
Baguslah kalau Velo mengambil waktu untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang sudah di tempa hari ini. Tidak untuk pekerjaan saja tapi kemampuan Velo mengatasi situasi selma di mobil Adiputra. Penuh ketidakpastian, kecemasan dan mungkin perasaan kalut yang Hartadi tak bisa rasakn seperti apa.
Hartadi lalu sedikit terusik kala pelipis dan kepala Velo mengenai kaca jendela setiap mobil mengerem atau bergerak lebih cepat. Namun, menatp wajah Velo dengan kondisi hubungan mereka saat ini rupanya menyentak kebuasan Hartadi. Apalagi di saat Hartadi Mangawasi bibit perempuan itu yang terpahat sensual.
Mengamati Velo begitu intens untuk beberapa lama, Hartadi tersadar ketika klakson mobil dibunyikan Mardi untuk memprotes pengendara motor yang tiba-tiba memutar arah tanpa menyalakan lampu sein. Lidah Hartadi berdecak akibat malu pada diri sendiri, tidak peduli Mardi refleks menengok ke arahnya.
“Kamu capek nggak, Mar?” tanya Hartadi teruntuk sang sopir, tetapi tubuhnya bergerak mendekati Velo dan memiringkan kepala perempuan itu ke arah kiri menjauhkan kepala perempuan dari kaca jendela.
“Aduh Pak, kok saya ditanya capek apa nggak?” Mardi mengusap belakang kepalany tak enak hati. “memangnya kenapa ya, Pak?”
“Kalau udah masuk kompleks Apartmentnya, minggir dulu deh. Cari warteg yang menurutmu bersih dan enak. Saya traktir disitu, sekalian kamu lenyeh-lenyeh ngilangin pegel setelah penyokin mobil kakak saya.” Ucap Hartadi sail melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menyimpulkan kedua tangannya di depan dada dan menghel napas. Sudah jelas, dia tidur malam ini.
“Pak, saya nggak akan di tuntut karena udah ngerusakin mobil mahal tadi, kan?” Mardi meringis takut, karena jumlah gajinya tiga bulan tidak akan cukup menutupi penggantian bamper sekelas Mercedez Benz.
Hartadi tidak heran Mardi menanyakan masalah ini, karena itu di jawabnya santai dan terdengar ketus. “Nggak lah, misalnya kakak saya berkoar penggantian biasa bengkel, saya yang bayar. Tugas kamu tetap supirin saya setiap hari kerja. Selesai.”
“Alhamdulillah.” Mardi tersenyum lega sambil melihat-lihat warteg mana yang sekirajya bisa disambangi boss besar, karena mereka sudah berada di Komplek Apartment Velo. Yang pasti warteg tersebut harus terjamin kebersihannya.
Sebuah beban tahu-tahu mengganjal di bahu Hartadi. Wangi parfume klasik segera terasa di penciumannya tatkala Velo merapat, apalagi menempelkan pipi pada lengan atasnya. Hartadi merasakan membeku yang sesungguhnya.
Boleh saja Hartadi jago di atas ranjang, namun dia akui bahwa tidak pintar dalam wujud perhatian kepada makhluk berjenis perempuan. Jadi, Hartadi terjebak oleh benaknya sendiri. Apakah harus menggeser Velo atau mengijinkan perempuan itu tidur nyenyak di bahunya?
“Pak…”
Mardi memutus kebimbangan Hartadi dengan sebuah panggilan singkat. Pria itu meminggirkan mobil di sebuah warteg bercat hijau. Dari luar nampak bersih, makanan-makanan pun tersysun rapih di atas nampan baki stainleess steel.
__ADS_1
“Mau istirahat di sini, Mar?” Hartadi hampir lupa bahunya dipinjam seorang perempuan yang tertidur nyenyak. Dia memundurkan kembali tubuhnya yang sudah siaga melihat suasana warteg dari balik jendela kaca.
“Disini aja, Pak. Kayaknya pas buat ngopi dan isi perut, tapi tempatnya nggak bikin Bapak risih.” Mardi menempatkan perseneling ke N, kemudian ke P. “Boleh, Pak?”
“Boleh. Kamu keluar aja, tapi matiin mesin mobilnya. Dan tolong, sekalian buka pintu mobil bagian saya.” Hartadi mengeluarkan dompet di dalam saku celananya dengan hati-hati agar pergerakannya tidak mengganggu Velo.
Dikeluarkannya tiga lembar seratus ribuan dan mengulurkannya pada Mardi. Sebab, sopirnya sudah menunjukkan performa yang bagus. “Bonus buat kamu, karena udah cekatan nyari jalan tikus.”
“Makasih banyak, Pak.” Mardi menerima uang tersebut dengan wajah senang. Akan digunakannya sepenuh hati. Akan digunakannya sepenuh hati.
Sang sopir berpamitan masuk ke dalam warteg usai membuka pintu mobil sebelah Hartadi sesuai dengan keinginan atasannya itu. Angin perlahan-lahan mulai masuk ke dalam mobil, menggantukan fungsi AC yang sudah dimatikan dan membuat udara tetap sejuk.
“Nah, gue ngapain?” Hartadi mengusap pelipisnya dan mendadak tolol. Sesungguhnya, dia menyuruh Mardi menepi di warteg karena tidak tega membangunkan Velo dengan cepat, pasalnya perempuan itu belum lama tertidur.
Pose tidur Velo membuat sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan maupun terbesit dalam otak terliar Hartadi, kini membakar sumbu yang dinamakan nafsu dan godaan. Melihat tidak ada segelas air minum yang dapat menyegarkan diri, haruskah dalam benaknya dia menghitung jumlah domba putih yang meloncati pagar?
Haruskan ada sesuatu yang mengalihkan fokusnya? Hartadi menggeram peln dan berbicara dengan Velo yang masih terlelap dengan cantik.
“Ck… kamu tuh ibarat monster kecil, Vel. Harusnya nggak diperhitungkan, tapi ternyata berbahaya.”
“Velo, lo kesambet?”
Kepalang greget, Livia mengajukan tanya pada seorang perempuan yang siang ini menghabiskan sepiring sambal ekstra untuk ayam penyet. Membuatnya dan Aruna tercengang, sebab seporsi ayam penyet saja sudah terlumuri sambal yang sangat pedas untuk lidah mereka.
Perwmpuan yang sedang menjadi sumber pusat perhatian kedua sahabatnya hanya mengangkat tangan dimana bumbu ayam penyet dan sambal membekas di jari-jari tangan tangannya, meminta mereka diam sebentar, lalu menyeruput es jeruk yang tinggal setengah suara heboh.
__ADS_1
“Gue laper lagi kalo ngeliat Velo makan kayak gini. Aduh, gue pesen sate kukutnya aja gitu kalo gini? Biar gue nggak ileran doang.” Aruna tersenyum kecil memandang Velo. Jujur, di sana senang setiap kali perempuan makan dengan lahap tanpa memikirkan diet mereka.
“Gue malah ngiler es jeruknya. Kenapa tadi gue pesen ea the manis sih?” ucap Livia mencebik sambil bertopang dagu.
Sedangkan orang yang dibicarakan, mulai membasuh tangannya pada semangkuk air yang berisikan jeruk nipis. Membasuh alakadarnya karena niat Velo nanti akan membasuh ulang di toilet kantor.
Makan siang pedas yang tidak memikirkan hitungan kalori ini, bukan sebab Velo karena iseng atau sekedar ngidam. Dia sedang menghilangkan galau yang tiba-tiba singgah, krena semalm dia tertidur di bahu bidang Hartadi begitu pulasnya dan pria itu dengan sabar menantinya bangun.
Wait, Sabar? Apa benar yang tadi malam adalah Hartadi? Batin Velo.
Meraih beberaa lembar tissue, Velo mengeringkan tangannya kemudian menyeka keringat yang memenuhi kening dan bawah hidungnya secara pelan nan lembut dengan tissue baru.
“Gosh, enak banget makan siang gue kali ini, pedesnya puoollll.”
“Gue pikir tadi lo kesambet, Vel. Makan pake sambel sepedes ini kok nggak kira-kira? Lo kayak orang yang lagi nyoba ngilangin stress.” Livia menggeleng takjub. “Sambelnya aja Cuma gue colek seuprit.”
“Liv, hati sama pikiran gue lagi korslet. Jadi butuh yang pedes-pedes buat ngewarasin otak gue!” ucap Velo sambil mengaduk minumannya agar rasanya merata. “By the way, heran deh gue, sambel Mak Ida kok nggak pernah biasa-biasa aja ya? Bukanya harga cengek sekarang lagi mahal ya?”
“Ck… Si somplak Ga ounya akhlak kayak gini nih! Kenapa juga otak korslet lo dihubung-hubungin ama harga cengek?” Livia berdecak sambil membenahi blousenya, tak lama dia terbelalak melihat da noda kecap di Bagian atas letaknya di depan dadanya. “ Ah, sial! Kecap gue kemana-mana lagi. Ada yang bawa baju ganti nggak? Duh, gimana dong? Mana ntar ada ShareHolder meeting lagi…”
“Lagian makan udah kayak bocah! Gue ada tuh, di mobil tapi, nanti mampir ke parkiran dulu, kebetulan juga warna blouse gue serasi sama rok lo.” Velo menyahut Sambil memakai Lip Cream mentereng.
__ADS_1