
“Wah… wah… wah…” decak berisik dari arah depan membuat Velo untuk mengangkat kepalanya.
Melihat seseorang berjalan ke arahnya disertai wajah tengil dan aura player yang menyebalkan, Velo menyambutnya hanya dengan lipatan kedua tangannya di depan dada.
“Tumben ke sini?”
“Eyang Putri ngabarin gue kalau Mas Har dateng ke sini. Dan gue nggak boleh absen buat nemuin dia kalo gitu. Gimana ya Vel, hobi aja gitu ngilmu sama Mas Har.” Jelas Arow Bratadikara. Cucu pertama laki-laki yang memegang peranan penting dalam sebidang usaha keluarga mereka.
“Mas Har diminta ikut ke rumah kaca dari tadi. Rekan Eyang ada yang dateng.” Jawab velo tidak mengeluh saat Arow ikut duduk berhimpitan dengannya di kursi pendopo. “Cih… Direktur minumannya Bir kalengan? Nol persen pula?”
Arow merangkul Velo dengan sebelah tangannya, dia perlihatkan bir kalengan di tangannya pada sepupunya itu sambil berdecak gemas. “Gini deh, kalau ditanya jujur, gue anti minum yang nol persen, sekarang sih karena tuntutan aja, alias terpaksa.”
“Rekening mulai jebol karena kemarukan ‘Mainan’ baru lo?” Velo menyipitkan mata saat Arow menggeleng sombong, kini dia ganti dengan lirikan menghakimi. “Lo investasi tapi nggak konsultasi dulu, terus uangnya dibawa lari ya? Berapa banyak kerugiannya, Ar?”
“No, No…” tampik Arow dengan intonasi mendayu-dayu. “Isi rekening, deposit, dan uang di celengan ayam jago gue masih aman. Gue minum bir kalengan bukan di pengaruhi persoalan uang kok. Harta gue masih banyak, Vel.”
“Ya udah, alasan lo minum bir kalengan yang nggak sampai lima puluh ribu apa dong?” tuntut Velo sambil melepaskan dasi yang tergantung rendah di kerah Arow, sepertinya pria itu hanya melonggarkannya tanpa benar-benar dilepas.
Velo memang kurang suka melihat pria yang berpakaian kurang rapi, Velo membenarkan kerah sepupunya. Dilipatnya dasi yang sudah terlepas, lalu dia sumpal ke dalam saku Arow tanpa diprotes pria itu sendiri.
Velo dan Arow adalah sepasang sepupu dengan hubungan yang sangat akrab sejak mereka kanak-kanak. Mereka hampir sebaya, masih satu frekuensi, dan akhirnya sering bersama ketika keluarga besar menggelar acara.
“Gue masih muda, masih pengen hidup, biarpun jadi budak korporat keluarga.” Ucap Arow memandang langit sambil menghembuskan napas. Tampaknya tersiksa, namun Velo tahu itu hanya bagian dari karakter Arow.
__ADS_1
“Berani minum alkohol di depan Eyang, gue pasti digantung di pohon sawit. Hidup gue pasti berakhir tragis. Lo nggak bisa liat ketampanan gue lagi, Vel. Rugi kan?” Arow menolehkan kepala ke arah Velo, wajahnya nelangsa.
Velo menangkup wajah Arow, mengamati pria yang umurnya dua tahun lebih muda darinya tersebut sambil dibarengi senyuman miris. “Struktur muka lo bukan tipe kesukaan gue, jadi tolong ya. Gue nggak ada rugi-ruginya sama sekali kalau nggak liat ketampanan lo lagi.”
“Vel,”
Velo mengerut dalam, sebab Arow mengerjap-ngerjapkan matanya dan sebuah kerutan kecil muncul di tengah kedua alis pria itu. “Lo kelilipan?”
“Ck, bukan kelilipan PA! Gue lagi mandangin lo nih. Cakep banget sih, udah move on dari Dandy belum? Jangan ikut perjodohan Eyang Putri lagi. Mana enak sih jalan sama good boy?” Cerocos Arow tanpa henti, dengan genit pria itu menyenggol bahu Velo.
“Gue harus nyari bad boy? Buat apa?” Cibir Velo sambil menurunkan tangannya dari Arow. “Gue pernah menjalani hubungan sama kedua-duanya, Ar. Semuanya punya level, nggak ada yang paling sempurna.”
Arow mengusap pelipis, tengah mengusahakan diri memahami Velo. “Bentar Vel, berhubung lo pernah ngejalanin hubungan dengan dua-duanya, lo maunya yang mana? Harus pilih satu dong.”
Velo memutar bola matanya jengah. “Tujuannya apa kasih tau pilihan gue di depan lo?”
“Cih, gue beneran loh, siapa tau ada temen gue yang pas pencarian juga. Dapet pasangan baru bisa bisa dari link siapa aja loh, jangan salah” tutur Arow sebagai orang yang berpengalaman dalam urusan kencan. Dia letakan kaleng bir yang sudah kosong di lantai pendopo.
“Gue mau yang di tengah-tengah, bisa jadi good boy dan bisa jadi bad boy. Tergantung situasi dan kebutuhan. Kepintaran kamuflase ini yang jadi nilai plus.” Velo melancarkan deskripsinya di luar kepala.
Velo memang tidak asal bicara, Velo memang medeskripsikan seseorang yang patut mengisi posisi ditengah pria baik dan kurang baik, dan ada pria yang dia kenal, membuktikan padanya jika dalam suatu waktu pria itu dapat menjadi dua yang bersebrangan.
Pembuktian tersebut dilakukan oleh Hartadi. Di depan keluarga Dermawan, Hartadi menyuguhkan dirinya yang tanpa cela, dan sangat positif menanggapi putri mereka. Tapi pada Sania, Hartadi menggertak perempuan itu melalui perubahan tingkahnya menjadi amoral.
__ADS_1
“Ck… Jelas langka!” dengus Arow sambil menepuk-nepuk bahu Velo yang dirangkulnya. “Tapi nggak menutup kemungkinan di sekitar lo atau gue ada sih laki-laki bunglon kayak gitu. Catatannya Cuma harus jeli, banyak-banyakin ngobrol dan bergaul biar terdeteksi.”
“Ada kok di sekitar kita,” jawab Velo dengan santai. Namun dia menggaduh saat Arow bergeser dan meraih kedua bahunya dengan gerakan yang mengejutkan, “Aduh lo ngapain sih?”
“Sebenernya lo masih single apa nggak? Kok hati gue bilang lo udah ada yang punya?” selidik Arow tidak mau mengalah melepaskan Velo. Dia curiga sepupunya sudah punya pacar tapi masih mau main kucing-kucingan.
“Arow!” ucap seseorang sambil menepuk punggung Arow.
Tidak hanya Arow yang terperanjat dan memutar tubuhnya ke belakang. Velo pun tanpa sadar telah mengikuti pergerakan sepupunya dan menemukan Hartadi tengah berdiri di sana. Velo pun melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda kehadiran kakek neneknya.
Fokusnya mengarah kembali, membingkai sosok Hartadi. Velo tidak tau apakah pria itu sempat diberi kesempatan berdua dengan Sania untuk mempelajari kecocokan satu sama lain. Bagaimanapun kedua keluarga punya harapan mereka dapat klip dan serasi.
“Halo, Mas. Aku sengaja datang kesini buat diskusi nih.” Ucap Arow seakan lupa dengan pertanyaan menggebu-gebunya pada Velo. Tangan Arow terlepas dari kedua bahu Velo begitu saja, hal itu tidak luput dari tatapan awas Hartadi.
“Ada yang mau aku bahas sama Mas, tapi kalau Mas sempet aja. Takutnya Mas mau singgah ke tempat lain malem ini. Aku nggak berani ngambil waktu bebasnya Mas” lanjut Arow kepada Hartadi yang mengambil tempat dihadapannya dan Velo.
Ada tawa yang terselip saat menggoda Hartadi. Namun Arow tidak tau kalau perjalanan malam Hartadi sudah diberhentikan sejak dia berkenan menerima komitmen serius dengan Velo. Perempuan itu memintanya bersih dari semua parasit yang menempel di hidup pria itu.
Hartadi menumpangkan satu kakinya ke atas pahanya. Dia pun menatap Velo, satu alisnya terangkat sekilas bertujuan untuk menyapa tanpa kata dan kembali menaruh perhatian pada Arow.
“Yang mau kamu bahas ke Mas itu perihal Velo masih single tau belum ya, Ar? Tadi Mas denger kamu lagi interogasi dia.”
“Nggak kok, Mas.” Arow langsung terkekeh, lalu melirik sekilas ke arah Velo. “Aku tadi lagi kepoin Velo aja. Velo cakep banget kan, Mas? Makanya, pengen tau dia udah move on dari mantannya apa belum. Penasaran aja, masa kualitas begini dianggurin? Kan bisa aku kenalin ke temen-temen yang potensial.”
“Ck… Gue nggak minta dicariin pacar ya, bawel!” ucap Velo sambil mencubit lengan Arow karena sudah banyak bicara dan tidak seorang pun menutup pria itu.
__ADS_1