
Velo menunggu ketujuh adik kembarnya itu berlalu dari mereka, barulah dia bergegas mendekati Hartadi dan meringis tak enak hati. “Maaf Pak, sikap Basha tadi kurang friendly daripada yang lainnya. Dia masih ngambek sama saya, karena pergi nggak bilang-bilang dan pulang nyantai banget seolah nggak ada beban.”
“Tambah ngambek lagi pergokin saya ngintilin kamu.” Hartadi menyeringai santai, diopernya Lojel milik Velo ke hadapan perempuan itu dan menjejalkan kedua tangannya ke saku celana. “ Basha emang punya feeling kuat. Tapi, Bratadikara mana yang nggak penasaran lihat kamu sama saya sedeket ini? Enam tahun kita perang dingin, Velo.”
“Perang dingin selama enam tahun itu dimulai dari Bapak.” Velo menarik koper yang Hartadi serahkan ke samping tubuhnya, agar memangkas jarak mereka. “Dari dulu sampai sekarang, saya nggak nyesel dimusuhin Bapak. Saya melakukan hal yang bener kok.”
Hartadi menggiring perlahan pinggang Velo mendekat dan beruntungnya perempuan itu menurut. Saling memandang di momen ini, Hartadi tak akan menampik lagi. Velo telah menolong masa lalunya yang penuh duri dan menghadirkan peluang kebebasan baru. Lebih tak ada otaknya lagi, Hartadi malah memusuhi dan bersikeras Velo sudah melakukan kecerobohan yang fatal.
Perpecahan Hartadi dan Velo sebagai bos dan sekretaris menjadi legenda di kantor pusat Royal WCS Company. Di balik berita simpang siur mengenai mereka, tidak ada yang benar-benar menjadi saksi kebaikan Velo untuk Hartadi. Velo hanya terkenal melahirkan skandal besar bosnya sendiri dengan seorang perempuan. Dan, titik hidup Hartadi jungkir balik sejak saat itu.
“Kamu melakukan hal yang benar.” Pendar keterkejutan membayang dari mata Velo, sedangkan Hartadi masih menjalankan jari-jarinya dan mengusap lembut bibir bawah Velo. “Jangan kapok sama saya ya, Vel?”
***
Velo bergidik memikirkan ulang percakapan terakhirnya bersama Hartadi sebelum pria itu undur diri untuk beristirahat di rumah pribadinya, tidak langsung pulang ke rumah Bratadikara senior yang berlokasi di Bintaro.
Pria itu mengusap bibir bawah Velo disertai bisikan agar dia tidak pernah kapok menghadapinya. Velo ingat betul usapan Hartadi yang seringan bulu, jadi sentuhan seringan bulu yang ditulis-tulis novelis seperti itu?
__ADS_1
“Aaaakkhhh Shitt! Vel, sadar-sadar-sadar” gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya.
Selama hampir tiga puluh tahun ditemani kelap-kelip dunia Jakarta, kenapa Velo baru sekarang merasakannya.
Boleh tidak Velo memprotes Papih tirinya, karena selalu mengecam pria yang mengajaknya kencan atau berlibur? Velo kehilangan masa. Tidak sekalipun dia mencicipi ajang ‘coba-coba’ yang biasa dilakukan remaja di masa pacaran. Dan sekarang, Hartadi yang memberi kesempatan Velo merasakan hal-hal itu?
“Ck… lancang deh, pake pegang-pegang bibir gue, tapi nggak dikasih salam tempel,” gumam Velo kembali tanpa menyaring kata-katanya, hanya asal menyuarakan isi pikirannya. Tak lama dia melebarkan mata dan mengubur wajahnya malu di atas meja kitchen bar, tidak memahami lagi apa isi pikirannya.
“Gue kok mulai kayak sekretaris Pak Amar yang genit sih? Apa ketularan gara-gara gue sering gosipin manusia yang satu itu, ya?” Velo menyingkirkan anak-anak rambut yang menempel di wajahnya ketika mengangkat kepala, lalu memandang segelas English Breakfast yang baru diseduhnya beberapa menit yang lalu.
Seorang pria kemayu bergabung dengan Velo di kitchen bar, tangan lentiknya mengusap bahu Velo amat keibuan. “Pulang bareng sama tuh laki kayaknya menggonjang-ganjing diri lo ya, Beb? Emang bentukannya kayak apa? Lo resek deh, nggak mau kasih liat ke gue tuh muka si Bapak.”
“Berapa, Bebz? Seratus juta satu ekornya?” Pria itu menunggu jawaban Velo dengan serius, kurang lebih Velo sudah memberi tahu pekerjaan dan bidang usaha yang dijalankan Hartadi.
Telapak tangan Velo berpindah ke depan dada, mengelus disana seakan menenangkan diri selagi mengingat hasil pencariannya melalui google. “Dua ratus juta sampai satu miliar.”
“Bebz, bebz…” kepala pria itu terkulai layu di bahu kiri Velo, lalu menggeleng tidak percaya jika harga kuda menyaingi harga rumah. “Sesak napas gue dengernya. Fix nih ya, lo jadi miliader! Gue ngomong begini sebelum inget siapa bokap lo, Bebz.”
Sejak tadi pagi terbangun akibat dering bel, Velo mengamini semalam merupakan tidur paling nyenyak yang pernah di milikinya. Apa rasa nyenyak itu disebabkan dia berhasil membujuk Hartadi, serta memboyong kembali pria itu ke tanah kelahiran keluarga besarnya dibarengi komitmen mereka.
__ADS_1
Velo mengalir begitu saja mengisahkan latar belakang dirinya menargetkan Hartadi. “Gue milih Pak Har, karena semua yang dia punya mampu nyaingin Papih dan ngeproteksi gue. Titel miliader tetep nggak akan ngaruh apa-apa, kalau bukan Pak Har orangnya. Dia itu anak bungsu yang terkenal pemberontak, tapi punya otak. Sesuailah buat jadi lawannya Papih.
“Terus dengan nikah sama si Bapak, beneran bisa ngelepas lo dari Bokap kan? Gue udah khusyuk nih berdoa supaya lo lancar ngebujuk dia jadi suami lo, dan untungnya sesuai harapan ya neng, lo harus happy ya, Bebz.” Pria itu dengan telaten merapihkan rambut Velo yang tergerai, kuku-kukunya dimanikur rapih dan di jari telunjuknya terdapat cingcin bermata biru.
“Gue yakin bisa lepas. Papih nggak akan main gila kalau calon suami gue adiknya sendiri, Dan.” Velo memamerkan senyumnya untuk menenangkan Daniah—nama lain dari pria itu, yang tampak cemas. “Gue udah bilang makasih belum sama lo?”
“Beuh, udah berkali-kali neng, ampe kuping gue udah bosen dengernya! Neng, manusia itu emang Udah seharusnya saling bantu, pertolongan gue nggak ada spesialnya. Lo yang lebih banyak bantu gue kali neng.” Ucap daniah sambil mengambil jarak duduk dari Velo, selagi menghapus ingatan pahit yang mendasari tali perkenalan keduanya.
“Mulai malem itu, Papih nggak nekat lagi sama gue. Dia lebih hati-hati. Keberanian dan pertolongan lo yang buat gue bisa di sini sekarang. Gue nggak kehilangan bagian dari diri gue sendiri. Maksih banyak ya, Dan.” Ujar Velo tulus sembari menatap Daniah, tak peduli pria itu membuang wajah ke arah lain.
“Bukan lo aja yang mesti makasih. Gue juga mau bilang terima kasih, lo berbaik hati angkat gue dari rakyat jelata sampai ke tempat rakyat bergaji tetap.” Daniah membasahi bibirnya yang terpoles lip balm, sejenak terdiam untuk memastikan sesuatu. “Bebz, lo udah ceritain kronologi tragedi malem itu ke si Bapak?”
“Belum, gue Cuma baru sempet bilang kalo Papih hampir ngelecehin gue, tapi nggak detail banget. Tiap inget kejadiannya, gue langsung muntah-muntah.” Velo meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, namun kondisi Mood yang luar biasa bagus. “Eh, diminum dong teh nya. Tar keburu dingin lagi.”
“Lo nggak kasih gue gula?” Gerutu Daniah malas-malasan menerima gelas teh nya. Daniah hapal bagaimana Velo menghidangkan teh English Breakfast kesukaan perempuan itu, tidak akan ada campuran gula satu sendok pun.
“Minumnya sambil ngaca dong, seinget gue lo pernah sombong, kalo muka lo semanis gula. So… Apa masih perlu gula pasir? Apa manis lo udah berkurang?” Ucap Velo sambil melemparkan senyum manis mengejek yang dibalas Daniah dengan lemparan tissue yang dibentuk bola. “Heh, nggak sopan sama bos sendiri!”
“Lo yang mancing gue buat bertindak bar-bar ya, Bebz. Gue yang pengen kalem, eh… mulut lo yang biking ngiris hati!” Daniah melempar rambut panjang imajinernya ke belakang, amat percaya diri memperlihatkan sikap anggun. Kenyataannya, rambut pria itu terpangkas pendek seperti potongan rambut pria pada umumnya.
__ADS_1
“Sst!!” Velo lantas menempatkan jari telunjuknya ke depan bibir ketika melihat layar handphonenya menandakan panggilan masuk, meminta Daniah untuk tidak merecokinya dulu karena panggilan itu adalah dari Hartadi.