Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams

Hartadi Bratadikara Vs Velove L Williams
Husband Blues


__ADS_3

“Benar, kita ke tempat ini Pak?” suara sopir mengisi keheningan, mengirimkan denting siaga ke dalam kepala Velo. Sedangkang Adiputra hanya memberi anggukkan singkat.


“Hmmm, pagar putih.”


Velo memindai rumah-rumah besar yang mereka lewati dengan cermat. Arah jalan mobil yang sejak tadi dia perhatikan dan lingkungan yang tidak asing ini membuat Velo yakin bahwa mereka ada di kemang.


Di tambah lagi tadi mereka sempat melewati McDonals pada perempatan lampu merah yang sangat dihapal Velo. Namun kegelisahan Velo semakin menjadi-jadi, karena Adiputra dan sang sopir saling memberikan kode tanpa menyebutkan secara jelas tempat yang dituju.


Dengan tegas, ditegurnya Adiputra sembari menaikan tali tasnya keatas bahu.


“Aku yakin Papih udah selesai ngomong. Sekarang bisa minggir dan turunin aku? Velo baru aja pulang kerja Pih, jangan di ajak muter-muter kelamaan.”


“Nggak mungkin Papih turunin kamu di pinggir jalan. Lagian Papih masih ada perlu sama kamu.” Elak Adiputra yang lagsung menepuk bahu sopirnya meminta sopir itu mengemudikan mobilnya dengan cepat, karena Velo sudah menunjukkan gelagat akan melawannya.


Velo tidak peduli jika Adiputra memergokinya meminta bantuan pada Hartadi. Maka dari itu, Velo dengan cepat membuka handphonenya dan menemukan pesan whats’up dari Hartadi, dikirim dengan waktu yang berbeda. Beberapa baris pesan yang dikirim pria itu membuat Velo nyatanya mampu bernapas lega.


Hartadi Bratadikara :


Oke Vel, kamu shareloc aja, kebetulan saya masih di kantor.


Hartadi Bratadikara :


Jangan panik, saya langsung nyusul.


Hartadi Bratadikara :


Saya nggak tau mobil Mas Adi yang mana, tapi saya ngikutin location kamu aja.


Hartadi Bratadikara :


Kalau bisa, kamu sebutin jenis mobil Mas Adi dan warnanya apa?


 


***


“Kamu chat siaa Vel?”

__ADS_1


Dua tahun lalu Adiputra sudah membuktikan bahwa ayah tirinya itu mampu melompati batas kewajaran. Jadi Velo nggak mau mengalah dari Adiputra, karena dia harus melindungi dirinya sendiri dengan membalas pesan Hartadi yang menjadi satu-satunya cara.


 


Velove Bratadikara :


Mercedes Benz sejenis SUV, warna hitam, seinget saya plat nomornya cantik, bukan yang biasa.


Balasan Hartadi datang begitu cepat mungkin pria itu menggunakan supir pribadinya agar lebih leluasa mengikuti dan membalas pesan darinya.


Hartadi Bratadikara :


Satu mobil di depan saya sesuai yang kamu sebutin, Vel. Saya harap itu benar mobil Mas Adi.


“Velo, Papih tanya, kamu chat siapa sekarang? Kamu nggak mau Papih berbuat kasar kan?” Adiputra geram melihat Velo berbalas pesan tanpa memperdulikan pertanyaannya, dirinya yakin Velo sedang mengabari seseorang. “Kasih handphone kau ke Papih!”


Velo menatap Adiputra sebentar kemudian berkutat lagi dengan handphonenya lagi. Jangan sampai Velo membuang kesempatan hanya untuk meladeni Adiputra yang nampak berang, karena berani-beraninya dia tidak mengacuhkan pria itu.


Velove Bratadikara :


Kalau Bapak liat ada yang buang tissue dari dalam mobil itu, berarti benar itu mobil Papih,


Velove Bratadikara :


 


Tepat sebelum Adiputra mengambil hp Velo dengan kasar, Velo sudah menghapus keseluruhan chat whats'up tersebut. Nama Hartadi tidak ada lagi dalam daftar pesan whats’up, membuat Velo yang duduk di sebelahnya menjadi lebih tenang.


Velo juga termasuk beruntung, karena dia sempat membuka group whats’up yang sedang aktip. Seolah-olah mengikuti anggota group yang berbalas pesan, bukan mengetik pesan pribadi kepada seseorang yang menjadi sumber kecurigaan Adiputra.


“Papih bukan nggak suka kamu main handphone di depan Papih, tapi kamu nggak jawab setiap Papih Tanya lagi chat siapa. Apa susahnya sih ngejawab?” Adiputra meluapkan kekesalannya.


“Maaf, Velo takut lupa mau ngetik apa kalau jawab Papih duluan.” Velo membalas kekesalan Adiputra dengan kalimat sederhana yang terdengar tidak di buat-buat.


Pria itu mulai memeriksa whats'up Velo, tetapi pertanda baik untuk rencananya. Dalam diam Velo bergerak membuka tasnya untuk mengambil selembar tissue, lalu membuat tissue tersebut menjadi bola kecil. Velo masih mengawasi Adiputra yang masih terfokus pada layar handphonenya. Di saat ‘timing’ yang tepat, Velo segera menurunkan jendela dan membuang bola tissue tersebut untuk menandakan keberadaannya pada Hartadi. Velo sadar dia sempat menahan napas ketika melakukan trik itu.


“Apa ini?” desis Adiputra menemukan notifikasi what’sup dari Hartadi, amarah mulai merambatinya. “Masmu kirim chat loh, Vel. Dia bilang ‘Halo’, singkat dan padat banget caranya ngechat kamu ya?”

__ADS_1


“Menurut kamu harus Papih hapus atau kamu nggak usah balas sama sekali? Jawab Papih.” Adiputra bertanya dengan tajam, tentunya tidak ada satupun pilihan terbaik. Karena, pria itu tidak akan mengijinkan Hartadi berhubungan dengan Velo.


Sedangkan Velo jauh lebih tenang dan mempersilahkan Adiputra sesuka hatinya menghapus pesan Hartadi, jika dengan itu Adiputra tidak terus menekannya, karena dia tahu Hartadi bersamanya meskipun dibatasi oleh kendaraan mereka.


***


HARTADI POV


“Har, lo langsung balik?”


Tepat ketika gue melangkah keluar dan menutup pintu ruangan gue, Maestra berjalan dari lorong di sebelah kanan dan mendatanginya. Gue liat penampilannya yang belum siap-siap, sepertinya dia masih ingin menetap di kantor. Di tangan Maestra, tergenggam reusable bag dari merk kopi ternama dan gue sudah yakini dia akan lembur.


“Iya, ada hal urgent yang musti dikejar,” ucap gue sesingkat mungkin, karena jujur gue lebih fokus pada pesan Velo beberapa menit lalu dan mengenyampingkan dokumen yang sebenernya masih menumpuk di atas meja kerja gue.


“Urgent?” ucap Maestra Nampak kelihatan bingung, lalu terselip senyum tersungging di bibirnya. “Ah… Mau jemput Velo pulang ngantor ya?”


Gue Cuma menghela napas sambil memutar mata kesal mendengar nada jahilnya. Pasalnya, gue tau kehadiran Velo dengan status yang nggak main-main sangat dimanfaatkan sekali oleh mereka untuk menggoda gue di setiap kesempatan.


“Hm… anggap aja gitu. Seneng kan lo denger ada yang gue jemput-jemput?” sekalian aja gue ladeni godaan Maestra, dibandingkan diam bak mati kutu, yang bukan gaya gue banget.


“Sorry Har, tapi gue emang seneng dengernya. Ngelajang enak sih, tapi punya pasangan lebih seru-seru greget kan? Percaya deh sama gue.” Maestra menyatukan telapak tangan di depan dada, mengikuti salah satu emoji hits dan gue paling benci.


Entah kenapa gue heran sama orang-orang yang suka banget ngasih emoji itu sama gue. Mungkin menurut mereka ngasih emoji itu sama gue seakan minta pengertian dan pemakluman, dan memuluskan mereka dari kesalahan? Salah besar, yang ada gue jadi semakin murka dan mencecar orang-orang itu, termasuk sahabat-sahabat gue sendiri.


“Ck… kalo punya pasangan ada seru-seru gregetnya seperti yang lo bilang, gue boleh dong nunggu undangan versi kedua lo?” ucap gue sambil gue kasih senyum jahil gue.


“Setelah gue nonton lo di pelaminan, baru gue nge-hunter lagi. Gue sekarang pengen kosong dulu, takutnya lo mengidap ‘husband blues’ dan nyungsep sendirian. Gue kan sohib lo banget, nggak mungkinlah gue biarin,” ucap Maestra manis.


“Coba sini maju dikit. Gue pengen sekali-kali ngasih lo tester rasanya digampar pakai kekuatan kaki. Lo nyadar nggak sih? Lo mulai ketularan Haris dan Resha? Mulut lo pecicilan?” gue maju sedikit sambil mengetatkan rahang kesel denger komentar Maestra.


“Weisss santai Har… santai…” ucap Maestra mundur selangkah menghindari peringatan gue.


Gue agak tersinggung dengan kata-kata ‘husband blues’ oleh Maestra setelah menyandang jabatan suami.


Husband blues adalah cara gue dan para sahabat gue nyebut gejala mantan player yang merasa terpenjara dan kehilangan arah pasca menikah, kemudian melarikan diri pada minum-minuman serta hal negative lainnya sebab tidak mampu menguasai mentalnya sendiri.


Dan… mental gue nggak setempe itu! Nggak aka nada post wedding blues, husband blues, atau apapun. Kalau merasa kurang siap berjibaku dengan kompleksnya hubungan legal berjudul pernikahan, saat ini gue pasti nggak akan pulang kampung dan tetap berada di Samarinda.

__ADS_1


 


__ADS_2