Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Istilah Sedia Payung Sebelum Hujan


__ADS_3

***


AUTHOR POV


Bagian kamar mandi Hartadi yang terletak di kamarnya menggunakan pintu dan pembatas kaca solid dengan warna hazelnut yang hangat dan maskulin.


Hartadi keluar dari sana dengan handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya, bersiul samar menuju walk in closet.


Akan tetapi, ponsel yang disimpan diatas nakas seakan menarik untuk diintip sebelum melakukan hal yang lain. Hartadi pun langsung memutar tumit untuk berjalan menghampiri nakas di samping ranjang. Dengan pincingan penasarannya akan pesan balasan dari Velo, Hartadi membuka handphonenya.


Velove Bratadikara :


Otw ke rumah Eyang. Bapak diminta ke sana ga?


Ibu :


Har, kamu udah berangkat ke rumah belum? Jangan kemalaman nanti macet.


Hartadi lalu memejamkan mata setelah menerima pesan dari Ibunya. Satu handuk lain mendiami puncak kepala Hartadi, bahkan belum sempat dia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah dan terasa lebih kasar akibat kaporit.


“Kapan Ibu minta gue ke sana?” gumam Hartadi tidak yakin telah mengabaikan permintaan sang Ibu yang meminta pulang malam ini. “Apa gue nggak sengaja clear chat?”


Walaupun mendecak lidah, Hartadi memainkan ibu jarinya dengan cepat di atas layar handphone selagi di bentuk spekulasinya sendiri.


“Nggak mungkin kumpul keluarga malam-malam dan akhir bulan pula. Tapi, Velo juga diajak Ibu…”


Hartadi Bratadikara :


Iya Bu, Har bentar lagi berangkat.


Dan mengirimi Velo pesan juga.


Hartadi Bratadikara :


Kamu dikasih tau Ibu mau ada acara apa di rumah?


Velove Bratadikara :


Katanya mau makan-makan. Cuma agak telat dateng nih Pak, ban belakang mobil saya dua-duaya kempes.


Hartadi Bratadikara :


Udah telepon bengkel langganan kamu?


Velove Bratadikara :

__ADS_1


Udah, ini lagi nungguin mereka dateng.


Hartadi Bratadikara :


Kamu dimana? Share lokasi kamu, and don’t go anywhere!


Velove Bratadikara :


Buat apa?


Hartadi Bratadikara :


Sekarang!


Tanpa berlama-lama lagi, Hartadi mengeringkan rambut dan berpakaian secara singkat. Di pilihnya kaos putih dan celana jeans beserta jam tangannya. Pakaian yang menurut Hartadi santai untuk pulang ke rumah sendiri.



Merasa sudah siap dan tidak ada lagi yang tertinggal, Hartadi mengambil acak salah satu kunci mobil yang tersusun rapih dalam sebuah laci kabinet dengan permukaan kaca. Terakhir, Hartadi menghubungi Mardi agar bersiap selagi dirinya menuju ke garasi.


Sesuai titik lokasi yang dikirimkan Velo, perempuan itu tengah melipat kedua tangan di depan dada sambil bersandar di badan mobilnya. Tidak memainkan ponsel, hanya melihat yang lalu lalang dan sepertinya bersikap waspada.


Hartadi berfikir itu sikap yang wajar mengingat kejahatan di jalanan ramai bukan sesuatu hal yang mustahil.



“Bapak ngapain ke sini?” tanya Velo heran, kenapa pria itu memilih datang kepadanya ketimbang langsung ke rumah Eyang.


“Jemput kamulah!” ucap Hartadi yang sudah berdiri depan Velo. Hartadi lalu melihat ke arah Velo dengan keseluruhan perempuan itu.


Tak menyangkal, penampilan Velo yang mahal dan sexy dapat membahayakan Velo jika tinggal lebih lama di pinggir jalan seorang diri.


“Duh… nggak perlu jemput segala. Bentar lagi juga orang bengkel dateng kok. Bapak harusnya langsung aja ke rumah Eyang!” ucap Velo sambil mengeluarkan handphone di saku rok nya.


Keuntungan lebih tinggi melebihi Velo, membuat Hartadi mudah untuk melihat siapa yang kini sedang berbalas pesan dengan perempuan itu. Sekali lihat, Hartadi mendapati kolom whatsup Velo dengan kontak yang bernama ‘Bang Eru bengkel’.


Rupanya Velo berkomunikasi kembali dengan tim bengkel yang akan menangani mobilnya. Perempuan itu mempertanyakan berapa lama lagi mereka sampai ke lokasinya.


“Vel, kasih kunci mobil kamu ke Mardi. Kamu ikut saya ke rumah. Kamu mau lebih malam sampai di sana? Akhirnya kita berdua dicariin Ibu.” Hartadi tidak tahan untuk sedikit memaksa.


Bisa datang ke lokasi Velo dengan cepat pun berkat tempat tinggalnya yang strategis.  Hartadi tidak pernah asal dalam berinvestasi, walaupun diiming-imingi harga tanah yang terjangkau untuk rata-rata Jakarta Selatan.


Velo melihat raut wajah enggan untuk mengikuti Hartadi. “Berangkatnya nggak pisah aja?!”


“Kenapa harus pisah?”

__ADS_1


“Kita berdua nggak ada yang tau kondisi di rumah Eyang kayak gimana, malam ini ada acra apa, dan kenapa tiba-tiba. Nanti kalau kita barengan, nanti bilang alasannya apa?” Velo bukan remaja yang bersembunyi saat memiliki kekasih, tapi situasi mereka sekarang membuatnya begitu.


Sedangkan Hartadi tidak merasa muda meskipun disebut-sebut awet muda, tapi sekarang dia dibuat mengurangi beberapa tahun usianya karena memainkan petak umpet bersama keponakannya.


“Jadi masih mau ngumpet-ngumpet dulu di depan keluarga?” tanya Hartadi mempertahankan kesabaran.


Kepala Velo mengangguk. “Bapak belum ketemu sama Mamih, dan Bapak bilang Papih jangan sampai tau dulu,” jelas Velo mengapa masih tidak mau ‘go public’ di depan Bratadikara.


“Saya yakin malam ini bukan kumpul keluarga, Velo. Lagian diluar kan ada pos satpam, Ibu dan Bapak saya pasti nggak akan tau kalau kita bareng.” Ucap hartadi yang tau cara Ibunya mengumpulkan keluarga besar mereka.


Sesungguhnya Velo tidak suka berlama-lama di pinggir jalan, membiarkan debu dan asap menyelubunginya.


Karena itu Velo persingkat sesi debat untuk kesekian kalinya dengan lawan abadinya.


“Bapak tau istilah sedia payung sebelum hujan kan?”


“Terus?” ucap Hartadi ketus seraya menyuruh Mardi untuk mendekat. “Sekarang kamu kasih kunci mobil itu ke Mardi, terus kamu naek aja ke mobil saya dan nggak usah bawel.”


“Ck… Bapak nggak ngerti…”


“Bukan saya nggak ngerti, asal aja kamu!” Geram Hartadi. “Soal alasan apa yang harus di pakai di depan Ibu dan Bapak nanti, biar otak saya yang kerja rodi. Biasanya juga kamu jago buat alasan. Sekarang kok nggak bisa?”


“Saya sulit bohong di depan keluarga.” Ucap Velo enteng sambil mengangkat bahu.


“Cih, bukan sulit bohong, kamu aja yang nggak tega.” Koreksi Hartadi sambil menatap Velo sinis, lalu menagih kembali satu benda yang sangat sulit dia dapatkan saat ini. “Mana kunci mobilnya?”


Dengan berat hati, Velo memberikan kunci mobil yang dia sembunyikan sejak tadi dalam tangan kirinya yang masih terlihat di dalam dada. “Ini…”


Haah… memang  harus selalu ekstra ya, berhadapan dengan orang ini, batin Hartadi dan Velo bersamaan.


***


“Kamu mau duluan?” Hartadi mendapati mobil asing terparkir di halaman rumah.


“Iya. Bapak nanti masuknya agak lamaan ya. Biarin saya cipika-cipiki dulu sama aeyang Putri.” Ucap Velo sambil menambahkan wajahnya dengan Bobbi Brown Powder Fondation.


Saat Hartadi berdecak malas, Hartadi melirik Velo yang kini berganti memulas bibir dengan warna natural mengkilap, persis kondisi bibir Velo setelah diciumnya habis-habisan. “Cipika-cipiki itu perlu berapa menit sih?”


“Jalan dari garasi ke rumah aja udah lima menit lebih, cipika-cipiki kurang dari satu menit. Mmhh… Bapak nyusul ke sana selang tujuh menit aja. Gimana?” Velo mengamati Hartadi. “Keberatan?”


Hartadi memarkirkan Ford Mustang Convortible yang menjadi koleksinya sejak lima tahun lalu di bagian kosong dalam garasi. Bangunan garasi dengan pintu sliding yang terpisah dari bangunan utama dari kediaman Triawan Bratadikara, karena itu hanya satpam di pos gerbang yang menjadi saksi bahwa dia datang bersama Velo.


 


__ADS_1


__ADS_2