami akibat kecelakaan kemarin berjalan baik. Hasil pertemuan kedua dengan dokter Frans adalah yang Velo harapkan. Gips yang menemani hari-harinya sampai tadi pagi telah ditanggalkan. Perban elastis menggantikan tugas gips sebagai bentuk tahap pemulihan ke tingkat yang semakin baik. Membuat Velo mudah menggerakkan kaki.


Rencana bukan sekedar janji.


Setelah makan siang, Hartadi mengajaknya berangkat ke apartmen demi menambah jumlah pakaian di lemari kamarnya saat ini. Boleh dibilang dirinya tidak sabar, senjata wajah mulusnya harus diungsikan ke rumah Hartadi. Dia tidak boleh menjeda skincare nya lebih lama, sebab dia hanya memakai perawatan wajah apa adanya sejak tinggal di sana.


“Layar handphone aku emang bandel. Nyentuh icon aplikasi apa, yang keluar apa. Tapi Mas, mau tau nggak alesan aslinya aku ngejauhin handphone apa?” senyuman Velo terlukis miris.


Sejujurnya, Velo sedang benci berlama-lama menggunakan handphone. Pesan sang Ibu memprovokasi sisi ‘Overthingking nya’ yang jarang sekali terusik.


“Apa alesan kamu?” sambar Hartadi terbilang tenang. Tidak melalui nada menuntut, sebab dia sudah menggenggam jawaban Velo. Tapi mendengarkan langsung dari mulut perempuan itu sekedar bonus untuk memastikan kebenarannya.


“Isi chat Mamih yang minta aku pulang terus. Aku sih nggak nyangkal, Mamih bener-bener kepikiran. Makanya, aku ngejauhin hape dulu.” Jelas Velo sambil menatap ke arah luar kaca mobil. “Aku kesannya kayak perempuan nggak bener yang ngebet sama kamu. Langkah yang aku pilih sekarang, udah salah diartiin sama Mamih. Tapi, aku nggak bisa ngebela diri sendiri. Aku kehabisan akal buat bohong.”


“Hah... Vel, nggak ada yang minta kamu bohong ke Mbak Asri.” Ucap Hartadi sambil melirik sekilas ke arah Velo. Inginnya sih menatap ekspresi perempuan itu, tapi sayangnya dia sedang menyetir dan jalanan saat itu sedang ramai. “Bilang aja, kamu nggak nyaman tinggal di sana dan pasti cerita sebabnya apa di waktu yang tepat. Mbak Asri mungkin bingung, tapi aku ngerasa Mamih kamu nggak bakal nuntut pulang lagi dengan alasan itu.”

__ADS_1


“Mhh... Beresiko banget.” Velo menggeleng enggan untuk mengikuti arahan Hartadi. “Suami istri kan sering curhat, Mas. Kalau Mamih nyampein apa yang aku omongin soal nggak nyaman di rumah itu ke Papih gimana? Papih bisa nyari cara aku dipaksa serumah lagi.”


Hartadi luput dari pemikiran itu. Memperkuat pegangan pada stir mobil, otaknya mencari cara terbaik untuk menenangkan hati Asri. Dia menurunkan tuas lampu sen lebih dulu, lalu mengutarakan niatnya pada Velo.


“Sore ini aku hubungin Mbak Asri. Aku mau minta ketemu—“ ucapnya menjeda.


“Ibu telepon, Vel.” Telunjuk kiri Hartadi langsung menunjuk layar head unit mobil. Fitur Apple CarPlay mobil yang sedang tersambung dengan Handphone baru Velo, membuat nama pemanggil tertera jelas. “Angkat. Rileks aja suara kamu.”


“Angkat nih?” Velo menimang handphone nya dalam genggaman. Diliriknya Hartadi yang tampak heran mendengar kebimbangannya. Dia tersenyum tipis mengingat percakapannya bersama ibu Hartadi dua hari lalu. “Eyang Putri ngajak aku ikut reuni. Ada cucu temennya yang mau beliau kenalin ke aku. Dua minggu lagi sih, tapi semangatnya udah dari sekarang.”


Dua tangan Velo saling bertaut dengan handphone. Dia membiarkan telepon dari sang nenek berlalu tanpa diindahkan. Karena, gumam yang sadar atau tidak Hartadi suarakan menyita debar hatinya lebih dari yang diinginkan.


***


“Ayah dulu punya tiga ruko yang disewain dan jadi penghasilan keluarga waktu itu. Dan mereka ngerasa tiga ruko cukup untuk ngebiayain pengobatan stroke dan penuhin hidup sehari-hari. Jadi, nggak ada istilah sakit ngebebanin keluarga. Apalagi riwayat keluarga Ayah yang ga tau ada dimana, keluarga Ibu juga ngga ada” Velo menghidupkan pendingin ruangan kamarnya. “Mamih ngejual semua semua ruko setelah aku umur sembilan belas. Hasilnya buat aku semua.”

__ADS_1


“Kamu jadikan modal untuk beli apartment ini kan?” Hartadi menyusul dari belakang Velo, menyambar remote AC dari tangan perempuan itu. Meminta Velo berlalu menuju Wardrobe, dia mengembalikan remote tersebut pada tempatnya sembari menyapu pandangan ke sekitar. “Sembilan belas sampai dua puluh tahunan, masa-masa eksplor minat dan banyakin bergaul. Sementara, kamu sibuk mikirin cara keluar rumah.”


Tiga kali Hartadi menginjak Apartment Velo. Awalnya dia ingin menunggu di ruang televisi saja, mempersilahkan Velo dengan leluasa mengemasi barang yang dibutuhkan selama pemulihan di rumahnya. Sebenarnya bagi Hartadi tidak akan segan mengekori Velo ke kamar, hanya saha dia sadar diri kamar adalah ruang pribadi. Namun alih-alih mengiakan, Velo justru mengundangnya masuk ke dalam. Velo pun menambahkan, jika mungkin saja perempuan itu memerlukan bantuan Hartadi.


Semakin mengamati, semakin menumpuk pula pertanyaan dalam kepala. Pada kesempatan ini, Hartadi menghalangi keingintahuannya tenggelam. Sebab itu, pembahasan mereka bermuara pada asal mula Velo membeli unit Apartment itu merengkuh ketenangan. Wajar kalau Hartadi termakan rasa penasaran. Velo kerap menekankan bahwa dia tidak pernah lagi menyentuh uang-uang yang Adiputra kirimkan ketika telah bergelar karyawan tetap.


Hartadi tau berapa rata-rata gaji sekretaris. Rasanya, pintar mensiasati pemasukan dan pengeluaran bila gaji sekretaris dapat membeli apartment berfasilitas mewah, serta furnitur yang lengkap. Hartadi tidak berasumsi picik. Tidak terpikir sumber dana Apartment Velo yang harganya tidak semurah mobil LCGC, hasil membodohi pria-pria beristri yang mulai sering dibicarakan Haris.


“Iya, hasil jualin ruko dipakai beli apartment ini. Untungnya sih lokasi ruko termasuk strategis. Mamih bilang kalau tiga ruko itu cepet dibeli orang, keuntungannya juga lumayan banget. Aku nangis pas ditunjukin buku tabungan yang jumlahnya sekitar satu miliar.” Velo bukan menciptakan kisah dramatis, tapi itu memang yang terjadi padanya di masa silam. “Aku nggak kalap pakai uang itu untuk ngehibur diri yang nggak nentu. Diotak aku saat itu Cuma satu yaitu beli apartment dan hidup mandiri.”


“Mba Asri pengen ruko Papih kamu sebagai hak waris anak. Yah, Mas Adi memang ngebawa roda perekonomian kalian lebih baik. Mungkin itu juga yang ngegerakin Mbak Asri ngejual ruko, daripada sekedar disewain aja.” Ucap Hartadi sambil memperhatikan Velo yang berhenti sejenak, menatap lembut ke arahnya. Kepala perempuan itu lalu mengangguk, bukti bahwa itu benar. “Secara nggak sadar, Mba Asri bantu kamu ngejauh dari Mas Adi. Ada jalan dari setiap masalah, Vel.”


Velo mengukir senyum, menyetujui ucapan Hartadi. Kala ibunya menyerahkan buku tabungan, meyakinkan bila uang sebanyak itu miliknya, laju air mata tidak kuasa dia kendalikan. Masih bersih dalam ingatan seberapa gemetar tangannya memegangi buku tabungan dengan nominal yang bisa mewujudkan ‘impiannya’. Velo tidak kuat berbicara banyak, hanya sekali mengucapkan terima kasih atas keikhlasan ibunya. Dia ditolong, tanpa harus memohon.


Velo mengalah atas perasaan risau yang menggerogoti hari-harinya, jika dia terus memaksakan diri sebagai anak baik yang hidup berdekatan dengan keluarga seakan baik-baik saja. Tanpa berdiskusi dengan siapa pun, Velo memutari Jakarta demi menemukan apartment yang cocok untuknya. Mencari berbagai referensi hunian, hingga selesai mengantongi akta jual beli. Sisanya, dia perbesar keberanian untuk menyampaikan di depan sang ibu tentang rencananya angkat kaki.

__ADS_1


__ADS_2