
"Kenapa nggak diangkat aja sih? Ngerasa kurang privasi ya, karena ada saya di sini? Saya nggak keberatan kok kalo harus pake headset." Velo agak gondok sama sikap Hartadi, sebab membiarkan handphonenya terus berdering.
Hartadi melirik Velo yang duduk disampingnya, lalu berganti pada handphone yang dia genggam dan menampilkan panggilan FaceTime. "Dibiarin aja sampai mati sendiri. Saya nggak suka yang melanggar kesepakatan sampai video call saya di FaceTime. Norak."
"Norak? Siapa sih?" Velo awalnya tidak mengerti siapa yang menjadi pembahasan Hartadi tersebut, namun ia menemukan jawabannya saat memperhatikan layar handphone Hartadi. "Waah, apa sekalian saya yang angkat?"
"Angkat aja, paling perang mulut sama kamu. And I bet you win." Hartadi tak tahan untuk menarik sudut bibirnya. Jelas dirinya terheran-heran karena Velo nampak antusias di beri kesempatan untuk menerima FaceTime dari 'mantan teman tidur' yang di putuskannya kemarin.
Hartadi menyerahkan handphone miliknya ke tangan Velo dengan santai. "Semangat banget kamu, Vel."
"Saya semangat karena penasaran. Selera Bapak kira-kira masih sama nggak? Wajah dan postur cewek yang sering mampir ke kantor dulu itu semuanya setipe." Velo mengerling secara menyebalkan pada Hartadi. "Saya paling suka Nilam. Muka polosnya bener-bener menipu. Duh, rawit banget deh cewek satu itu."
Hartadi mengangkat tangan dan memberikan applause tanpa respek. "Saya terkesan sama kemampuan super kamu. Sayangnya, saya nggak inget lagi Nilam yang mana dan wajahnya kayak gimana. Blank aja di ingatan saya."
"Semakin lama kamu ngajak berantem saya, semakin lama handphone saya bunyi. Angkat dan selesaikan pake cara kamu. Saya mau liat pawang saya beraksi." Hartadi menunjuk handphonenya menggunakan telunjuk. "Ayo,Vel."
"Nantangin saya kayaknya hobi baru Bapak, ya?" Velo menimbang handphone Hartadi. "Tapi nggak apa-apa, saya seneng dapet tugas pertama jadi pawang Bapak buat basmi peliharaannya Bapak. Saran saya, jangan lagi pelihara cewek buat tidur. Bapak kasih hati, yang mereka minta jantung. Bikin rugi."
"Saya nggak pernah kasih mereka harapan dan materi. Semua temen tidur saya bekerja, karena saya berhati-hati dan picky. Bagian mana yang kamu nilai rugi, sementara saya ambil keuntungan juga dari mereka?" Serang Hartadi tanpa filter, tidak memperdulikan sopir keluarga Bratadikara yang menjadi pendengar debat spontannya bersama Velo.
Velo menggelengkan kepalanya tak habis pikir, pria memang diciptakan dengan logika yang lebih unggul. "Atas dasar apa mereka mau jadi temen tidur Bapak? Bersepakat cuma memenuhi nafsu, lepas stress, dan kalian get laid? Buat saya omong kosong. Perempuan dipupuk pakai sentuhan terlalu sering, ujung-ujungnya timbul rasa sayang."
__ADS_1
"Dan, FaceTime ini saya ibaratkan bukti. Mungkin beberapa temen tidur Bapak berusaha legowo, karena mereka takut sama Bapak. Tapi, satu dari mereka bisa luar biasa keras kepala perjuangin status komitmen kalian. Nggak merasa rugi direcokin?" ucap Velo tidak berapi-api, suaranya terkontrol baik dan tenang.
"Saya nggak merasa rugi karena saya nggak peduli." Hartadi berucap disaat rahangnya mengetat tak ingin memenangkan emosi, karena ini hari pertama dia dan Velo mendarat di Jakarta. "Apa harus kita adu mulut lagi, Velo? mendingan kamu angkat FaceTime yang jadi sumber keributan kita."
Velo sempat melirik punggung sopir yang berada di kursi depan begitu tegang dan nampak menahan napas. Jujur saja sesungguhnya tidak seru memutus perdebatan dengan Hartadi, tetapi Velo harus mengalah jika tidak mengharapkan sopir mereka pingsan saat mengemudi.
"Fine." putus Velo cepat. "Hal yang saya ributin tadi bukan suka-suka saya nyinyirin Bapak. Circle saya menormalisasi hubungan dengan benefit, jadi saya paham hubungan begitu kadang susah dilepas sampai tuntas. Pihak laki-laki cenderung bodo amat, tapi pihak perempuan nggak semuanya bisa."
"Saya bukan dari circle kamu yang sulit melepas hubungan dengan benefit. Saya menghargai temen tidur saya, tapi keteguhan saya nggak bisa diganggu dan dipengaruhi. Sekali putus, ya putus. Saya mana ngurusin lagi." Hartadi cukup perfeksionis dalam bisnis dan pekerjaan, namun komitmen dengan teman tidur dibentuk mudah dan tegas.
"Iya, iya..." Velo mengulas tipis, menyadari wajah gelap Hartadi. "Saya gregetan aja liat Bapak dikejar-kejar lewat handphone gini. Kita ngobrol udah berapa menit coba? Liat deh Pak, dia masih video call Bapak."
"Terserah kamu mau diangkat apa nggak sekarang," ketus Hartadi sembari mengeluarkan Ipad berlapis leather case hitam dari tasnya, dia ingin mencari kesibukan saja daripada meladeni Velo.
Maestra Suseno
"Cakep, orang Jakarta udah online."
Hartadi Bratadikara
"Anti bolos, boss."
__ADS_1
Velo bergeser lebih dekat, karena keseriusan di mata Hartadi hanya bentuk rasa jengkel yang pria itu sembunyikan. "Kayaknya saya peduli ke Pak Har itu hal yang nggak perlu. Well, saya mau konsen ke FaceTime ini aja. Kasian daritadi nunggu dijawab."
Hartadi memandang layar Ipad, namun dia tidak abai pada setiap kalimat yang dikeluarkan Velo. Apa benar perempuan itu membuat Hartadi pusing atas pembahasan teman tidur merugikan, karena alasan peduli kepadanya? Tak tahulah, Hartadi enggan memikirkannya lagi.
"Saya angkat, ya?" Velo tetap meminta izin Hartadi sebelum menerima panggilan FaceTime tersebut, walaupun tidak mendapat balasan dari Hartadi yang bungkam tetapi mungkin menyimak.
Layar ponsel Hartadi telah dipenuhi paras yang penampilan paripurna dari seorang perempuan. Dari garis wajahnya, Velo dapat menerka perempuan itu tak seusianya dan sepertinya di atas Velo. Perempuan itu tengah membulatkan mata terkejut menemukan wajah Velo, sedangkan wajah yang dicari dan dirindukannya tak tampak seinci pun.
Velo tidak membiarkan dirinya berbalas tatap dengan Hartadi. Velo sadar seratus persen kembali menarik perhatian pria itu, namun tugasnya kali ini memutus rantai Hartadi dari mantan teman tidur yang gigih menanti kabar. Atau secara eksplisit, kesempatan bersama lagi dipelukan ranjang Hartadi.
"Hai, cari Mas Har?" Velo mengulas wajahnya seramah mungkin sampai perempuan itu kelihatan kalut dan bingung dihadapkan dengannya.
"Nggak biasanya Mas Har terima video call dari FaceTime, makanya aku yang angkat. Mbak siapa ya? Nomornya nggak kesimpen di kotak nih."
Saking tidak percaya ada yang mampu menguasai handphone pria yang diharapkannya, perempuan itu hanya menatap lekat Velo. Gerak bibir yang ingin bicara panjang lebar itu penuh keraguan. Dan, pada akhirnya tak ada satu pun kata yang bisa diucapkan.
Tidak ada tanda-tanda perempuan itu menjawabnya, Velo memutuskan ini kesempatan unjuk gigi yang kedua kali. “Alangkah baiknya, perempuan asing seperti kamu nggak usah hubungin Mas Har lagi. Nomor aja nggak disimpen, apalagi kenangan?”
“K-kamu siapa?” Tanya perempuan itu mengusahakan diri, tidak sanggup menyimpan rasa penasaran yang bersarang dalam kepala.
“Kamu nanya aku siapa?” Velo mengudarakan tawa merdunya, kemudian memberi tepukan lembut sekian detik diatas lutut Hartadi dengan natural. “Mas Har, ini orang lucu banget loh. Aku yang pertama nanya dia siapa, sekarang dia yang nanya aku siapa. Harus aku kasih tau nggak? Ah, tapi nanti aku nyakitin hati anak orang lagi.”
__ADS_1
Hartadi kehilangan minat melihat layar iPad. Dengan kesadaran penuh Hartadi matikan benda tersebut sampai layar menghitam. Kegiatan yang Hartadi pilih kemudian tentu tak biasa dia lakukan, mengawasi Velo yang duduk begitu dekat bersamanya di kursi belakang Mercedes Benz G-Class.