
Kadang kala, hati kecil memiliki peranan tersendiri untuk menentukan apakah manusia sedang baik-baik saja atau dirundung gelisah.
Walaupun hasutan logika sudah dibiarkan menguasai, bila memang hati kecil dalam puncak kegetiran, rasanya tetap tidak akan mencapai titik ketenangan. Itulah yang kerap mengusik Velo belakangan ini, tidurnya tidak menemukan lelap.
Terhitung sudah lima hari seatap dengan Hartadi, Velo terus terbangun diiringi pandangan menerawang setiap jam dua malam.
Dia tidak yakin ini sejenis insomnia atau bukan. Bisa dikatakan kini yang terparah, sebab memejamkan mata pun menjadi sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan itu. Bukan kedatangan Parnita tempo hari yang memicu perdebatan batin sehingga sulit membuatnya terlelap, namun teleponnya yang selalu sang ibu alihkan.
Velo terbebani berbagai macam asumsi, meski sejujurnya tidak ingin begitu. Memang, ibunya sempat memahami hubungannya bersama Hartadi. Memberi dukungan pula di depan Adiputra, tetapi, jika situasi abu-abu ini terus berjalan, bisa saja Papih tirinya menanamkan doktrin tertentu. Bukan berprasangka buruk, tetapi dia kenal siapa Adiputra Bratadikara.
Menggapai handphone yang sengaja disisipkannya ke sisi bantal, Velo termenung sejenak mematangkan keyakinan bahwa adiknya dapat diandalkan untuk menggenggam sedikit informasi. Sekilas bibir Velo tersenyum miris, LCD handphone nya tidak responsif lagi dan garis-garis retak menghias di sana. Inilah bukti betapa besar ‘kasih sayang’ papih tirinya.
“Dia pasti belum tidur.” Ucapnya lalu menghubungi salah satu adik kembarnya. Dan sangat berharap Bara masih terjaga.
“Kak, ini beneran kamu yang telepon aku?” ucap Bara kaget dari seberang sana.
“Iya, ini kakak.” Velo mengusap kening ketika pusing mulai datang. “Kamu di rumah?”
__ADS_1
“Kabur ke mana sih sekarang? Aku mah di rumah aja. Main aman, daripada vertigo Mamih makin parah karena mikirin kelakuanku di luar.” Bara tidak bermaksud menyindir kakaknya, memang kelakuannya saja yang kerap bikin sang Mamih ketar-ketir.
“aku cepet-cepet ke balkon nih, tadi aku di ruang tv bareng Binad sama Biyan, males aja kalo mereka nguping, lagian tumben-tumbenan sih mereka jam segini belum tidur, biasanya udah tidur... males banget kalo mereka ikut nguping, rewelnya persis anak tetangga."
“Vertigo Mamih kambuh lagi? Diambilin resep yang biasa nggak? Apa Kakak teleponin aja dokternya mamih? Nafsu makan Mamih gimana?” ucap Velo menggigit bibir bawahnya dilanda kekhawatiran.
Rasa bersalahnya semakin besar. Kemana perginya hati nurani saat dia bertingkah seperti nyonya rumah di sini, sementara sang Mamih mengalami tekanan berkat dirinya?
Oh, jadi begini ya konsekuensi bila mendahulukan kenyamanan diri sendiri.
“Cie, penasaran banget?” Bara terkikik menenggapi segelintir pertanyaan Velo yang dilemparkan padanya tanpa jeda. Mengingat perangai sang Mamih ketika menghadapi kebiasaan unik Velo, dia bertanya-tanya siapa yang kini bersikap pasif. Terkadang kakaknya, kadang juga Mamihnya pun bisa memulai mode senyap.
“Bar, Kakak nggak musuhan sama Mamih. Kamu apaan sih?” cibir Velo. Matanya meredup, dia benar-benar mencemaskan ibunya. “Kakak beneran pengen tau gimana kondisi Mamih.”
Kenyamanan ini bagai dua mata pisau. Velo merengkuh rasa nyaman dengan memilih rumah Hartadi, terlindungi dari dunia luar yang tidak segan melukainya. Tapi, di sisi lain, dia seakan jauh dari keluarganya.
Realistis saja, manusia akan terus dihadapkan pada pilihan demi pilihan selama masih bernapas. Berusaha ikhlas menjalani konsekuensi diabaikan ibunya, Velo tetap akan mendatangi Hartadi bila menemukan masalah yang serupa. Kediaman ibunya bukanlah tempat dia ‘pulang’.
__ADS_1
“Resep Mamih udah diambilin kok. Mamih minum rutin sesuai anjuran, tapi obat vertigo kayaknya nggak bakal mempan kalo kamu nggak pulang. Sebenernya, aku nggak kaget waktu Papih mencak-mencak nggak jelas. Mamih juga murungnya keterlaluan. Jelas kamu pergi nggak bilang-bilang lagi. Nggak tau deh yang keberapa kali hal begini terulang.” Ujar Bara mengingat hari ketika rumahnya dipayungi ketegangan. Bukan penggemar rahasia, alhasil cerita mengenai ‘hari itu’ mengalir dari mulut Bara.
Dilandasi pemikiran logis dan dewasa, Bara merasa sudah sepantasnya Velo mengetahui keadaan kacau yang dipicu kepergian perempuan itu. Ayah mereka mendadak murka dan mencaci satpam di kediaman mereka, anehnya turut mencetuskan nama seseorang.
“Kamu sempet denger kalo Papih nyalahin Mamih?” Bara terdiam beberapa saat.
“Ada sih, Kak. Papih bilang gara-gara Mamih ngebolehin kamu dianterin sama Om Har semuanya jadi nggak sesuai rencana. Mamih nggak ngelak sama sekali.” Dan sesuai yang diprediksinya, Adiputra menyalahkan sang istri untuk sesuatu yang murni kesalahan dari perempuan itu seorang.
“sering-sering bikin Mamih senyum ya, Dek?! Kakak percaya kamu bisa. Kamu kan paling pinter ngerayu dan ngebanyol, paket komplit.”
“Ck, ngemban tugas lagi!” Bara tidak menahan diri untuk mengeluh, tapi tidak mengingkari permintaan kakaknya untuk berusaha menghidupkan senyum sang ibu. “Gini ya Kak, dari dulu aku nggak mau ngeribetin kamu sama keingintahuanku. Kamu kabur dan ngilang beberapa hari—aku nyari, nungguin kabar kamu, tapi buat ngulik-ngulik alesannya? Wuih, enggak deh.”
“Kamu nggak bakal telepon misalkan aku sekritis yang lainnya apalagi Binad dan Biyan. Bener kan?” semacam treatment khusus harus Bara lancarkan, demi menguatkan hubungan kakak beradik mereka. Dia selalu mengikuti arus yang diciptakan kakaknya. “Kamu kenal baik adik-adikmu, Kak. Nggak mungkin mereka apalagi Binad dan Biyan bisa setenang aku pas terima telepon kamu. Mereka jelas bakal nanya macem-macem, makanya kamu milih aku buat nanyain kabar Papih dan Mamih. Udah bener kok, aku nggak minat kepoin kamu. Tapi...”
“Masalahnya, Om Har kesebut-sebut terus. coba aku cocoklogi— kamu minggat sama dia, ya? Emangnya kalian punya hubungan selain keluarga? Papih kayak nggak suka banget. Aku denger Papih ngumpat Om Har setiap telepponnya di reject. Aku nggak minta penjelasan detail, tapi baiknya kamu kasih aku clue biar aku nggak salah nempatin diri.” Ucap Bara melembut. “Aku nggak mau ada kubu-kubuan dalam keluarga kita. Aku sayang kalian sama rata. Males ah kalau diminta pilih kasih.”
‘aku sayang kalian sama rata.’ Ini, adalah ungkapan sayang seperti ini yang membentengi limit kesabaran Velo. Dia jelas tertatih-tatih mengamankan diri, namun hasilnya sang Ibu dan si kembar tak harus menghadapi perpecahan keluarga. Mereka adalah kunci mulutnya memendam sendiri segala kekhilafan Adiputra.
__ADS_1
“Iya, Kakak punya hubungan sama Mas Har selain tali keluarga kita. Papih dan Mamih juga udah denger dari mulut Kakak sendiri. Tolong, sementara kamu simpen sendiri berita ini.” Velo berani mengakui. “Papih emang kurang suka kalau Kakak dan Mas Har bareng. Tapi, kamu nggak perlu ikut ambil suara Cuma pengen bantuin Kakak. Biarin Kakak dan Mas Har yang nyelesein, itu tugas kami. Tugas kamu nyenengin Mamih.”
Kejujuran pada Bara tidak menyeret lembar permasalahan baru. Velo mempercayai adiknya.