Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Permainan Semakin Keji


__ADS_3

Sesekali Hartadi mencuri kesempatan mengawasi Velo yang dikelilingi orangtuanya. Hasutan Adiputra tidak berhenti mempengaruhi Asri, itu artinya Velo akan terpojok oleh permintaan Ibunya. Telepon ini harus segera dia putuskan, agar bisa bergabung kembali dengan perempuan itu.


“Gini aja, hari ini paling efektif lo pulangkan karyawan. Adakan WFH selama dua hari.”


“Dari pada muncul desas-desus nggak jelas nanti, lo buat surat perintah berkop dan e-mail blast ke seluruh cabang. Intinya, area kantor Samarinda harus dikosongkan dulu selama pemeriksaan.” Jelas Hartadi sambil menurunkan tangannya dari pinggang. “Persetujuan gue udah lo dapet. Tugas lo berikutnya Bim, tolong sebar yang tadi biar semua tahu kondisi di Samarinda seperti apa.”


“Siap, Pak. Gue laksanakan sekarang.” Sahutan setuju dikemukakak oleh Bima tanpa keraguan.


Pusat atensinya terjebak pada Velo, karena itu Hartadi menyandarkan punggung dan meluruskan tubuhnya ke titik perempuan itu berada.


“Gue percayakan ke lo. Nggak usah sungkan mikir gue lagi apa di sini. Kalau butuh persetujuan lain atau sekedar harus diskusi tentang pemeriksaan ledakan tadi, jangan tunda-tunda telepon gue.”


“Iya, Pak. Terima kasih!”


Menerima respons sigap dari Bima, Hartadi lantas mempersingkat telepon mereka. Dia sudahi percakapannya bersama penanggung jawab cabang Samarinda tersebut. Kemudian, Hartadi simpan handphone dalam satu celana dan memutar tumit menuju ranjang Velo. Berandal jika dia masih di Samarinda, orang pertama yang mendampingi pemeriksaan hingga menemukan titik terang adalah dirinya sendiri.


Hartadi mengerti banyak sekali pekerjaan yang menanti Bima san timnya di Samarinda. Sayangnya, dia tidak bisa meninggalkan Jakarta lalu angkat tangan atas diri Velo. Kini Hartadi paham betul perempuan itu menjelma bagai buntutnya sendiri. Otaknya tidak akan mau bekerjasama menciptakan kedamaian bila dia pergi ke Kalimantan, tepat di waktu Velo memulai penyembuhannya di rumah Adiputra.


“Telepon dari cabang Samarinda?” ucap Velo terkesan buru-buru mempertanyakan urusan Hartadi saat menyadari pria itu telah mendekat. Kerut di tengah sepasang halis ayah tirinya jelas menunjukan skeptic, mungkin dia begitu terdengar khawatir. Namun enggan menggubris, fokusnya berpatokan pada Hartadi seorang saja.


Lega membanjiri Velo begitu Hartadi selesai menerima telepon kemudian kembali menemaninya. Sedari tadi telingannya seolah berdenging menerima hasutan dari kedua orangtuanya untuk pulang ke rumah mereka. Iya, rumah mereka, bukan rumahnya. Dia tidak bisa menyebut penjara itu dengan konotasi hangat—rumah.

__ADS_1


“Maestra yang telepon. Kasih kabar ada ledakan di cabang Samarinda.” Hartadi menyadari wajah pias Velo. Entah sebab mendengar berita darinya, atau keadaan yang membuat perempuan itu cukup tertekan. “Seharusnya tangka aman-aman aja, karena isi di dalamnya bukan bahan yang bisa meledak segitu gampangnya. Kejadian ledakan juga di luar tangka. Well, memang janggal. Mas masih nunggu kabar untuk dapat tau penyebab yang akurat.”


Pandangan Velo mengekori Hartadi yang mengisi kursi lipat di samping ranjangnya. Tempat semula Hartadi duduk sebelum dering handphone memaksa pria itu beranjak ke sudut lain. “Apa makan korban?”


“Nggak ada karyawan yang jadi korban di insiden ini, tapi Royal WCS harus berbenah supaya nggak terulang lagi. Anggap aja teguran untuk Mas lebih berhati-hati.” Hartadi berucap tenang, tetapi intonasinya terbilang tajam menekankan kata ‘terguran’. Selepas mengukir senyum yang menunjukan bahwa dia baik-baik saja pada Velo, kepalanya berpaling ke arah sang kakak. Dia lihat pria itu sudah gatal ingin bicara.



“Istilahnya, kamu ini kan pendiri cabang Samarinda. Kamu nggak punya niat nengokin hasil kerja kerasmu itu? Ledakan di area penyimpangan nggak main-main loh. Aset jual beli perusahaan kamu tersimpan di situ, berton-ton minyak yang harganya milyaran.” Ujar Adiputra menguji adik bungsunya. Dia tahu bagaimana perangai temperamental Hartadi di saat-saat tertentu dan siapa yang pria itu hadapi. Tingkat komedinya, belum apa-apa dia sudah disoroti bagai musuh.



Dan otomatis Velo tergerak menghadap Ayah tirinya. Menatap pria itu lekat, bisa-bisanya nama Lintang disinggung tanpa beban. Dia tidak membutuhkan pakar ekspresi untuk mengetahui seberapa kesal Ayah tirinya sekarang. Tidak mengherankan baginya kalau Adiputra berharap Hartadi enyah dari Jakarta. Penghalang pria itu bergerak bebas dapat berkurang.


Tapi, tampaknya Hartadi menyikapi ledakan di kantornya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa untuk pergi. Hendak Velo timpali perkataan Ayah tirinya agar tidak menyinggung nama Lintang, nyatanya sang Ibu mendahuluinya. Raut sungkan membayangi wajah Ibunya. Dia menyadari Ibunya menyentuh tangan Ayah tirinya, sdeakan mengingatkan pria itu agar tidak mengundang perselisihan.


“Mas, kamu jangan bawa-bawa nama Lintang dong.” Bisik Asri hati-hati pada suaminya.


Selain belum tahu apakah nama tersebut masih berefek besar bagi Hartadi, dia pun memikirkan perasaan putrinya yang sedang menjalin hubungan dengan pria itu. Walaupun tidak didasari cinta, siapa pun pasti tidak akan senang disandingkan dengan mantan.


“Mas, Mas…” selepas mendengus geram, Hartadi melipat kedua tangan di depan dada kala memandang kakak keduanya.

__ADS_1


Sirat puas yang sengaja disombongkan Adiputra hilang saat tidak mau menemukan tanda-tanda dia angkat kaki, kemudian wajah pria itu berganti dipenuhi kemarahan dan siap menantang. Alhasil, Adiputra menyeret nama Lintang untuk membuatnya panas.


“Kamu pengen aku pergi dari sini? Ngomong depan muka aku, Mas. Segini keberanian anggota dewan? Aku kecewa cara kamu ngusir aku pakai sindir-sindiran macam anak SD.”


Ok… satu hal yang sudah Hartadi pahami dari insiden Royal WCS Samarinda. Bahwa permainan yang disuguhkan kakaknya semakin keji. Tidak buruk juga kalau dia ikut-ikutan berlakon antagonis. Sebab, dirinya benci diinjak seolah tidak punya kuasa dan harga diri. Perusahaannya dijadikan tumbal untuk rasa haus kakaknya yang tidak mampu terpenuhi. Malang memang nasibnya.


Lihat saja siapa yang sudah termakan emosi. Hartadi terpanggil memperhatikan kedua tangan kakaknya yang mengepal erat. Rahang Adiputra mengetat, dia menyadari kakaknya terlanjur berang dikatai seperti anak SD. Dari kemarahan ini saja sudah terlihat siapa yang berbuat, namun hasil ternyata mengkhianati harapan. Hartadi kenal siapa Adiputra Bratadikara. Pria licik yang pandai berstrategi dan juga penjilat ulung.


Duduk kian santai, Hartadi yakin siapa dalang di balik ledakan area tangka Royal WCS Samarinda.


***


“Jujur, Har. Tujuanmu apa deket-deket Velo?! Adiputra tiba-tiba melempar pertanyaan bernada kasar. Mukanya harus terselamatkan di depan sang istri. “Aku memang nggak kamu suka di sini. Bagus kalau kamu sadar aku usir! Mengharap apa sih kamu dari Velo? Kalau kamu naksir anak Mas, nggak bakal kamu dapetin ijin. Kamu nggak layak buat Velo.”


Hartadi berdecak mendengar kalimat klasik yang dikemukakak Adiputra. “Atas dasar apa kamu langsung simpulin aku nggak layak—“


“Pih, kenapa?”


Velo memotong pelan ucapan Hartadi. Tetapi ketegasannya amat kental, hal itu sepertinya disadari mereka yang langsung terdiam. Semua orang menjadikannya sentral pandangan. Sirat bertanya sontak dilayangkan Hartadi. Hanya dia beri tarikan bibir sepekian detik upayanya membalas pria itu.


Tidak ada yang coba menginterupsi, karenanya Velo kembali bicara pada Adiputra. Dengan berani, dia menatap sang Ayah dan kalimat demi kalimat meluap dari hatinya yang tersakiti.

__ADS_1


__ADS_2