
“Sst!! Halo, Pak?” Velo menerima telepon Hartadi di tengah kerja otaknya yang menebak tujuan pria itu, karena mereka tidak berkomunikasi sejak perpisahan kemarin.
“Vel, kamu udah mandi dan wangi?” sambar Hartadi mengebaikan etika menelepon seseorang. Memang Hartadi ini tidak punya keinginan untuk berbasa-basi.
Velo terbiasa dengan tabiat itu, tapi kadang sebal juga. Suara berat Hartadi pun tidak ada yang berubah sejak terakhir mendengarnya, namun Velo pikir suara Hartadi kali ini terdengar segar. Menandakan pria itu telah beristirahat yang cukup. Artinya Hartadi tidak menganggap komitmen mereka beban lagi kan?
Sepanjang waktu yang mereka habiskan di Samarinda, di dalam pesawat, sampai Jakarta— Hartadi termasuk partner yang kooperatif. Sering kali mereka terlibat adu argumen mengenai suatu hal akibat cara berfikir dan cara pandang berlainan, namun kematangan mereka membuktikan itu tak menjadi sumber pertengkaran besar. Entah Velo yang pertama mengalah, berikutnya Hartadi yang menahan ego.
“Kenapa emanganya harus udah mandi dan wangi?” Velo enggan memberi jawaban secepat kilat, dia tidak menggubris Daniah yang melemparkan protes tanpa suara.
Harus ada mahal-mahalnya sedikitlah, pikir Velo.
“Saya di depan pintu kamu. Kalau kamu belum mandi dan wangi, saya tinggal pulang. Cinderella aja bangun pagi. Apa jam segini cucunya Wening Bratadikara masih pakai piyama dan masih kusut?” terdengar sinis dan menusuk, khas Hartadi sekali.
Hartadi tidak pernah bercanda, sepertinya ikut menghindari Kecelakaan kecil yang sempat terjadi di antara mereka. Di saat Velo lupa mengenakan kembali bra nya Yang selalu dia lepas saat tidur. Maka itu, Hartadi mungkin memastikan Velo sudah siap menerima tamu sebelum di bukakan pintu.
Oohhh rupanya dia sedang bertindak menjadi gentleman sejati.
Selagi turun dari kursi Velo tidak dapat menahan gelombang tawanya, sebab Hartadi melindungi diri agar tidak dituduh mencuri start lagi. “Saya udah mandi dan wangi, Pak. Mana mungkin weekend masih rebahan di kasur? Saya harus ngeberesin apartemen, ketujuh anak kurcaci bongsor nginep disini tadi malem.”
“Hm, mereka tadi malem Nggak pulang?” Hartadi sekilas bergumam. “Sebenernya, calon suami kamu harus putar otak supaya bisa akur sama mereka. Buka pusing mikirin ancaman Mas Adi.”
Hartadi sudah menduga ketujuh anak kembar itu akan tinggal dan menguasai kakaknya. Meskipun jarak usia kakak beradik itu cukup jauh, tapi nyatanya tidak mengurangi kedekatan mereka. Hartadi masih ingat, Adiputra memiliki anak-anak kembar itu saat Velove berusia sebelas tahun.
__ADS_1
Pernah sekali Hartadi berkunjung ke rumah sakit pada saat si kembar tujuh lahir, dia melihat Velo kerap menunggu di depan ruangan bayi yang berkaca berukuran besar meskipun tirai masih tertutup. Sekarang ini mereka bertujuh sangat perhatian dan melindungi kakaknya, tapi Si kembar tujuh itu Tidak tau siapa yang harus diwaspadai.
Velo sudah sampai di belakang pintu, dia menarik handle dan kedua matanya terserap pada Hartadi—Ck… kenapa harus sekeren ini sih? Pria empat puluh lima tahun, namun penampilannya dapat mengalahkan para pria yang lebih muda.
“Oh iya, melanjutkan omongan tadi harusnya Bapak yang bergerak mengakrabkan diri sama adik-adik saya biar akur kan?” sambung Velo dengan intonasi menyebalkan, berusaha menahan kedutan di kedua sudut bibirnya.
“Kamu berusaha bilang saya ‘calon suami’ kamu ya, Vel?” tembak Hartadi tanpa keraguan, lalu melangkah maju dan mencapit hidung Velo pesis yang sudah-sudah.
“Ini si Bapak?”
Hartadi memelankan langkahnya memasuki apartement Velo, indra pendengarannya menangkap suara bariton pria yang anehnya seakan di perlembut dan mendayu-dayu. Matanya mengedar sekeliling, dia kontan menyipit tajam menemukan seorang pria duduk di kitchen bar.
Velo muncul dari belakang Hartadi, tanpa sadar memegang lengan pria itu selagi membenarkan tebakan Daniah. “Iya, ini si Bapak. Jangan ngerengek minta photonya lagi, sekarang kan udah liat langsung.”
“Ck… Pelit banget lo, Bebz.” Cebik Daniah menerima kejudesan Velo, namun tak menggeser atensinya dari Hartadi dan bersikap malu-malu karena menyadari pria itu terus memperhatikannya. “Neng, laki lo mandangin gue loh… Gue takut si Bapak terperangkap keindahan ini. Tutupin matanya dong, Bebz.”
“Dan, boleh mulutnya dijaga dulu?” Velo menekan setiap katanya dan memberi kedipan mata beberapa kali, dengan kata lain menyuruh Daniah tidak mengeluarkan kalimat-kalimat ajaibnya.
Hartadi melirik ke samping melalui bahu, sementara Velo yang setinggi bahunya tersebut lantas mendongak dan sebelah alis Hartadi terangkat. “Siapa, Vel?”
“Dia teman saya, tapi merangkap admin untuk usaha yang pernah saya ceritain ke Bapak, inget?” Velo mengulurkan tangannya ke depan, membuat gestur agar Hartadi segera masuk dan tak perlu sungkan di tempat pribadinya. “Masuk, Pak. Si kembar udah pulang dari pagi.”
__ADS_1
“Saya inget usaha sampingan kamu, tapi kenapa dia tau saya?” lirikan Hartadi datar saja, tetapi sindiran Hartadi berikutnya sukses membuat Velo salah tingkah. “Apa aja sih yang kamu umbar-umbar ke orang lain tentang saya? Nggak salahkan saya mau Denger juga?”
Hartadi tidak lagi menahan kakinya untuk lebih dalam memasuki apartement yang entah sejak kapan dihuni oleh Velo. Warna putih mendominasi setiap sudutnya. Sebelum berangkat ke Jakarta, Hartadi sempat mengira Velo masih tinggal serumah dengan keluarganya, tetapi keputusan mandiri ternyata sudah di tempuh oleh perempuan itu.
Di belakang Hartadi, Velo menyusul pria itu usai memastikan pintu terkunci dan memgambil sekian detik waktunya untuk mengusir rasa malu. Velo mendengar cekikikan Daniah yang nampaknya cukup menikmati interaksinya, jika Velo tau pria itu akan datang, Daniah sudah dipastikan disuruhnya pulang dari tadi.
“Siapa yang ngumbar, Pak? Kayaknya Bapak terlalu percaya diri.” Velo merasa kedua belah pipinya memanas, Di tengah rasa malu yang masih mendera, sebisa mungkin Velo tidak salah bersikap. “Daniah tau Bapak, karena dia…”
Daniah yang berada di kursinya pun menghadiahi pelototan ngeri. Tidak yakin apakah atasannya itu telah siap mengungkapkan kenangan lalu, bagaimana Daniah bisa menjadi teman Velo dan mengetahui profil Hartadi.
Sedangkan, Daniah yang hina ini hanya seorang pengamen jalanan sebelum mengenal Velo.
Velo lantas memejamkan mata dan mengoreksi kalimatnya sendiri. “Karena, Daniah nggak sengaja denger saya keceplosan sebut nama Bapak sebelum berangkat ke Samarinda.”
“Vel, saya tau kamu nggak jujur.” Hartadi tidak terdengar mengintimidasi, pria itu berjalan ringan mendekati sofa kulit yang menghadap layar tv ukuran enam puluh inchi dan meminta Velo duduk di sampingnya.
Velo dan Daniah saling bertukar pandangan sejenak, namun Velo memutuskan tidak melempar kode apapun dan bergabung dengan Hartadi di ruang televisinya.
Duduk disamping Hartadi, Velo tak gentar diamati pria itu yang seolah menunggu dirinya untuk jujur. Pikiran Velo hanya sedang menimbang-nimbang, haruskan dia menceritakan perihal malam itu?
Hartadi tak sabar mengulik kejanggalan dari penjelasan Velo. “Saya nggak yakin kamu Semudah itu keceplosan di depan orang lain. Ada alasan yang lebih meyakinkan saya?”
Hartadi menyatukan kedua jemarinya diatas lutut, dia memutuskan tidak mendesak dan menilik wajah gelisah pria bernama Daniah. Amat berbeda dari wajah tenang Velo, meskipun perempuan itu belum bersuara sejak mereka duduk berdampingan.
__ADS_1
Ada alasan mengapa Hartadi yakin Velo tak akan asal membeberkan siapa dirinya Pada orang lain. Velo bukan tipikal perempuan ceroboh yang gampang mempercayai seseorang. Pembuktian paling serius, Velo mampu mengunci mulut mengenai kebusukan Adiputra selama sekian tahun.